-Jangan cemas kalau badai datang. Karena disana sudah ada pelangi yang menunggu-
*
“Non, kita sudah sampai” ucap Pak Sidiq supir Tamara. “Iya pak, sebentar” balas Dinar.
Tamara diam sepanjang perjalanan, ia hanya mengalihkan pandangan ke jalanan. Dinar berusaha mengajaknya berbicara namun ia membalas dengan malas.
“Ra, ayo kita turun” Dinar mengajak Tamara untuk memasuki rumah Pak Yapto.
“Aku takut Din. Gimana kalau keluarga Pak Yapto nggak nerima kita disana?” ucap Tamara kepada Dinar.
“Ra, kamu nggak boleh bicara seperti itu. Aku yakin, mereka adalah orang-orang yang bijak.” Dinar berusaha menenangkan hati Tamara.
“Ya non Tamara, mereka orang-orang yang baik. Mereka hidup dalam lingkungan agama yang baik. Yapto selalu mengajarkan kebaikan Tuhan kepada keluarganya.” Pak Sidiq membantu Dinar meyakinkan Tamara.
Pak Sidiq adalah teman sekampung dari Pak Yapto. Dia pula yang memperkenalkan Pak Sidiq kepada Theodore. Saat Theodore dan Tamara semakin sibuk, tentu saja kondisi itu sedikit rumit.
Theodore harus ke lokasi syuting, sedangkan Tamara harus latihan vocal. Lalu Pak Yapto harus nganterin siapa duluan nih?
Maka disitulah Pak Sidiq diterima oleh Theodore untuk menjadi supir pribadi Tamara. Dan Pak Yapto harus menjadi supir pribadi Theodore. Sifat dan attitude kedua supir pribadi ini hampir sama, jujur dan berdedikasi.
“Ayo Ra” ajak Dinar sekali lagi.
“Okay, kita turun sekarang” Tamara membuka pintu dan menuruni kakinya keluar dari mobil.
Mereka memberi salam dan berjabat tangan dengan istri dari Pak Yapto. Tamara langsung memeluk istri Pak Yapto. Lama mereka tenggelam dalam duka, menangis pelampiasan yang baik.
Tadinya mereka hanya akan melayat sebentar lalu pamit kembali ke rumah sakit. Namun kenyataannya berbanding terbalik, mereka mengikuti proses pemakaman dari Pak Yapto sampai selesai.
Para pelayat mulai meninggalkan rumah duka, jenazah sudah dikebumikan. Pihak keluarga kembali lagi ke rumah, Tamara dan Dinar mengikuti dari belakang.
“Bu, saya minta maaf.” ucap Tamara tulus kepada istri Pak Yapto.
“Untuk apa non Tamara meminta maaf. Suami saya bukan sepenuhnya milik saya, dia hanya titipan sementara dari Tuhan. Kami insyaAllah ikhlas non.” balas Bu Yapto dengan tenang.
“Sekali lagi, saya minta maaf ya bu.” air mata Tamara keluar dari sarangnya. Bu Yapto langsung memeluknya. Mengusap punggung Tamara yang bergetar dengan lembut.
Bu Yapto sudah mengetahui kronologi kejadian. Pak Yapto saat itu hilang kendali dalam mengemudikan mobil dari Lembang menuju Jakarta. Penyebabnya adalah ada sebuah mobil dari arah berlawanan yang mengemudi tidak teratur.
Mobil tersebut keluar jalur dan menghalangi laju mobil Theodore, dan tabrakan pun terjadi. Saat kejadian jalanan cukup sunyi dan sepi. Karena lokasi cukup jauh dari pusat kota, membuat aparat kepolisian sedikit terlambat mengetahui kejadian.
“Bu” Tamara mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam tasnya, “Tolong ibu terima ya” ia memberikan amplop itu ke tangan Bu Yapto.
“Apa ini non?” tanya wanita itu heran. “Itu gaji Pak Yapto dan bonus untuk beliau, itu sepenuhnya hak ibu dan keluarga.” Tamara memandangi anak-anak Pak Yapto satu per satu.
“Non, ini baru awal bulan. Tolong jangan begini non.” beliau merasa terbebani dengan pemberian dari Tamara.
Bu Yapto sudah tahu selain suaminya, ada Theodore dan Damar juga dalam mobil tersebut. Bagaimana kondisi mereka pun diketahui oleh Bu Yapto. Sebelumnya pihak kepolisian dan Dinar sudah bertemu Bu Yapto. Mereka menjelaskan semuanya kepada wanita yang berstatuskan istri sah dari Pak Yapto, their driver.
“Bu, tolong diterima dan dimanfaatkan sebaiknya bu. Saya mohon.” Tamara tak tahu lagi harus bagaimana supaya Bu Yapto menerima pemberian santunan darinya.
