8. Love Can't Change

1556 Words
-Kesepian tidak akan hilang hanya karena cinta itu datang. Namun kesepian itu tentang lelah yang tak menemukan sandaran- * (Chat Screen) -La, tolong carikan tiket pesawat untuk saya balik ke Jakarta besok pagi- Si nona bos. * “Tuh kan, si nona bos nongol lagi di hp gue. Selalu saja begini, dadakan!” Nadila menggerutu sendiri dalam kamar kosannya. (Chat Screen) -Baik nona, segera saya carikan. Nanti langsung saya kirim lewat surel- Nadila. * Pesan telah terkirim, kemudian pesan juga telah dibaca si nona bos. Perempuan itu hanya membacanya saja, tidak ada niat untuk membalas. Nona bos sedang berada di balkon kamarnya. Ia menikmati keindahan malam kota Jeju. Korea Selatan sedang mengalami musim gugur, disebut juga dengan Cheongomabi atau musim romantis. Musim ini terjadi di rentang bulan September sampai November. Nona bos menikmati September sunyinya dengan segelas wine. Ia melihat ada daun yang berguguran dari pohon maple yang ada di lingkungan hotel. Ia check in di kamar hotel dan resort dari Wang Group. Nona bos adalah salah satu tamu vvip dari acara grand launching itu. (Screen Notification) You got a message from nadila at surel! drtt… drtt… “Ya Pi” nona bos menjawab sebuah panggilan. “Gimana grand launching nya Sherry? Apa kamu sudah ketemu dengan Brody, nak?” tanya Henry Peterson. “Acaranya bagus pi, berjalan lancar. Soal pria itu, hmmm...” gadis itu terdiam sejenak. “Kenapa nak?” tanya Henry. “Kita sempat bertemu, namun aku nggak bisa ngajak dia ngobrol. Dia sangat sibuk pi.” Sherry menjelaskan kondisi yang terjadi apa adanya. “Ya sudah, kamu harus maklum. Dia pasti sibuk sekali. Kapan kamu balik ke Jakarta, nak?” tanya Henry lagi. “Aku sudah meminta Nadila untuk mencarikan tiket pesawat untukku. Dan barusan aku dapat notifikasi kalau tiket sudah dikirim Nadila lewat surel pi” “Ya sudah, perlu papi jemput besok?” “Tidak terima kasih pi. Mobil aku parkirkan di parkiran inap bandara. Jadi aku akan pulang sendiri” tolak Sherry. “Ya sudah Pi, aku mau istirahat besok aku flight pagi soalnya.” Sherry memutuskan sambungan dari papinya tanpa mengucap say bye. ----- Si nona bos dari Nadila adalah Sherry Peterson. Putri tunggal dari Henry Peterson, pendiri perusahaan Pete Fashion yang sudah memasuki pasar Asia Pasifik. Sherry memanggil Henry dengan sebutan papi. Sejak dua belas tahun silam, ia hanya hidup dengan papi Henry. Maminya telah beristirahat dengan tenang di pangkuan Tuhan. Saat itu usia Sherry 18 tahun, ia mendapat kabar kalau maminya jatuh sakit dan harus dirawat dengan intensif. Sherry sedang menempuh pendidikan di jurusan fashion desainer, mengikuti maminya dulu. Ia berkuliah di negara yang sama dengan Brody berkuliah yaitu USA. Sejak dari sekolah menengah pertama, Sherry selalu meminta kepada orang tuanya untuk menyekolahkannya ditempat yang sama dengan Brody Wang. Brody Wang hanya selisih enam bulan lebih tua dengan Sherry, mereka terlahir pada tahun yang sama. Sherry mengagumi sosok Brody namun sayang Brody tidak tahu akan hal itu. Sudah dua hari Sherry menginap dibangunan yang sama dengan Brody. Gadis itu berharap dapat berbicara dengan Brody namun apa yang didapatkannya, ia hanya mendapat tumpahan wine ke baju birunya. Bukannya menolong Sherry, ia hanya mengalihkan pandangan menyapa tamu-tamu yang lain. “Hampir dua dekade aku menyukaimu Brody. Selama itu pula kau tidak pernah melihat kepadaku. Mungkin aku terlalu takut untuk memulainya dulu. Tapi aku bersumpah, kali ini aku akan menyapa dirimu duluan” ucap Sherry lantang. Ia menghabiskan semua isi wine yang ada dalam gelas. Sherry memutuskan untuk kembali ke Jakarta besok. Ia tahu kalau Brody masih di Jeju sampai lima hari kedepan. Brody harus memastikan semua telah berjalan lancar. Sherry begitu mudah mendapatkan info tentang Brody, yaitu dari papinya dan orang suruhannya. Sewindu sudah Sherry meminta seorang detektif mengikuti Brody. Ia meminta detektif itu untuk melaporkan semua kegiatan Brody. Poin pentingnya, tidak boleh ketahuan. Kali ini adalah detektif ketiga yang mengikuti semua pergerakan Brody. Detektif pertama dan kedua gugur, karena pergerakan mereka diketahui oleh Brody dan mengusutnya sebagai mata-mata dari lawan bisnis Wang Group. Untung saja detektif itu tidak menyebut nama Sherry. Sherry adalah gadis yang pintar, introvert, jutek, dingin dan apa yang dia inginkan harus didapatkan termasuk itu Brody. Makanya ia sangat senang ketika Henry mengatakan kalau Omar dan Ellia ingin menjodohkannya dengan Brody anak mereka. Ia akan melakukan apapun demi mengejar Brody, bahkan menantang maut sekalipun dilakukan olehnya. * Setelah makan malam itu, Ellia memaksa Omar untuk menghubungi Henry Peterson. Ellia yang tak sabar untuk menimang cucu mempercepat pergerakannya yang ingin menjodohkan Brody dengan anak perempuan Henry. “Pa, coba telepon Henry Peterson. Terus bahas tentang perjodohan itu.” Ellia mulai memaksa Omar. “Mama ini nggak sabaran ya?” umpat Omar kepada istrinya. “Iya mama udah kebelet pengen cucu dari Brody. Emangnya papa nggak mau nimang cucu apa?” tanya Ellia kesal. “Mama sih waktu dulu terlalu memprogram kehamilan, liatkan sekarang panik sendiri. Untung aja Brody berhasil, setelah beberapa kali percobaan.” Omar mengingat perjuangan mereka dulu menanti buah hati. “Jadi papa kecewa sama mama, karena mama awalnya pilih karir dulu” Ellia merajuk on. Saat mereka bertemu di Macau dulu, Henry bercerita kalau putrinya mengambil jurusan fashion designer. Putrinya itu mengikuti jejak almarhum maminya. Ellia semakin yakin kalau pribadi dan karakter Sherry sama dengan maminya. Dari cerita Omar, istri dari Henry Peterson ini sangat kuat dan berambisi dalam berbisnis. Saat bisnis batubara Henry mengalami kebangkrutan, disitu istri dari Henry mendirikan toko baju kecil-kecilan. Ia sangat gigih dan cekatan. Henry terbawa arus dan semangat dari istrinya. Mereka akhirnya bersama-sama mendirikan usaha baju. Perlahan Henry mulai mencari investor dan istrinya pun tak malu untuk mengajak teman-teman arisannya dulu untuk berinvestasi pada usaha mereka. Dua tahun kemudian Henry dan istri mendirikan perusahaan Pete Fashion. Sampai saat ini Pete Fashion berjaya hingga Asia Pasifik. “Ma, udah dong jangan merajuk gitu. Sudah nggak jamannya ma.” Omar berucap lagi. “Jadi kalau mama udah tua nggak boleh merajuk gitu pa?” Ellia memukul dadanya Omar, ia tak terima tentang perkataan suaminya itu. “Ma, udah dong. Tadi Henry balas chat papa, katanya anaknya itu lagi di Lembang ada pembukaan butik dari temannya. Papa sudah undang