8. Mantan Suami Istri

1064 Words
Maloko benar-benar panik. Marinka adalah nyawa baginya. Kehilangan Marinka sama saja dengan kehilangan kehidupannya sendiri. Semenjak istrinya meninggalkannya, demi karier, dia tidak ingin Marinka pergi darinya--kecuali menikah. Hanya karena pencitraan dan bisnis tambangnya, Maloko menyadari dia tidak bisa memberikan apa yang diinginkan Adaire. Lima tahun yang lalu, dia pun melepaskan Adaire, meski tanpa surat resmi. Dia hanya tidak ingin, Marinka kehilangan seorang ibu, hitam di atas putih. Dan benar saja, ketika dia sudah melepas Adaire, tak lama dia mendengar bahwa wanita itu menjalin kasih dengan managernya sendiri. Maloko bahkan tak merasa sakit hati apalagi dikhianati. Percuma batinnya, toh dia sepakat melepas Adaire karena dia tak lagi mencintai wanita itu. Di matanya, Adaire tak ubahnya wanita yang menjual dirinya, dari panggung ke panggung. Dinikmati oleh mata banyak lelaki, dan itu memberikan kepuasan tersendiri bagi Adaire. Dan Maloko tidak ingin Marinka menjadi seperti ibunya. Keberangkatannya bulan madu ke Babilonia, hanya satu dari keinginan anak gadisnya yang selalu dipenuhinya. Di percaya, Marinka tidak akan mengikuti jejak ibunya. Karena kini dia sudah bersuami. Selepas berbulan madu, Marinka dan Bujana akan tinggal menemaninya di hari tua. Perusahaan tambang miliknya, akan dikelola Bujana. Dan Marinka akan memberikan cucu untuknya, dan itu hanya akan dinikmatinya sendiri, tanpa Adaire. Masa tua yang sempurna. Namun, kecelakaan pesawat itu, membuyarkan semua rencananya. “Apa masih lama, Dadda?” tanya Maloko gelisah. Dadda yang berada di sebelahnya, memegang gawai untuk mengetahui seberapa dekat mereka dengan rumah sakit Marinka, menoleh pada majikannya. “Lima menit lagi, Tuan.” Mereka bertatapan sejenak. Kadang pernah terpikir di kepala Maloko, untuk menikahi Dadda. Namun diusirnya jauh-jauh pikiran anehnya, meski dia melihat Dadda lebih dari sekedar asisten bagi Marinka. Dia menyayangi gadis itu seperti anaknya sendiri. “Aku yakin Adaire ada di sana,” keluh Maloko sembari menyandarkan punggung di sandaran taksi. Mereka berdua duduk di bangku belakang, dan seorang guide yang disewanya duduk di sebelah sopir taksi, “Sama pacarnya.” Dadda menghela napas pelan. Kabar pertama yang diterima Dadda adalah dari sebuah telpon asing. Dia tidak tahu siapa dan bagaimana lelaki di seberang sambungan telepon itu mengetahui nomornya. Dia juga tidak mengaku sebagai polisi atau dari kedutaan. “Pesawat Marinka jatuh di Baghdad.” Hanya kalimat pendek, namun sanggup menghebohkan seluruh karyawan perusahaan tambang Maloko. Karena saat Dadda menyampaikan berita itu pada majikannya, Maloko mengulang kalimat yang sama dengan nada tinggi, tak percaya, saat berada di rapat Dewan Direksi. Tak berapa lama, konfirmasi didapat Dadda dari kedutaan. Dan mau tak mau, dia perlu mengetahui apakah ibu kandung Marinka yang berada di negara yang dituju pasangan pengantin baru itu, sudah mendapat kabar yang sama. Nyatanya, wanita itu sedang sibuk karena akan manggung. “Dadda, aku minta tolong,” ucap Maloko ketika mereka memasuki halaman rumah sakit dengan arsitektur timur tengah. Bangunan dengan atap dan gapura berbentuk kubah. Guide di depan sibuk memberikan penjelasan dan sejarah bangunan di depan mereka. Maloko dan Dadda tidak membutuhkan itu semua. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Maloko menoleh sekilas pada asisten pribadi keluarganya itu. “Aku perlu tahu seseorang bernama Karran.” “Karran?” Dadda bukannya tidak mengetahui nama itu. Tapi, bagaimana Maloko bisa mengetahuinya, hal itu yang membuatnya mengadu alis. “Aku dengar-dengar kabar, dia kekasih Marinka.” Dadda menelan ludah. Majikan yang duduk di sebelahnya, bisa jadi sedang memancingnya untuk berbicara lebih jauh tentang Karran. Namun, sebagaimana janjinya pada Marina, dia harus merahasiakannya pada siapapun. Termasuk rencana Marinka untuk lari dari pernikahannya, bila Karran menjemputnya. “Kau tahu kenapa pernikahan Marinka aku umumkan mendadak?” Dadda menggeleng. Dia sendiri hendak menanyakan hal itu, tapi lebih memilih diam. Majikannya bisa jadi punya pertimbangan penting. “Karena, Marinka mau kabur dengan Karran.” Dadda terkesiap. Gawai di tangannya nyaris terjatuh dari pangkuannya. Bagaimana mungkin Maloko tahu rahasia besar Marinka? Bukankah gadis itu hanya bercerita padanya? Adakah telinga lain di rumah Maloko? Atau lelaki itu memasang penyadap di kamar Marinka. “Aku tidak ingin bertemu lelaki itu nanti, Dadda.” Dadda mengangguk. “Saya akan berusaha semampu saya, Tuan.” “Kau harus mengusahakan lebih dari itu, Dadda. Karena aku tidak ingin dia tahu, bahwa aku ….” Maloko menghentikan kalimatnya, karena mobil mereka sudah berhenti di tempat parkir. Maloko menarik napas panjang, lalu berbisik di telinga Marinka. “Aku yang memblokir dia dari Marinka.” Dadda tertegun. Detak jantungnya bersicepat, dan dia merasa napasnya mulai tidak teratur. Hingga majikannya turun lebih dulu darinya, dan sopir taksi membukakan pintu untuknya, Dadda masih berusaha mengumpulkan kepingan puzzle di kepalanya. Maloko sudah mengetahui semuanya. Dan dia ingin Dadda tetap setia padanya. *** Adaire memang wanita yang luar biasa cantik. Dadda tak berhenti mengaguminya, sejak lama. Lukisan besar wanita itu di sebelah tangga utama ke lantai dua, tampak begitu hidup. Tak heran bila dia dan Maloko tak bisa bertahan lama. Maloko hanya terpikat pada kecantikannya, dan Adaire pada uangnya. Meski di tengah perjalanan pernikahan mereka, keduanya menemukan jalan masing-masing untuk menyenangkan diri. Dan perpisahan tanpa hitam di atas putih itu, lama-lama terjadi, meninggalkan Marinka semata wayang, tenggelam dalam dunianya. “Seperti biasa, kau selalu lambat,” sergah Adaire, lalu menjatuhkan pandangan pada Dadda. “Apa aku kurang membayarmu?” Dadda menggeleng. “Tidak Nyonya, maafkan kami. Pesawat pribadi Tuan Maloko sempat agak ngadat ketika hendak terbang. Jadi, kami sedikit terlambat.” “Aku mau ketemu Marinka,” ucap Maloko pada Adaire. Di belakangnya, ada seorang lelaki berjas resmi. Dia pasti pacar Adaire. Maloko tak berminat untuk mengenalna. “Bujana juga.” “Mereka di ruang ICU.” Adaire melangkah menuju selasar panjang. Maloko mengikutinya, diikuti oleh Dadda dan Javier. Sejurus kemudian, sampailah mereka di sebuah ruangan tertutup. Setelah mengenakan baju steril, keempatnya masuk didampingi seorang petugas kesehatan. Maloko dan Adaire berdiri di depan sebuah ruangan berdinding kaca. Di dalamnya, ada Marina sedang terbaring, dengan mengenakan ventilator dan aneka selang melewati tubuhnya. “Bagaimana kondisinya?” tanya Maloko. Dia mengira akan berurai air mata melihat putrinya. Ternyata tidak, apalagi tubuh Marinka masih utuh. Jatuhnya pesawat jet, bukan kecelakaan yang bisa menyisakan seorang manusia untuk tetap utuh dan hidup. Ini benar-benar keajaiban. “Dia koma,” sahut Adaire. “Tapi kata dokter, kondisinya bagus.” “Bujana?” Adaire tak langsung menjawab pertanyaan Maloko. Dia terdiam beberapa saat. “Bujana di mana?” tanya Maloko dengan nada sedikit meninggi. “Kurasa dia tidak akan bisa bertahan,” ucap Adaire pelan, nyaris tak terdengar. “Fungsi otaknya hanya 25%. Tulang tangan dan kaki patah. Hanya menunggu keajaiban.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD