Misya terlihat sangat serius, memperhatikan Andra yang akan mulai bercerita. Dia bisa melihat dari nanar mata Andra kalau Andra memang benar benar mempunyai sebuah permasalahan. Muka Andra tampak berkerut, tidak seperti biasanya.
"Aku sudah menjalani waktu sampai dengan tahun 2021 Mis. Saat itu, tepatnya tanggal 20 Agustus 2021, aku bertemu dengan Naya Mis," lanjut Andra kemudian.
"Naya siapa Ndra?" tanya Misya tidak mengerti. Walau sebenarnya Misya bingung tapi dia mencoba untuk tetap mengikuti jalan cerita Andra.
"Naya adalah teman kuliah aku Mis. Dan tadi pagi menurut tanggal sekarang 2 Juni 2006 kan, saat aku pergi ke kampus, aku baru mengenalnya. Tapi dulu sepertinya, saat aku kenal dia pertama kali adalah saat kami sudah masuk semester ke dua. Berarti kejadian kali ini yang aku alami, bisa berbeda dengan masa yang aku jalani Mis," ucap Andra dengan sedikit harapan.
Misya masih memperhatikan Andra, sambil menuliskan apa yang dikatakannya ke dalam buku deary berwarna hijau itu.
"Jika waktuku saat ini bisa mengubah takdirku, aku ingin memperbaiki hidupku Mis," lanjut Andra kemudian.
"Saat kamu bertemu dengan Naya, apa yang terjadi Ndra?" tanya Misya kemudian mencari tahu.
"Awalnya, aku hanya ingin menghibur diriku saja Mis, kita bertemu, makan dan ngobrol. Aku penat dengan segala permasalahanku, hutang hutangku, masalah keluargaku, Sasti yang selalu memojokkanku dan juga pekerjaanku." ucap Andra mulai lemah.
"Sasti siapa?" Misya masih tidak mengerti. Banyak sekali pertanyaan yang sebenarnya dia ingin tanyakan.
"Dia istri aku Mis, kamu yang sudah mengenalkannya padaku. Di masa depan, dia menjadi patner kerjamu di rumah sakit tempat kamu bekerja." ucap Andra kemudian menjelaskan.
"Aku? Aku yang mengenalkannya padamu?" tanya Misya bingung. Bagaimana dia bisa mengenalkan orang lain kepada Andra, sedangkkan dia sendiri punya perasaan kepadanya.
Andra yang seolah tahu tentang apa yang di pikirkan Misya, kemudian tersenyum kecil dan berkata, "Kamu, adalah sahabat terbaik aku Mis, kamu selalu ada untuk aku, membantuku. Suamimu juga orang baik, anak anakmu lucu lucu," ucap Andra sambil tersenyum ke arah Misya.
"Suami? dan anak anakku?" tanya Misya tak percaya dengan apa yang di katakan Andra.
"Iya Misya, di masa depan, kamu akan bahagia dengan keluargamu sendiri," ucap Andra kemudian menambahkan.
"Aku akan menikah dengan siapa Ndra?" tanya Misya kemudian.
"Nanti, kamu akan menikah dengan..."
Belum sempat Andra melanjutkan kata katanya, tiba tiba kepala Andra terasa sakit. Andra memegangi kepalanya yang tampak kesakitan.
"Ndra... kamu kenapa Ndra?" tanya Misya dengan cemas dan bingung sambil memegangi tubuh Andra.
"Aku ambilkan minum dulu Ndra," Misya kemudian berlari kecil ke dapur untuk mengambilakn minuman hangat intuk Andra.
Andra tidak menjawab karena masih tampak kesakitan sambil memegangi kepalanya. Tak lama kemudian, Andra pingsan di rumah Misya.
Saat Misya kembali ketempat Andra, Andra sudah pingsan tak sadarkan diri.
"Ndra, Bangun Ndra," ucap Misya sambil menggoyang goyangkan tubuh Andra yang tak sadarkan diri.
Misya tampak cemas melihat Andra yang kesakitan. Untung saja, Misya kuliah di keperawatan, walau masih semester awal, paling tidak dia bisa memberikan pertolongan pertama bagi orang yang pingsan. Dan Misya pun, segera meminta bantuan tetangga terdekat untuk membawa Andra ke Rumah Sakit Puri Medika yang terletak tidak jauh dari rumahnya.
