3. Apologies And News

1804 Words
-Mengucapkan kata maaf tidak akan mengubah apapun dari kesalahan yang telah terjadi. Namun memaafkan sedikit mengurangi beban yang dialami oleh seseorang- * Tamara dan Dinar sudah berada dalam mobil menuju rumah. Perayaan ulang tahun Wang Group berlangsung meriah. Penampilan Tamara bagus tidak ada cacatnya. Semua penonton juga ikut bersenandung dengan Tamara. Setidaknya Tamara bisa berbahagia atas sambutan meriah dari penonton. Pengalihan yang bagus atas kekecewaan yang di rasakannya terhadap Brody Wang. “Ra, kamu kok tadi bisa salah paham gitu ama Tuan Brody?” selidik Dinar penasaran. Gadis itu sedang duduk di samping Tamara. “Aku juga tidak tahu Din. Semua terjadi begitu cepat. Tadi aku terburu-buru dan aku tidak sengaja menabraknya. Dan gaun ku kotor terus robek sedikit. Kamu liat sendiri kan?” ujar Tamara dengan mata yang masih tertutup oleh kelopak matanya sendiri. “Din, nanti kak Ana pasti marahin kamu karena aku telah menghancurkan gaunnya. Biar aku aja ya yang memulangkannya besok ke galeri” Tamara menatap Dinar yang duduk disampingnya sekarang. “Sudah nggak usah Ra, lagian kan itu musibah. Nggak sengaja juga kan.” balas Dinar datar. “Okay, kita berdua besok ketemu kak Ana di galerinya ya.” titah Tamara tak mau dibantah lagi. “Up to you Ra!” jawab Dinar sekenanya. Alphard series terbaru memasuki pekarangan rumah dua lantai bergaya mediterania modern. Ya itu adalah rumah yang ditempati oleh Tamara dan Theodore beserta manager mereka masing-masing, Damar dan Dinar. Sejak karir dari dua kembaran itu menanjak bagus, mereka meminta dua kakak beradik Damar dan Dinar untuk membantu mereka dalam mengurus segala keperluannya. Damar yang lebih tua tiga tahun akan mengurus kebutuhan Theodore dan Dinar akan mengurus kebutuhan Tamara. Mereka sejak dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas sudah berteman baik dan akrab satu sama lainnya. Damar segera membuka pintu utama, ia tersenyum melihat dua perempuan itu. “Hai kalian, kenapa malam sekali baru sampai rumah?” Damar bertanya dengan suara yang lembut. “Kak, besok aja ya ngobrolnya Rara capek banget mau langsung istirahat.” Tamara pergi berlalu menuju kamarnya di lantai dua. “Tamara makan dulu!” teriak Damar. “Aku sudah makan tadi kak” balasnya singkat. Ketika Tamara akan memasuki kamar, Theodore keluar dari kamarnya. Mata Tamara langsung menangkap sosok kakaknya itu. Ia berjalan menuju keberadaan Theodore, ia pun langsung memeluk Theodore dengan erat. Tinggi badan Tamara hanya sampai dagu dari Theodore. Padahal Tamara mempunyai tinggi badan diatas rata-rata gadis seumurannya, sekitar 170 sentimeter. Can you imagine it? Theodore membalas pelukan adiknya itu, “Ra, what’s happened? hmm...” “I just miss you!” jawab Tamara. Theodore mengerutkan dahinya sedikit, “You lie!” balasnya singkat. Tamara hanya bisa tertawa dalam pelukan erat mereka. Setelah cukup mendapat ketenangan dan energi kembali, Tamara melepas pelukannya begitu saja. Dia pergi memasuki kamar yang tadi terlupakan. Namun pergelangan tangannya dicegat oleh Theodore, “You have to pay for that” ucap Theodore dengan tersenyum meledek. Tamara langsung memukul tubuh Theodore, “Kau ini, sama adik sendiri saja perhitungan. Gimana ama pacar, hah?” sungut Tamara. “Ohh itu beda cerita Ra” jawab Theodore sembari tertawa karena Tamara, adiknya itu tidak berhenti memukuli dirinya sejak tadi. “Ra, sudah ya! sakit tau..., mending kamu masuk kamar terus mandi dan langsung istirahat. Besok kita lanjutin lagi perangnya.” Theodore memegang erat pergelangan tangan Tamara supaya tidak memukul dirinya lagi. Tamara menurut, ia masuk ke dalam kamarnya setelah Theodore mengelus rambutnya dan mencium keningnya. Terjadi lagi, Tamara memeluk Theodore dengan erat kembali. Mungkin karena bertengkar dengan Brody Wang dan bernyanyi di depan audience sekitar lima ribu orang sangat menguras tenaga Tamara. Jadi dia butuh asupan energi yang banyak dari orang yang dia sayangi ini. Pagi ini, Theodore dan Damar pamit kepada dua perempuan yang seumuran itu. Mereka akan pergi ke Lembang Bandung untuk bertemu client dan melihat lokasi untuk pembuatan film action. Tak lama setelah kepergian para kakak mereka, dua adik ini bergegas menuju galeri Anastasia perancang busana. Tamara akan meminta maaf atas kesalahannya yang telah merobek gaun indah buatan Ana. “Sudahlah Ra, jangan terlalu diambil pusing. Lagi pula ini kan kesalahan pertamamu selama lima tahun kita kerja bareng.” ujar Kak Ana melumat rasa kekhawatiran dari Tamara. “Ya tapi kan kak, aku jadi nggak enak sama Kak Ana. Setelah sekian lama kita kerja bareng baru kali ini aku nggak bisa jaga kepercayaan kak Ana, nggak seharusnya aku membuat Kak Ana kecewa.” balas Tamara menanggapi ucapan Anastasia. “Aku masih bisa merubah tatanan gaun ini sedikit lebih modis dan semakin terlihat indah. Kamu tenang saja. Gaun ini akan berubah semakin bagus kalau ditangan ahlinya.” kata Anastasia. “Ya sudah. Gini aja Kak Ana boleh meminta bantuanku apapun itu dalam bidang profesionalitas dan itu gratis.” ucap Tamara dengan senyum gigi kelinci. “Kalau minta bantuan secara pribadi perlu bayar juga nggak?” tanya Anastasia dengan senyum menggoda. “Iich… Kak Ana ya, bercanda mulu. Kan aku lagi serius.” Tamara tersenyum kecut dibuatnya. Tamara sudah menganggap Anastasia seperti kakak kandungnya sendiri. Jadi wajar kalau sekarang Tamara bergelayut manja di lengan Ana. “Oya Ra, kakak penasaran deh. Ini gaun kenapa bisa begini ya?” tanya Ana dengan polos. “Ini gara-gara tuan sok beruang banyak kak. Aku nggak suka deh dengan tipe laki-laki seperti dia kak.” jawab Tamara penuh percaya diri. “Huss... kamu ya Ra, kalau ngomong nggak boleh begitu kali. Nanti kamu kena karma omongan sendiri lho.” Ana memperingati Tamara untuk berhati-hati dalam berucap. “Maaf neh kak, tapi amit-amit cabang bayi deh. Aku nggak mau lagi berurusan dengan pria itu.” Tamara merinding sendiri. Dinar tak mampu berkata lagi kalau Tamara sudah berbicara begitu. Anastasia pun tidak melanjutkan pertanyaannya. Karena hari sudah menunjukkan pukul 12 siang, Anastasia mengajak Tamara dan Dinar untuk makan siang bersama. Kebetulan dekat galerinya baru buka sebuah cafe dengan menu western food. Mereka menuju cafe untuk menikmati makan siang dadakan bersama. * Tok… tok… “Come in” jawab seorang gadis dibalik map biru. Masuklah seorang gadis yang menjabat sebagai sekretaris bernama Nadila. Dia memasuki ruangan atasannya dengan penuh percaya diri. Nadila membawa beberapa berkas di tangannya. “Selamat pagi nona, ini ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani.” ucap Nadila. “Letakkan saja diatas meja La.” titah atasannya yang dipanggil nona oleh Nadila. Segera Nadila melaksanakan perintah atasannya. Terlihat atasannya itu sedikit sibuk memeriksa berkas yang ada di map biru itu. “Maaf nona, saya mau mengingatkan lagi kalau nanti setelah jam makan siang anda harus pergi menuju Lembang untuk membuka peresmian butik teman anda yang waktu itu anda beri bantuan nona.” Nadila mengingatkan jadwal sang atasan. Gadis itu langsung menghempaskan map biru yang ada ditangannya secara kasar, “Apa? Acaranya hari ini ya? Kok saya nggak ingat!” tanya sang atasan dengan kesal. Nadila tertunduk, “Sekali lagi saya minta maaf nona, dua hari yang lalu saya sudah memberitahu anda.” “Lain kali tolong diingatkan kembali H-1 ya, jangan mentang-mentang kamu baru kerja disini terus kamu bisa seenaknya melakukan kesalahan. Apa kau paham?” bentak si gadis map biru kepada Nadila. Nadila baru seminggu bekerja di perusahaan fashion ini, ia menggantikan posisi sahabatnya yang resign karena mau melahirkan. Setelah memarahi Nadila, atasannya itu berlalu meninggalkan ruangan menuju mobilnya untuk pergi ke kota Lembang Bandung. * Hari ini setelah dari galeri Anastasia, Tamara dan Dinar langsung menuju rumah. Jadwal Tamara kosong dan dia hanya akan beristirahat di rumah. Dinar sedang sibuk melihat jadwal yang akan dikerjakan Tamara selanjutnya. Dinar juga membantu sedikit pekerjaan Damar untuk membuat backup perjanjian kerjasama dari proyek Theodore. Tamara sedang streaming variety show asal negeri ginseng, biasanya Tamara akan tertawa sendiri karena tingkah lucu dan kocak dari para member. Namun kali ini berbeda, ia tidak bersemangat untuk menontonnya. Tamara menghampiri Dinar yang sibuk dengan pekerjaannya. Dia mengetuk pintu ruang kerja yang ada di rumah mereka. “Din, are you busy?” Tamara hanya mengintip dibalik pintu. “hmmm… little bit” Dinar tetap menatap layar notebooknya. Tamara masuk dan telah berdiri tepat di samping Dinar, “Jadwalku kapan lagi ya Din?” “Sebentar ya Ra” “Kamu ada jadwal manggung lagi itu lusa, jadwal latihan vocal dan photoshoot untuk cover single terbaru terus hmm… ya intinya kamu ada waktu libur selama dua hari.” ringkas Dinar menjelaskan jadwal pribadi Tamara. “That’s good, Let’s go to Lembang!” titah Tamara tanpa dosa. “What?” pekik Dinar karena terkejut mendengar ide konyol Tamara. “Iya kita ke Lembang Bandung. Liburan dadakan, sekalian kasih kejutan buat Theodore. Kamu juga bisa bantuin Kak Damar nanti disana.” papar Tamara dengan muka polos. Dinar hanya bisa menunduk, itu artinya ia menyetujui liburan dadakan ala Tamara. Percuma membalas Tamara, hanya akan menghabiskan energi Dinar saja. Akhirnya mereka pun berkemas untuk pergi ke Lembang Bandung. Setelah menempuh perjalanan dua jam lebih akhirnya Tamara menginjakkan kaki di Lembang. Mereka belum memberitahu para kakak kalau dua gadis ini menyusulnya ke kota kembang ini. Tamara mengajak Dinar untuk berwisata kuliner. Dia ingin memanjakan sedikit lidahnya dengan makanan khas Paris Van Java. “Ra, apa sebaiknya kita kasih tahu dulu Kak Damar, bilang kalau kita ada di Lembang sekarang?” “Nggak usah Din, nanti saja kita langsung ke lokasi meetingnya. Kamu tahu kan titik lokasinya dimana?” tanya Tamara. “Ya aku tahu sih tapi aku nggak tahu meetingnya kelar jam berapa. Kak Damar nggak kasih tahu detailnya.” jelas Dinar. “Udahlah, paling lama ini meetingnya. Yuk lanjut makan lagi.” ajak Tamara dengan binaran nafsu makan yang meningkat. * Disudut kota Lembang Bandung, Theodore terlihat sibuk mempelajari naskah film action yang akan dimainkannya. Damar membawakan air mineral untuk Theodore. “Yo, neh minum dulu biar nggak dehidrasi.” Damar memberikan botol yang dibawanya. Theodore menerima dengan senang hati, “Thanks kak. Oya semua sudah bereskan kak?” “Sudah kamu tenang saja. Perjanjian tadi sudah aku rekap, dan aku juga membagikan filenya lewat surel ke Dinar biar dia masukin ke data project yang kamu kerjakan.” jawab Damar. “Syukurlah kak” Theodore menghela nafasnya panjang. Entah kenapa hatinya sedikit tak tenang sekarang. “Kenapa Yo?” tanya Damar dengan heran. “Entahlah kak, aku kok jadi grogi begini ya?” (tertawa konyol) “Sudah, jangan terlalu dianggap beban. Mungkin ini karena kali pertamamu kerja bareng dengan mas sutradara handal. Jadi kamu sedikit grogi. Take it easy Yo!” Theodore mengangguk setuju, ia hanya grogi saja. Wajarkan pertama kali kerja dengan seorang yang profesional dibidangnya, pasti merasakan grogi dan gelisah yang tak menentu. Perlahan tapi pasti. Akan merasa terbiasa, karena tubuh sudah beradaptasi. Tamara tiba di hotel untuk menginap, setelah berwisata kuliner ia tidak jadi menemui para kakak. Dinar pun sangat lelah, setelah bekerja dan makan yang banyak ia tak sanggup lagi untuk bergerak. Akhirnya dua gadis itu terlelap di atas ranjang kamar hotel. ---------------------- "Ra, mereka kecelakaan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD