-Luka tidak memiliki suara, sebab air mata jatuh tanpa bicara-
*
“Tamara” panggil Dinar dengan lembut.
Dinar memeluk tubuh itu. Tamara mengerjapkan matanya berkali-kali. Merasa ada yang aneh, perlahan Tamara melerai pelukan tersebut.
“Ada apa Dinar?”
“Mungkin saat ini tidak tepat untuk aku bahas masalah ini. Namun kamu harus tahu beberapa hal Ra.” Dinar mulai membuat Tamara bergidik penasaran.
“Ceritalah Dinar. Aku harus kuat untuk Theodore.” pinta Tamara.
Belum lagi selesai cerita itu baru akan dimulai, dokter memanggil Tamara untuk datang ke ruangannya. Tamara dan Dinar pergi bersama menuju ruangan dokter Febrian.
Sebuah ketukan terdengar dibalik pintu kayu bercat putih khas rumah sakit. Dua wanita seusia berdiri dengan tegap.
“Silahkan masuk.” dokter Febrian telah duduk di kursinya.
“Silahkan duduk.” titah dokter Febrian menuju kursi di depannya. Sang dokter masih merapikan beberapa berkas yang sedikit menumpuk di meja kerjanya.
“Mohon maaf membuat kalian berdua menunggu. Beginilah aktivitas seorang dokter.” ucapnya berusaha mencairkan suasana tegang yang tergambar jelas pada wajah bule nan cantik Tamara.
“Dokter, telinga dan otak saya dalam kondisi baik. Mereka telah siap untuk mendengarkan dan mencerna satu per satu kabar terkait kondisi Theodore.” Tamara meyakinkan dokter Febrian.
“Baiklah nona Tamara. Saya tidak bisa menutupinya lagi. Apapun yang akan nona dengar, tolong tenanglah. Kami disini berusaha sebaik mungkin untuk Theodore.”
Dokter Febrian mulai menjelaskan satu per satu kondisi Theodore. Bagian tubuhnya yang rusak ringan sampai yang terparah sekalipun. Dan yang paling membuat Tamara terpukul adalah sebuah fakta.
“Jadi menurut diagnosa kami sebagai tim dokter dari Theodore. Saat ini Theodore kehilangan kesadarannya. Kami belum bisa memastikan kapan Theodore akan siuman. Saat ini pasien dalam kondisi koma.”
Tamara sudah terdiam membisu. Walau ia berusaha untuk merespon apapun yang dokter Febrian katakan. Namun kalimat terakhir dokter itu tidak dapat diterima oleh hati dan pikiran Tamara.
“Berapa lama dokter?”
“Perkiraan enam sampai setahun nona Tamara. Kami akan berusaha untuk mempercepat pemulihan untuk Theodore.”
Hembusan nafas yang sesak keluar dari mulut Tamara nan mungil berwarna merah muda. Tubuhnya masih bergetar dan tak sanggup untuk bangkit sendiri.
“Dokter, tolong usahakan apapun untuk kesembuhan Theodore.” memohon Tamara, suaranya lirih menahan tangis.
Tamara dan Dinar meninggalkan ruangan dokter Febrian. Operasi Theodore berhasil menghentikan pendarahan pada kepalanya. Theodore telah dipindahkan ke ruangan perawatan intensif.
Tamara hanya bisa terdiam. Dia tak tahu harus bagaimana sekarang. Walau operasinya dinyatakan berhasil namun tidak membuat kesadaran Theodore pulih seketika. Dinar datang dari belakang menguatkan Tamara.
“Dinar, tadi apa yang ingin kamu sampaikan padaku?” tanya Tamara teringat akan pembicaraan yang terpotong tadi.
“Sebenarnya aku bingung harus mengatakannya sekarang padamu atau menunggu beberapa hari dulu.” Dinar bimbang melihat kondisi kakak beradik kembar tersebut.
“Lebih baik kamu katakan saja sekarang. Supaya kita dapat menemukan solusi terbaiknya. Soal Theodore yang koma, aku percaya tim dokter akan berbuat yang terbaik. Aku akan berdoa kepada Tuhan. Dan meminta kesembuhan untuk Theodore.”
“Tamara, ini berhubungan dengan masalah project film action yang akan Theodore kerjakan.” Dinar memulai pembicaraannya dengan hati-hati.
Dinar juga menyodorkan sebotol air minum penambah ion kepada Tamara. Ia tidak mau melihat artis sekaligus sahabatnya itu ambruk.
“Coba bicaralah dengan jelas. Jangan setengah setengah begini. Otakku tidak bisa memahaminya Dinar.” pinta Tamara supaya Dinar bicara apa adanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.
“Tujuan Theodore menuju Lembang Bandung adalah untuk final meeting film action sekaligus penandatanganan kontrak kerja. Semua perjanjian telah direkap secara virtual. Dan Kak Damar sudah mengirim rekapannya kepadaku lewat surel.”
“Maaf, bagaimana keadaan kakakmu Damar? Operasinya bagaimana? Apakah Kak Damar bernasib sama seperti kakakku?” tanya Tamara lirih.
“Operasinya baru saja selesai. Kata dokter Febrian, luka yang terdapat pada Kak Damar tidak separah dengan Theodore. Setelah operasi tadi, ia sudah mulai menyadarkan diri. Namun masih lemah. Ia masih harus beristirahat lagi. Lusa sudah bisa dijenguk.”
“Syukurlah. Sekarang kita bisa fokus kepada kesembuhan Theodore.” Tamara menatap Theodore kembali.
“Dinar, jangan lupa untuk mengurus pemakaman Pak Yapto dan tolong kasih uang santunan belasungkawa dariku untuk keluarganya. Sampaikan maafku yang tidak bisa melayat. Aku tidak bisa meninggalkan Theodore.”
“Baik. Aku akan mengurusnya dahulu. Aku juga akan memastikan proses autopsy terhadap Pak Yapto. Nanti kita lanjutkan lagi.” Dinar pergi berlalu.
*
Brody sudah ada di dalam jet pribadi milik Wang Group, ditemani oleh Joey dan beberapa staf lainnya. Mereka akan bersiap untuk menuju Jeju, South Korea.
Selama perjalanan, Brody memilih untuk beristirahat. Sebenarnya ia kepikiran tentang perjodohan yang diatur oleh keluarganya.
‘Di jodohin? Luar biasa, seorang Brody Wang menikah karena perjodohan orang tua? Yang benar saja!’ batin Brody menggerutu. Dia sedikit tersenyum kecut mengingat hal itu.
Joey yang melihat gelagat tuannya yang aneh mencoba bertanya, “Tuan, apa anda membutuhkan sesuatu?”
“Ya... saya butuh seorang perempuan untuk ditanami saham” ujar Brody lantang.
Joey terdiam, ia bingung dengan perubahan sikap Brody yang tiba-tiba begitu. Brody memang terkadang suka memanggil perempuan untuk menemaninya minum dengan rekan bisnisnya atau bersama teman-temannya, tapi hanya sebatas minum. Tidak sampai ke atas tempat tidur.
“Apa anda yakin tuan?” tanya Joey memastikan. Usia Joey terpaut dua tahun lebih muda dari Brody. Jadi dia paham maksud dari perkataan Brody.
Brody langsung melotot, “Kau ini! saya itu berusaha untuk menjaga keperjakaan. Tentu saja yang saya mau haruslah seorang perawan.” Joey langsung bernafas lega mendengar hal itu.
“Tadi malam saya kena jebak tuan dan nyonya besar. Mereka meminta saya untuk segera menikah. Mereka dengan gamblangnya bicara ingin menjodohkan saya dengan anak om Henry Peterson.” Brody menceritakan masalah pribadinya ke Joey.
Joey sudah tujuh tahun menemani Brody, membantu Brody dalam berbagai hal. Joey sangat jujur dan menghormati Brody. Kesetiaannya dalam bekerja sudah tidak diragukan lagi.
“Henry Peterson pengusaha dibidang fashion itu tuan?” tanya Joey sedikit penasaran. Brody hanya mengerjapkan matanya.
“Ya coba kenalan saja dulu tuan, tidak ada salahnya juga.” Joey mulai berpendapat namun ia langsung mendapati Brody yang melotot dan ingin segera memakan tubuhnya.
Joey langsung memundurkan badannya, “Bu...bu..bukan begitu tuan (berdehem) anda kan belum menemukan yang pas chemistry nya jadi siapa tahu wanita dari keluarga Peterson ini cocok dengan anda.”
“Kau ini bukannya memberi solusi. Sama saja dengan mereka!” Brody mengalihkan pandangannya ke jendela pesawat.
“Tuan, mau saya cari tahu tentang wanita keturunan Peterson itu?” tanya Joey membujuk Brody. “Tidak perlu!” jawab Brody ketus.
*
Sebelumnya, Omar dan Ellia Wang sudah berkomunikasi dengan Henry Peterson. Mereka tidak sengaja bertemu saat kunjungan Omar ke Macau. Mereka sempat menikmati keindahan Macau dan makan malam bersama.
“Jadi bagaimana usahamu Hen?” tanya Omar.
“Ya seperti yang kau lihat, usaha fashion ini bisa masuk Asia Pasifik. Tapi belum seberapa dengan kau dan Wang Group.” Henry tersenyum tipis.
Henry Peterson adalah pria paruh baya yang kaku dalam berkomunikasi verbal. Ia hanya akan menjawab pertanyaan yang diberikan. Jarang sekali dia akan memulai pembicaraan terlebih dulu.
“Kalau sudah masuk Asia berarti banyak peminat dari desain yang kau tawarkan.” ucap Ellia
“Aku hanya melanjutkan apa yang telah dimulai oleh istriku. Walau pertamanya berat tapi aku harus bisa bangkit demi anak kami” balas Henry seraya terkenang memori akan istrinya.
Istri dari Henry meninggal dunia dua belas tahun silam, beliau mengidap penyakit kanker rahim stadium empat. Semua jenis pengobatan telah dijalani. Namun Tuhan memintanya untuk beristirahat.
Ellia bisa melihat Henry masih sedih kalau sudah membahas tentang almarhum istrinya, “Oya Hen, anak kalian sekarang usianya berapa?” tanya Ellia menghapus raut kesedihan pada wajah Henry.
“Dia seumuran dengan Brody anak kalian.” balasnya singkat.
“Anak kau perempuan kan ya?” tanya Ellia lagi. “Ya, wajahnya sekilas mirip dengan mamanya.” jawab Henry lagi.
“Jadi penerus Peterson seorang perempuan?” tanya Omar memastikan.
“Ya, aku hanya punya satu anak dan dia perempuan. Sejak istriku pergi, aku memilih untuk membesarkan dia sendirian. Aku tidak mau mengkhianati istriku dengan mencari penggantinya.”
*
Dibalik sambungan telepon seorang laki-laki tak dikenal memberitahukan informasi penting mengenai seseorang.
“Nona, target akan pergi meninggalkan Indonesia. Dia pergi cukup lama.” ucap laki-laki itu. Sepertinya ia bekerja untuk nona dibalik sambungan telepon.
“Kemana?”
“Jeju Korea Selatan”
Sambungan telepon langsung terputus. Nona itu langsung mendial up nomor sekretarisnya.
-----
(Dering telepon Nadila)
“Halo nona”
“La, semua pekerjaan ku untuk besok dan lusa kau alihkan ke general manager. Dan tolong cari kan tiket pesawat untukku ke Jeju Korea Selatan. Paham?” tanya wanita itu tegas.
“Baik nona, segera saya laksanakan!” balas Nadila.
“Bagus, segera kabari aku ya. Aku akan ke Jakarta sekarang juga.” ucapnya lagi.
“Maaf nona, anda kan menyetir sendiri. Dan ini sudah malam, apa tidak sebaiknya anda menginap semalam di sana dan besok pagi saja ke Jakarta.” saran Nadila kepada atasannya.
“Yang jadi bos, kau atau aku?” nona itu ketus berucap.
“Maaf nona, saya hanya mengkhawatirkan anda saja”
“Segera laksanakan apa yang aku perintahkan”, atasannya langsung memutus sambungan telepon.
-----
Nadila langsung bekerja saat itu juga, walau ini bukan waktu jam kerjanya lagi. Namun dia tidak bisa menolak, karena nona atasannya tidak mau ada penolakan.