EMPAT PULUH EMPAT Amar menarik ujung baju tidur mamanya kuat. Melihat gerak tubuh mamanya yang ingin bangkit dari dudukannya diatas sofa saat ini, menonton tv sebentar, tayangan kartun kesukaan Amar sebelum Inne, dan Amar terlelap tepat pukul delapan malam nanti. Inne mematap anaknya dengan tatapan lembut, dan Inne memberi tatapan mengkode kearah pintu dengan lirikan mata, dan dagunya memberitahukan pada anaknya kalau ada seseorang yang tengah mengetuk pintu di luar sana. "Amal takut, Ma. Mau kemana?"Rengek Amar dengan wajah takut, benar-benar takut. Inne menatap wajah takut anaknya dengan tatapan bersalah, dan menyesal. Bahkan kedua matanya terlihat berkaca-kaca dalam sekejap. Ini semua salahnya! Setelah ia membisikan kata-kata tepat di depan telinga anaknya dengan nada lirih, dan ber

