Sebuah Komitmen

1021 Words
Angin hari ini berembus kencang, menerbangkan helai-helai rambutku yang lepas dari ikatan.  "Kamu suka?"  Aku mengangguk, dengan tatapan yang masih mengarah ke hamparan laut.  "Kalau yang kamu maksud pemandangan di sini, iya aku suka."  Dia terkikik sebentar mendengar jawabanku.  "Jadi maksudmu, kamu nggak suka sama yang ngajak kamu ke sini?"  Aku menoleh ke arahnya sebentar, kemudian tersenyum.  "Semua butuh proses, kan?"  Mas Yoga hendak menjawab, namun urung dilakukannya ketika melihat mbok Darni datang membawa nampan.  "Ini es, kopi, dan mendoannya, ya. Silakan dinikmati selagi hangat," katanya lalu lekas beranjak sesudah kami mengucap terima kasih.  Mas Yoga mengangkat cangkirnya, meniup sebentar permukaan kopi hitam nan pekat yang masih mengepulkan asap itu, hingga aromanya menguar sampai pada indera penciumku.  "Hidup itu memang tentang sebuah proses, kan? Bahkan setelah kita menikah nanti, proses itu nggak akan berhenti," kata mas Yoga setelah menyeruput kopinya.  Aku mengangguk. Dia benar.  "Aku harap kamu mau menikmati proses kehidupan itu bersamaku, Nia. Aku nggak bisa menjanjikan yang indah-indah buat kamu tapi, akan selalu kuusahakan untuk bisa membuatmu bahagia."  Aku masih terpaku, coba meraba komitmen yang mas Yoga tawarkan.  Jujur saja, aku bukan gadis yang tidak laku atau tidak berpengalaman dalam sebuah hubungan.  Kalau aku berniat, sebelum mengenalnya ada tiga lelaki di waktu bersamaan, yang mau menjalin hubungan serius denganku. Bahkan ada yang dengan terang-terangan menarik simpati bapak dan ibu dengan terus datang ke rumah, membawa buah tangan untuk mereka, sekalipun saat itu aku tidak di rumah.  Seringnya aku buru-buru menjauh, saat mereka mulai menunjukkan keseriusannya padaku. Bukan apa, tapi aku belum siap untuk itu. Berkomitmen untuk bertahan hanya dengan satu lelaki seumur hidup.  Namun untuk saat ini, rasanya akan percuma jika dari awal saja aku ragu untuk membangun komitmen itu bersamanya. Keputusanku menyetujui pernikahan ini rupanya bukan hal yang main main. Setelah kalimat 'ya, aku bersedia' yang kuucapkan kemarin, berarti aku telah siap mempertaruhkan seluruh hidupku untuk mas Yoga.  "Ah, sudahlah. Mendingan kita nikmati sisa waktu kita di sini." Mas Yoga bangkit, melepas alas kaki lalu mengulurkan tangannya ke arahku.  Aku menerimanya tanpa menunggu lama.  Berjalan dan bergandeng tangan bersama seseorang yang memiliki tempat khusus dalam hidup kita, ternyata rasanya bisa sedamai ini.  Iya, dia hanya memiliki tempat di hidupku, bukan di hati. Mungkin belum, mungkin suatu saat nanti mas Yoga mampu masuk ke dalamnya. Entah, aku belum tahu. Lihat saja nanti.  "Mas nggak nanyain jawaban aku?" Aku memberanikan diri membuka percakapan.  Dia menoleh, "Jawaban dari pertanyaan yang mana?"  "Soal komitmen yang kamu tawarkan."  Tidak langsung menjawab, justru mas Yoga tersenyum sekilas sebelum akhirnya senyuman itu menghilang saat aku menghujaminya dengan tatapan tidak mengerti. Apanya yang lucu?  "Aku tahu, seorang wanita itu memutuskan segala sesuatu dengan hati, sementara lelaki cenderung lebih mengandalkan naluri. Aku sadar, membangun komitmen nggak semudah itu. Dan aku nggak mau menambahi beban di hati kamu dengan memaksamu untuk menjawabnya. Lagipula aku nggak butuh jawaban 'ya atau tidak' dari kamu, toh apapun itu nggak akan berpengaruh apa-apa, kan? kita akan tetap menikah." Aku meringis sebentar. Memang iya, apapun jawabanku itu sama sekali tidak berpengaruh. Aku sudah tidak bisa memilih mundur. Masak iya aku tiba-tiba seenak udel aku mau membatalkan pernikahan yang tiga puluh lima persen segala keperluannya sudah dipersiapkan. Oh, aku tidak sekejam itu. Kami berjalan dengan kaki telanjang. Menikmati belaian pasir yang mengisi celah di antara jemari kaki. Sesekali gulungan ombak menyapa, membuat basah pakaian yang kami kenakan.  *** "Apa kabar, ibu?"  "Baik, Nia. Alhamdulillah. Diminum tehnya, biar hangat."  Sepulang dari pantai tadi, mas Yoga mengajakku berkunjung ke rumah. Bertemu calon ibu mertua sekaligus ajang untuk mengakrabkan diri dengan keluarga baru.  Aku menyeruput teh yang telah Asma buat untuk kami. Cukup untuk menghangatkan tubuhku yang mulai menggigil akibat terlalu lama bermain di pantai, ditambah terkena gerimis saat di jalan pulang tadi.  "Mbak Tania mau ganti baju? Pakai punya Asma aja, nggak apa-apa."  Aku menggeleng pelan. "Nggak usah, As. Nggak apa-apa, cuma basah dikit."  Asma adalah anak bungsu dari empat anak ibu Idah. Sementara mas Yoga sendiri putra sulungnya, sekaligus lelaki satu-satunya di rumah setelah bapak dari mas Yoga meninggal dunia tiga tahun yang lalu.  Dua putrinya lagi, sudah menikah dan masing-masing sudah memiliki rumah sendiri. Hanya sesekali datang dan menginap saat berkunjung.  Begitu cerita ibu saat memperkenalkan calon dari pilihannya padaku.  "Mas Yoga di mana?" Aku baru sadar, sedari tadi dia tidak menemaniku duduk di ruang tamu.  "Mas Yoga lagi benerin pintu dapur yang rusak. Tadi pas mau bikin minum, enggak sengaja aku dorongnya terlalu kenceng, kebablasan jadi langsung jebol. Habis macet, sih." Asma menerangkan. "Nanti kalau kalian udah nikah, tinggallah di sini. Biarin Yoga tetap tinggal sama ibu."  Bu Idah, calon mertuaku menimpali.  Aku bingung harus menjawab apa selain sebuah senyuman. "Kalau nggak ada lelaki di rumah, repot. Genteng bocor mesti minta tolong tetangga, mau apa-apa jadi repot. Contohnya itu, kamu lihat sendiri, kan? Ada Yoga, liat pintu rusak langsung dibenerin."  "Semua terserah sama mas Yoga nya saja, Bu."  Pada akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutku.  Di luar hujan turun semakin deras. Sesekali petir menyambar, disusul gemuruh guntur yang menggelegar.  "Kalau dengar guntur begitu, baca do'a apa, Tania?"  "Hah?"  Terlalu asik memandangi rintik air yang turun menderas, aku tersentak, belum siap dengan pertanyaan tiba-tiba dari calon mertuaku.  "Kamu, kalau dengar suara guntur kayak gitu, kamu bacanya apa?" Bu Idah mengulangi pertanyaannya sekali lagi.  "Su-Subhanallah?"  Jawabku sekenanya, masih bingung kenapa tiba-tiba calon mertuaku menanyakan hal itu.  "Oh, kalau aku bukan gitu," sahutnya lalu mengucapkan do'a ketika melihat petir atau suara guntur, yang dulu sempat aku pelajari juga saat masih duduk di bangku madrasah.  Aku sekali lagi terbengong. Jadi, maksudnya tadi calon ibu mertua sedang mengetes aku? "Aku antar kamu pulang nanti ya, Nia. Hujannya masih deras soalnya. Nggak apa-apa, kan?"  Mas Yoga datang, memecah kecanggungan yang aku rasakan.  Aku sudah membuka mulut, hendak menjawab tapi, tiba-tiba saja Bu Ida menyahut.  "Ya nggak apa-apa, lah. Memangnya kenapa? Lha wong sebentar lagi ini juga bakal jadi rumahnya. Setelah menikah nanti kan kalian akan tinggal di sini sama Ibu. Iya, kan?"  Dan sekali lagi aku cuma bisa tersenyum sambil mengangguk pelan.  Mungkin memang sudah begitu kodratnya. Seorang wanita ketika sudah menikah maka, dia harus tinggal bersama di rumah ibu mertua, selama sang suami belum memiliki rumahnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD