SEPULUH

352 Words
Langit kelabu menghiasi upacara pemakaman Laura, seakan langit ikut berduka atas kepergiannya. Nina berdiri di samping suaminya, Lili, dan ibu Lili yang menggendong bayi Keira. Ayah Nina berdiri di samping istrinya dengan mata berkaca-kaca. Sementara air mata mengalir deras di wajah Nina dan ibunya. Nina melihat David, suami Laura berdiri di dekat makam dengan wajah tegar. Beberapa keluarga mereka yang lain dan teman-teman Laura berkumpul di belakang. Mereka mendengarkan suara pendeta yang berbicara tentang Laura yang sangat dikasihi oleh keluarganya semasa hidupnya yang singkat dan ia saat ini sudah bahagia di dalam kekekalan bersama penciptanya. Pikiran Nina kembali kepada sehari sebelumnya, ketika David memberitahunya satu kabar yang mengejutkan. Pihak rumah sakit memberitahunya bahwa Laura positif hamil satu minggu pada saat ia meninggal. Hati Nina hancur mendengarnya. Laura tidak akan pernah merasakan janin itu tumbuh di rahimnya dan merasakan kebahagiaan melahirkan buah hatinya. Nina dapat membayangkan perasaan David; ia bukan hanya kehilangan istri dan anaknya di saat yang bersamaan, tetapi juga seluruh masa depan yang direncanakannya. Nina tidak tahu bagaimana ia melewati beberapa hari terakhir ini. Ia seperti setengah sadar karena hampir tidak tidur dan terlalu banyak menangis. Matanya bengkak dan sembap dan rambutnya lepek tidak beraturan. Ia menghabiskan hari-harinya mengurus anak-anaknya dan malam-malam yang panjang mengingat kenangan-kenangan indah bersama Laura sejak mereka kecil hingga tumbuh dewasa. Nina menyesal telah membiarkan hubungannya dengan Laura merenggang sekian lama dan tidak berusaha lebih dahulu membangun jembatan dengan Laura. Kini Nina harus menjalani hari-hari ke depan tanpa saudarinya. Nina tahu ia harus dan pasti kuat dan tegar demi anak-anaknya. Ia tidak bisa mengurung diri di kamar gelap dan berduka sendirian, walaupun itu yang sangat diinginkannya melebihi apapun. Suaminya kini banyak membantunya menjaga anak-anak, dan Nina sangat berterima kasih untuk itu. Ia berjanji untuk pulang lebih cepat setiap hari untuk mempunyai lebih banyak waktu bersama keluarga. Nyanyian syahdu mengiringi prosesi pemakaman hingga selesai. Kemudian, mereka berjalan menuju kendaraan masing-masing untuk pulang ke rumah. Nina menoleh ke belakang dan mengucapkan selamat tinggal untuk yang terakhir kalinya kepada adiknya. “Sampai bertemu lagi Laura sayang. Kamu selamanya akan selalu berada di hatiku. I love you forever,” bisik Nina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD