Ahmed benar-benar kesal pada Bujana yang menjadi tidak realistis. Dia berusaha kerasa agar Karran tidak mendekati Marinka, meski dia tahu usahanya sia-sia saja. Karran tetap akan datang, menghibur Marinka. Menggenggam jemari lentik istri Bujana, mengecup punggung tangannya, mendekapnya dan Bujana yakin pasti tinggal menunggu rayuan saja, Marinka akan menyerahkan diri pada Karran.
Bukankah di ponsel Marinka, foto lelaki itu terpajang dengan nama My Love Karran?
Apalagi, ibu Marinka--Adaire, mendukung sepenuhnya hubungan Marinka dan Karran. Beberapa kali wanita itu datang bersamaan dengan Karran, dan dia memberikan mereka waktu berdua. Sedangkan Maloko, lelaki yang menjodohkan Bujana dengan Karran, tak nampak lagi batang hidungnya.
“Kau harus menolongku, Ahmed,” ucap Bujana dengan muka kusut. Dia benar-benar merasa menjadi pecundang kali ini. Hal yang kerap diolok-oloknya pada para pesaingnya di sirkuit yang berhasil dikalahkannya.
Mereka berdua sedang duduk di ayunan milik Lili, membuat gadis kecil itu kesal. Dia berkali-kali mendorong ayunan hingga Bujana terjatuh.
“Hei, apa kau tidak punya hati, hah?” seru Bujana kesal ketika dia tersungkur dari ayunan. “Istriku mau diambil orang, dan kau sama sekali tidak membantu.”
Lili cuek saja, dia naik ke ayunan dan mulai mengayun dirinya sendiri. Kata Ahmed, Lili sebenarnya sudah mati saat dibawa di Rumah Sakit, sekitar dua pekan sebelum Bujana dan Marinka datang. Ahmed melihatnya sendiri di UGD, roh gadis itu keluar dan kebingungan. Dia berjalan ke sana ke mari, dan akhirnya menemukan ayunan di seberang rumah sakit.
Kadang Ahmed menemaninya, namun tak pernah mengajaknya bicara. Sepertinya kemarahan masih melingkupi dirinya, bercampur dengan kebingungan. Tak pernah ada orang datang mengakui jasad Lili sebagai anak atau kerabat. Jasad itu masih tersimpan di kamar mayat. Kadang Ahmed melihat Lili masuk ke kamar mayat dan berbicara pada jasadnya sendiri.
“Dia tidak bisa menolongmu,” ucap Ahmed sembari melipat tangan dan bersandar pada tiang ayunan. “Dia memang punya kemampuan menggerakkan benda, tapi kau belum tahu kalau dia marah.”
Bujana memang tidak ingin tahu. Dalam kondisi bete saja, roh anak kecil itu bisa mendorongnya hingga tersungkur.
|”Aku ingin Karran tidak lagi datang, Ahmed. Dia akan merebut istriku,” keluh Bujana, mengamati Lili yang bermain ayunan tanpa peduli pada sekitarnya. Bujana yakin, manusia yang melihat ke arah taman ini, melihat ayunan ini bergerak sendiri. Itulah kenapa taman ini sepi dari pengunjung manusia.
Ada roh Lili yang menhantui.
“Kau bisa apa?” ejek Ahmed. “Kau tidak punya apa-apa sekarang, meski kau dulunya orang kaya yang bahkan bisa membeli satu negara.”
Bujana terdiam. Ya, saat rohnya terpisah dari raganya, dalam keadaan koma--dia setara dengan Ahmed yang dulunya adalah gelandangan. Apa yang bisa mereka lakukan hanyalah di dunia roh, bukan di dunia manusia. Meski untuk kasus Lili berbeda. Gadis itu pasti punya bakat mistis saat masih hidup.
“Kau bisa minta tolong wanita yang datang dengan ayah Marinka itu,” saran Ahmed. “Bukankah dia tinggal di penginapan yang tidak jauh dari sini?”
Bujana mendengus. “Ya, itu benar. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Adaire bahkan membayarnya untuk tidak perlu mendatangi Marinka. Agar Karran bisa selalu bersama anaknya.”
Ahmed tertawa geli. “Tentu saja tidak ada yang bisa kau lakukan. Selamat menikmati hidupmu, Bujana.”
***
Marinka kembali menerima buket bunga dari Karran. Setiap lelaki itu datang, membuka pintu dan menawarkan cinta padanya, Marinka tak tahu harus menjawab apa. Hatinya pernah berharap Karran memilikinya.
Cinta pada pandangan pertama mereka, benar-benar membuat Marinka sanggup lari dari ayahnya. Apalagi, Adaire selalu mendukungnya. Hanya saja, takdir yang berlaku, tidak sesuai dengan mimpinya. Andai saja kedatangannya ke Babilonia menjenguk ibunya dua tahun yang lalu, Marinka tidak kembali lagi ke tanah air, dia pasti sudah menjadi milik Karran. Ibunya yang mengenalkannya pertama kali pada fotografer berdarah Yunani itu.
Namun ketika itu, Karran belum menunjukkan itikad hendak melamarnya. Dia sibuk travelling berkeliling dunia, mencari spot-spot indah untuk direkamnya. Hingga Marinka sangsi, apakah dia memang diinginkan lelaki itu, karena banyak gadis yang jauh lebih cantik di luar sana.
“Bagaimana kabarmu hari ini, sayang?”
Sebuah kecupan di ujung hidung Marinka, membuat Marinka memejam mata. Dia tak kuasa menolak Karran. Dadanya selalu bergemuruh bila lelaki itu mendekatinya. Bersamaan dengan rasa bersalah yang menggunung pada sosok yang terbaring di ruang sebelahnya.
“Terima kasih, sudah mengunjungiku, setiap hari?” ucap Marinka sembari mengembang senyum. Semakin hari dia tampak semakin segar. Tinggal pemulihan patah tulang kakinya saja. Setelah itu dia boleh pulang dari rumah sakit. “Aku memberikan bunga darimu setiap hari pada para perawat. Kau pasti melihatnya di pintu depan.”
Karran tersenyum. “Tentu saja. Ruang administrasi sekarang menjadi toko bunga. Mereka kesulitan mencari vas.”
Marinka dan Karran tertawa bersama. Bujana dan Ahmed hanya bisa menatap keduanya dari sudut kamar. Kembali Karran menggenggam jemari Marinka dan mulai melancarkan rayuannya.
“Kau tidak salah memilih istri,” komentar Ahmed. “Dia masih memakai cincinmu, meski lelaki itu merayunya. Aku tidak yakin dia bisa bertahan lama bila setiap hari dirayu seperti itu. Kau tinggal melihat saja, apakah suatu hari dia sudah melepas cincin dari jarinya.”
Bujana melirik tajam ke arah Ahmed. “Kau tidak punya kata-kata selain membuatku menjadi pecundang?”
Ahmed terkekeh. “Itu kenyataan, nikmatilah.”
Karran semakin mendekatkan wajahnya ke arah Marinka. Marinka hanya bisa menunduk ketika Karran merapikan anak rambutnya.
“Cantik, maukah kau menikah denganku?”
Marinka terperangah. “Kar-ran?”
Karran mengembang senyum mesra. “Kenapa? Bujana? Tinggalkan dia, sayang. Dia tidak akan bisa bangkit lagi dan berlari padamu. Aku yang ada di sini, bukan dia.”
Marinka tidak bisa berkata-kata. Kenapa, impiannya justru hadir di hadapannya, merengkuhnya, ketika dia dalam posisi rumit seperti ini. Bujana tidak mungkin secara hukum melepasnya. Dan dia, tidak bisa menjadi milik Karran bila masih terikat pernikahan dengan Bujana.
“Karran, apa yang bisa kulakukan?” Marinka melepas genggaman tangan Karran, lalu mengangkat tangannnya, menunjukkan cincin di jemarinya.
“Aku terikat secara hukum dengannya.”
“Kau mau menunggunya?” tanya Karran. “Bagaimana bila dia mati? Kau juga masih menunggunya? Apakah kau sudah tidak mencintaiku lagi, Marinka?”
Marinka menggeleng kuat, lalu menarik bahu Karran. Lelaki itu seketika mendekap Marinka penuh cinta. Membuat Bujana membalik badan, menatap tubuhnya yang bahkan tak bereaksi ketika rohnya dalam kondisi tersiksa seperti ini.
“Tinggallah bersamaku,” bisik Karran.
Marinka mendorong bahu Karran menjauh. “Ap-apa? Tinggal bersamamu? Tapi kita belum menikah?”
“Aku mencintaimu, Marinka? Aku akan memberikan segala apa yang kau minta. Tapi bila kau masih menunggu lelaki itu bangun, sampai kapan? Sampai kapan kita bisa menyatukan cinta kita?”
Marina diliputi keraguan hebat. Mana mungkin dia tinggal bersama Karran. Akan membuatnya isi kepalanya buta oleh cinta yang membara dan membuatnya tak mampu menolak untuk menyerahkan diri pada lelaki yang memenuhi setiap rongga dadanya.
“Kau tidak mungkin tinggal bersama ibumu, kan? Ibumu akan menikah, dan aku tidak akan membiarkan gadis secantik kamu dalam tatapan Javier setiap hari.”
Marinka tersenyum. Dia senang Karran cemburu. “Akan aku bicarakan dengan mama nanti.”