Dinar memegang pundak wanita itu, seakan ia berkata, ‘Tolong ibu terima santunan ini. Agar kami tidak terlalu kecewa dengan keadaan saat ini.’
“Baik saya terima ini. Terima kasih banyak non Tamara. Saya mohon maaf apabila bapak semasa hidupnya ada menyinggung perasaan non Tamara, baik dalam berkata maupun bertindak.”
“Tidak bu, Pak Yapto orang yang jujur dan berdedikasi sekali dalam bekerja. Maafkan saya dan Theodore bu.” elak Tamara tak setuju dengan Bu Yapto.
Pak Yapto meninggalkan seorang istri dengan tiga orang anak. Si sulung baru berusia 15 tahun, anak kedua berusia 12 tahun, dan yang terakhir berusia 10 tahun. Tamara berjanji akan bekerja lebih giat lagi untuk membantu menyokong kehidupan keluarga Pak Yapto.
*
Para tamu berdatangan ke lokasi pembukaan hotel dan resort Wang Group dan Korean Corp. Mereka telah sepakat untuk bekerjasama. Mereka mulai mengisi satu per satu kursi dan menikmati hidangan yang telah disajikan.
Seorang wanita yang mengenakan dress biru selutut ikut berbaur dengan tamu yang lain. Wanita itu terlihat sangat cantik, rambutnya terurai melewati bahu warnanya sedikit pirang pengaruh bubuhan warna yang digunakan. Ia mengenakan satu set perhiasan untuk mempertegas penampilannya saat ini.
“Kemana dia, kenapa belum muncul juga?” wanita itu membatin sendiri.
Pembawa acara memulai acara peresmian hotel dan resort, para tamu juga dihibur dengan berbagai pertunjukkan mulai dari piano, saxophone, acoustic dari pengisi acara lokal, asli warga korea.
Saat yang ditunggu tiba, Mr.Kim dari Korean Corp dan Brody Wang dari Wang Group mulai memegang gunting masing-masing. Dalam hitungan ketiga mereka menggunting rentangan pita yang ada di depan mereka.
Dengan pemotongan pita secara simbolis itu berarti hotel dan resort resmi dibuka untuk umum. Suara tepukan dari tamu membuat suasana semakin meriah.
“Awwcchhh… I’m sorry” ucap seorang gadis berbaju biru kepada Brody Wang.
Brody hanya melihat sekilas lalu berjalan kembali menyapa para tamu yang hadir dalam pembukaan hotel hari ini.
“I’m sorry for him, miss.” ucap Joey mewakili Brody.
Dress yang dikenakan wanita itu sedikit basah terkena minumannya sendiri, “Yah basah deh, gimana ini?” ucapnya.
‘oh dari Indonesia nona ini.’ gumam Joey.
“Izinkan saya membantu nona, walau bagaimana pun itu juga disebabkan oleh bos saya.” Joey menawarkan bantuan untuk mengganti baju nona itu.
“Tidak perlu” ucap gadis berbaju biru itu. Ia pergi dari tempat itu sesegera mungkin.
Joey hanya menatap aneh ke arah wanita tersebut. Ia kembali lagi mencari keberadaan Brody. “Tuan muda mana nih, cepat amat dia menghilangnya?” gerutu dari Joey.
“Cari siapa kau?” Brody memukul pundak Joey dari belakang. Yang dipukul merasa terkejut. Untung nggak latah, kalau iya pasti keluar kata, ‘ayam’ ‘ayam’ ‘eh ayam’ ~~
“Mengagetkan saja tuan. Ya saya tentunya sedang mencari posisi tuan lah.” Joey menjelaskan kenapa ia seperti mencari sesuatu.
“Kau dari mana saja tadi, kenapa pergi tak pamit dulu ke saya. Tidak sopan!” Brody mode on, celoteh pedasnya keluar begitu saja dihadapan Joey.
‘Astaga untung dia bos, kalau tidak disumpal juga itu mulut pedes.’ gerutu Joey.
“Saya minta maaf tuan Brody.” Joey menunduk, ya memang sudah jadi hukum alam. Bos selalu benar dan anak buah selalu salah.
*
Sore ini , Damar sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Kondisinya sudah jauh membaik. Berita ini sudah disampaikan dokter Febrian kepada Dinar selaku wali dari Damar.
Setelah proses pemindahan selesai, Dinar dan Tamara mengunjungi Damar. Mereka membuka gagang pintu, awalnya mereka mengintip lalu perlahan masuk kedalamnya.
“Din, nanti saja aku berkunjungnya. Kak Damar masih tidur, kasihan.” ucap Tamara kepada Dinar.
“Aku sudah mendingan Ra.” ucap Damar memberi tahu kondisinya yang jauh lebih baik.
“Syukur lah kakak sudah bangun.” mereka berucap serentak. Dinar sangat senang melihat kondisi kakaknya yang semakin membaik.
Hidup Damar dan Dinar hampir sama dengan Theodore dan Tamara, mereka juga yatim piatu sekarang. Ayah mereka meninggal lima tahun yang lalu karena kecelakaan di proyek yang sedang dikerjakan. Ibu mereka mulai jatuh sakit setelah itu menyusul sang ayah. Makanya hubungan mereka sangat dekat sekarang ini.
“Ra, Theodore gimana?” tanya Damar.
Tamara mencoba tersenyum, ia tak mau membuat Damar bersedih, kondisinya sendiri juga belum sepenuhnya stabil, “Dia masih dirawat dalam ruangan intensif kak.”
“Sikon saat kejadian sungguh cepat Ra. Yang aku ingat, Pak Yapto dibalik kemudi, Theodore duduk di belakang Pak Yapto dan aku disamping Theodore.”
Mereka tidak memaksa Damar untuk bercerita tentang kejadian malam itu. Dokter Febrian berpesan, jangan terlalu memaksa pasien untuk bercerita tentang kejadian karena akan berakibat buruk pada recovery pasien.
“Kak Damar istirahat ya, kondisi kakak masih belum sepenuhnya pulih. Kami nggak mau kalau terjadi sesuatu sama kakak. Ya kak.” pinta Tamara.
“Din, Pak Yapto gimana?” Damar memanggil adiknya.
Dinar bingung harus jawab apa, Damar dan Pak Yapto sangat dekat. Mereka saling bercerita mengusir kebosanan saat menunggu Theodore bekerja.
“Dinar!”
“Maaf kak”
“Pak Yapto selamatkan?” tanya Damar.
Dinar hanya menggeleng, mulutnya tak sanggup berbicara, dan terlalu berat rasanya untuk memikul beban ini.
(Damar histeris)
Pria yang sama tingginya dengan Tamara itu mulai meronta-ronta, ia melepaskan semua alat medis yang melekat pada tubuhnya. Dinar segera menekan tombol bantuan. Tamara mencoba mencegat pergerakan Damar.
Dokter Febrian dan suster segera datang, dua orang suster laki-laki memegangi Damar, dan dokter Febrian menyuntikkan cairan penenang kedalam tubuh Damar.
Tamara dan Dinar berdiri di sudut kamar, mereka saling berbagi pelukan. Ini kali pertama Damar histerus begitu. Dinar langsung teringat kejadian beberapa tahun silam.
Kejadian dimana Damar juga berperilaku begitu ketika ayah mereka mengalami kecelakaan di proyek. Dan disaat ibu mereka juga menyusul kepergian sang ayah. Dinar tak kuasa menahan air matanya lagi.
Tamara mencoba menguatkan sahabatnya itu. “Everything it’s gonna be okay.” ucapnya lembut di puncak kepala Dinar.
Kondisi Damar sudah tenang, ia langsung tertidur. Dokter Febrian berbicara kepada Dinar.
“Kondisi Damar tidak apa-apa. Ia hanya syok setelah mendengar sesuatu. Memangnya kalian membahas apa dengan Damar?” tanya dokter Febrian.
“Tadi Kak Damar, bertanya soal Pak Yapto. Dan itu pemicu dia begitu dokter. Kak Damar sangat dekat dengan Pak Yapto semasa hidup beliau.” Tamara menjelaskan kepada dokter Febrian.
“Berdoa saja, semoga Damar membaik dan bisa ikhlas menerima kenyataannya.” dokter Febrian pamit meninggalkan mereka disana.
Dinar dan Tamara akhirnya menginap di kamar inap Damar. Di dalam ruangan itu ada ranjang yang bisa digunakan oleh orang yang menunggu pasien. Selain ada sebuah sofa bed yang bisa digunakan untuk beristirahat.
“Ra, istirahatlah diranjang itu. Kamu butuh tidur.” saran Dinar kepada Tamara.
“Enggak Din, kamu saja yang istirahat disana. Aku di sofa bed saja. Letak ranjang dekat dengan kak Damar, jadi kalau Kak Damar butuh apa-apa kamu bisa langsung membantunya.” Tamara menolak saran dari Dinar.
“Kamu bener juga Ra, ya sudah kamu istirahat ya. Aku nggak mau kamu jatuh sakit.” titah Dinar.
“Kamu duluan saja, aku mau lihat keadaan Theodore dulu.” Tamara berjalan ke luar dari kamar inap Damar.