-Tidak ada perpisahan untuk kita. Di mana pun kamu berada, kamu selalu ada didalam hatiku-
*
Nadila masih memainkan jemarinya di atas keyboard notebook, sudut matanya masih melirik ke arah jam weker yang ada di atas meja kecil dalam kamar kosannya,
“Astaga, sudah jam 10 aja. Gila sih ini si nona bos udah dingin, jutek, keras kepala lagi. Itu dia beneran langsung tancap gas ke jakarta malam ini juga?” Nadila masih berkata kepada diri sendiri.
Nadila masih mencarikan tiket pesawat untuk si nona bos, “by the way nona bos ngapain ke Jeju ya? dia kan nggak ada jadwal apapun kesana. Lagi pula disana kan belum ada cabang Pete Fashion. Apa dia mau survei lokasi sana?”
Nadila menggelengkan kepalanya berkali-kali, ia berusaha untuk mencari titik fokusnya dalam bekerja. Nadila adalah tipikal cewek yang penasaran disebut juga kepoan. Tapi mulutnya tidak melebar kemana-mana, ia masih bisa menjaga rahasia.
“Kapan ya aku bisa paham sama sikap dan sifat si nona bos? Susah sekali untuk dekat dengan beliau.” tiba-tiba Nadila mendapat notifikasi chat di smartphone, gadis itu langsung melihatnya.
(Chat Screen)
-La, segera kirim e ticket melalui surel. Sekarang!- Nona bos.
-Maaf nona, saya masih mencarikan penerbangan pagi buat nona. Nanti saya kabari kalau sudah dapat.- Nadila.
-Kau ini, cepat sedikit dalam bekerja. Setelah dapat langsung saja kirim lewat surel. Paham!- Nona bos.
*
“Tuh kan, baru aja di omongin nongol orangnya di hp gue. La, ayo bekerja, lo masih butuh makan dan minum buat hidup Nadila” gadis itu menyemangati diri sendiri.
Atas usaha Nadila menelusuri setiap aplikasi ticket airplane, akhirnya ia bisa mendapatkan satu tiket penerbangan pagi menuju Jeju Korea Selatan dari Jakarta. Ia langsung mengirim lewat surel e ticket yang dibutuh si nona bos.
Pagi ini Nadila berangkat lebih awal, ia sengaja memajukan waktu berangkat satu jam dari biasanya. Walau dia tahu si nona bos tidak akan masuk kantor pagi ini mungkin sampai dua hari kedepan. Namun, banyak pekerjaan yang ditinggalkan bos nya itu dan harus cepat selesai. Apalagi si nona bos memintanya untuk kirim update lewat surel dan chat. Sungguh diktator!
Nadila masuk tanpa permisi ke dalam ruangan si nona bos, dan dia sungguh terkejut melihat ruangan itu ada penghuninya.
(Nadila berteriak) - aaaa...
“Nona, kenapa anda ada disini?” tanya Nadila dengan deru nafas seperti orang jogging.
“Pertanyaan apa itu? This is my room!” balas si nona bos kesal.
“Maaf nona, tapi bukannya nona harus ke Jeju pagi ini.” jelas Nadila mengemukakan alasannya.
“Ini saya mau berangkat, saya mau memastikan kalau kau tidak bermalas-malasan disini.” ucap si nona bos ketus.
“Mana mungkin saya bermalas-malasan nona, saya orang yang bertanggung jawab atas pekerjaan saya.” Nadila tak terima dibilang begitu oleh nona bos.
“Saya pergi dulu, itu paper bag tolong kau buang ke tong sampah. Sekarang!” si nona bos memerintah lagi, setelah itu ia langsung pergi menuju mobilnya guna mengejar penerbangan ke Jeju Korea Selatan.
Nadila mengambil paper bag yang harus dibuang, dia sedikit mengintip isi dari paper bag dan dia terkejut melihat ada baju dari atasannya itu. Baju itu adalah dress code yang digunakan nona bos kemarin.
Dasar Nadila si tukang kepo, tangannya menjalar lalu mengambil baju tersebut,
“Ya ampun si nona bos, baju masih bagus begini mau dibuang aja. Eh ini dia kan udah nggak mau ya, berarti udah nggak ada yang punya.” Nadila tersenyum terpikir ide konyol di kepalanya.
“Gue pungut boleh dong, kan nggak dihitung nyuri juga toh.” dan benar saja, Nadila bukannya membuang baju itu malah mengambilnya dan langsung menyimpannya ke loker di ruang kerjanya.
*
Brody dan tim dari Wang Group sudah mendarat di bandara Jeju, Korea Selatan. Mereka menggunakan akses pintu khusus, Brody melangkahkan kaki dengan percaya diri.
Tuxedo Check!
Sepatu Check!
Rambut Check!
Kacamata Check!
Dasar orang ganteng sejak lahir ya, apapun yang dikenakannya nampak luar biasa. Jangan lupa senyuman maut dari Brody, seperti lelehan es krim yang siap mendinginkan dahaga kaum hawa dari teriknya matahari.
Beberapa mobil mercedes benz sudah dibukakan pintunya, rombongan segera memasuki mobil tersebut. Mobil bersiap menuju hotel dan resort yang dibangun Wang Group.
“Joey, jadwal hari ini apa saja?” tanya Brody.
“Rapat dengan direktur serta para general manager division, Touring location, dan persiapan pembukaan esok hari Tuan.”
“Nanti kita dipandu seorang translator juga tuan, ada beberapa dari mereka yang enggan menggunakan bahasa inggris.” Joey menjelaskan dengan detail.
“Ya sudahlah, yang penting kau pastikan kalau translator itu tidak salah translate nantinya.” titah Brody.
Budaya dari orang-orang Korea asli memang sedikit unik. Mereka semua mempunyai kepintaran di atas rata-rata. Apalagi cara mereka bekerja yang sungguh luar biasa, dikenal dengan budaya 'palli-palli'.
Mereka menguasai bahasa internasional namun lebih senang menggunakan bahasa sendiri dalam berkomunikasi. Makanya setiap menjalin kerjasama dengan pihak di luar Korea, selalu ada seorang translator yang mendampingi.
Brody sudah memasuki ruangan untuk memimpin rapat persiapan peresmian hotel dan resort Wang Group. Disana sudah hadir Mr.Kim dari Korean Corp sebagai partner kerja.
Rapat itu berjalan lancar durasinya sekitar satu jam. Setelah rapat selesai Mr.Kim dan Brody touring location. Mereka menggunakan mobil khusus untuk mengelilingi hotel dan resort. Brody orang yang supel dalam berbicara, walau terkadang dingin dan tak berperasaan namun ia selalu jujur dalam berkata dan bertindak.
Hari sudah semakin sore, semua jadwal Brody sudah terselesaikan. Tinggal menunggu acara peresmian besok. Pria tampan itu sekarang sudah duduk di sofa dalam kamar hotelnya sendiri.
“Joey, what’s next?” Brody mematut letak dasinya sekarang ini.
“Done! anda bisa beristirahat untuk acara besok tuan” balas Joey.
“Okay, tolong kau pastikan semua tamu yang akan hadir besok. Perhatikan per kategori ya. Saya mau mereka dilayani dengan maksimal.” Brody mulai merilekskan diri.
“Baik tuan, untuk makan malam anda mau di antarkan ke kamar atau anda akan langsung turun ke restoran tuan?” tanya Joey.
“Saya mau di kamar saja,” balasnya singkat. “Baik, tuan” ucap Joey.
Setelah dirasa cukup, akhirnya Joey pamit dan membiarkan si bos jutek untuk beristirahat. Banyak pekerjaan yang harus ia lakukan sekarang. Kalau ada yang tidak beres maka Joey akan menerima celotehan pedas dari Brody.
*
Di salah satu sisi kota Jakarta, ada seorang gadis yang menangis. Dia Tamara, jadwal dia selama beberapa hari ke depan terpaksa harus dibatalkan. Ia tidak bisa bekerja dengan pikiran yang kalut, teringat selalu tentang kondisi Theodore.
Tamara saat ini sedang duduk di kursi besi yang ada di depan kamar pasien. Karena Theodore dirawat dalam ruangan intensive membuat Tamara tidak leluasa untuk menjenguk dan menemaninya. Tamara hanya bisa melihatnya dari balik dinding kaca.
Tamara tak menyadari kehadiran Dinar disampingnya. Ia sungguh terkejut, “Astaga” ia menoleh ke arah seseorang yang telah memukul pundaknya.
“Maaf membuatmu terkejut” ucap Dinar. “Tak apa Din, gimana kondisi Kak Damar?” tanya Tamara.
“Masih tertidur akibat pengaruh dari obat Ra. Oiya aku sudah mengurus semua proses autopsy dari jasad Pak Yapto. Sekarang jasad sudah disemayamkan dirumah duka. Kamu yakin nggak ikut sama aku kesana?” tanya Dinar sekali lagi.
Tamara hanya menggelengkan kepala, “Aku nggak bisa ninggalin Theodore Din. Aku takut nanti dia siuman saat aku pergi” Tamara memaparkan alasannya.
“Theodore biar nanti dijagain sama tim dokter dan suster Ra. Kak Damar juga aku titipin ke mereka. Walau bagaimana pun Pak Yapto sudah setia sama kita Ra. Anggap saja ini penghormatan terakhir buat beliau.” Dinar membujuk Tamara lagi.
Pak Yapto adalah supir pribadi dari Theodore. Ia sudah mengantarkan kemana pun Theodore ingin pergi. Pak Yapto adalah saksi perjalanan karir Theodore dari nol sampai mencapai puncaknya. Ia jujur, tidak banyak macam dan selalu menyayangi Theodore.
‘Dinar benar. Aku nggak boleh egois begini. Yang paling tersiksa adalah keluarga Pak Yapto. Mereka kehilangan sosok ayah sekaligus suami. Mereka telah kehilangan tulang punggung keluarganya.’ Tamara membatin.
“Din, sebelum ngelayat kita ke rumah dulu. Aku harus ganti baju.” pinta Tamara.
“Tak perlu, ini aku bawakan segala kebutuhanmu. Kamu bisa langsung saja ganti di toilet situ.” tunjuk Dinar ke toilet rumah sakit.
Tamara setuju, ia mengambil paper bag dari tangan Dinar. Ia meninggalkan Dinar sebentar dan menuju toilet untuk mengganti baju.
Dinar berdiri di balik dinding kaca, dapat dilihat dengan jelas betapa tersiksanya Theodore saat ini. Di atas hidungnya ada oksigen, tangannya sudah ditusuk jarum infus, dan dentuman alat deteksi jantung terus bersuara.
“Yo, bangunlah. Kasihan Tamara, ia tidak semangat melakukan apapun. Aku juga sedih melihatmu begini. Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian bertiga.”
“Apa kau tahu, Pak Yapto sudah pergi menghadap Tuhan. Tidak ada lagi tawa dan cerita lucu dari beliau untukmu. Kau nanti pasti kesepian. Bangunlah!”
Dinar bersuara dibalik kaca, ia seakan berbicara dengan Theodore. Walau pria itu koma, namun pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Dokter Febrian menyarankan untuk selalu berkomunikasi dengan Theodore.
“Din, ayo kita pergi!” Tamara sudah selesai berganti pakaian. Mereka berdua melangkahkan kaki menuju mobil. Damar dan Theodore sudah mereka titipkan kepada dokter Febrian dan suster jaga rumah sakit.