dia untuk hadir ke grand launching di Jeju.” “Terus jawab Henry apa pa?” Ellia bersemangat lagi, seketika raut muka merajuknya langsung hilang kena setrika perkataan dari Omar. “Mama udah selesai merajuknya ya?” Omar semakin membuat Ellia kesal, langsung saja bantal sofa mereka mengenai bahu omar berkali-kali. “Mama mau denger lanjutannya nggak nih?” “Iya mau dong pa, udah dari tadi mama tungguin. Papa sih ngeledekin mama aja. Ayo pa ceritain.” Ellia memohon karena ia sungguh penasaran. “Henry akan mengutus Sherry anaknya itu untuk hadir di grand launching kita di Jeju. Semoga aja Sherry dan Brody bisa berkenalan di acara itu ma.” “Beneran pa? mama senang banget jadinya. Semoga bisa berjalan lancar ya pa. Sayang banget kita nggak bisa melihat sendiri, memastikannya pa.” ada sedikit rasa kecewa yang dirasakan Ellia. “Udahlah ma, jangan sedih. Kita harus kasih kepercayaan ke Brody. Lagi pula mama kan harus nemenin papa disini. Kerjaan disini banyak ma, nggak mungkin dialokasikan semua.” Omar menghibur hati Ellia. Ellia pun memeluk suaminya itu, ia bersyukur dianugerahi suami yang baik dan pengertian seperti Omar. Walaupun Omar terkadang jutek dan dingin seperti Brody. * “Kak makan dulu yuk, kak Damar harus minum obat lho biar cepet sembuh” Dinar sedang membujuk Damar. Sejak mengetahui kematian Pak Yapto, kondisi Damar menurun. Apalagi Damar mengalami syok berat dan harus diberi obat penenang. Sejak pagi Damar belum mau makan, ia hanya meneguk air sedikit. Tamara memasuki ruang perawatan Damar, setelah mengetuk pintu ia pun masuk. Tamara berpelukan dengan Dinar, ia juga menyapa Damar namun tidak dibalas oleh laki-laki itu. “Belum mau makan Din?” tanya Tamara. “Belum Ra, dia cuma minum air seteguk. Setelah itu ya bengong aja begitu.” Dinar menunjuk ke arah Damar berada. Kamar Damar berada di samping taman, dan jendela dari kamar itu langsung melihat keadaan luar taman. Sejak membuka mata, Damar hanya melihat ke arah taman memperhatikan gerak pasien yang ada di taman. Tamara mengambil bubur yang ada di tangan Dinar, “Kak Damar makan ya beberapa suap juga gak apa-apa kok. Aku suapin ya kak” Tamara mulai mengambil sendok dan memasukkan bubur keatasnya. “Aku nggak lapar Ra” tegas Damar. “Kakak harus paksain, kakak harus minum obat kak, biar cepat sembuh” Tamara masih merayu Damar untuk sarapan. “Aku bilang aku nggak lapar Tamara” Damar sedikit membentak Tamara. Dinar segera mengambil bubur dari tangan Tamara. Karena dibentak oleh Damar, Tamara sedikit terkejut. Dan mangkuk bubur itu hampir saja terjatuh. “Kak tolong jangan egois begini. Kita udah kehilangan Pak Yapto. Theodore koma entah sampai kapan. Kalau kak Damar nggak segera sembuh, aku dan Dinar harus bagaimana kak?” Air mata Tamara mulai berjatuhan, “Bukan cuma kakak aja yang sedih, aku, Dinar, Pak Sidiq pun sedih kak. Kita nggak tahu harus bagaimana lagi sekarang ini” “Yang paling dirugikan itu istri dan anak-anak Pak Yapto kak” ucap Dinar. “Kakak tolong makan ya.” ucap mereka. Damar pun mengambil bubur yang ada di tangan Dinar. Ia memakannya dengan lahap. Walau air mata itu keluar dari pelupuk mata Damar, ia tak hiraukan. Pria itu menghabiskan buburnya lalu meminum obat yang telah disediakan suster.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD