Terlihat sang Pemuda sedikit pucat wajah nya, merasa benar benar terjepit, didepan lawan siap mencincang dan di belakan jurang dalam nan lebar membentang sejauh mata memandang.
"Hua..ha..ha...!, sudah jangan banyak berpikir, lempar saja senjatamu maka kau akan aku bebaskan..!." Kidang Sayuti kembali terbahak mencoba mempengaruhi lawan yang masih di landa dilema.
Sang Pemuda yang bernama Sora Wijaya terlihat bimbang, menyerahkan senjata pusaka tentu saja bukan pilihan nya, lebih baik dirinya mati mempertahankan senjatanya dari pada senjata itu di rebut lawan, ada banyak kisah tentang senjata tersebut bagi dirinya.
"Huh..kau pikir aku t***l mau memberikan senjata ini," kata Sora Wijaya sambil menyilang kan pedang Sabuk Naga Surgawi di depan dadanya.
Senopati Kidang Sayuti langsung memasang wajah masam mendengar kegigihan lawan mempertahankan pendapatnya.
"Lihatlah.. jurang yang tak berujung ini, dari sisi sana hutan Kematian hingga sisi sana lembah Iblis semua terlihat gelap tak berdasar."
"Kau pasti mati jika tetap ngeyel tak mau menyerahkan..!." bentak Burgundi menggertak, tangannya menunjuk dari satu sisi ke sisi yang lain.
Memang jurang yang ada di belakang Sora Wijaya tersebut sangat luas, diapit dua wilayah yang menjadi legenda dan menakutkan, yaitu hutan Kematian dan lembah Iblis di sisi lainnya.
Keangkeran dua wilayah itu sudah termasyhur di jagat persilatan sebagai tempat yang perlu di hindari, selain karena banyaknya binatang buas dan liar yang sering muncul dari sana, juga adanya mahkluk makhluk aneh yang sangat menakutkan kuat dan ganas yang konon berdiam di sana.
"Lebih baik aku mati, dari pada aku menyerahkan senjata ini." Sora Wijaya mendengus karena lawan nampak nya sudah bersiap melakukan serangan kembali.
"Baik, jika itu pilihan mu bocah.!."
Kidang Sayuti meloncat maju kembali menebaskan pedangnya, sementara Burgundi yang sudah mendapatkan isyarat dari atasannya tersebut, langsung memerintahkan anak buahnya mendekati lawan dan menyerang sambil mengurung dengan rapat.
"HIAAA...!!."
Sriiing...
Sriiing....
Aneka senjata tajam kembali mengurung, menyasar badan Sora Wijaya. Dengan meliuk liuk kan badan nya pemuda itu menghindari sambaran senjata senjata itu.
Taang..!
Sebagian serangan tersebut mampu di tepis Sora Wijaya, dengan sedikit merunduk dia mencoba menghindari sebuah sabetan pedang salah satu lawannya.
Bouugh...!
Sebuah tendangan keras dari Burgundi tak mampu di tangkis atau di hindari nya, mendarat telak di sisi kirinya.
"Ough.." Jerit tertahan Sora terlepas dari bibirnya.
"Rasakan serangan ku..! he..he..he.." Burgundi tertawa senang serangan nya berhasil menyasar lawan.
Sora Wijaya sedikit oleng ke kanan setelah menerima hantaman keras dari Burgundi, kesempatan itu tak disia siakan oleh Kidang Sayuti, sang Senopati langsung menebaskan pedangnya.
SRIIING....
Pedang senjata sang Senopati menebas lengan Sora Wijaya, gelombang serangan mengiringi sabetan kuat tersebut.
Sabetan kuat tersebut pasti akan menebas salah satu lengan pemuda yang gagah berani tersebut.
"Aaarch..!."
Sora Wijaya menjerit, beruntung dia berhasil bergeser sedikit menghindar sehingga lengannya tak tertebas tapi punggung nya yang tercabik terkena pedang lawan.
"Mati kau...!."
"Modaaar...koe...!!."
Teriakan orang orang yang mengeroyoknya bersahut-sahutan, mencibir Sora Wijaya yang kini berhasil menjauh dari kepungan meski kini berada di bibir jurang.
"Cuiiih...!, Keparaat seperti kalian hanya bisa main keroyok, coba jika melawan ku satu satu pasti tak akan mampu menyentuh ujung bajuku.." sambil tersengal mengulur waktu Sora berkata.
Kidang Sayuti yang melihat lawan sudah terpojok langsung memberikan perintah selanjutnya.
"Tangkap hidup atau mati...!."
Wuuss...
WUUUSS...
Orang orang kembali melesat maju, Sora Wijaya menarik akar pepohonan yang ada di sekitarnya, membetot nya hingga tercerabut beberapa tombak panjangnya panjangnya. Dengan akar itu Sora membelit para penyerang yang nekat maju termasuk Burgundi.
"Ayo mati bersamaku..!." teriak Sora Wijaya dengan keras setelah berhasil membelit beberapa orang termasuk Burgundi. Sang pemuda meloncat ke dalam jurang tanpa ada keraguan lagi.
AAAAaaaaa....
Aaaaaaaaaaa....