**
Saat Andra terbangun, dia sudah berada di sebuah bed dengan suasana khas Rumah Sakit. Bau obat obatan dan sekat tirai yang di sampingnya sudah mendominasi ruangan itu. Ada dua wanita yang masih menemani Andra sambil berbicara pelan. Misya menjelaskan kepada Bu Sari tentang apa yang terjadi kepada Andra. Mereka duduk di kursi tak jauh dari tempat Andra tertidur, sambil menunggu hasil observasi dan laboratorium dokter igd Rumah Sakit Puri Medika.
"Ibu... Misya..." suara Andra masih terdengar lemah. Tapi dia tetap berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya.
"E e e... kamu ini Ndra, mau ngapain? kalau masih pusing, rebahan dulu saja!" ucap Bu Sari yang kemudian mendekati Andra, membenarkan bantal untuk tempat kepala Andra kembali berbaring.
"Kamu itu harus nurut sama ibu, berbaring saja dulu. Ndra, kenapa juga kamu pingsan kog nggak di rumah, malah milih pingsan di rumah Mbak Misya," ucap Bu Sari dengan suara khas nya. Membuat Misya yang mendengarnya pun ikut menahan ketawanya yang hampir keluar.
"Bu, kalau pingsan bisa milih, aku milih nggak pingsan saja," sahut Andra kemudian kepada Ibunya tercinta. Dia tahu maksud sebenarnya dari kata kata Ibunya, hanya ingin sekedar untuk menghiburnya.
"Lha kamu itu kenapa to Ndra? kalau sakit mbok ya bilang, jadi nggak usah ikut ospek. Apa makanmu kurang banyak tadi? Dari pagi ini kamu bangun saja, sudah kaya seperti orang aneh lho Ndra, kebingungan nggak jelas. Masak hari, tanggal saja sampai lupa? untung saja sama Ibu nggak lupa Ndra," celoteh Bu Sari berhasil merubah ruangan yang tadinya sunyi itu menjadi berirama.
Ibu Sari, walau kadang tampak seperti cuek kepada Andra, tapi dia sangat sayang kepada Andra, anak semata wayangnya. Walau dia bukan dari keluarga kaya, tapi apapun keinginan Andra selalu Bu Sari berusaha sediakan.
"Tidak mungkin Andra melupakan Ibu Andra terbaik sedunia ini. Andra sudah nggak apa apa kog Bu, sudah bu, malu kepada Misya," pandangan Andra kemudian tertuju kepada Misya yang tersenyum sendiri melihat Bu Sari dan Andra sedang berbincang hangat.
"Oh iya, sini Mbak Misya, maaf ya Mbak, kalau Andra ini sering ngrepotin Mbak Misya," ucap Bu Sari sambil tersenyum ke arah Misya.
"Ah, tidak repot kog Bu, Andra tidak ngrepotin Misya kog." sahut Misya dengan wajah yang merona.
"Untung saja, kamu Mbak Misya sudah kenal sama Andra dari jaman masih umbelen, jadi nggak kaget lagi sama sikap Andra ini ya Mbak," ucap Bu Sari sambil mengelus pundak Andra pelan.
"Eh Bu, siapa yang umbelen?" sahut Andra nggak terima di sebut umbelen.
"Ya kamu itu dulu, sering umbelen kalau suasana dingin, bangun tidur pasti bersin bersin. Mandi pagi harus pakai air hangat ta Ndra, apa kamu nggak ingat?" celoteh Bu Sari lagi mengenang masa kecil Andra terlihat bahagia.
"Itu kan dulu bu, jangan di bahas sekarang, malu bu, ada Misya juga." cegah Andra kepada Ibunya.
"Ya biar Mbak Misya tahu, dan tidak kaget lagi dengan kelakuan kamu kalau besok..." bu Sari tidak melanjutkan kata katanya. Tapi wajahnya terlihat tersenyum memerah. Keinginan Bu Sari dari dulu adalah Andra bisa dekat dengan Misya dan membina bahtera rumah tangga bersamanya. Karena Bu Sari tau Misya adalah anak yang baik, dan bisa menjadi pendamping yang baik untuk Andra.
"Bu, jangan bilang yang enggak enggak," Andra berusaha menahan ibunya untuk menjaga perasaan Misya. Dia tau, Ibunya suka dengan kepribadian Misya. Tapi Andra tau, Misya adalah sahabat sejatinya. Dia akan menemukan keluarganya sendiri yang membuatnya bahagianya.
"Kamu yang kesenengen kalo iya kan," sahut Bu Sari menggoda anaknya yang masih terbaring itu.
Misya hanya tersenyum hangat menyaksikan kehangatan Andra dan Ibunya itu. Misya tau, bagi Andra, ibunya adalah nomor satu.
Tak lama kemudian, datang seorang dokter muda cantik dan perawat ke tempat Andra berbaring. Dokter itu tersenyum sambil berkata lembut kepada Bu sari yang masih duduk erat di kursi sebelah bed Andra.
"Sudah siuman Mas?" suara dokter itu terdengar lembut. "Maaf, permisi saya periksa pasien dulu ya Bu pasiennya," lanjut Doter itu kemudian mendekati Andra.
"Iya dok," sahut Bu Sari yang kemudian beralih duduk di sebelah Misya.
Dokter cantik itu kemudian memeriksa Andra dengan seksama. Memeriksa tekanan darah dan denyut nadi Andra kemudian berkata, "Bagaimana keadaannya sekarang Mas? Apa yang di rasakan sekarang?" ucap dokter itu sambil melihat ke arah Andra.
"Sudah mendingan dok, tapi masih sedikit pusing," sahut Andra menanggapi pertanyaan dokter itu.
"Tu kan masih pusing, tadi bilang sudah baikan. Tadi pas tidur juga keringet dingin dok, mengigau nggak jelas. Dan dari sikapnya tadi pagi sebenarnya juga sudah aneh dok. Apa yang sebenarnya terjadi dok kepada anak saya?" Bu Sari pun ikut berbicara karena khawatir dengan keadaan anaknya.
"Pasien tidak habis terjatuh atau terkena benturan kan bu?" tanya dokter itu lagi.
"Kamu tidak jatuh ta ndra? atau kebentur tiang gitu?" tanya Bu Sari sambil menggerakkan kepalanya ke arah Andra.
"Tidak bu," jawab Andra singkat. Pikiran Andra sebenarnya membayangkan tentang saat Andra masih berada di masanya yang sebenarnya. Saat itu bukankah dia tertabrak mobil yang lewat? Apa sakit ini ada hubungannya dengan peristiwa itu? pikiran Andra menerawang sendiri.
"Setelah saya periksa, keadaan putra ibu baik baik saja bu, hasil laborat juga baik. Hanya saja, putra Ibu seperti sedang kelelahan. Jadi nanti tidak perlu rawat inap, untuk pemulihannya cukup istirahat di rumah dulu saja ya Mas. Nanti saya kasih obat untuk penghilang pusinnya juga ya, jika gejala berlanjut tiga hari lagi bisa kontrol ke poli," dokter cantik itu menjelaskan dengan ramah.
"Alhamdulillah dok, terimakasih banyak ya dok." sahut Bu Sari yang tampak bahagia anaknya bisa langsung pulang.
"Kalau begitu saya permisi dulu bu, nanti obat bisa diambil diapotik depan ya bu, ini resepnya," pamit Dokter cantik itu kemudian bergegas keluar.
"Baik Dok. Ndra,,,, syukurlah kamu nggak apa apa. Ayuk bangun, kita siap siap pulang," Bu Sari membantu Andra untuk keposisi duduk.
"Bu Sari maaf, resep tadi mana ya, biar Misya ambilkan obat untuk Andra di depan dulu saja, takutnya kalau nanti antri." suara Misya terdengar mendekati Bu Sari.
"Oya, makasih ya Mbak Misya, ini resepnya. Dan uangnya sebentar ya Mbak, tak ambilkan dulu," ucap Bu Sari sambil memegangi tas nya untuk mengambil dompetnya.
"Tidak usah Bu, ini sudah ada kog. Misya pamit ke depan dulu Bu," Misya pun kemudian beranjak pergi meninggalkan Andra dan Bu Sari diruangannya.
"Ndra, Mbak Misya itu bener bener tipe istri idaman lho Ndra, kamu harusnya beruntung bisa dekat dari kecil, jadi sudah tau bibit bebet bobotnya," ucap Bu Sari sambil menata barang yang akan dibawa pulang.
"Bu, Andra dan Misya itu hanya sebatas teman bu," ucap Andra menjelaskan perasaannya.
"Lha kan sekarang banyak ta Ndra, dari temen jadi demen. Memangnya Ibumu ini nggak tau hot news po?" sahut Bu Sari dengan memanyunkan bibirnya.
"Bu, aku nggak ingin merusak kebahagiaan Misya. Besok Misya akan hidup bahagia dengan lelaki pilihannya setelah dia lulus kuliah, selain itu anaknya juga lucu lucu," ucap Andra menerawang membayangkan masa depannya.
Cetuk...
Tiba tiba tangan Bu Sari mengetuk kepala Andra pelan, "Huff kamu itu ngomong apa Ndra, kamu itu baru saja sadar dari pingsan, jangan buat ibu panik lagi ta, ayo kita kedepan, kasian Mbak Misya kalau nunggu kelamaan," sahut Bu Sari kemudian tidak menggubris kata kata Andra.
"aduh,Sakit Bu. Iya Bu, ini udah siap," Sahut Andra pelan sambil mengikuti langkah Bu Sari yang membimbingnya berjalan pelan.
Saat Andra dan Bu Sari berjalan keluar menuju lobby, Misya segera menghampiri mereka dengan membawa kantong berisi obat untuk Andra.
"Mis, maaf ya malah merepotkanmu," ucap Andra sambil tersenyum ke arah Misya.
"Tidak apa apa Ndra. Nggak usah sungkan, kaya sama siapa saja," jawab Misya membalas dengan senyum hangatnya.
"Oya Mbak, ini semuanya berapa Mbak?" tanya Bu Sari kepada Misya.
"Sudah Bu, semuanya sudah cukup kog. Oya, itu taksinya sudah datang Bu, ayuks silahkan masuk," Misya membuka pintu untuk Bu Sari dan Andra kemudian mempersilahkan keduanya masuk.
"Lha kamu Mbak? sekalian kan?" tanya Bu Sari yang memandang ke arah Misya yang tidak ikut masuk.
"Rumah Misya tidak jauh kog Bu dari sini, Misya tinggal menyebrang saja sudah sampai," ucap Misya kemudian menutup pintu. "Pak, ini alamatnya ya Pak," ucap Misya kepada Pak Sopir sambil menyerahkan alamat di secarik kertas dan juga selembar uang seratus ribu.
"Sekali lagi terimakasih banyak ya Mis," ucap Andra sambil menurunkan kaca jendela.
"Sama sama Ndra, oya... motormu biar dirumahku dulu atau mau aku antar nanti Ndra?" tanya Misya yang baru teringat tentang kendaraan Andra.
"Biar di rumahmu dulu aja Mis," jawab Andra cepat. Andra merasa tidak enak jika meminta Misya untuk mengantarkan motornya.
"Iya Mbak, besok kalau Andra udah sehat biar di ambil, sekarang biar di rumah dulu saja anaknya. Lagian Ibu juga nggak bisa kalau suruh naikin motor Andra. Makasih banyak ya Mbak Misya," sahut Bu Sari tidak mau kalah ambil suara.
"Iya Bu," sahut Misya kemudian melambaikan tangannya.
Taksi itu pun melaju keluar dari kawasan klinik. Di dalam taksi, pandangan Andra seperti teralihkan kepada dua orang wanita yang sedang berpelukan. Satu dari perempuan tadi masih terekam jelas di kepala Andra, kalau beliau adalah Dokter cantik yang merawat Andra tadi.
Sedangkan wanita yang satunya, adalah seorang wanita paruh baya. Wanita itu walau sudah tua tapi tetap terlihat elegan dengan busana casualnya yang berwarna ungu. Wajahnya yang anggun tersenyum seperti menghipnotis Andra.
"Kenapa Ndra kamu? Dokter itu memang cantik, tapi kamu ya nggak boleh kaya gitu Ndra mandanginya," Tanya Bu Sari yang melihat anaknya terbengong melihat ke arah dokter yang memeriksanya tadi.
"Bu, sepertinya aku mengenal wanita itu bu, tapi di mana ya?" Andra merasa frustasi karena tidak bisa mengingat apa yang ingin dia ingat.
"Walah walah, ya dokter itu kan yang memeriksa kamu tadi to Ndra, masak kamu sudah lupa sih? Jangan buat ibumu ini takut lho Ndra! Kamu beneran nggak apa apa to?" Sahut Bu Sari dengan wajah cemas.
"Andra baik baik saja kog Bu, lagian maksud andra bukan dokter yang memeriksa Andra tadi Bu," sahut Andra agak gregetan dengan kata kata ibunya yang langsung mengomentari panjang lebar
"Kalau bukan dokter cantik itu terus siapa?" Tanya Bu Sari yang kemudian terheran.
"Ibu Ibu yang bersamanya itu Bu," jawab Andra dengan muka serius.
"Masya Allah Ndra, kamu suka Ibu itu?" Ucap Ibu Andra dengan Ekspresi paniknya.
**