12. Mencuri Kesempatan

1073 Words
“Siapa Karran?” Pertanyaan Ahmed tidak diindahkan Bujana. Lelaki itu hanya duduk di tepi tubuhnya yang masih berbalut perban. Menatapnya dari ujung kepala dan ujung kaki, yang tampak darinya hanyalah lubang mata, hidung dan mulut. Betapa mengenaskan melihat tubuhnya sendiri. Ditopang kehidupannya dari alat-alat di sekelilingnya. Satu kabel dicabut saja, sudah pasti rohnya tak akan bisa kembali ke dalam tubuh yang dulu begitu dibanggakannya. Sekarang? Bahkan perawat perawan tua dan jauh dari kata cantik di Rumah Sakit ini tidak mau meliriknya. Hanya Marinka. Ya, hanya istrinya yang sesekali melayangkan tatapannya melintasi jendela kaca. Sesekali bertanya pada perawat sambil menunjuk ke arahnya. Bertanya apakah tubuh yang terbaring ini sudah bangun. Dan para tenaga medis yang mendapat pertanyaan biasanya hanya menggeleng dan mengguratkan kecewa di raut Marinka yang perlahan sudah mulai menampakkan wajah asli cantiknya. Luka-luka Marinka perlahan mulai sembuh, terutama di wajahnya. Setiap saat Bujana mendampinginya ketika perawat merawat luka di wajahnya. Bujana lega karena wajah Marinka hanya lebam. Bekas luka akan hilang seiring waktu. Dan Marinka kembali cantik dengan wajah blasteran Indonesia-Timur Tengahnya. “Hei, lihat. Karran datang lagi!” Bujana mendongak, menatap ruang kaca di sebelahnya. Melihat sosok jangkung bercambang rapi dan bermata syahdu, masuk ke ruangan Marinka. Menanti dengan sabar perawat membereskan peralatan medis setelah merawat luka Marinka. “Hai, cantik!” sapa Karran sembari menghulurkan sebuket bunga ke pangkuan Marinka. Bujana langsung melompat dari duduknya, berlari menembus ruang kaca. Ahmed hendak mencegahnya, namun terlambat. Bujana sudah memaksa menembuskan tubuhnya melalui dinding yang separuhnya terbuat dari kaca. Teriakan kesakitan Bujana terasa memekakkan telinga Ahmed. Namun dia lega ketika Bujana akhirnya bisa menembus dinding dengan susah payah karena menahan sakit. Ahmed menyusul di belakangnya dengan santai. Merasa bangga, muridnya sudah sukses menembus dinding meski sekarang sedang terbungkuk-bungkuk merasakan sakit yang mendera sekujur rohnya. “Gimana rasanya? Nikmat?” goda Ahmed. Bujana tak mengindahkan Ahmed, malah melayangkan tinju ke muka Karran. Tentu saja, dia hanya meninju ruang kosong, karena Karran berhasil ditembusnya begitu saja. Dia semakin emosi, berbalik dan memukul Karran berkali-kali, tapi Karran malah meraih tangan Marinka dan mengecup punggung tangannya dengan mesra. “Kurang ajar kau, Karran!” Ahmed terkekeh senang. Ada pertunjukan berbeda hari ini. Sehari-hari biasanya hanya melihat manusia merintih kesakitan, menangis sedih, kematian yang mengerikan atau roh-roh yang tak rela pergi. Sekarang, ada yang membuatnya terkekeh senang. Bujana yang terbakar cemburu, berusaha memukuli Karran. Dan dia berkali-kali tersungkur bahkan menembus dinding berkali-kali. Ahmed bertepuk tangan, senang karena Bujana akan cepat menguasai ilmu menembus dinding, yang dia sendiri bahkan mempelajarinya selama dua puluh hari. Itupun karena bosan, bukan karena amarah. “Bagaimana kabarmu, sayang?” Marinka menarik tangannya dari genggaman Karran. Meski dia sangat mengharapkan sentuhan lelaki yang dicintainya itu, tapi dia merasa tidak nyaman dengan Bujana di sebelah kamarnya. Dia hanya khawatir tahu-tahu suaminya bangkit dan menatapnya dari balik jendela kaca. Karran tersenyum melihat reaksi Marinka. “Suamimu tidak akan bisa melihatmu, sayang. Dia masih belum sadar.” “Dia ada di sebelah ruangan, Karran. Aku …” “Sshh …” Karran menempelkan telunjuknya di bibir Marinka. Wajah gadis di depannya sontak bersemu merah, membuat Karran merasa diterima. Kembali diraihnya jemari Marinka dan diremasnya lembut. Kali ini, Marinka tak lagi menolak. Dia membutuhkan Karran. “Pernikahanmu, benar-benar menyakitiku.” Marinka menunduk dalam. “Itu semua bukan kehendakku, Karran. Aku menghubungimu berkali-kali. Tapi kau tak pernah menjawab. Kau sudah melupakanku.” Karran kembali menempelkan telunjuknya di bibir merah Marinka, bahkan mendekatkan wajahnya. Andai dia bisa melihat Bujana di ruangan itu berusaha untuk merobohkannya, Karran pasti akan berpikir seribu kali untuk menyentuh bibir Marinka. “Bagaimana bisa aku melupakan kamu, Marinka. Foto-fotomu, foto kita, semaunya memenuhi dinding kamarku. Aku menanti waktu kau datang ke Babilonia sesuai janjimu. Nyatanya kau menikahi lelaki mata keranjang itu. Apakah dia merayumu begitu hebat, hingga kau takluk padanya.” “Tidak!” sela Marinka sembari menggeleng kuat, menatap Karran dengan sepasang mata berbulu lentiknya. Bahkan tanpa makeup pun, Marinka tampak cantik. Membuat Karran gemas, dan kembali mengecup punggung tangan Marinka. Gadis di depannya kembali memerah pipi, dan dirasakannya jemarinya bergetar. “Aku tahu, sayang, aku tahu,” ucap Karran sembari mengusap pipi Marinka. “Aku tahu, ada yang begitu kuat menghalangi kita untuk bersatu. Selama sebulan ini, aku benar-benar tidak bisa mengakses apapun. Baik telpon atau internet. Aku yakin, siapapun yang mempersiapkan rencana pernikahanmu, ikut andil memblokirku dari kamu.” “Siapa?” tanya Marinka penasaran. Bujana tidak mungkin, karena dia sama skali tidak tahu siapa Karran. Setelah mereka menikah, baru Marinka memberitahunya. “Aku belum tahu, tapi aku akan mencari tahu. Siapapun dia, dia harus membayarnya karena menjadi penyebab kita tidak bisa bersatu. Malah membuatmu menjadi istri dia.” Marinka menggeleng kuat. “Tidak, aku yakin bukan dia. Dia terlalu sibuk dengan gadis-gadis penggemarnya. Bahkan kalau tidak menikah denganku, banyak gadis yang merelakan diri untuknya. Aku yakin bukan dia, Karran.” “Kau jangan naif, Marinka. Jangan mudah percaya begitu saja pada lelaki yang baru kau kenal satu malam.” “Tapi ….” Perlahan Karran berdiri, menarik kepala Marinka dan menempelkannya di d**a bidangnya. Bujana sudah tak tahan lagi. Kemarahannya sudah tak terbendung lagi. Dia melompat ke arah Karran, namun sekali sia-sia. Dia bahkan sampai menembus keluar dari ruangan dan sampai di halaman. Di taman depan Rumah Sakit, dilihatnya gadis dengan luka di kepala itu masih bermain ayunan. Dia pasti roh, sama dengan dirinya. Karena tidak hanya pagi, siang dan malam pun dia bermain ayunan tanpa henti. Bujana berlari menghampiri gadis itu, lalu membungkuk di depannya. “Hei, siapa namamu?” “Lili.” Bujana menarik tangannya. “Ikut aku. Aku perlu bantuanmu untuk menakut-nakuti orang. Cepat.” Lili, entah kenapa menurut saja ketika Bujana menyeretnya masuk ke dalam rumah sakit. Dia bahkan bisa berlari lebih cepat dari Bujana. Mereka sampai di ruangan tempat Karran masih mendekap kepala Marinka, kini malah sembari mengelus rambut Marinka. “Usir lelaki itu dari sini!” perintah Bujana. Lili masuk ke dalam ruangan, naik ke tempat tidur Marinka, lalu menari-nari di atasnya. Karran dan Marinka tidak merespon. Kini bahkan Karran mengangkat dagu Marinka, mendekati wajahnya. “Ahmeeeed!” teriak Bujana murka, “Usir dia!” Ahmed mendengus kesal. Bagaimanapun juga, dia harus menolong muridnya, karena dia satu-satunya teman yang bisa diajaknya bicara. “Lili, jatuhkan gelas itu!” perintah Ahmed pada Lili sembari menunjuk sebuah gelas yang ada di meja, di sebelah tempat tidur Marinka.  Sekali tebas oleh tangan Lili, gelas di meja itu jatuh dan pecah berkeping-keping. Membuat Karran dan Marinka melonjak terkejut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD