Hari demi hari dilalui Bujana di dalam Rumah Sakit. Bersama Ahmed, mereka berkeliling dari kamar ke kamar, mengamati setiap pasien.
“Ini kesenangan yang tidak kudapat ketika masih hidup,” ucap Ahmed sembari terkekeh. Dan lelaki gelandangan itu benar-benar menikmati masa transisinya menuju kematian. Toh, untuk tobat juga tidak bisa, kilahnya. Jadilah dia kerap memandangi dokter spesialis paru-paru yang luar biasa cantik setiap hari. Mengelus pipi petugas administrasi. Kadang berjongkok di depan para perawat yang sedang berganti pakaian.
“Kau tidak pernah dekat dengan wanita?” tanya Bujana jengah, melihat tingkah Ahmed. Meski, dunia mereka berbeda dengan manusia, tetap saja perbuatan Ahmed menjijikkan menurut Bujana. Bila di dunia nyata, pasti wanita-wanita itu akan memukulinya dengan benda apapun di sekitar mereka.
“Mereka hanya menghinaku setiap hari,” ucap Ahmed sembari menjilati bibirnya sendiri. “Dan sekarang, aku bisa menikmati mereka setiap hari.”
“Jangan bilang kau juga masuk ke toilet wanita.”
Ahmed terkekeh. “Aku tidak akan mengajakmu. Aku sudah sebulan di sini, toilet kadang membuatku bosan. Seperti ini lebih menyenangkan.”
Bujana mendekati Ahmed dan menarik lengan bajunya. “Kalau kau mengintip Marinka, aku akan menghabisimu.”
Ahmed kembali terkekeh. “Seharusnya kau katakan itu pada dokter-dokter itu. Mereka yang mengganti bajunya, mengelus-elus kaki dan tangannya, bahkan ada yang …”
“Mereka dokter, Ahmed. Tindakan mereka adalah tindakan medis. Aku bisa memahami hal itu. Jangan samakan mereka dengan kamu yang bermata liar dan berpikiran jorok.”
Ahmed meninggalkan Bujana. Kembali masuk ke dalam ruangan, menembus tembok demi tembok. Bujana belum bisa meniru Ahmed. Menembus tembok membuat sekujur badannya, eh bukan, sekujur rohnya kesakitan. Seperti ditusuk dengan ribuan jarum. Jadi dia hanya bisa menunggu pintu terbuka.
Kata Ahmed, awalnya memang seperti itu. Tapi lama kelamaan rasa sakitnya akan hilang. Ini seperti ketika manusia sedang meregang nyawa. Ketika rohnya hendak keluar menembus tubuhnya, maka roh itu akan kesakitan, seperti ditusuk ribuan jarum. Ahmed menyuruhnya memaksa diri, agar leluasa pergi ke mana saja.
Namun Bujana akhirnya lebih memilih berada di ruangannya, yang bersebelahan dengan ruangan Marinka. Istrinya itu sudah membuka mata. Tuan Maloko dan Adaire menemuinya bergantian.
Bujana hanya melihat mereka dari sudut ruangan. Dia yakin, Marinka tidak akan bisa melihatnya, juga merasakan kehadirannya. Jadi, lebih baik dia berada di sekitar gadis itu, memastikan bahwa dia baik-baik saja. Meski bila terjadi sesuatu yang di luar dugaan, dia juga tidak bisa memanggil bertindak apapun.
“Kami terpaksa menunda pesta pernikahanmu, sayang.” Adaire mengelus pipi Marinka yang masih lebam. “Tapi tenanglah, semuanya sudah siap kapanpun kamu sembuh.”
Marinka membuang muka ke arah jendela kaca sebelahnya. Bujana mengikuti arah pandangan istrinya. Marina menatap tubuhnya yang masih berbalut perban. Perlahan Bujana mengembang senyum. Gadis manis itu, mengkhawatirkannya. Kalau tidak, mana mungkin dia menoleh. Sedangkan selama di pesawat, dia berkali-kali membuang muka dan menghindari sentuhannya.
“Sepertinya, tidak perlu, Ma,” ucap Marinka lemah. Adaire meraih tangan anaknya, dan menggenggam jemarinya. Marinka meringis kesakitan, membuat Adaire mengurungkan niatnya.
“Maaf, Mama tidak tahu mana saja yang sakit, sayang.”
“Semuanya sakit,” ucap Marinka. “Seluruh tubuhku rasanya patah semua.”
Lelehan bening mengalir di pipi Marinka yang membengkak. Bujana merasa iba. Selamat dari kecelakaan pesawat, adalah hal yang tidak masuk akal bagi mereka berdua. Semua kru pesawat tidak ada yang selamat. Hanya Marinka dan Bujana yang dilarikan ke rumah sakit, yang lainnya ke kamar mayat.
“Aku tahu, sayang,” bisik Adaire. “Maafkan aku. Aku tidak akan lagi membahas pesta pernikahanmu, sampai …”
“Sampai Bujana sadar.”
Bujana tertegun dengan kalimat Marinka. Tatapan matanya pada tubuhnya tadi, sekarang kalimatnya. Istrinya itu, menantinya? Ini semua benar-benar luar biasa. Apa yang telah dilakukannya pada Marinka hingga wanita itu tiba-tiba berbalik menjadi mengharapkannya?
“Marinka,” ucap Adaire lagi, kali ini wajahnya tampak diliputi kekhawatiran. “Dokter tidak yakin bisa menyelamatkan Bujana. Luka-lukanya sangat parah, dan otaknya hanya berfungsi 25%. Kalaupun dia sadar, dia tidak akan bisa hidup normal. Dia tidak akan bisa mengingat apa yang sudah terjadi, dan syaraf-syarafnya banyak yang putus. Dia, tidak akan bisa menjadi suami yang …”
Tiba-tiba Marinka mengangkat jemarinya ke udara dan menunjukkan cincin pernikahannya pada ibunya.
“Aku sudah menjadi istri Bujana, Ma,” ucap Marinka pelan, membuat Bujana menyungging senyum lebar. “Aku dan dia terikat dengan ini.”
“Kau mencintainya?”
Marinka terdiam. Bujana menanti-nanti kalimat jawaban Marinka meluncur dari bibir manisnya. Namun sayang, hanya lelehan buliran bening yang meluruh dari sudut-sudut matanya. Adaire menghapusnya dengan lembut, lalu mengecup kening anak gadisnya.
“Tidak usah kau jawab, sayang. Karena aku tahu apa yang bergolak dalam hatimu. Seperti mama dulu. Dan mama tidak ingin kau menderita. Mama ingin kamu bahagia. Dan kamu tahu, dengan siapa kamu bisa bahagia.”
Bujana kecewa, karena dua orang itu bahkan tidak menyebut namanya. Jadi, dia belum tahu apakah Marinka sudah mulai mencintainya atau belum. Dia hanya terikat dengan pernikahan ini, bukan dengan cinta? Bujana menghembus napas. Istrinya tidak salah dalam hal ini, karena memang mereka menikah demi bisnis orang tua.
Dan, dia bukan lelaki yang layak di-jatuhcintai-i dalam waktu singkat. Terlalu banyak wanita menggelayut di sekitarnya, bahkan foto-fotonya beredar di internet. Bukan hal mudah menghapus itu semua dari ingatan Marinka.
“Ibu akan sibuk dalam beberapa hari, jadi ibu minta Dadda menemanimu.”
“Papa?”
Adaire tersenyum sinis. “Tentu saja dia pulang begitu saja, tanpa pamit. Setelah tahu kamu sadar dan ditangani lebih baik. Semuanya apa kata Dadda.”
Marinka tersenyum. Dari dulu, Papanya memang selalu memastikan bahwa dia baik-baik melalui Dadda. Dia adalah anak pengasuh, bukan anak kedua orang tuanya. Dulu, itu masalah besar baginya. Sekarang, percuma memasukkan itu semua ke dalam hati dan pikiran, karena tidak akan mengubah keadaan.
“Menurut Mama, apa tidak sebaiknya Papa menikahi Dadda?” tanya Marinka tanpa basa-basi. “Dan ibu menikahi Javier. Jadi aku punya dua papa dan dua mama. Bukankah itu lebih baik daripada tidak punya sama sekali?”
Adaire tertawa renyah. Deretan gigi putih bersihnya tampak berkilat di mata Bujana. Bahkan wajahnya tak berkerut ketika dia tertawa. Benar-benar artis dengan perawatan tubuh dan wajah luar biasa.
“Kau belum bertemu Javier. Dia sedang sibuk mengurus jadwalku. Aku akan memintanya menjengukmu bila ada waktu luang.”
Adaire bangkit dari duduknya dan mengecup kening Marinka. “Aku harus pergi. Akan kusampaikan pesanmu pada Dadda. Kurasa dia memang sudah lama berharap menjadi istri Papamu. Menguntungkan bagiku, karena aku tidak perlu mengupahnya lagi.”
Adaire berjalan menuju pintu dan melambai ke arah anak gadisnya. Marinka hanya mengembang senyum.
“Oh iya, aku sudah meminta Dadda untuk mengatur jadwal dengan Karran untuk menemanimu,” ucap Adaire sembari mengedip sebelah mata. “Dan, aku minta Karran yang lebih sering menemanimu.”