10. Dunia Tanpa Titik

1193 Words
Seorang pasien datang lagi dari pintu yang dibuka. Dua orang petugas medis memasang berbagai alat di tubuhnya. Sepertinya dia baru saja mengalami kecelakaan. Kedua kakinya berbalut perban hanya sampai lutut. Amputasi telah menghilangkan kedua kakinya.  “Jika dia bangun nanti, aku yakin dia akan menjerit histeris. Itu pun kalau rohnya tidak keluar seperti kita,” ucap Ahmed sembari melipat tangan menatap ke arah lelaki yang mengenaskan itu. Para petugas medis sudah meninggalkannya. “Makanya, kamu jangan kemana-mana. Istrimu memintamu kembali.” Bujana merentang tangan lalu mengendik bahu. “Aku tidak ke mana-mana. Aku harus kembali ke mana?” Tawa si jangkung meledak. Dia terdengar begitu geli mendengar kalimat Bujana. Entah kenapa, meski lelaki jangkung itu tertawa geli, tapi di telinga Bujana tawanya serasa meremangkan bulu kuduknya. Dan satu hal yang tidak bisa dimengertinya adalah, kenapa mereka bisa begitu mudah berkomunikasi. Seolah satu bahasa, tanpa penerjemah. Padahal nampak jelas, mereka dari negara yang berbeda. Lelaki itu menunjuk ke dalam ruangan berdinding kaca, di sebelah ruangan Marinka.  Pada satu pasien yang terbaring di sana--satu-satunya pasien, dengan perban nyaris membalur sekujur tubuhnya, hanya menyisakan seraut wajah. Peralatan medis yang menunjangnya lebih banyak dari Marinka.  “Itu kamu,,” ucap si jangkung. “Sepertinya, kamu tidak akan bisa kembali seperti Marinka. Istrimu sudah sadar dari koma, kamu belum.” Bujana tertegun. Si jangkung melangkah mendekati pasien yang nyaris seperti mumi itu. Yang tampak padanya hanya balutan perban. Hanya mata, hidung dan mulut yang terbuka, juga sebagian tangan kanan.  Bujana berdiri di sebelah si jangkung. “Lihat, bahkan bernapas saja kau tak sanggup.” Tidak hanya ventilator yang dipakaikan di hidung dan mulutnya, tapi juga sebuah selang yang ditembuskan ke dalam paru-parunya. Sebuah tabung oksigen besar berada di sebelahnya. “Ini bukan aku,” ucap Bujana sembari menggeleng kepala. Dia tak pernah terlihat selemah ini. Dia seorang petarung sirkuit. Meski beberapa kali mengalami kecelakaan, terlempar dari mobil balapnya, atau mobilnya terguling-guling beberapa kali, tak pernah dia menginjak pintu UGD. Apalagi ICCU. Bahkan perban pun hanya sehari membebat lukanya, setelah itu akan dilepasnya. Perban hanya menunjukkan kelemahan baginya. “Kau tentu saja tak percaya, seperti halnya aku.” “Mana kamu?” tanya Bujana. Si jangkung menunjuk dinding kaca di sebelah. Pasien juga berbaring di sana. Bujana hendak melangkah ke sana, namun si jangkung mencegahnya. “Kalau kau tidak ingin muntah, jangan ek sana. Mereka membongkar tengkorak kepalaku dan membiarkan perutku terbuka. Hehehe … baru sekarang aku bisa melihat isi perutku, ternyata menjijikkan.” Bujana mengurungkan niatnya. Dia tak mau mengurus yang bukan kepentingannya. Dia harus memastikan pasien di depannya adalah dirinya. “Apa buktinya kalau dia adalah aku.” Si jangkung mengendik bahu. “Aku tidak tahu. Aku hanya melihatmu bangun dari tubuh ini. Lalu berkeliaran keluar rumah sakit. Hati-hati, kalau kau jauh-jauh dari sini, dan saatnya kau bangun dan tidak menemukan tubuhmu, itu artinya kamu sudah mati.” Bujana tertegun. Ada satu hal yang membuatnya mulai mempercayai lelaki jangkung di sebelahnya. Lelaki ini, sudah lebih dulu berada di sini, terpisah antara tubuh dan nyawanya. Dari semua pasien di ruangan berdinding kaca, hanya dia dan Ahmed yang berkeliaran dan tak satupun petugas medis mengetahui mereka. Bujana berkali-kali mencoba berbicara pada beberapa petugas medis, tapi seperti kata si jangkung--percuma saja. Mereka berdua sedang di ambang kematian, tinggal menunggu waktu saja. “Siapa namamu?” “Panggil saja aku Ahmed,” ucapnya. “Menurutmu, apa yang harus aku lakukan? Agar bisa kembali memasuki tubuhku?” Ahmed mengendik bahu. “Kalau aku tahu, aku sudah kembali ke tubuhku. Kau tahu, aku sudah tiga puluh hari di sini. Dan setiap hari aku