"Enggaklah Bu, Ibu ini lho aneh aneh saja, Andra kan hanya bilang seperti pernah melihatnya, tapi Andra tidak ingat di mana Bu," Sanggah Andra kepada Ibunya dengan lembut.
"Kalau tidak ingat ya sudah Ndra, jangan terlalu dipaksakan. Lagipula kamu kan lagi sakit, jadi otak kalau di suruh bekerja keras ya nggak bisa. Yang penting kamu harus pulih dulu, kalau kamu sudah sehat, baru kamu coba ingat ingat lagi kalau memang itu penting, benar kan Pak?" perkataan Bu Sari langsung tertuju ke arah sopir taksi yang terlihat manggut manggut seperti mendengar ceramah dari Bu Sari.
"I-iya Bu," sahut Pak sopir yang ikut terkaget dengan perkataan Bu Sari yang di tujukan padanya.
"Iya Bu, Ibuku tersayang," Andra kemudian memeluk Ibu Sari yang duduk di sebelahnya dengan erat. Andra sama sekali tak menyangka, hari ini dia masih bisa memeluk dan melihat Ibu yang sangat dia sayangi ini. Sedangkan di kehidupannya kemarin, dia sudah kehilangan Ibunya, dan merasa sangat menyesal karena tidak bisa menunggui ibunya di sakaratul mautnya. Hal yang akan menjadi penyesalan selama hidupnya. Tak sengaja, air mata Andra terjatuh di tangan Bu Sari.
"Lhoh lhoh Ndra, kamu kenapa? nangis to? sudah sebesar ini lho," ucap Bu Sari sambil mengusap air mata di pipi Andra.
"Andra tidak menangis kog Bu," jawab Andra dengan mencoba tersenyum.
"Berarti ini tadi kamu ngeces Ndra?" Goda Bu Sari sambil menahan senyum.
"Ah Ibu itu lho, ngelawak terus," sahut Andra manyun.
"Tapi Ibu ini bukan pelawak lho Ndra, Ibu ini Ibumu. Ya biar nggak spaneng ya Pak," sahut Bu Sari menanggapi.
Sopir taksi yang mengantar Andra dan Ibunya pun ikut tersenyum melihat kedekatan ibu dan anak itu. Mereka terlihat saling menyayangi antara satu dan lainnya.
Saat sampai di rumah, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Pak Ardi pun segera membukakan pintu untuk menyambut kedatangan istri dan anaknya dari rumah sakit. Pak Ardi kemudian membantu istrinya untuk memapah Andra berjalan pelan menuju kamarnya.
"Sebenarnya kamu kenapa ta Ndra?" tanya Pak Ardi kepada anak semata wayangnya itu setelah Andra terduduk di kasur tempat tidurnya.
"Andra tidak apa apa Pak, tadi hanya pusing, tau tau Andra udah di rumah sakit," sahut Andra mencoba menjelaskan.
"Ya itu, namanya pingsan Ndra. Kalau kamu ada masalah kamu cerita ma ibu bapak. Siapa tau beban pikiran kamu akan berkurang. Kalau curhatnya sama Ibu dan Bapakmu ini, Ibu dan Bapak akan memberikan solusi dan selalu ada untuk mendukungmu Ndra. Walau Ibu dan Bapak juga bukan orang kaya, tapi kami selalu usaha buat memberikan yang terbaik untuk kamu lho Ndra," suara Bu Sari terdengar mendekati Andra setelah dari dapur membuat minuman hangat untuk Pak Ardi dan Andra.
"Ini Pak, kopi nya di minum dulu. Itu tadi yang menanak nasi bapak?" lanjut Bu Sari menyajikan kopi di meja tengah untuk suaminya.
"Iya to Bu, lha apa nggak mau makan? Makasih Bu," sahut Pak Ardi kemudian duduk di kursi sebelah meja dan kopi itu berada.
"Ini Ndra, s**u anget, kamu minum dulu. Ibu tak ke warung depan dulu, beli lauk, kamu mau makan apa? Ibu tadi kan keburu buru ke Rumah Sakit, jadi belum sempat masak. Malah bapak yang bantu menanak nasi." kemudian duduk di kursi sebelah suaminya.
"Terserah Ibu saja," sahut Andra tidak bersemangat karena belum mempunyai selera makan.
"Tumben, biasanya minta ikan balado lah, ati ampela atau kalau tidak kepala ayam ya Pak," sahut Bu Sari bermonolog di depan suaminya.
"Kamu harus makan yang banyak Ndra, biar cepet pulih." ucap Pak Ardi menasehati anaknya itu.
"Iya Pak," ucap Andra menanggapi ucapan Bapaknya.
"Kalau Bapak mau lauk apa?" tanya Bu Sari kepada suaminya.
"Terserah Ibu saja adanya apa, yang penting ada kuahnya saja kalau bapak." sahut Pak Ardi sambil menonton televisi.
Bu Sari kemudian bergegas keluar menuju warung yang tak jauh dari rumahnya. Warung Bu Reni tempat biasa mereka membeli lauk matang. Banyak berbagai macam sajian masakan matang yang dijual. Bu Sari membeli sayur brongkos, bakmi lethek, ikan balado dan ati ampela. Setelah di rasa cukup, Bu Sari segera kembali ke rumah dan menyiapkan nasi dan lauk untuk mereka makan.
"Ndra, kamu masih pusing nggak? sini makan dulu? makan disini saja kan? kalau dikamar nanti banyak semutnya," suara Bu Sari bergema sambil mengambil nasi dari magic com. Bu Sari menyiapkan tiga piring yang berisi nasi untuk mereka bertiga makan.
"Iya Bu," sahut Andra kemudian berjalan menuju meja ruang tengah tempat biasa mereka makan dan berkumpul bersama sambil menonton televisi.
"Bapak Ibu pake sayur brongkos saja? lha ikan balado ma atinya ini buat siapa bu?" tanya Andra yang terheran dengan sikap Ibunya yang masih memanjakannya.
"Ya buat kamu to Ndra, biar kamu cepet pulih, cepat makan yang banyak!" titah Bu Sari kepada putra semata wayangnya itu. Kemudian memindahkan lauk ikan balado dan ati ampela ke dalam piring Andra.
"Kalau makan banyak malam gini, bukannya sehat, tapi badan Andra saja yang tambah gede Bu," sahut Andra tersenyum manis kepada kedua orang tuanya. Andra merasa terharu dengan kasih sayang yang di berikan ibu dan bapaknya kepadanya.
Malam ini Andra merasakan kebahagiaan yang haqiqi, kehangatan sebuah keluarga yang selama ini dia rindukan. Senyum Andra tampak merekah, air matanya tak kuasa tertahan mengeluarkan air mata kebahagiaan.
"Nangis lagi Ndra kamu?" suara Bu Sari bergema di ruangan kecil itu saat menoleh kearah Andra dan melihatnya meneteskan air mata.
"Kenapa Ndra kamu?" sahut Pak Ardi sambil ikut menatap ke arah Andra.
"Andra Tidak menangis Bu, Pak," jawab Andra pelan sambil menata intonasi suaranya.
"Terus ngeces lagi? lha itu malah ingusen juga, duch duch ini tisunya. Ganteng ganteng kog ingusan kamu Ndra," ucap Bu Sari sambil tersenyum menatap Andra.
"Sebenarnya ada apa Ndra?" Pak Ardi bertanya sekali lagi.
"Andra sangat bersyukur Bu, Pak, Andra memiliki orangtua seperti Bapak dan Ibu," suara Andra terdengar dengan tulus.
"Kamu lagi pengen apa Ndra? jangan bilang pengen nikah ya, selesein dulu lho itu kuliahmu, kerja dulu baru nikah," nasehat yang sering keluar dari mulut Ibunya terdengar kembali.
"Iya Bu, Andra akan berusaha, kali ini Andra tidak ingin mengecewakan Ibu dan Bapak. Andra ingin menjadi anak yang bisa di banggakan oleh Ibu dan Bapak," ucap Andra parau.
