Desingan sambaran senjata terdengar memecah keheningan malam.
Dalam kegelapan malam itu terlihat sesosok bayangan yang di kerubuti puluhan orang dengan aneka senjata, tujuannya tak lain adalah untuk meringkus sosok pemuda yang telah berani menyusup masuk ke istana kaputren tepatnya istana selir Puspa Seruni.
"Rasakan senjata kami Bangsaat..!," teriak salah satu penyerang mencoba menusukkan tombak senjatanya mengarah ke d**a lawannya.
TAAANG...!
Dengan membuang tubuh nya ke samping, pemuda itu menepis tusukan tombak itu.
"Ciih... berani nya keroyokan..!." Meski dengan kerepotan si Pemuda masih juga sempat mengeluarkan ejekan balasan, mencoba membalas u*****n lawan dan memancing emosi lawan lawannya.
"Nyawa sudah di ujung tenggorokan masih juga bertingkah..!," Burgundi membalas perkataan sang Pemuda sambil terus melancarkan serangannya. Jujur harus di akui jika sosok pemuda yang di keroyok tersebut cukup tangguh meski sudah di keroyok dan di serang dari berbagai arah.
Pertarungan makin terlihat seru, makin cepat dan mulai terlihat beberapa korban berjatuhan.
Craaaasss...!
Pedang sang Pemuda menyambar lawannya, menebas salah satu punggung lawan nya hingga terbuka dengan darah mengucur deras dari sana.
"Aaaarggh.."
Teriakan teriakan mulai terdengar saling bersahutan saat senjata tersebut memakan korban.
"Hebat juga orang ini, sudah di keroyok orang sebanyak ini masih juga bisa berkelit."
Burgundi mau tidak mau memuji lawan yang lumayan hebat baginya, padahal dirinya adalah pimpinan pasukan khusus pengamanan istana, meski masih di tingkat Bekel Prajurit.
"Jangan biarkan lolos...!, kita harus menangkap nya, karena berani menyusup ke istana..!." Burgundi berkata mengingat kan anak buahnya.
Pertempuran makin seru, kedua belah pihak tetap ngotot memenangkan pertarungan tersebut.
"FORMASI JALA SUTRA...!!."
Sebuah teriakan tiba tiba menggelora mengagetkan semuanya.
"Senopati Kidang Sayuti..!," teriak Burgundi dengan wajah gembira, merasa ada bala bantuan datang.
Kini semua pasukan sudah membentuk sebuah formasi, melingkar saling menautkan salah satu lengan yang tak memegang senjata, sementara itu tangan yang memegang senjata sudah siap mengancam.
Seorang pria paruh baya yang terlihat gagah sudah berdiri tak jauh dari formasi itu, dialah Senopati Kidang Sayuti yang terkenal akan kehebatan nya. Dia mengawasi lawan dan pertarungan tersebut, lalu memberikan perintah untuk membentuk formasi serangan.
"Uugh ...mati aku.." Sang pemuda tampak mulai mengeluh, siapapun tahu kehebatan sang Senopati, mungkin jika satu lawan satu dia masih mampu menandingi atau setidaknya mampu meredam serangannya sebelum meloloskan diri, tapi saat ini dia mengalami pengeroyokan oleh salah satu pasukan khusus yang sudah terkenal akan kehebatan nya di negeri itu.
"HIAAA....!!."
Burgundi melesat maju memimpin yang lainnya melepaskan serangan.
SRIIING....
SRIIING.....
Sambaran Sambaran senjata makin bertubi tubi menyasar badan sang Pemuda.
"Aah...aku harus mengadu nyawa (sungguh sungguh) jika ingin selamat dari sini." Sang pemuda lantas mengeluarkan sebuah senjata dari balik bajunya, lebih tepatnya dari pinggang nya, sebuah senjata dengan pamor kuning kehijauan memancar dari sebilah pedang pendek yang mampu di gulung layaknya sabuk.
Semua orang tampak terkesiap dengan pamor senjata yang di miliki lawannya.
"Hei..apa hubunganmu dengan Naga Hijau..!." teriak Senopati Kidang Sayuti.
Naga Hijau adalah julukan salah satu tokoh sakti dari Lima Pilar kerajaan Agung wilayah tengah.
Kehebatan Naga Hijau sudah sangat dikenal dalam dunia persilatan dalam puluhan tahun ini, dan senjata seperti yang di pegang sang Pemuda inilah salah satu tanda tanda nya.
"Tak usah banyak bicara...jika kalian takut menyingkir lah, biarkan aku lewat." balas sang Pemuda.
Sejenak semua mengentikan serangan, sedikit ragu untuk menanti aba-aba selanjutnya.
"Cuiiih..!!.siapa takut padamu..!, jika senjata itu di pegang Naga Hijau aku baru takut, jika kau yang memegang nya, ku kira tak akan manjur," Kidang Sayuti menyahuti.
"Seraang..! kita rebut senjata itu...!."
Begitu mendengar aba aba-aba, para anak buah langsung kembali menggila, menyerang ke arah sang Pemuda.
WUUS...
WUUUSS...
TRAAANNG....!
Sambaran senjata itu di tepis oleh pedang yang mampu di gulung layaknya ikat pinggang, pedang ajaib yang mampu berubah ubah menjadi lentur maupun tegak keras itu menepis puluhan serangan tersebut.