bertemu dengan roh-roh yang terlepas dari jasadnya, pergi dan tak kembali. Yang berhasil kembali ke tubuhnya, akan bangun dan meninggalkan ruangan ini. Seperti istrimu.” Ahmed mengarahkan dagunya ke dragbar yang didorong keluar dari ruang ICCU. Marinka berbaring di atasnya. “Dia dipindahkan ke kamar perawatan. Sepertinya, dua orang tadi adalah orang kaya. Istrimu akan mendapatkan kamar mewah di Rumah Sakit ini.” Tentu saja Maloko akan melakukan yang terbaik untuk anaknya. Dan tidak untuk dirinya, apalagi kondisinya sangat parah, tidak bisa diharapkan untuk bisa hidup kembali. Hujan tiba-tiba menderas di luar jendela. Kaca berembun, tapi tak mempengaruhi suhu ruangan ICCU. Ahmed, si lelaki jangkung dari tepi Baghdad itu, mendekati jendela. Bujana mengikutinya. Menatap air yang menitik, lalu menganak sungai dan jatuh di bawah kaca.  Rasanya sudah berjam-jam mereka berdua mengamati titik-titik air di jendala itu. Pekerjaan tidak berguna, batin Bujana. Namun karena tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menatap badan mereka sendiri yang masih koma, maka pekerjaan ini menjadi pelipur duka di hati mereka. “Kamu sudah satu bulan di sini. Tidak ada yang menengokmu?” tanya Bujana sembari menoleh ke arah Ahmed. Ahmed tak menjawab, namun malah mendongak menatap langit di luar jendela. Mendung sudah tipis, dan hujan perlahan berhenti. “Jujur, aku lebih suka di sini, daripada hidup di luar sana,” ucap Ahmed. “Di luar sana, aku adalah gelandangan. Tak seorangpun menghargai nyawaku. Aku harus mengemis dan merangkak-rangkak agar bisa makan. Sekarang, aku tidak perlu makan. Di sini, setiap perubahan bunyi di alat itu, para dokter akan berlarian untuk menyelamatkan nyawaku.” Bujana terdiam. Sampai sekarang, dia belum mendapat kunjungan dari siapapun. Terutama orang tuanya. Kenapa Tuan Maloko tidak datang bersama Papanya? Ke mana Pratama, s ceking asisten setianya? Apa dia tak lagi peduli padanya? “Kau berharap ada yang menjenguk?” Bujana menatap ke arah Ahmed yang juga menatapnya dengan bola mata besarnya. Lelaki ini sama sekali tidak terlihat menarik, meski dia dari Timur Tengah. Mungkin karena hidup menggelandang, jadi dia tidak terlalu memikirkan penampilannya. Namun, apabila dia hanya roh, bukankah seharusnya nampak berbeda dengan jasadnya. Bujana menepis jauh-jauh segala macam pertanyaan di kepalanya. Dia dan Ahmed kini berteman, dan dia yang paling membutuhkan lelaki jangkung ini sebagai guide. Rumah Sakit ini entah berada di mana, dia tidak tahu. Sepertinya Ahmed adalah gelandangan yang tahu banyak tentang dirinya. “Tidak ada yang akan menjengukku, Ahmde. Seperti kamu.” Ahmed menarik kedua sudut bibirnya. “Kau tidak mungkin seorang gelandangan seperti aku. Pakaianmu terlalu mahal, kainnya bagus.” Bujana mengendik bahu. “Lalu, menurutmu aku apa?” “Kau orang kaya yang putus asa.” Bujana mengernyit. “Dari mana kau tahu? Kau bisa membaca pikiranku?” “Itu adalah keahlian yang baru kutemukan selama sebulan berada di sini. Kau bisa membaca pikiran roh lain. Terutama yang sedang bingung sepertimu.” Ahmed kembali terkekeh geli. Kini dia malah duduk di atas badan pasien baru dengan kedua kaki baru diamputasi. Sama sekali tidak ada rasa bersalah pada dirinya, apalagi rasa ingin menghormati orang lain.  “Kalau begitu, kau bisa membantu mengingat apa yang hilang dalam pikiranku,” pinta Bujana. Ahmed terdiam, lalu mengamati Bujana. “Kau dan istrimu, kecelakaan pesawat.” Bujana mengernyit. Dia dan Marinka memang berada di pesawat. Sangat diingatnya ketika mengecup kening Marinka. Aroma shampoo Marinka yang lembut dan samar bisa diingatnya sampai sekarang. Gadis itu, sama sekali tidak memakai parfum. Dia tak berbau kecuali di bagian rambutnya. “Sebelum itu apa? Kami baru menikah. Jadi kau tahu kan apa maksudku?” tanya Bujana penuh harap pada Ahmed. “Kalian belum berbuat apa-apa selain hanya bertengkar. Kau sungguh lelaki yang bodoh.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD