“So, kita lanjut kesepakatan?” tanya Bujana ketika Marinka sudah duduk kembali di bangkunya. Mukanya basah, dan air masih menetes dari dagunya.
Marinka menatap Bujana. Beberapa detik mereka saling menatap, lalu Marinka pun melipat tangan di meja. Bujana menirunya. Mereka lebih mirip dua orang yang sedang memikirkan tugas kuliah yang sangat sulit untuk dipecahkan.
“Aku meminta bulan madu ke Babilonia bukan tanpa alasan,” ucap Marinka memulai perbincangan serius.
Bujana memberikan perhatian penuh. Meletakkan ponselnya di samping ponsel Marinka. Perjalanan ke Irak bukan perjalanan singkat. Jadi, lebih baik dia menikmati setiap detil wajah cantik istrinya. Sepertinya Marinka hendak menjalin chemistry dengannya. Wanita itu akan menyerahkan diri padanya, suka rela. Bujana bisa melihatnya di sepasang matanya.
Jadi, dia hanya perlu menunggu dan mengikuti ke mana arah permainan, yang diyakininya akan berakhir dengan pelukan kepasrahan. Dan malam pertama bisa mereka lalui ribuan kilometer dari atas tanah. Membayangkan hal itu, membuat Bujana tersenyum-senyum sendiri.
“Kau tidak mendengarkan.”
Bujana tergeragap. “Ah, pasti karena ibumu.”
Gadis di depannya menggeleng. “Itu nomor dua.”
“Nomer satu lebih penting rupanya.” Selintas Bujana teringat foto lelaki di ponsel Marinka. Istrinya belum menyentuh ponsel setelah kembali dari membasuh muka. Dia pasti sangat gugup hingga perlu membasahi muka, leher dan tangannya. Apakah nomor satu adalah lelaki itu?
“Tentu. Karena ada nomer satu, ibuku pun membuat nomer dua.”
Bujana menggeleng pelan. Dia menjadi agak bingung dengan nomor satu dan nomor dua. “Apa itu?”
Marinka menghembus napas pendek. Tidak, dia berusaha mengatur napas. Apa yang akan disampaikannya pada lelaki yang sudah sah menjadi suaminya, membuat daadanya tiba-tiba begitu sempit. “Nomor dua dulu. Ketika aku sampaikan aku akan berbulan madu ke Babilonia, ibu akan membuat pesta untuk kita.”
“Aku tidak heran. Ibumu tidak datang ke pesta pernikahanmu.” Ketidakhadiran ibu kandung istrinya di pesta pernikahan memang mengundang banyak pertanyaan dan praduga. Bahkan disebut-sebut di press release sebagai bentuk ketidak setujuan ibu Marinka atas pernikahannya. Nyatanya, wanita itu malah akan menyiapkan pesta pernikahan kedua.
“Itu karena nomor satu.”
Bujana melebarkan tangan, mulai sedikit kesal. “Dari tadi kau berputar-putar, apa sengaja ingin membuatku penasaran? Atau kau ingin berlama-lama bersamaku?”
“Jangan berprasangka buruk.”
Bujana mendecih lagi dalam hati. Itu bukan prasangka buruk bagi pengantin baru seperti mereka. Password Marinka benar-benar membuatnya kesal.
“Hanya ada dua poin. Satu. Karran. Dua, ibu.”
Bujana mengernyit. Karran, My Love. Jadi lelaki itu.
“Karran? Apa itu? Semacam santan?” goda Bujana.
Marinka, sekali lagi tanpa ekspresi menatap Bujana. Dia tidak hanya dingin, tapi juga tidak bisa diajak bercanda. Apa makanan wanita ini setiap harinya? Es batu?
“Dia kekasihku.”
Bujana memundurkan punggungnya. Jadi benar, lelaki yang memegang kamera itu adalah Her Love. “Kau, mau berbulan madu bersama kekasihmu? Atau aku? Jadi, ini semua hanya skenariomu, supaya kamu bisa bersama kekasihmu?”
“Jangan berprasangka baik.”
Bujana tertawa sengau. Dia tidak tahu lagi apa bedanya prasangka buruk atau prasangka baik. Bersama Marinka, pikirannya mulai kacau. Setiap inchi wajah wanita di hadapannya itu, membuatnya tak sabar untuk meraupnya dalam dekapan dan memiliki segalanya. Segala yang menjadi haknya.
Namun, tentu saja Bujana tidak akan melakukannya dengan paksaan. Itu sama sekali tidak nikmat, hanya akan menyisakan sakit hati berkepanjangan bagi Marinka, sedangkah mereka akan melalui pernikahan ini dalam waktu yang tidak sebentar. “Lalu, kesepakatan apa yang akan kau buat di nomor satu?”
“Aku mau pamit padanya.”
Bujana terdiam. Dia berusaha menerjemahkan kata pamit versi Marinka. Menyerahkan diri pada lelaki itu, dan memberikan sisa padanya? Atau hanya kiss bye seperti biasa? Mana yang lebih memungkinkan?
“Aku sudah menikah, dan aku belum mengabarinya. Aku akan membawamu bertemu dengannya, dan setelah itu, aku tidak akan berhubungan dengannya lagi.”
Hening.
“Kau yakin? Kau bisa memegang janjimu?” tanya Bujana sangsi.
“Ini kesepakatan.”
“Oke, aku sepakat.” Bujana menghulurkan tangan, menawarkan jabat tangan. Namun Marinka malah melipat tangan di daada.
“Kau harus melakukannya sama denganku. Aku yakin kau punya lebih dari satu kekasih.”
Bujana menarik nafas panjang. Jadi, di sinilah kecerdasan Marinka. Mereka saling berpandangan, cukup lama. Bujana berusaha menelisik dalam ke dasar hatinya. Adakah dari semua wanita itu yang dicintainya, layaknya kekasih? Menatap Marinka dengan debaran di daadanya, Bujana yakin tak ada seorangpun di hatinya yang seperti Marinka. Marinka dengan segala jual mahalnya, benar-benar membuat Bujana mulai jatuh hati.
“Aku tidak punya kekasih. Mereka hanya para fans yang cukup menyita waktu.”
Marinka diam, tanpa ekspresi.
“Jadi kita sepakat?” tanyanya kemudian.
“Kita sepakat berpamitan pada semua yang ada di masa lalu,” sahut Bujana sambil mengulurkan tangannya.
Marinka menyambutnya. Mereka berjabat tangan. Bujana menggenggam erat tangan Marinka, menariknya perlahan dan mencium punggung tangannya.
Marinka menahan nafas. Bujana memperlakukannya layaknya wanita terhormat. Seketika, rasa bersalah menyelusup dalam hatinya. Karran tak pernah menyatakan cinta padanya, tapi segala hal tentang Karran membuat Marinka tak bisa bernafas. Pertemuan dengan Karran yang sudah diatur ibunya menjelang pesta pernikahan kedua nanti, hanya untuk memastikan perasaan Karran pada Marinka. Bahwa selama ini, Marinka tidak salah memendam cinta pada fotografer itu.
Marinka tidak yakin, setelah pertemuannya dengan Karran nanti, dia bisa melupakan lelaki itu. Bagaimana bila ternyata, Karran juga mencintainya. Ayahnya pasti mengutuknya bila kemudian dia lari meninggalkan Bujana. Ibunya akan mendukungnya karena dia memperjuangkan cintanya. Karena sejak awal, Ibunya tidak pernah sepakat dengan pernikahan ini. Dia yang paling keras menentang, karena dia tahu ini semua demi bisnis ayah Marinka.
Marinka yakin, ibunya sudah menemui Karran lebih dulu dan mempengaruhi lelaki itu. Hal yang sangat diharapkan oleh Marinka, yang membuatnya merasa berdosa pada Bujana, lelaki yang tak kunjung melepas tangannya.
“Marinka?”
Marinka tergeragap. Bujana menatapnya tajam.
“Aku tak sabar ingin menemui Karran.”
Marinka mengangguk.
Tiba-tiba, terdengar ledakan kecil di belakang pesawat. Dan pesawat jet yang mereka tumpangi oleng.
Marinka dan Bujana panic. Dari arah kokpit terdengar keributan. Seorang lelaki keluar dari kokpit.
“Pesawat mengalami kerusakan mesin. Bersiap untuk mendarat darurat.”
Bujana mendekati Marinka, memasang sabuk pengamannya. Dia menggenggam tangan istrinya. “It’s okay,” bisiknya.
Bujana mencium kening istrinya lembut. Marinka menatap suaminya. Dia melihat tatapan yang berbeda di sepasang mata Bujana.
Tiba-tiba pesawat oleng ke kiri, dan Bujana terbanting ke dinding pesawat. Rupanya sabuk pengamannya belum terkunci sempurna.
“Bujanaaa!” teriak Marinka.
Selanjutnya, pesawat berputar-putar dan menukik tajam. Marinka hanya bisa melihat suaminya terbanting ke sana kemari. Setelah itu semua gelap.