2. A Devil?

1817 Words
-Dari tangan Ibu, kita akan belajar tentang 'kasih sayang'. Dari tangan ayah, kita banyak belajar tentang cara menjaga 'kasih sayang' Itu. Kedua pasang tangan Itu adalah wakil Tuhan untuk melangsungkan kehidupan- * Tamara berbicara dibalik telepon genggamnya, “hmm… dimana? Sudah makan belum?” tanya gadis itu penuh perhatian. “Kau ini..., aku itu sudah 25 tahun masa iya belum pernah makan sih haha...” jawab pria itu dibalik sambungan telepon dari Tamara. “aish… aku serius bertanya Theodore Morison!” balas Tamara tak suka dengan bercandaan ala Theodore kakaknya itu. “Sebaiknya kau cari pacar biar perhatianmu teralihkan dariku. Kau tahu tidak, setiap kali kau menelponku, aku merasa seperti ditelpon seorang pacar hahaha...” ucap Theodore geli sendiri. “Halah… kau ini hanya pandai menyuruh aku saja. Tapi kenyataannya kau yang membutuhkan seorang pacar, ya kan? Apa kau mau aku carikan seorang gadis yang baik dan bisa merawatmu?” tanya Tamara penuh ledekan kepada Theodore. “Jangan mengalihkan topik Tamara Morison! By the way thanks for your attention. Di hatiku sudah ada nama seorang gadis yang baik dan pekerja keras. Ku yakin, kau pasti bisa berteman dengan gadis itu nantinya.” jawab Theodore sambil memikirkan gadis yang ia sukai. “Kau serius? Tapi kalau dengar dari suaramu, kau sedang tidak bercanda.” kalimat itu terucap begitu saja dari mulut Tamara. “ck... Aku serius Ra, one day I’ll introduce about her, detail! Sudah ya aku mau lanjut meeting dulu.” ujar Theodore. “Okay, see you at home!” balas Tamara. ----- Tamara menutup sambungan teleponnya. Ia melirik ke bangku sebelahnya, terlihat Dinar sibuk membalas pesan dari seseorang. “Din, kamu lagi balas chat siapa?” Tamara bertanya. “Aku sedang memastikan riders untuk mentas kamu besok Ra.” balas Dinar tanpa menatap wajah cantik Tamara. “Tenang saja, Wang Group sudah sangat profesional dalam hal berbisnis. Masa iya pemenuhan riders ku yang tidak seberapa itu mereka tidak sanggup?” tanya Tamara kepada diri sendiri. Dinar mengalihkan kepalanya dengan cepat, “Tidak seberapa kamu bilang? Anda sehat?” tanya Dinar sambil mengarahkan telapak tangannya di pelipis Tamara. Tamara langsung menepis tangan Dinar dari dahinya, “Aku hanya bercanda Din. Tidak usah kamu anggap serius deh.” gadis itu hanya berusaha membuat Dinar rileks akan beban kerjanya sebagai manager seorang penyanyi. Mereka saat ini sedang berada dalam mobil menuju tempat gladi resik acara dari perayaan ulang tahun Wang Group. Sebelumnya Tamara sudah latihan vokal dengan vocal coach Berta yang sudah menemani Tamara sejak awal terjun ke dunia tarik suara. * Ellia mulai bosan memperhatikan dua pria beda generasi yang ada di hadapannya sekarang. “oh come on guys, mama ada disini lho! mau sampai kapan bahas pekerjaan terus hah?” tanya Ellia menahan rasa kesal yang membuncah. “I’m sorry honey. Beginilah aku kalau sudah membahas soal pekerjaan. Kamu kan sudah bertahun-tahun hidup denganku. Kenapa masih protes, hmm?” Omar mulai merayu sang istri. Pria ini tahu, Ellia tidak terima kalau dirinya diacuhkan seperti tadi. Brody mulai gerah melihat papanya yang mulai merayu mamanya, Ellia Wang. Ini bukanlah kali pertama ia melihat orang tuanya saling berbalas kasih, merayu seperti sekarang ini. Ellia mulai termakan rayuan dari sang suami, “Haduh, jadi aku harus merajuk dulu neh baru dipanggil honey oleh dirimu, begitukah?” tanya Ellia menyindir sikap Omar Wang. Omar mulai menggenggam tangan sang istri yang ternyata tidak suka dengan kata rayuan yang terucap dari mulutnya. “Baiklah, aku akan lebih sering memanggilmu dengan kata honey. Sudah ya.” Omar sekarang duduk disamping sang istri dan mendekap Ellia kedalam pelukannya. Ellia menerima perlakuan manis dari laki-laki yang menjadi suaminya selama puluhan tahun ini. “Okay