Adaire Maloko menyapukan brush di pipinya dengan gemetar. Dadda, asisten rumah tangga Maloko menelponnya. Wanita itu sudah lama dipercayanya untuk mengurusi Marinka, selama dia beredar dari panggung ke panggung. Apa saja yang terjadi di seputar Marinka, Adaire yang berjarak ribuan kilometer dari Jakarta, selalu tahu lebih dulu dari Maloko yang serumah dengan anaknya.
Adaire tak hendak mengumpat Maloko yang tak becus mengurus anak, karena dia sendiripun meninggalkan Marinka. Meski Dadda mendapat tambahan gaji darinya, tanpa sepengetauan Maloko.
“Javie, pastikan berita itu!” teriak Adaire setelah berusaha menahan gemetar tangannya setelah Dadda mengakhiri panggilan. Javier, manager sekaligus kekasihnya yang sejak tadi sibuk dengan beberapa dokumen, mendongak.
“Kita akan melihatnya di televisi sebentar lagi, sayang. Sebaiknya kamu tidak panik,” ucap Javier, terlihat tidak setegang kekasihnya.
“Aku tidak percaya televisi manapun, Javier! Aku mau kepastian sekarang. Pastikan bahwa Dadda hanya khawatir pada Marinka. Pastikan bahwa pesawat Marinka masih belum terbang dari Jakarta!”
Javier menghembus napas, menutup map dokumennya, lalu menghampiri Adaire yang duduk menatap cermin besar dengan mata membelalak padanya. Perlahan, Javier mengecup ujung rambut Adaire yang sudah tertata apik, bersiap untuk melantangkan suara emasnya tiga puluh menit lagi.
“Aku akan pastikan semuanya. Tapi yang lebih penting lagi, aku akan pastikan bahwa aku akan selalu mendukungmu, di belakangmu, bersamamu, mencintaimu.”
Adaire memejam mata. Javier memijat bahunya yang terbuka dengan lembut. Javier selalu bisa membuatnya tenang dan nyaman dalam sekejap, seolah dia punya daya hipnotis luar biasa. Baru lima tahun ini Adaire menjalin kasih dengan manajernya sendiri, membuat hidupnya lebih tenang.
“Jangan khawatirkan Marinka. Aku akan mengurus semuanya,” bisik Javier di telinga Adaire, “Bukankah kita akan mengumumkan pertunangan kita di pesta pernikahannya?”
Adaire menangguk dengan mata masih terpejam. Lusa, adalah hari yang dinanti-nantinya. Pertunangannya dengan Javier, yang dibarengkannya dengan pesta pernikahan Marinka. Dia tak mau ada satu hal kecil saja yang menganggu peristiwa penting dalam hidupnya itu. Bahwa akhirnya Maloko melepasnya dan dia bisa melanjutkan hidupnya.
“Apa Karran sudah diberitahu?” tanya Adaire membuka mata, dan melihat wajah tampan di sebelahnya, tersenyum padanya. Membuat rasa nyaman menyelimutinya.
“Ah, iya. Kenapa aku sama sekali tidak terpikir untuk meminta bantuan dia? Dia pasti punya banyak relasi wartawan yang bertelinga tajam.”
Javier bergegas meraih ponselnya dan mendial sebuah nomor. Telpon segera tersambung, membuat wajahnya sumringah dan memberi kode pada Adaire untuk tetap tenang, sembari menunjuk ke arah jam dinding.
Dua puluh menit lagi saatnya Adaire tampil.
“Woi, Karran,” sapa Javier ramah. “Aku bisa minta tolong sebuah informasi?”
“Apa itu?” sahut suara di seberang, kurang ramah. Javier tak peduli bila Karran tidak suka padanya karena kasus masa lalu yang menjerat mereka, yang penting dia bisa membuat Adaire nyaman.
“Ada kabar sebuah pesawat Jet jatuh di tepi Baghdad.”
“Apa urusannya denganku?” tanya suara di seberang, ketus.
“Marinka ada di pesawat itu. Dengan suaminya.”
***
Matahari bersinar sangat terik, terasa begitu membakar. Bujana tersentak, menyadari dirinya berada di sebuah bangku taman. Sejenak Bujana mencoba mengingat bagaimana dia bisa sampai tertidur di bangku taman, dan terbangun di siang terik. Alangkah lelapnya dia tertidur hingga siang baru terbangun. Di taman kota, dan tak seorangpun ada di sana. Namun suara klakson terdengar bersahut-sahutan di bawah sana.
Taman kota ini lebih layak disebut bukit kecil.
Bujana berjalan perlahan menuju tepi taman, dan dia bisa melihat beberapa playground di kaki bukit. Terdengar tawa anak kecil di sana. Dia seorang diri bermain di taman. Bujana menuruni bukit, mendekati anak kecil itu.
Anak kecil berbaju merah menyala dengan rambut kuncir kuda berpita. Wajah khas Timur Tengahnya, membuat Bujana teringat pada seseorang. Kelihatannya dia sangat senang bermain ayunan, meski seorang diri. Dia tertawa tanpa henti. Dan ayunannya mengayun dengan kecepatan konstan. Tidak ada yang mendorong. Tapi tetap berayun.
“Hei, mana ibumu?”
Anak kecil itu tidak mengindahkan pertanyaan Bujana. Bujana mengamati anak itu. Sepertinya dia terluka di bagian kepalanya. Ada darah mengalir tipis dari pelipisnya, hingga ke bawah dagunya. Tapi, herannya, dia tidak kelihatan kesakitan. Dia masih saja tertawa tanpa henti.
Sejurus kemudian, Bujana menyadari. Anak kecil itu berbeda wajah dan kulitnya seperti dia. Dia berkulit putih dan wajahnya bukan wajah Melayu.
Bujana memindai sekitarnya. Sepi, tidak ada orang selain dia dan anak kecil itu, yang tak henti-hentinya tertawa girang. Dengan ayunan yang mengayun konstan.
“Di mana aku?”
Bujana mencoba mengingat apa yang telah terjadi, hingga dia bisa berada di sini. Di taman kota yang tak pernah dilihatnya, begitu asing dan sepi.
“Hei, anak manis. Bisa kau beri tahu aku, kita ada di mana?”
Anak kecil itu menoleh, menatap Bujana dengan sepasang mata bulatnya. Dia kelihatan tidak suka dengan pertanyaan Bujana, yang membuatnya berhenti bermain. Dia turun dari ayunan dan mendekati Bujana.
“Siapa namamu?”
Anak kecil itu menyeringai, dia kelihatan marah. Sepasang mata bulatnya tidak lagi memancarkan aura kekanak-kanakkan. Raut wajah itu, penuh kebencian. Bujana mundur beberapa langkah. Anak kecil ini terlihat begitu mengerikan. Dan darah di pelipisnya semakin mengalir deras. Tapi, dia sama sekali tidak kelihatan kesakitan.
Bujana merasakan ada sesuatu yang hangat mengalir di tengkuknya. Bujana meraba tengkuknya. Ada cairan kental di sana.
Darah.
Bujana terperangah melihat telapak tangannya memerah. Anak kecil di hadapannya tertawa senang, lalu kembali bermain ayunan. Tawanya semakin lama semakin keras. Bujana berlari meninggalkan anak kecil itu, menuju jalan. Suara klakson mobil semakin keras. Bujana berharap mendapat pertolongan. Kepalanya berdarah, tapi dia tidak merasakan sakit sama sekali. Berkali-kali cairan hangat di tengkuk diusapnya, dan tetap saja darah merah berada di telapaknya.
“Apa ini? Apa yang terjadi?”
Bujana berhenti di tepi jalan yang ramai. Di depannya ada sebuah bangunan tinggi menjulang. Di depannya ada mobil berlogo palang merah. Sepertinya, sebuah rumah sakit atau rumah kesehatan, karena Bujana melihat beberapa orang berbaju outer putih berseliweran di halamannya.
“Apa itu rumah sakit?” batinnya. Bujana bergegas menuju bangungan itu. Wajah-wajah asing khas Timur Tengah dengan postur tubuh lebih tinggi dari orang Asia pada umumnya, tampak tak peduli dengan kedatangan Bujana.
“Sir, please help me,” ucap Bujana sembari menepuk salah seorang lelaki yang berlalu dengan stetoskop di daddanya.
Bujana tertegun, melihat tangannya yang berdarah. Dia tidak bisa menyentuh bahu lelaki itu, seperti memegang angin saja. Dia tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada dirinya. Setiap yang dipegangnya seolah hologram yang bisa ditembus dengan mudah oleh tangannya.