Jealous Man

1173 Words
Hari ini adalah peringatan kematian dari istri Alexander, maka seluruh kota Landem harus patuh dan mengikuti tradisi mengenakan baju serba hitam sebagai simbol berkabung mereka. Seluruh kediaman Alexander seolah menjadi senyap, karena tradisi mereka yaitu berdoa dan mendoakan mendiang dari istri Alexander, yaitu Moffine. Rose mengetahui batasannya, wanita itu menghargai mendiang Moffine dan mengenakan baju berwarna hitam dan tentu dengan mengenakan cadar yang senada dengan pakaiannya. Mawar merah yang Rose bawa setiap harinya, dia letakan, dan menggantikannya dengan sebuah mawar berwarna hitam. Dia berdiam diri dikamarnya, menunggu seluruh keluarga Alexander selesai melakukan ritual doa mereka. Tok tok! Pintu ruangan kamar yang dia tempati diketuk, membuat wanita itu bangkit dari duduknya dan membukanya. Seorang pelayan memberikan hormat kepada Rose dengan menundukan tubuhnya setengah badan kepada Rose. Rose menatapnya datar, "Ada apa?" "Tuan muda Philip meminta saya untuk memberikan ini kepada Nona." Pelayan tersebut memberikan sebuah pakaian dengan berwarna hitam kepada Rose. Rose menerimanya, "Aku sudah menggunakan pakaian berkabungku, untuk apa pria itu mengirimkannya denganku?" "Mohon maaf Nona Rose, Tuan muda mengatakan bahwa ini pakaian berkuda untuk Nona." "Berkuda? Apa pria itu memintaku menemaninya untuk berkuda?" tanya Rose bingung. "Tentu, itu pesan yang Tuan muda meminta saya menyampaikannya. Saya permisi jika begitu Nona," San pelayan pergi dari hadapan Rose, kemudian wanita itu masuk kembali ke dalam kamar, dan menutup pintunya. Dia berdiri didepan cermin, dan menempelkan pakaian yang Philip berikan melalui sang pelayan. Saat dia sedang menempelkan pakaiannya didepan tubuhnya, sebuah kertas kecil jatuh didepan kaki Rose. Rose mengambil kertas tersebut dan membacanya. 'Gunakan ini, waktu berkabung telah habis, jadi aku meminta kamu menemaniku berkuda, karena ini akan disaksikan seluruh dunia, karena media akan meliput kedekatan kita. Berdandanlah secantik mungkin nenek sihir, meski aku tidak akan pernah menyukaimu.' Rose tersenyum membacanya, dia bergumam, "Nenek sihir, panggilan yang menarik." Rose kemudian menanggalkan pakaiannya, lalu mengganti dengan pakaian yang diberikan Philip sebelumnya. Dia mengikat rambutnya keatas, mencepolnya. Tak lupa cadar hitam dia gunakan untuk menutupi jati dirinya. "Aku rasa, ini sudah sempurna untuk seorang Bloody Rose." Rose keluar dari kamarnya dan menuju lapangan berkuda milik keluarga Alexander. Dia diarahkan oleh beberapa pelayan yang lewat, dan diantar menuju ke lapangan kuda milik Alexander. Dari jauh, dia sudah melihat seorang pria dengan gagahnya sedang mengecek kondisi beberapa kudanya. Rose mendekat, dia mendekatinya dan menepuk bahu pria itu, membuat pria itu menoleh sekilas ke arah Rose. "Aku sudah datang, lalu apa yang membuatku harus disini? Melihatmu saja?" "Kau akan berkuda, karena semua wartawan menginginkan suatu hal yang berbeda mengenaiku dan kamu." "Bukan masalah yang besar untuk menunggangi kuda, bahkan srigalapun mampu aku tunggangi Tuan Philip," kata Rose dengan tertawa. "Bagus, tidak susah bekerja sama denganmu." "Tapi sayangnya aku tidak ingin berkuda saat ini, bagaimana?" Philip membelakan matanya, dan menatap tajam ke arah Rose, "Tidak ada pilihan antara iya dan tidak. Kau kemari untuk melakukannya, ayolah Bloody Rose, jangan menyusahkanku." "Aku tidak peduli Tuan Philip, aku kemari hanya untuk berjalan – jalan melihat kuda – kudamu saja. Mungkin kita berkuda lain waktu saja, aku pergi dulu." Rose pergi meninggalkan Philip, meninggalkan pria itu yang sudah memasang wajah marahnya. Rose berjalan dengan tersenyum senang, dia mengitari kandang kuda milik keluarga Alexander, dan melihat sebuah kuda berwarna hitam. Rose menatap kuda tersebut dan kemudian memejamkan mata. Sekilas ingatan mengenai sebuah bunyi langkah kuda dan datang mengepung rumahnya dulu. Dia, Rose kecil bersembunyi dibawah meja dengan takutnya melihat kaki – kaki yang melangkah masuk mengobrak – abrik rumahnya. "Keluar kau! Aku tau, kau ada disini!!" Rose kecil menutup mulutnya dengan tangan kecilnya. Dia menangis, dia ketakutan seorang diri. Lalu, tiba – tiba, dia melihat darah mengalir dilantai rumahnya bersama dengan rubuhnya orang tersebut dan jatuh sekarat. "Ibu.." gumam Rose kecil. Rose masih diam dan bersembunyi dibalik meja. Lalu, dia kembali melihat pemandangan yang membuat memorinya menjadi buruk. Dia melihat keluarganya dibantai, dia merasa ketakutan sendirian dibawah meja melihat keluarganya dibantai begitu keji. "Alexander, mereka sudah tewas. Ayo kita kembali." "Tunggu. Kau pergi dulu, ada yang harus aku bereskan." Rose menangis sambil menutup mulutnya agar tidak tertangkap. Kaki besar dengan sepatu both itu mendekat dan berjongkok membuat mata Rose terbelak dan ketakutan. Dia melihat pria itu, pria yang menakutkan yang telah membantai keluarganya. "Anak manis, aku tau kau bersembunyi dariku. Keluarlah.." Rose menggelengkan kepalanya, dia menangis dan memundur hingga menempel tembok tubuhnya. Dia menggelengkan kepalanya ketakutan. Dengan kasarnya, Alexander menarik Rose kecil dan menghunuskan pisuanya ke perut Rose. "Ke-kenapa kau jahat d-dengan keluargaku argh.." "Karena kalian memang harus mati haha." Dengan keadaan sekarat, Rose kecil memegang perutnya yang tertusuk dan menahan sakit. Dia menatap keluar dimana pria bernama Alexander itu menaiki kuda berwarna hitam dan menjauh dari kediamannya. "A-aku membencinya.." Rose tersadar, dan mengeraskan rahangnya. Dia mengingat kenangan buruk masa kecilnya, yang membuat dirinya kini tumbuh sebagai seorang Bloody Rose. Dendam, dan rasa sangat hancur yang dia rasakan bertahun – tahun. "Dia adalah Rozart, kuda kesayangan dari keluarga Alexander." Rose menoleh ke samping kanannya dan melihat Baeho yang berdiri menatapnya dengan tersenyum. Rose hanya menatap pria itu datar, "Apa kuda ini sayang spesial?" "Tentu, Rozart membuat pencapaian untuk keluarga kami, terutama dengan pencapaian Ayah." "Aku baru tau menganai kuda berwarna hitam ini. Rupanya dia sangat sangat spesial," kata Rose dengan tersenyum tipis. "Tentu, keluarga kami sangat keras dan harus mencapai sesuatu untuk mendapatkannya." "Termasuk dengan membunuh keluargaku," batin Rose. "Apa kau tidak berkuda dengan adikku? Aku kira dengan pakaian berkudamu, kamu akan berkuda bersama dengannya." "Aku sedang tak ingin menuruti keinginan dari pria itu. Aku hanya ingin melihat – lihat kuda milik keluarga kalian. Ternyata kalian memiliki banyak kuda, dan juga memiliki filosofi yang berbeda." Baeho tersenyum tipis, "Mengenakan pakaian berkuda, tidak akan lengkap jika kau tidak mencoba untuk menunggangi kuda." Lalu tangan Baeho terulur dan membuat Rose menatapnya. Lalu karena Rose terlalu lama meraih jabatan tangan dari Baeho, pria itu yang meraih tangan Rose dan memegangnya. "Berkudalah denganku jika kau tak ingin berkuda bersama dengan adikku. Aku akan mengajarimu, ayo." Rose mengangguk, dan mengikuti kemauan dari pria itu. Dia mengikuti Baeho menuju sebuah kandang kuda yang berwarna putih. Pria itu tersenyum sambil menggandeng tangan Rose, "Dia Alberto, kuda kesayanganku. Dia milikku. Aku ingin kau mencoba menaikinya, dia kuda yang baik." "Baiklah." Baeho membawa keluar kuda putih tersebut, dan membantu Rose menaikinya. Lalu, pria itu menarik kudanya keluar dan menjaga Rose yang duduk dipunggung kuda. "Aku baru pertama kali menunggangi kuda seperti ini," kata Rose. "Hahaa, tentu saja. Kau biasanya berjudi, bukan menunggangi kuda. Apakah kau suka?" "Ya aku menyukainya, sedikit." Baeho menarik kudanya dan berkeliling mengantar Rose dengan santai. Rose menatap pria itu sekilas, ternyata dugaannya sedikit melenceng. Baeho, sepertinya pria yang baik. "Lihatlah!" seru Rose. "Indah sekali, bukankah itu pelangi? Kenapa dia muncul dilangit? Bukannya biasanya, pelangi akan muncul ketika setelah hujan turun?" Baeho terkekeh, "Itu adalah project rahasiaku. Aku melakukan sesuatu dengan membuat pelangi buatan. Tapi ini masih rahasia." "Wow, kau sangat keren sekali Tuan." "Aku memang keren, lebih keren dari pada Ayahku." Dari jauh, Philip menatap kedua insan yang asik bercengkraman tak suka, "Dasar nenek sihir, giliran aku ajak berkuda tidak mau. Tetapi saat Baeho mengajaknya, dengan senang hati dia berkuda. Wanita yang menyebalkan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD