SATU
Nina terbangun dengan tiba-tiba. Ia melirik sekilas ke arah jam dinding sambil berpikir suara apakah yang membuatnya terbangun. Jam 6 pagi, di luar masih belum terang. Ia menoleh ke sebelah kirinya ke arah sumber suara yang membangunkannya. Anak bungsunya, Keira, yang berusia 2 bulan, sedang menangis perlahan. Di sebelah kanannya, anak sulungnya Lili yang berusia tiga tahun, masih tertidur lelap. Nina cepat cepat mengangkat bayinya dari tempat tidur agar tidak membangunkan kakaknya.
Di dalam kamar mandi, ia mulai menyusui anaknya yang minum dengan lahapnya. Nina memandangi wajah anaknya dan merasakan kasih sayang yang luar biasa untuk anak bayinya. Setelah sekian detik, pikirannya mulai melayang kepada tugas tugas yang perlu dikerjakannya hari ini. Ia perlu memasak sarapan untuk Lili, menyuapinya, memompa ASI, mencuci botol botol s**u, dan kemudian menyusui bayinya lagi jam 8 pagi. Lalu menemani Lili bermain dan belajar sampai waktunya makan siang. Siangnya pukul 2 ia perlu mengantar Lili sang kakak ke dokter anak untuk vaksinasi rutin. Ia berharap bayinya tidak rewel hari ini sehingga ia bisa menitipkannya kepada asisten rumah tangga di rumah, karena ia pasti kewalahan bila harus membawa 2 anak keluar rumah. Lalu ia ingat suaminya sedang berada di luar kota sejak kemarin dan ketika pulang malam nanti minta dimasakkan makanan favoritnya yaitu ayam goreng tepung. Yang berarti Nina harus pergi berbelanja ke supermarket hari ini untuk membeli bahan-bahan karena di rumah sudah kehabisan bahan.
Nina mulai merasa panik dengan banyaknya tugas yang harus dilakukannya hari itu. Ia juga mulai merasakan kepalanya berdenyut denyut oleh karena ia hanya tidur total 4 jam terputus-putus malam itu karena bayinya masih terbangun setiap 2 jam sekali untuk minum s**u dan ganti popok. Nina sudah tidak pernah tidur semalaman penuh sejak anak pertamanya lahir karena Lili juga masih sering terbangun di malam hari. Perlahan Nina beranjak keluar dari kamar sambil menggendong bayinya.
Baru saja ia membuka pintu kamar, terdengar suara Lili mulai menangis sambil memanggil “Mama..mama”. Nina kembali ke tempat tidur untuk menenangkan Lili, tetapi Lili tidak mau kembali tidur. Nina berpikir bahwa pasti Lili hari ini akan lebih rewel karena bangun terlalu pagi. Akhirnya ia membawa kedua anaknya keluar dari kamar, menaruh Lili di ruang tamu dan memberinya buku cerita, lalu ia menggendong bayinya dengan baby carrier dan menuju ke dapur untuk mulai memasak. Nina melihat Mbak Siti, asisten rumah tangganya, sedang mencuci baju di belakang dapur. Kadang ia bisa meminta Mbak Siti untuk membantunya memasak atau menjaga si kecil sebentar, namun kali ini ia melihatnya sedang sibuk sehingga ia tidak memanggilnya.
Nina baru saja mulai mencuci beras dan menyiapkan bahan-bahan, ketika terdengar Lili merengek. “Mamaa..kakiku gatal, tanganku juga”.
“Mungkin kamu digigit nyamuk, kasih aja minyak telon”, jawab Nina dari dapur sambil memotong bawang.
Lili tetap berdiam di sofa sambil menangis semakin keras. “Mama ambilin..”. Sambil berusaha menahan emosi, Nina berteriak, “Mama sedang sibuk. Kamu ambil sendiri aja di kamar, kamu kan sudah besar”.
Tetapi Lili makin menjadi-jadi menangisnya, dan bayi di pelukan Nina yang tadinya tertidur, mulai menangis juga. Nina merasa tertekan, dan tanpa disadari, air matanya mulai menetes. Mengapa Lili tidak bisa lebih mandiri padahal ia sudah menjadi kakak, mengapa bayi Keira mudah sekali terbangun dari tidurnya, mengapa anak-anaknya tidak bisa memberinya waktu tenang sejenak.