baiklah, aku ini manusia bukanlah seekor nyamuk yang suka menghisap darah manusia.” ngawur Brody Wang berucap seraya mulai bangkit dari tempat duduknya untuk pergi meninggalkan kedua orang tua itu. “Sayang, kamu mau kemana Brody?” tanya Ellia lembut. Langkah kaki Brody terhenti, “Aku mau lanjut bekerja ma, supaya papa dan mama bisa dengan tenang bermesraannya. Ingat kalian sudah mulai menua, aku juga sudah dewasa. Jadi jangan memberi aku seorang adik. Kalian paham?” Brody tersenyum puas karena sudah membuat orang tuanya malu seketika. “Awas kamu ya!” Ellia melempar sebuah bantal sofa ke arah anak laki-lakinya itu. Brody melambaikan tangan berlalu dari ruangannya sendiri. Ia akhirnya pergi melihat persiapan gladi resik untuk acara perayaan ulang tahun Wang Group. “Papa sih, nggak liat sikon dulu kalau mau merayu mama. Malu tau kita udah tua, anak juga udah gede gitu.” Ellia mulai merajuk lagi. “Ya ampun ma, papa kan emang begini dari dulu. Lagian Brody juga udah biasa melihat kita saling berbalas kasih sayang. Gak apa-apalah, masih dalam batas wajar. Lagi pula dia kan nggak melihat kita lagi berolahraga ma.” Omar Wang sedikit tersenyum licik. Ellia paham maksud dari kalimat yang diucapkan suaminya itu. Secepat kilat ia langsung melemparkan sebuah pukulan kedada Omar, walau sudah mulai menua namun bahu bidang Omar masih terlihat indah. Terbukti bahwa hidup sehat akan membuat tubuh terjaga dan lincah tanpa batas usia. “Oiya pa, apa kita jodohin aja Brody sama anak perempuan dari Henry teman papa itu?” tanya Ellia dengan antusias. “(berpikir) good idea ma, kalau nggak salah sih mereka seumuran. Jadi ya harusnya nggak ada masalah. Lagian anakmu itu belum ada juga membawa sosok wanita ke hadapan kita.” cibir Omar Wang kepada anaknya sendiri. “Nah iya benar pa, mama juga mulai resah kalau Brody nggak ada gandengan begitu. Ngeri mamah ihh” Ellia meraba tengkuknya yang mulai meremang. “Ma, jangan berpikir yang tidak-tidak. Anak kita itu normal ma. Dia hanya tidak mau salah pilih calon istri. Hapus pikiran kotor kamu itu.” tegas Omar kepada istrinya. Ellia tertunduk, yang dikatakan suaminya itu benar. Tidak seharusnya Ellia berburuk sangka kepada anak mereka sendiri. *** Dinar dan Tamara sudah di lokasi gladi resik, tepatnya di sebuah ballroom hotel mewah. Ruangan ini bisa memuat lima ribu orang, jadi sangat cocok mengadakan pesta disini. Mengingat kolega dari Wang Group yang tidak bisa dihitung dengan semua jari manusia. Lokasi hotel mewah dan kantor Wang Group bersebelahan, ini terjadi bukan tanpa sebab. Hotel ini adalah salah satu aset dari Wang Group. Pembangunan hotel ini pun tidak disengaja. Tujuannya dulu adalah untuk menyambut beberapa client Wang Group yang berasal dari luar negeri supaya mereka nyaman dan mau menjalin kerja sama. Akhirnya Omar Wang memperluas bangunan hotel dan dibuka untuk umum. Karena peluang itu sangat menjanjikan untuk menambah pundi-pundi penghasilan Wang Group. Joey mengedipkan matanya beberapa kali, ia memastikan matanya tidak salah lihat. Segera ia menghampiri pria yang ia lihat sejak tadi, “Tuan, kenapa anda ada disini?” tegur Joey kepada Brody. “Memastikan kalau kau bekerja dengan benar!” ketus balasan dari Brody. ‘Ya nasib.’ Joey membatin setelah mendengar ucapan Brody. “Sudah jangan begitu. Apa baru kemarin kau bekerja untuk saya?” tanya Brody mencairkan suasana hati Joey yang buruk. Joey masih menunduk, “Bukan begitu tuan” balasnya. “Ya sudah. Siapa gadis yang ada di atas panggung itu?” arah mata Brody melihat sosok Tamara. Joey mengikuti arah mata Brody, “oh dia guest star untuk acara kita tuan, namanya Tamara Morison. Anda bisa memanggilnya Tamara. Dia penyanyi dengan jam terbang bagus tuan. Namanya juga jarang terkena gosip. Ia memang benar penyanyi yang berkualitas tuan.” Brody menatap heran pada Joey, “Kau fansnya?” Joey tersenyum. Itu artinya ia mengiyakan pertanyaan si bos juteknya itu. Tamara memang sedang latihan untuk cek suara dan suasana panggung. Ia termasuk kedalam kategori gadis perfeksionis. Jadi semaksimal mungkin ia akan mengurangi tingkat kesalahan yang akan terjadi. *** (Show on) “Tamara, hurry up please!” teriakan peringatan dari Dinar agar Tamara mempercepat langkahnya sedikit. “Ya sabar dong, managerku!” pinta Tamara lirih. Gadis itu kewalahan menggunakan gaun model payung seperti rok princess pilihan sang manager. Tamara terus berjalan tanpa memperhatikan gerak langkah kakinya sehingga membuat tubuh ramping itu kehilangan keseimbangan. Tanpa sengaja gaun princess Tamara diinjak bagian ujungnya oleh seorang pria dingin dan punya kekuasaan. “Apa anda tak melihat ada seorang perempuan di depan sini?” teriakan Tamara beradu dengan deru nafas yang tak stabil. “Maaf nona. Mata di kaki saya tidak dapat melihat. Dan mata di kepala saya terhalangi oleh tablet!” pria itu menoleh sebentar dari layar rundown acara yang akan dihadiri sebentar lagi. Semua staff dan bodyguard yang berjalan mendampingi pria itu terkejut karena pria tersebut meminta maaf kepada seorang yang tak dikenalnya. Sang pria seperti sedang kesurupan roh baik. “Gunakan matamu dengan benar Tuan muda. Apa anda tahu gaun ini hanya satu-satunya yang bisa saya pakai malam ini?” mulailah terjadi kesalahpahaman. Tamara sedang berduka dan berkeluh kesah. Namun sinyal yang diterima oleh pria itu adalah sebuah penghinaan untuk dirinya karena perkataan gadis itu seperti menghina dirinya. “Nona, apa anda sedang menghina saya?” Brody melempar tablet yang ada di tangannya ke arah Joey. Untung saja Joey menangkapnya dengan sigap kalau tidak, sebuah tablet tak berdosa akan terjatuh ke lantai begitu saja. “Saya bisa membelikan gaun seperti itu sebanyak yang anda mau.” bentak Brody dihadapan Tamara. “Apa anda bilang? Jadi anda mau membeli saya dan gaun ini sebagai gantinya, hah? Tidak sebanding wahai tuan sok kuasa!” balas Tamara tidak mau kalah. Joey mengambil alih pembicaraan yang salah sambung ini, “Maaf nona Tamara, sepertinya nona salah paham. Tuan Brody tidak bermaksud menghina nona dan gaun yang nona kenakan saat ini.” ucap lembut dan sopan dari seorang fans kepada sang idola. “Untuk apa kau meminta maaf kepada gadis ini, ia telah menghina saya!” geram Brody melihat perlakuan manis sang sekretaris kepada Tamara. Mereka bertengkar karena salah paham yang tidak ada arahnya, bersamaan dengan suara dari band papan atas Indonesia yang menghibur para tamu undangan. Jadi wajar pesan suara yang ditangkap oleh daun telinga kedua orang itu berbeda. Musik dari band itu cukup berisik. Dinar menghampiri Tamara, “Ra, ada apa?” Tamara menatap gadis itu. “Kan aku sudah bilang jangan pilih gaun tipe begini. Aku susah jalannya. Lagian kamu kenapa sih nggak bawa gaun lain untukku, Din?” tanya Tamara dengan wajah cemberut. “Kamu itu cocok pake gaun tipe begini, sesuai dengan tema dari dua lagu yang akan kamu bawakan. Maaf kalau aku tidak bawa baju cadangan. Karena waktunya sedikit mepet. Memangnya kenapa Ra dengan bajunya?” tanya Dinar penasaran. “Dibagian bawahnya sedikit robek dan kotor. Tuh kamu lihat sendiri.” jari telunjuk kanan Tamara mengarah ke ujung gaun yang terinjak oleh kaki Brody tadi. “Yaudah gak apa-apa Ra, ini kan acara off air jadi tidak ada proses pengambilan gambar di bagian bawah gaun” Dinar merayu Tamara supaya mengurangi tingkat perfeksionisnya. Tamara hanya terdiam saja. Karena sudah diburu waktu Dinar segera meminta maaf atas kesalah pahaman yang diperbuat Tamara. Ia juga segera membawa Tamara menuju bibir panggung acara. Gadis itu harus segera menunaikan kewajibannya menghibur para tamu dengan suaranya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD