Halo semuanya ^^ jangan lupa tap love ya!
Happy reading~
__________
Seperti biasanya, hari ini aku akan menemani Angga untuk check up ke rumah sakit. Seminggu yang lalu dokter mengatakan bahwa kesehatan Angga sudah jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya.
Jadi untuk meminimalisir kesehatan yang menurun, aku mengajak Angga untuk cek terakhir kalinya. Semoga saja Angga bisa sembuh total.
“ Bun, Fae pergi dulu ya. Bunda hati-hati dirumah. “ pamit ku pada Bunda, lalu mencium tangan ringkihnya.
“ Izin bawa Fae ya tante. “ ucap Angga juga berpamitan pada Bunda.
“ Iya nak. Hati-hati ya dijalan. Tante doakan yang terbaik hasil check up hari ini.” doa Bunda lantas kami aminkan.
“ Yaudah Fae sama Angga pergi dulu Bun. Assalammualaikum.”
“ Waaikumsalam” ujar Bunda.
Kemudian kami berjalan menghampiri mobil yang terparkir indah di depan halaman. Angga membukakan pintu mobil untukku. Aku tersenyum sambil mengucapkan terimakasih padanya.
Selama diperjalan, kami tidak terlalu banyak bercerita. Hanya album Adele lah yang menemani sepanjang perjalanan.
Letak rumah sakit dari rumahku tidak terlalu jauh. Selain merupakan jalanan alternatif, jalanan ini juga tidak pernah macet.
“ Sayang.”
Panggilan dari Angga membuatku melirik kearahnya.
“ Iya kenapa?”. Tanyaku padanya.
Angga berdehem sebentar sebelum memulai pembicaraan yang kuyakini ini adalah obrolan serius.
Aku memperhatikan pria disampingku ini dengan sangat lekat, sementara Angga menatap jalanan dengan sesekali menoleh kearahku.
“ Kalo semisalnya penyakitku sudah membaik, apakah kamu mau aku lamar?”
Pertanyaan spontan yang keluar dari mulut Angga membuatku terbatuk. Tangan kiriku meraih botol minum yang ada laci dashbor mobil lalu meneguknya pelan.
“ Sayang, kamu serius mau melamarku?” tanyaku memastikan dengan satu tangan meletakkan kembali botol minum itu.
“ Memangnya aku terlihat bercanda?”
Aku memposisikan dudukku lebih tegak lagi. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ku pertimbangkan dari obrolan ini. Bukan, ini bukan masalah kesehatan Angga.
Aku tidak akan pernah peduli dengan kekurangan Angga, karna bagiku setiap manusia punya kekurangan. Tapi ini masalah karir, jujur aku nyaman dengan karirku sebagai model saat ini. Tapi disatu sisi aku juga nyaman bersama Angga dan aku juga cinta padanya.
Masih banyak yang ingin ku raih di usia muda. Salah satunya ingin membelikan Mama rumah dan menghabiskan waktu bersama Mama sampai dirasa usia ku sudah cocok untuk menikah.
“ Kalo kamu menolak, aku akan menunggunya sayang. Tapi aku tidak dapat memastikan umurku akan bertahan sampai kapan”
Ucapan spontan dari Angga membuat jantung ku berdebar kencang. Aku meliriknya dengan tatapan tidak suka.
“ Maksudnya apaan ngomong kek gitu?”
“ Ya umurkan gaada yang tau sayang.”
Ujar Angga menenangkan.
“ Seharusnya kamu optimis dong kamu bakalan sembuh total. “
Terdengar helaan nafas yang keluar dari mulut Angga.
“ Sayang, autoimun ku udah stadium 2. Dan dokter pernah mengatakan bahwa aku tidak bisa sembuh total.”
“ Ga ada yang ga mungkin. Yang penting kita yakin dan percaya. Hidup dan Mati itu urusan yang diatas.”
Jelasku panjang lebar untuk memberikan Angga semangat.
Setelah mendengar penjelasan dariku, Angga terdiam. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya saat didalam mobil.
Sampai kami tiba dirumah sakit, Angga masih terdiam. Aku tidak ingin terlalu banyak basi pada nya. Biarkan saja, sampai mana ia sanggup mendiamiku.
Ketika langkah kami harus berhenti didepan pintu masuk ruangan yang biasa kami kunjungi. Tidak lama pintu terbuka menampilkan suster yang biasa menemani dokter Lee.
“ Silahkan masuk.” Ujar suster itu mempersilahkan.
Aku tersenyum manis kearahnya. “Terimakasih Sus.”
Sementara Angga sudah duduk dibangku yang berhadapan dengan meja dokter. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan dokter untuk Angga. Seperti , apakah makanan nya sudah dijaga? Sudah sering berolahraga?
Tidak lama dokter menyuruh nya untuk tidur diatas brankar untuk dicek keadaannya. Aku hanya diam memperhatikan sambil berdoa yang terbaik untuk pria itu.
Setelah semuanya selesai, aku berjalan mendekat untuk mendengar penjelasan dari dokter Lee.
“ Puji Tuhan. Penyakit yang diderita Pak Angga efeknya sudah berkurang. Mungkin karna Pak Angga sudah mulai mengikuti cara untuk menstabilkan penyakit ini. “
“ Alhamdulilah.” Ucap aku dan Angga bersamaan.
Lalu kami berpamitan untuk pulang kepada dokter Lee setelah membaya semua biaya check up.
Aku sangat ingin menanyakan perihal kesembuhan total pada penyakit yang diderita Angga, tapi sayangnya saat Angga sedang di cek aku coba untuk membuka google. Ternyata penyakit ini tidak bisa sembuh secara total.
Hal itu membuatku menelan kekecewaan. Mungkin saat dimobil nanti aku harus membicarakan perihal lamaran kepadanya.
Kami berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan keadaan canggung. Sampai dimobil, aku berdehem untuk menetralkan suasana. Sementara Angga kembali menyetir mobil membelah jalanan ibu kota.
“ Yang.”
tegurku membuat Angga menoleh sejenak lalu fokus kembali menatap jalanan.
“ Ada apa?”
“ hmmm.. soal lamaran, mungkin sebaiknya kamu atur waktu untuk membawa keluarga mu ke rumah bunda.”
“ Kamu ga jadi nolak?”
Aku berdengus malas lalu menghempaskan punggung pada sandaran bangku.
“ Kapan aku nolak nya si?” tanya ku kesal.
Sudah sedari tadi aku menahan untuk tidak marah dihadapan Angga. Tapi sayangnya pria ini sama sekali tidak ingin berdamai denganku.
“ Loh, tadi aku tanya kamu diem aja.”
“ Aku diem karna lagi mikir.” kesalku.
“ berarti kamu ga yakin dong sama aku?”
“ Seterah! “ rutukku padanya.
Aku memalingkan muka menghadap jendela. Memperhatikan setiap lekuk gedung megah diluar sana.
“ Sayang, jangan marah dong. Maaf.. aku cuma takut kamu nolak aku karna aku penyakitan.”
“ Seterah kamu! Aku males ngomong sama kamu Angga. “ jawabku menekankan nama panggilan orang-orang untuk nya.
“ Kok manggil nama aja si sayang.. maaf ya. Ni aku janji minggu depan aku bawa Mama sama Papa kerumah kamu deh. Oh iya untuk seserahannya kamu mau apa sayang?”
Mendengar kata ‘seserahan’ , sedetik kemudian aku menatap Angga sumringah.
“ Aku mau Cincin dari diamond yang.” pinta ku memelas melupakan semua kekesalan ku padanya.
Aku memang sudah lama mengincar perhiasan yang terbuat dari diamond itu. Tapi sayang, uang yang aku kumpulkan tidak cukup untuk membelinya.
“ Oke sayang. Tapi janji jangan marah lagi ya sama aku.”
pinta Angga membuatku mengangguk.
“ Aku ga bakal marah kalau kamu ga memancing kemarahanku.”