TIGA

713 Words
Nina mendapati Lili sedang bermain masak-masakan sendirian di ruang bermain. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Nina mengambil nasi tim yang sudah matang dan mulai menyuapi Lili. Baru suapan pertama, Lili langsung melepehnya keluar. “Lili, ngga boleh dilepeh ya. Ayo makan yang baik sayangnya mama.” Tetapi Lili tidak mau membuka mulutnya. Ia tetap memainkan mainannya dan bahkan tidak mau menoleh ataupun menjawab Nina. Nina mulai kehilangan kesabaran dan emosinya mulai naik lagi. “Mama sudah capek-capek masakin kamu lho, kenapa ngga mau makan? Makanan itu mahal, ngga boleh dibuang-buang.” Lili terkejut dimarahi dan mulai menangis lagi. Nina berusaha sabar dan membujuk Lili dengan nada lebih lembut. Ia mengajak bermain Lili dan perlahan Lili mulai mau makan. Nina menghabiskan waktu hampir satu jam untuk menyuapi Lili sampai habis. Lili memang sedari kecil tidak suka makan dan membutuhkan waktu lama untuk makan, dan juga hanya Nina yang dapat menyuapinya. Nina belum mendengar suara tangisan Keira yang berarti bayinya masih terlelap, maka ia cepat-cepat sarapan seadanya. Baru lima menit kemudian, sudah terdengar suara tangis dari kamarnya. Nina bergegas menyelesaikan makanannya, lalu menghampiri bayinya untuk menyusuinya. Nina merasa lelah sekali, padahal baru pukul 8 pagi dan hari masih panjang. Ia merasa lelah dengan rutinitasnya yang terus berulang-ulang tanpa henti sepanjang hari. Ia menyadari belakangan ini ia menjadi mudah marah dan kehilangan kesabaran terhadap Lili. Padahal Lili sedang dalam fase usia yang membutuhkan banyak waktu dan perhatiannya. Lili juga mulai sering tantrum dan membutuhkan kesabaran lebih, tetapi Nina justru jauh berkurang waktunya untuk Lili semenjak kelahiran Keira. Terlebih lagi, Keira adalah bayi yang sering menangis, sering menyusu, dan tidak bisa tidur lebih lama dari dua jam, bahkan di malam hari. Alhasil, Nina tidak pernah cukup tidur selama beberapa bulan ini, dan moodnya semakin lama semakin memburuk. Suaminya pulang kerja malam hari, lalu makan malam, mandi, sibuk bermain hp, praktis tidak membantunya menjaga anak-anak kecuali di hari Sabtu dan Minggu. Nina membiarkan pikirannya melantur ke sana ke sini dan memejamkan matanya sembari merasakan bayinya terus menyedot s**u dari badan nya. Tiba-tiba ia tersentak bangun dan menyadari ia baru saja tertidur sejenak. Nina cepat-cepat memastikan bayinya baik baik saja. Untungnya Keira masih mengenyot perlahan dan matanya terbuka memandangi ibu nya. Nina menghela nafas lega karena ia tidak melepaskan gendongan nya saat ia tertidur. Ini sudah ketiga kali nya dalam seminggu ini ia tertidur saat menyusui bayinya. Nina bertekad untuk tidak memejamkan mata lagi saat menyusui walaupun hanya sebentar. Nina berpikir untuk berhenti memberi ASI kepada Keira agar suaminya bisa bergantian memberi Keira s**u di malam hari, namun ia tidak tega. Kakaknya Lili dulu minum ASI eksklusif selama satu setengah tahun, Nina hanya berhenti saat hamil muda. Nina mengelus elus dahi Keira sambil merasakan kesedihan yang mendalam. Ia juga merasa kurang adil terhadap bayinya. Dulu semasa Lili bayi, Nina sering membawanya berjalan jalan pagi hari di kompleks perumahan sambil berjemur. Dengan Keira, ia hampir tidak pernah membawanya keluar rumah dan hanya menaruhnya di stroller di balkon rumah untuk mendapat sinar matahari, itupun tidak setiap hari. Dulu ia sering bernyanyi untuk Lili sambil menimang nimangnya, sekarang ia hampir selalu tergesa-gesa untuk menidurkan Keira agar ada waktu untuk kakaknya. Nina sungguh berusaha untuk menjadi ibu yang terbaik untuk kedua anaknya, tetapi entah mengapa kadang ia merasa tidak sanggup untuk mengurus kedua anaknya dengan baik. Ia jarang sekali merasa bahagia akhir-akhir ini dan sering merasa frustrasi dan sedih. Lili juga lebih sering menangis dan merengek belakangan ini. Nina tidak tahu bagaimana membuat Lili kembali menjadi anak yang ceria dan happy seperti dulu sebelum Keira lahir. Terlebih lagi Lili harus masuk sekolah TK dalam enam bulan ke depan saat tahun ajaran baru dimulai, dan Nina belum mempersiapkan Lili sama sekali. Seharusnya ia harus mulai mengajari Lili tentang bentuk, warna, tracing dan alfabet karena Lili harus menguasai dasar-dasarnya sebelum masuk TK, Nina diberi tahu kepala sekolah TK nya ketika mendaftar beberapa saat lalu. Nina tersadar dari lamunannya dan melihat Keira sudah tertidur. Ia menaruh bayinya di stroller dan menuju ke balkon untuk berjemur. Tiba tiba ia mendengar suara teriakan Lili dan ia mendapati Lili sedang melempar semua mainan nya jauh jauh sambil menangis. “Aku ngga mau main lagi. Ngga mau semuanya, buang semuanya. Ngga mauuu..” Oh ya Tuhan, tolong hambaMu melewati hari ini, batin Nina sambil melawan denyutan di kepalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD