Baik Marinka maupun Bujana sama-sama berstrategi. Ibarat dua pemain football berhadapan, saling memindai wajah dan mempelajari gestur. Marinka yang berusaha mempertahankan diri, setidaknya setelah dia memastikan bahwa Karran tidak membalas cintanya. Dan Bujana yang offensif, begitu percaya diri bahwa dia bisa menaklukkan Marinka semudah membalik telapak tangan.
“Apa?” tanya Marinka sedikit tersengat mendengar kalimat Bujana. Dia belum ingin menyatukan raga dengan lelaki yang diketahuinya selalu dikelilingi gadis-gadis cantik. Dia tidak yakin, Bujana seperti dirinya, belum melepas milik berharganya. Masa lalu tak bisa begitu saja dihapus seperti mengetik di laptop. Begitu juga dengan asmara yang membalut hati Marinka, untuk Karran.
Bujana memulai penawaran. Dia, merasa punya daya tawar tinggi.
“Kau dan aku.” Bujana menunjuk muka Marinka, lalu menunjuk dadanya. Dilihatnya pipi gadis di depannya, ya tentu saja istrinya masih gadis--memerah. Dan dia kembali membuang muka. Bujana bersorak histeris dalam hati. Ternyata tidak sulit menaklukkan seorang Marinka.
“Apa?” sergah Marinka sekali lagi, berusaha mengusir debar di dadanya, ketika Bujana tiba-tiba menarik tangannya, hingga wajah mereka hanya berjarak satu kepalan tangan saja.
“Aku perlu foto kita berdua. Aku perlu mengunggahnya di medsos. Semua orang menghujatku bila aku tidak melakukannya.” Napas hangat Bujana terasa begitu panas di pipi Marinka. Marinka menghempas tangan Bujana, menyadari bahwa napas hangat itu membuat dadanya berdesir halus.
“Aku benci medsos,” tukas Marinka.
“Itu bisa kita masukkan dalam kesepakatan.”
Bujana berdiri, mendekati Marinka. Marinka beringsut ke jendela, dia mulai was-was Bujana akan bertindak nekad. Bujana tersenyum. Bagaimanapun, Marinka perempuan. Dia tidak akan bisa menolak pesona Bujana.
“Kau mau apa?” sergah Marinka.
“Hanya foto, berdua.”
“Sudah banyak foto di pernikahan kita.”
Bujana mendesak, memperpendek jarak dengan istrinya. “Aku mau di pesawat ini. Foto kita berdua, menunjukkan kalau kita sedang bulan madu. Aku ingin mereka semua percaya, aku benar-benar menikah. Bukan untuk mendulang popularitas.”
“Aku tidak percaya. Kamu hanya perlu itu dalam hidupmu. Popularitas.”
Bujana melebarkan tangannya. “Semua orang perlu popularitas. Bahkan ayahmu melakukan semau ini demi popularitas. Tapi, terserah. Setidaknya, foto ini bisa kita pasang di Surat Kesepakatan Pernikahan kita.”
“Itu tidak perlu.”
“Foto dulu, baru aku mau bersepakat.”
Marinka diam. Proses tawar menawar ini bisa berlangsung alot sampai mereka mendarat di Irak, atau sebaliknya. Dia tidak ingin jatuh dalam pelukan Bujana, meski pesona lelaki itu semakin menguat, di setiap menit yang mereka lalui. Sepertinya perjalanan ini akan terasa lebih lama baginya.
Bujana mengulurkan tangan, Marinka menyambutnya ragu.
“Berdiri, dan peluk leherku.”
Marinka berdiri perlahan. Mereka berdua berdiri berhadapan.
“Aku tidak mau.”
Bujana mengalungkan tangan Marinka di lehernya. Gadis itu menahan tangannya, tapi Bujana memaksa.
“Jangan seperti anak kecil. Ini tidak akan menyakitkan.” Bujana menatap Marinka dalam, membuat tatapan mereka bertaut beberapa detik.
“Oke, lepaskan tanganku. Aku bisa melakukannya sendiri. Jangan berpikir macam-macam.”
Bujana mengembangkan senyum lesung pipitnya, memberi kepastian pada Marinka, bahwa dia tidak akan berbuat macam-macam. Perlahan Marinka mengalungkan lengannya ke leher Bujana. Bujana mempersiapkan ponselnya.
“Oke, smile.”
Crek!
Bujana melihat hasil fotonya, dan bibirnya pura-pura merungut kesal. “Kau masih seperti patung Babilonia.”
“Tidak ada patung di Babilonia, “ sergah Marinka.
“Setidaknya, tersenyumlah natural. Tunjukkan pada penggemarku bahwa kita sedang berbahagia. “
Crek! Crek! Crek!
Marinka melepaskan tangannya dari leher Bujana. Bujana tersenyum puas melihat hasil foto selfi mereka.
“Jika kau memberi nomer ponselmu, aku akan mengirim foto ini.”
“Bluetoot sudah kuhidupkan,” ucap Marinka datar.
Bujana menatap wajah istrinya. Sama sekali tidak ada ekspresi di sana. Padahal, Bujana saja berusaha keras menenangkan detak jantungnya selama mereka selfi tadi. Baru pertama kali ini, dia merasa begitu dekat dengan Marinka. Gadis dingin itu, telah membuatnya berdebar-debar. Dan itu sangat menyiksanya, karena dia tidak bisa menjangkaunya dengan mudah.
Layar ponsel Marinka menyala. Marinka meraih ponselnya. Memainkannya sejenak, lalu meletakkannya kembali di meja. Bujana meliriknya, menelisik wajah Marinka. Dia pasti sudah menerima foto yang dikirim Bujana.
“Bagaimana? Apa perlu selfi lagi. Kita ganti pose. Aku yang memelukmu.”
“Tidak perlu, “ ucap Marinka cepat menyela.
Bujana tersenyum, tapi masih heran melihat wajah datar Marinka. Gadis itu benar-benar aneh. Apa tidak pernah ada lelaki selama ini dalam hidupnya? Hingga dia tidak tahu bagaimana caranya memperlakukan seorang lelaki? Tentu saja, selama ini dia hanya berkutat pada kuas dan kanvas.
“Kita lanjutkan ke kesepakatan kita,” ucap Bujana, setelah beberapa menit mengirim fotonya ke beberapa teman. Tidak perlu mengupload ke medsos. Mereka pasti akan melakukannya lebih baik dari dirinya. Bukankah ini berita yang mereka nanti-nanti?
“Aku ke toilet dulu.”
Mata Bujana mengekor langkah Marinka, memastikan Marinka sudah masuk toilet. Lalu dia bergegas meraih ponsel Marinka. Dia sedikit terkejut, mendapati foto mereka sudah menjadi wallpaper ponsel Marinka.
“I see. Kau sudah mulai jatuh cinta padaku. Tapi kau mengingkari, kan?”
Bujana tertawa dalam hati dan bersorak dalam hati. Tidak ada yang bisa mengelak darinya. Termasuk Marinka. Gadis itu tidak akan bisa bertahan lama dalam dingin perilakunya, bila setiap hari bersama Bujana.
Bujana menggeser layar ponsel Marinka, sedikit terkejut mendapati ponsel itu sama sekali tidak terkunci. Bujana saja memasang pin untuk ponselnya, sehingga setiap gadis yang berkencan dengannya tak mudah mendapatkan informasi apapun dari ponselnya.
“Dia sengaja agar aku membuka ponselnya,” batin Bujana sembari melirik ke arah toilet. Dia mendengar gemericik air, membuatnya merasa punya banyak waktu luang mencari apapun dalam ponsel Marinka.
Satu gesekan, dan dia mendapati display wallpaper bergambar seorang lelaki. Sepertinya berdarah Timur Tengah. Berpose dengan dua kancing baju terbuka, satu kaki tertekuk dan tangannya menggantung kamera di sana. Bujana mengernyit, menatap wallpaper itu, terlebih ada note di bawahnya.
Be with you someday, Marinka.
Lelaki ini, pasti seseorang yang istimewa bagi Marinka. Dia tidak memajang foto ayahnya, apalagi ibunya. Dan menilik gestur lelaki ini, sudah jelas akan membuat wanita tergila-gila.
“Siapa dia?” batin Bujana, tiba-tiba ada yang mendesak di dadanya. Seolah ada orang lain yang hendak mencuri darinya.
Tiba-tiba ponsel Marinka bergetar. Sebuah panggilan dari sebuah nama dan foto seorang pria muncul. Pria di wallpaper tadi. Bujana sontak mereject panggilan itu dan menghapus jejaknya di ruang miscal. Marinka menamai lelaki itu dengan Karran, My Love.