"Hiks hiks, iya anakku, Ibu sayang banget Ndra sama kamu. Kamu anak satu satunya Ibu. Ibu pengen sekali melihat kamu bahagia, jadi orang yang sukses dunia akhirat Ndra. Doa Ibu dan Bapakmu ini akan selalu mengiringimu dan tak akan teputus Ndra," sahut Bu Sari yang ikut menangis sambil memeluk Andra.
"Walah walah, kog malah jadi pada menangis lho, kaya lama nggak bertemu saja. Ayo lanjutkan makannya." ucap Pak Ardi berusaha menengahi walaupun matanya juga terlihat memerah menahan haru.
"Bu, maafin Andra ya bu, kalau Andra banyak salah sama Ibu, Andra mohon maaf dari Ibu, dan jika Andra khilaf di kemudian hari, Andra mohon bimbing Andra Bu," Andra tiba tiba berlutut di kaki Bu Sari yang sedang terduduk meminta permohonan Maaf, Andra sangat takut jika Andra sampai tidak punya kesempatan untuk meminta maaf kepada Ibunya seperti di detik detik terakhir hidupnya.
"Sudah to Ndra, apapun kesalahanmu, sebagai Ibumu, Ibu akan selalu memaafkan kamu Ndra. Jika ada kesalahan yang kamu buat baik di sengaja maupun tidak di sengaja, Ibu akan mencoba memahaminya Ndra. Ibu tau kamu sayang kepada Ibu dan Bapak, Ndra. Jadilah anak kebanggaan Ibu dan Bapakmu ya Ndra, dan jangan pernah tinggalkan sholatmu, karena itu adalah tiang agamu. Sesukses dan sebahagianya dirimu, kalau tidak sholat percuma. Selanjutnya, Ibu dan Bapakmu hanya bisa mendoakan yang terbaik buatmu Ndra," Dengan sesekali sesenggukan Ibu Sari memberi nasihat kepada Andra sambil mengelus kepala Andra.
Setelah melakukan kepada Ibunya, Andra pindah berlutut di depan Bapaknya, masih dengan air mata yang menetes. Andra meminta maaf juga kepada Bapaknya jika selama ini telah berbuat salah kepada Pak Ardi sama dengan yang diucapkan kepada Ibunya. Andra juga meminta doa kepada Bapaknya itu.
Suasana malam itu menjadi sangat mengharukan. Mungkin hal ini, akan terasa aneh bagi Bu Sari dan Pak Ardi, tapi bagi Andra, hal inilah yang bisa membuat hatinya tenang. Seolah olah rasa penyesalan dan kesedihan tentang Almarhum Ibunya telah terobati. Dia sangat bersyukur telah di beri kesempatan untuk kembali ke saat ini.
**
Udara pedesaan yang terasa sejuk terasa di paru paru Andra pagi ini. Andra terbangun dengan tubuh yang terasa sehat. Dia tidak merasakan sakit ataupun tidak enak badan seperti yang di rasakannya tadi malam. Hari ini badannya terasa benar benar bugar.
"Aneh, kenapa badanku tiba tiba sehat seperti ini? brarti obat dari dokter cantik itu benar benar ampuh," gumam Andra pelan bermonolog.
"Kemana obat yang lainnya? kenapa tidak ada? bukannya tadi malam aku taruh di meja sini?" Andra bermonolog kembali kepada dirinya, sambil mencari obatnya tadi malam.
"Aneh, kenapa bisa tidak ada? Atau di simpan Ibu ya?" Andra kemudian bergegas keluar dari kamarnya. Mencoba berjalan ke ruang tengah dan dapur tetapi tidak mendapati Ibu dan juga Bapaknya.
"Bu," suara panggilan Andra bergema berkeliling rumah.
"Baru jam lima, kemana ya Ibu dan Bapak pagi pagi begini, dan kenapa motorku sudah berada disini? siapa yang mengantar? apa mungkin Misya?" gumamnya pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Karena tidak ada sahutan, Andra bergegas mengambil air wudhu untuk melakukan sholat shubuh sambil menunggu Ibu dan Bapaknya pulang. Di setiap doa yang Andra panjatkan, dia mengucapkan syukur atas kesempatan yang di berikan untuknya kembali ke masa ini. Masa di mana dia tidak memiliki masalah rumit tentang kehidupannya. Dia juga mengirim doa untuk Ibu dan juga Bapaknya agar di beri umur panjang. Andra berkeinginan mengubah takdir hidupnya agar tidak terjadi hal hal buruk kepada dirinya pada kehidupan ini.
Mendengar suara pintu di buka, Andra segera berlari keluar menuju arah sumber suara. Dan ternyata benar, Ibu dan Bapaknya lah yang baru pulang membawa barang belanjaan yang lumayan banyak.
"Ibu dan Bapak dari Mana? Kog belanja banyak banget?" tanya Andra terheran.
"Ya dari pasar ta Ndra, ayo cepat bantuin bapak mindahin barang barang!" titah Bu Sari kepada Andra.
"Iya Bu. Oya Bu, obat Andra apa Ibu yang mindahin? tadi kog nggak ngajak Andra saja Bu?" tanya Andra menghampiri bapaknya dan membantu memasukkan barang belanjaan mereka.
"Obat apa ta Ndra? Tadi kamu masih tidur, makannya Ibu ngajak Bapak mumpung libur.," ucap Bu Sari sambil melepaskan jaket dan helmnya.
"Ya obat Andra tadi malam dari Rumah Sakit kan Bu. Oya, Tumben bapak sabtu sabtu libur, biasanya hari paling membahagiakan," ucap Andra sambil tersenyum menggoda Bapaknya.
"Kamu itu ngomong apa to Ndra Ndra. Memangnya kamu kapan kerumah sakitnya?" sahut Bapaknya sambil memasukkan motor di garasi samping rumah.
"Ya tadi malam to Pak?" Andra menyahut belum merasakan keanehan karena masih kosentarasi dengan barang barang bawaannya.
Bu Sari menatap anaknya heran dari kejauhan, kedua alisnya berkerut saling mendekati. Kemudian mencoba menghampiri Andra.
"Oya Bu, ini motornya siapa yang mengantar? kog bisa pagi pagi sudah ada di sini?" Andra beralih menanyakan perihal motornya yang sudah berada di rumahnya kepada Ibu dan Bapaknya.
"Ndra, duduk dulu sini," ucap Bu Sari mendekati Andra kemudian menepuk kursi agar Andra duduk di sampingnya.
"Iya Bu," sahut Andra kemudian mengikuti pergerakan tangan Ibunya.
"Kamu sudah sholat subuh?" tanya Bu Sari kemudian.
"Sudah Bu," jawab Andra merasa heran dengan sikap Ibunya.
"Ibu mau tanya, apa benar kamu tidak terjatuh atau terbentur Ndra?" ucap Bu Sari sambil serius memperhatikan anaknya itu.
"Tidak Bu, kenapa Bu memangnya? kog Ibu bertanya seperti itu lagi?" Andra mencoba menanyakan keanehan dari pertanyaan Bu Sari.
"Terus bagaimana kamu bisa jadi pelupa Ndra?"
"Maksud Ibu?" tanya Andra tak mengerti.
"Kamu lupa kalau motor itu sudah kamu ambil dari minggu lalu? kamu juga lupa kalau hari ini hari Minggu? dan soal obat, maksud kamu obat dari Rumah Sakit Puri Medika awal bulan kemaren?" Bu Sari menatap Andra dengan Intens.
"Andra benar benar tidak mengerti Bu, bukankah baru kemaren malam Andra dari Rumah Sakit Bu? dan harusnya motor ini juga masih di tempat Misya," jawab Andra dengan kebingunggannya.
"Andra Dewantara, hari ini hari Minggu tanggal 25 Juni 2006 Ndra, tepat hari ulang tahunmu," ucap Bu Sari sambil menepuk pelan bahu Andra.
"Apa? 25 Juni Bu?" ucap Andra terkaget seolah tidak percaya atas apa yang terjadi.
**