Bujana masih berharap Marinka berubah pikiran, mengubah bulan madu mereka ke Sanur atau Bunaken. Bukan ke sebuah taman gantung kuno, hanya melihat-lihat bangunan yang tidak menarik sama sekali. Di Bunaken, mereka berdua bisa menyelam bersama dan di Sanur bisa berselancar menantang samudra. Setidaknya, adrenalin yang terpacu akan membuat mereka dekat. Dan, lebih banyak media yang akan meliput. Bujana yakin, berita apapun tentang bulan madunya akan semakin mendongkrak popularitasnya. Akun youtubenya akan semakin bejibun subscriber.
Tapi, itu jika Marinka berada dalam kendalinya.
Jika Marinka tergila-gila padanya, hingga akan menuruti apa saja maunya.
Ekspetasi tentu saja jauh berbeda dengan realitas. Wanita berbaju pengantin yang duduk berhadapan dengannya itu, sudah bersepakat dengannya untuk menjalani pernikahan ini asalkan bulan madu mereka ke Babilonia.
Apa benar mereka akan berbulan madu?
Bujana mendesah. Dia tidak yakin bisa menaklukkan Marinka. Wanita itu, masih saja arogan dan tertutup. Tidak banyak yang diketahui Bujana tentang istri di hadapannya selain dia pandai melukis dan punya sebuah gallery. Orang seni seperti dia, berseberangan dengan Bujana yang penuh adrenalin dan euphoria kemenangan.
Marinka meletakkan ponselnya di meja kecil di antara mereka. Dia melepas pandangannya ke luar jendela. Baru lima belas menit mereka mengudara, Bujana berharap bisa menyentuh istri cantiknya. Tapi, dia tak bisa melakukannya dengan tergesa, atau Marinka akan menyuruhnya keluar dari pesawat jet yang mereka tumpangi. Tidak seperti sirkuit yang bisa ditaklukkannya dengan mobil balap, dengan Marinka harus punya strategi.
“Aku belum punya nomor ponselmu,” ucap Bujana, sembari mengeluarkan ponselnya. Dan ratusan notifikasi di ponselnya membuatnya tersenyum-senyum. Pasti, teman-temannya mengucapkan banyak selamat, para penggemar, sponsor dan gadis-gadis patah hati itu. Bujana tak hendak menyenangkan mereka dengan membaca pesan whatsappnya. Baginya, bulan madu ini harus terfokus pada Marinka. Setelah Marinka ditaklukkannya, akan mudah baginya menjalani kehidupan pernikahan selanjutnya.
“Kurasa kau tidak memerlukannya,“ sahut Marinka tanpa menoleh. Dia menopang dagu, dan itu membuatnya semakin terlihat cantik.
“Kenapa? Semua suami istri selalu punya nomor masing-masing,” sergah Bujana.
“Tidak semua. Ayah dan ibuku tidak begitu.”
Bujana mengembang senyum andalannya. Setiap gadis mudah ditakluknnya dengan senyum berlesung pipitnya. “Orang tua kita menikah sebelum ada ponsel. Wajar bila mereka tidak saling menyimpan nomor telepon. Bahkan, mereka bisa jadi tidak suka dengan teknologi sekarang. Mamaku, sampai sekarang sangat membenci android.”
Marinka diam. Teringat selintas wajah ibu mertuanya yang sangat ramah. Tapi, tidak membuatnya bersimpati. Keramahannya, penuh kepalsuan.
“Sebaiknya kau menyimpan nomerku,“ ucap Bujana sembari mendorong ponsel Marinka, menyuruh Marinka membuka ponselnya.
“Apa kau berencana pergi jauh dariku?” tanya Marinka.
“Tentu saja tidak. Bukankah tujuan kita sama. Ke Babilonia, ya kan?”
Marinka mendorong ponsel Bujana menjauhinya. “Kalau begitu kamu tidak membutuhkan nomer ponselku.”
Bujana merengut. Marinka lebih sulit dari dugaannya. Bahkan meminta nomer ponsel saja, alangkah pelitnya.
“Cih, lihat saja nanti, Marinka. Aku akan membuatmu tergila-gila padaku. Itu sangat mudah bagiku, “ seru Bujana dalam hati.
Saat ini, dia hanya perlu bersabar, mengikuti kemauan istrinya. Saat Papanya menyodorkan foto Marinka dua bulan yang lalu, dia langsung terpikat pada kecantikan Marinka. Tugasnya hanya satu, menikahi gadis itu. Dan urusan bisnis Papanya akan beres, dan Bujana tidak perlu tahu menahu apa itu. Mana ada lelaki yang akan menolak sebuah tugas yang menyenangkan?
Meski ternyata, tidak semudah yang diangankannya. Tapi, Bujana merasa begitu tertantang. Dia selalu menang di setiap sirkuit, kenapa tidak dengan Marinka? Oke, ini kasus yang berbeda, tapi tidaklah serumit yang kelihatan di hadapannya.
“Aku akan ganti baju.”
Marinka berdiri, lalu berjalan menuju belakang pesawat dan gesturnya menghilang. Bujana mendesah panjang. Perjalanan masih panjang, dia masih punya banyak waktu. Marinka benar, saat ini dia tidak akan kemana-mana. Dia akan selalu berada di samping Marinka, untuk menaklukkan wanita itu. Jadi, Bujana tidak memerlukan nomor ponsel istrinya. Bujana mulai menyusun rencana. Menonaktifkan semua akun medsosnya, menghubungi beberapa sponsor untuk membatalkan beberapa kontrak.
Jika diperlukan, tidak hanya bulan madu satu bulan saja. Tapi bisa berbulan-bulan. Dan setelah itu, dia akan menemui para fans-nya lagi, tentu saja dengan Marinka yang bersandar di bahunya.
Bujana tersenyum-senyum sendiri membayangkan rencananya. Marinka sudah duduk kembali di hadapannya, mengenakan kaos lengan pendek dan celana jeans. Menggerai rambutnya, dan mulai memainkan ponsel.
Bahkan dengan gaya sederhananya, dia tetap saja cantik, gumam Bujana.
“Ada yang hendak kukatakan padamu, “ ucap Marinka setelah meletakkan ponselnya kembali di atas meja, “mungkin beberapa kesepakatan.”
Bujana mulai memasang wajah serius. Berbicara kesepakatan, itu sama artinya dengan membicarakan aturan yang akan dilanggar. “Kesepakatan sebelum pernikahan? Aku pernah mendengar hal itu, tapi aku tidak pernah percaya itu akan terjadi.”
“Pada pernikahan ini, kau akan percaya,” tukas Marinka, menatap Bujana sejenak dengan mata berkilat.
“Oh ya? Kenapa?” goda Bujana. Pelan tapi pasti, Marinka pasti akan mengikuti kemauannya.
“Aku akan menjadi istrimu. Istri yang sebenarnya.”
Bujana menangkupkan kedua tangannya, memberikan perhatian serius. Ini yang dia tunggu-tunggu.
“Apa kau mulai jatuh cinta padaku?” godanya.
Marinka menatap Bujana tanpa ekspresi. “Jangan berprasangka buruk. Aku bukan wanita yang mudah jatuh cinta.”
“Cih. Awas kau….” batin Bujana kesal.
Marinka melipat tangan dan menyandar punggung di sandaran kursinya.Dia mulai menunjukkan sikap bahwa dia harus menguasai situasi. “Tapi, sebelum itu semua, kita harus membuat kesepakatan.”
Bujana malah melipat tangan di atas meja, memindai setiap inchi wajah istrinya. “Aku setuju.”
“Hitam di atas putih,” ucap Marinka sembari melempar pandangan ke luar jendela. Dia menghindari kontak mata dengan suaminya yang disadarinya mulai menebar pesona padanya. Tidak semudah itu, batin Marinka.
“Aku tidak setuju.”
Marinka diam sejenak. Kedua alisnya bertaut. “Kenapa?”
“Karena kita bukan mitra bisnis. Kita menikah.” Bujana mengedip mata, membuat Marinka kembali membuang muka.
“Kita menikah didasari bisnis orang tua kita,” ucap Marinka tanpa menatap Bujana. Dia tidak ingin terjebak pada tatapan sendu lelaki di depannya.
“Aku tahu itu, tapi menikah itu bukan jual beli. Apa setiap kau melayaniku, aku membayarmu?”
“Aku tidak serendah itu,” sergah Marinka.
“Terkadang hitam di atas putih tidak membuat kita punya harga diri. Itu hanya legislasi semu. Kau bilang, kau ingin menjadi istriku sebenarnya, kan?”
Marinka diam.
“Sebelum memulai kesepakatan ini, aku mau minta sesuatu.”