Pertemuan Pertama

1141 Words
Seharusnya mereka memberikan aku waktu untuk sejenak beristirahat. Delapan jam bukan waktu yang singkat untuk dilalui di dalam bus, sesak dengan berbagai macam bau yang bercampur jadi satu.  Tapi lihat, lelaki itu bahkan sudah datang untuk bertamu, dua jam setelah aku sampai rumah. Disaat aku sedang nikmat nikmatnya meluruskan kaki.  "Apa kabar, Nia?"  Malu-malu dia memulai percakapan.  "Alhamdulillah, sehat, Mas."  "Kenalin, ini Prasetyo. Temenku," katanya memperkenalkan seseorang yang datang bersamanya.  "Iya, salam kenal Mas Pras."  Kami tidak berjabat tangan, hanya saling tersenyum dan menundukkan kepala karena posisi duduk kami yang terhalang meja.  "Kalau aku, udah kenal, kan?" Guyonnya, lalu tertawa sebentar.  Ibu benar. Aku memang seseorang yang terlalu penilai.  Lihat saja, baru di pertemuan pertama aku sudah menemukan hal hal yang aku rasa 'kurang'.  Seperti caranya tertawa, deretan giginya yang tidak berjajar rapi, juga beberapa titik jerawat yang menempel di pipi.  Iya, ini kali pertama kami bertatap muka. Tiga bulan sebelumnya kami hanya berkenalan dan komunikasi via telepon. Aku sama sekali belum pernah melihat wujud aslinya.  Sebenarnya, aku bukan tipe orang yang jatuh cinta karena tampang. Karena sadar, aku sendiri bukan wanita paling cantik se dunia. Tapi lebih ke rapian nya, sikapnya, caranya berbicara.  Aku tipe orang yang percaya kalau modal tampang saja tidak cukup, kalau karunia itu tidak dirawat dengan baik dan apik.  Percakapan kami mengalir setelahnya. Sesekali dia melemparkan candaan yang menurutku sama sekali tidak lucu.  Kulirik jam di dinding, pukul sembilan malam. Pura pura aku menguap, semoga dia peka.  Sayangnya tidak, dia masih melanjutkan percakapan. Abai dengan aku yang sudah berkali kali menguap.  "Tadi diperjalanan macet?"  Aku mengangguk.  "Iya, lumayan juga. Harusnya kalau perjalanan lancar, aku bisa sampai dua jam lebih cepat."  "Pasti capek, ya."  Sudah tahu gitu, masih di sini juga!  "Iya, tadi juga sebelum Mas ke sini, aku lagi istirahat. Capek banget soalnya."  Akhirnya dia mengerti maksudku. Berbisik-bisik sebentar dengan Pras, kemudian pamit undur diri.  "Kalau gitu kita pamit dulu ya, Nia. Biar kamu bisa istirahat."  "Iya, Mas. Makasih ya, udah mau ngerti." *** Nikmatnya berada di rumah itu bebas bangun siang. Tidak perlu terburu-buru bangun subuh, mandi pagi dengan air dingin lalu setelahnya tubuh menggigil.  Pukul delapan pagi dan aku masih setia dengan selimut dan guling. Menggelinding memonopoli seluruh bagian ranjang.  Ah, nikmatnya hidup jadi pengangguran.  Benar juga kata Hasan, setelah menikah aku tidak akan lagi terikat dengan peraturan peraturan kerja yang setiap harinya terasa mencekik.  Hasan, apa kabarnya sekarang?  Sudah dua minggu semenjak aku di rumah, dia sama sekali tidak menghubungiku. Aku? Mana mungkin aku menghubunginya lebih dulu? Gengsi lah.  Yang bisa aku lakukan hanya mengintip profil dan menonton story nya di aplikasi chatting warna hijau.  Di cuplikan story nya, menampilkan Hasan yang tengah berdiri membelakangi kamera sambil berpegangan pada besi pembatas sungai.  Aku tahu tempat itu. Beberapa kali Hasan mengajakku mencicipi kuliner yang berjajar di sepanjang pinggiran sungai Cisadane.  Tepian sungai besar dan panjang itu, dibuat serupa taman. Dibuat juga jalanan setapak menggunakan batako untuk para pejalan kaki, agar rerumputan hijau di sekitar tetap terjaga keindahannya. Pohon bintaro berjejer tiap tiga meter, rimbun daunnya meneduhkan, membuat para pengunjung betah berlama lama menikmati pemandangan.  Pipa besi yang di tanam difungsikan sebagai bangku, tersebar di sepanjang taman.  Pemerintah setempat sepertinya bertindak serius menjadikan sepanjang bantaran sungai terpanjang di kota Tangerang itu sebagai tempat wisata untuk semua kalangan. Di beberapa tempat, masih di bantaran sungai Cisadane bahkan dibuat panggung dan kursi permanen layaknya gedung serbaguna, digunakan tiap komunitas mengadakan event pada musim musim tertentu.  Ah, Tangerang....  Aku jadi rindu.  Lima tahun bukan waktu yang sebentar bagiku untuk melukiskan berbagai macam kenangan indah di sana. Banyak hal unik dan menarik yang tercipta saat aku tinggal, bekerja, dan berbaur dengan semua golongan di sana. Tak peduli mereka berasal dari kota mana, apa agamanya, marga yang menempel di ujung nama mereka, semua sudah seperti keluarga bagiku.  Lucu juga rasanya. Saat aku masih bekerja, melakukan rutinitas yang sama setiap hari tanpa libur, aku seringkali mengeluh dan merasa bosan. Berjalan di jalan yang sama, bertemu dengan orang orang yang sama setiap hari, selama lima tahun.  Tapi sekarang setelah rutinitas membosankan itu aku lepas, rasanya seperti ada sesuatu yang hilang.  Aku rindu kontrakan kecilku, aku rindu jalanan yang ku lewati setiap hari, aku rindu abang mie tek tek langganan yang lewat tiap jam delapan malam. Aku rindu.... Aku pasti akan sangat sangat merindukan suasana kota Tangerang.  Sebab tiga hari setelah pertemuan malam itu, kedua orangtua memutuskan untuk mempercepat pernikahan.  Terima? Tentu saja tidak.  Awalnya aku menolak, sampai berlutut di kaki bapak agar beliau mau membatalkan, atau setidaknya menunda acara pernikahan itu.  Bapak setuju, meskipun malu beliau berusaha menyampaikan keinginanku pada orangtuanya mas Yoga. Tapi semuanya sia sia ketika mas Yoga datang dan memintaku untuk memberinya kepastian.  "Beri aku kepastian. Biarkan pernikahan tetap berjalan sesuai rencana awal atau, kita batalkan saja perjodohan ini."  Waktu itu, ketika mas Yoga memberi pilihan itu, dalam hati aku bersorak riang. Siapa juga yang menginginkan menikah dengannya.  Namun kelanjutan kalimatnya yang membuat hatiku tersentuh.  "Aku cuma nggak mau ibuku kecewa berkelanjutan. Aku setuju menikah denganmu karena ibu yang meminta, karena ibu yang sudah memilihkan kamu sebagai calonku, dan aku sangat menghargai itu. Aku percaya pilihan ibu adalah yang terbaik untukku. Tapi, kalau kamu memang nggak berkehendak, lebih baik kita batalkan saja semua ini," katanya tegas. Membuatku tak bisa berkata kata lagi.  Aku diam untuk waktu yang cukup lama, hingga akhirnya aku sampai pada keputusan untuk tetap melanjutkan acara pernikahan ini.   Banyak yang bilang, kalau lelaki yang menghormati dan menyayangi Ibunya melebih apapun, dia juga akan memperlakukan hal yang sama pada istrinya. Dan aku menjadi salah satu orang yang mengamini kalimat itu.  Berulangkali aku berdo'a, meminta petunjuk dari-Nya perihal keputusan ini, apakah sudah benar langkah yang aku ambil?  Aku membuang napas kasar. Aku sudah resmi menyandang status pengangguran sejak kemarin, saat akhirnya aku memutuskan untuk setuju menikah dengan mas Yoga.  Beruntung bos ku adalah bos terbaik, dari beberapa bos di tempatku bekerja sebelumnya. Beliau mengerti akan keputusan yang mendadak ini, dan mendukung apapun pilihan yang aku ambil.  "Tania."  Di luar kamar, ibu memanggil sambil mengetuk pintu. Membuyarkan lamunanku.  Setengah malas aku beranjak dari ranjang kesayangan, untuk membuka pintu.  "Ada apa, Bu?" tanyaku sambil menggaruk-garuk kepala.  "Ya Allah anak gadis, jam segini masih bau iler."  Awalnya aku hanya tersenyum sekilas menanggapi celotehan ibu. Namun, senyum itu seketika lenyap begitu mataku terbuka sempurna dan mendapati ada mas Yoga berdiri di belakang ibu.  Ya ampun! Mimpi apa aku semalam?  Buru buru ku tutup kembali pintu kamar, berdiri di depan cermin.  Mengerikan!  Rambut acak-acakan tak keruan, mata masih belekan, dan wajah kusut khas orang baru bangun tidur.  Ya Allah...  Ku benamkan wajah pada bantal, kemudian menutupinya lagi dengan selimut keroppi, sambil mengumpat panjang pendek. Mau apa juga dia pagi pagi datang ke sini. "Nia, kamu nggak lupa kan kalo kita mau pergi hari ini?"  Dan kalimat itu menyadarkan bahwa aku memang se pelupa itu.  Aku semakin membenamkan kepala, merutuku kebodohan ku hari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD