Pusaka Pedang Sabuk Naga Surgawi

660 Words
TRAAANNG....!! Sebuah suara benturan keras terdengar di sertai ledakan gelombang yang mendorong ke segala arah tercipta. "Aah...Setan Keparaat...!." "Bajingaan...!!." Racau para pengeroyok bersahut-sahutan, disela sela pertempuran yang tak mereka duga akan berlanjut dengan keadaan tersebut. Sebuah keterkejutan bagi orang orang yang mengepung sang Pemuda, tak mereka sangka jika satu orang akan merepotkan mereka, padahal mereka adalah pasukan khusus yang terbiasa bertempur dengan lawan yang berat. "Jangan kendor kan serangan...!," teriak Senopati Kidang Sayuti sambil meloncat maju melakukan serangan tunggal. SRIING....!! Sang Senopati melesat meloncat menyerang kedepan dengan kecepatan yang sangat cepat. Senjatanya membelah udara menimbulkan suara desingan dengan aura kuat yang membuat bulu kuduk berdiri. Pedang sang Senopati langsung mengancam ke arah leher sang Pemuda, mungkin dalam sekejap akan terpotong kepala anak muda itu jika melihat ganasnya serangan Senopati Kidang Sayuti. Sreeettt......! Tiba tiba pedang Senopati yang mengarah ke leher sang Pemuda terbelit, belitan itu ternyata berasal dari senjata lentur yang di miliki sang Pemuda. "Aaah.." Kidang Sayuti terperangah tak menyangka sebuah senjata pedang bisa melakukan semacam itu. "Jagat Dewa Batara...tak ku sangka senjata itu begitu hebat dengan segala kemampuan nya". Sang Senopati mencoba menarik senjatanya yang terbelit kencang, dengan kekuatan tenaga dalamnya sang Senopati menghentakkan kakinya untuk menambah kekuatan tenaga dalamnya bekerja. SSSTTTT.... Pedangnya tetap terbelit kuat, keduanya kini beradu kekuatan saling tarik menarik. "Hebat juga tenaga mu Bocah..!." Kidang Sayuti memuji tenaga dalam lawan yang di hadapi nya. Selama ini dia sudah malang melintang di jagat persilatan dengan kekuatan yang dimiliki dan sangat jarang ada yang mampu menandingi kekuatan nya apalagi melampauinya hanya bisa di hitung jari. "Lepaskan aku..biarkan aku lewat, maka kita akan impas.." ucap sang Pemuda masih sambil mempertahankan kekuatan belitan pedangnya. Kidang Sayuti menyeringai mendengar perkataan lawannya. "He.he..he..kau kira aku bodoh, melepasmu dan senjata ini?." kata Kidang Sayuti," Lihatlah masih banyak prajurit ku di sekeliling mu." Sang Senopati mencoba menyadarkan posisi lawan yang masih terkepung rapat oleh puluhan prajurit dengan di pimpin Burgundi. "Jika kau tinggalkan senjata pedang mu, maka kau boleh pergi..!" Senopati itu mencoba mencari keuntungan dengan harapan mendapatkan senjata pusaka yang sangat terkenal tersebut. Pedang Sabuk Naga Surgawi sudah lama dikenal di dunia persilatan, senjata yang lebih dikenal di miliki oleh salah satu Pilar Kerajaan Agung yang berjuluk Naga Hijau itu memang menjadi incaran para pendekar yang malang melintang di jagat persilatan. "Mimpii...!." Dengus sang Pemuda sambil menyentak kan tangannya, membuat gerakan pedang sang Senopati melenceng, bahkan membuat tokoh kerajaan itu sedikit tergeser kesamping. "Seraang...!!," bentak Kidang Sayuti kepada para prajurit yang terbengong melihat pertarungan sesaat sang Senopati melawan Pemuda buruannya. Burgundi dan juga para anak buahnya seperti tercambuk cemeti, kesadarannya pulih dari ketakjuban melihat dua tokoh beradu serangan. "HIAAA...!." "Hiaa...!!." Kembali teriakan teriakan terdengar susul menyusul di barengi desingan aneka senjata menyasar ke badan sang Pemuda. SRIIING.. Sriiing....!! Sang Pemuda kembali gelagapan mendapatkan serangan bertubi-tubi yang serentak menyasar tubuhnya, degan terpaksa dia mengendorkan belitan pedangnya untuk berganti menghalau serangan serangan tersebut. Traang....! TRAAANNG....!! Sang Pemuda memutar senjata nya menepis semua serangan. Sambil berguling sang Pemuda melempar tubuh nya dan menepis semua serangan. "Jangan sampai lolos, sebelum kita berhasil mendapatkan senjata atau membunuh nya..!!." teriak Kidang Sayuti yang kini sudah terpengaruh hawa ingin menguasai senjata pusaka milik lawannya. Pertempuran tak imang masih terus berlangsung dengan seru, bahkan kini pertarungan itu sudah bergeser jauh dari asal mula. Kini mereka sudah bergeser ke arah hutan Kematian, sebuah hutan yang terkenal wingit dan angker dengan lebatnya pepohonan serta jurang jurang dalamnya. "Ha..ha..ha...!.., mau lari kemana lagi kau Bangsaat..!." Burgundi tertawa melihat lawannya sudah dalam posisi terdesak dan terpojok. Saat ini sang Pemuda sudah berada di ujung jurang yang sangat dalam, pasti mati jika dia terjatuh di dalamnya. "Berikan senjata mu, maka kau akan aku bebaskan..!," teriak Senopati Kidang Sayuti mencoba membujuk lawannya. Sang Pemuda tampak ragu, melihat ke depan lawan sudah mengepung dengan rapat tak ada celah untuk lolos, melihat ke belakang mulut jurang menganga terlihat gelap dan mengerikan. "Lemparkan senjata itu maka kau bisa pergi dari sini dengan selamat." sang Senopati mencoba membujuk lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD