Bagian 5

1533 Words
Sudah dua hari Nadine kembali ke kota kelahirannya, membantu Papanya menyelidiki siapa yang tengah bermain kotor. sudah satu Minggu ini papanya terkulai lemah di atas brankar rumah sakit. Sementara mamanya hanya bisa menangis tak tahu harus berbuat apa. Begitu juga dengan Ara, adiknya juga sama terpukulnya namun mencoba untuk tetap kuat, lalu dirinya? Iya seperti mayat hidup saat melihat sang hero terkulai lemah. ia terbiasa melihat papanya produktif meski di usia yang tak lagi muda. “Bu, tehnya sudah dingin dari tadi, apa ibu mau saya pesankan yang baru?” “Tidak perlu pak, saya sedang puasa nanti saja saya minum," jawab Nadine mencoba tersenyum di tengah kelumitan yang terjadi, dari hasil rapat tim audit internal memberikan data yang sangat buruk, banyak sekali memanipulasi dana perusahaan, bahkan nepotisme pun meraja lela. Sesuatu yang membuat perusahaan bisa bangkrut sewaktu-waktu. “Hampir seluruh investor menarik sahamnya pak, hanya beberapa yang masih bertahan mempercayai kita. kita benar- benar sudah di ambang kehancuran,” keluh Nadine tanpa menoleh dan masih fokus pada kertas dan sebelah tangannya mengurut keningnya yang terasa pusing. Tak berselang lama, Nadine mendengar suara adzan magrib berkumandang, Nadine menghentikan aktivitasnya sejenak. “Alhamdulillah, saya minum teh nya pak.” “iya bu silahkan, saya pamit ke masjid dulu, selamat berbuka bu.” “Pak, malam ini sayasendiri saja yang mempelajari kasus-kasusnya, bapak sudah berhari-hari lembur, bapak juga perlu istirahat." "Tapi Bu." "panggil Nadine saja pak, saya merasa aneh dipanggil ibu. untuk hari ini bapak tidak usah ikut lembur, saya mau coba mempelajari nya terlebih dahulu." "Baiklah, terimakasih mba Nadine." *** Setelah menyelesaikan ibadah wajib dan mengisi perutnya bersama beberapa karyawan yang masih berseliweran di sekitaran mushalla kantor, Nadine kembali memasuki ruangan papanya memungut kertas-kertas yang bertaburan. saat yang sama, matanya tertuju pada deretan berkas yang selama ini hanya ia lihat tanpa pernah ia sentuh sekalipun, baik itu data kantor ataupun hal lainnya. Saat itu matanya tertuju pada sebuah kotak persegi panjang yang bertuliskan My family, ternyata itu tentang dirinya dan sang adik, mulai dari bayi sampai ia wisuda kedokteran. Dan matanya tertuju pada hasil laporan kepolisian dan juga surat pernyataan pengadopsian seorang bayi. Nadine penasaran siapa bayi yang diadopsi orang tuanya, lembar demi lembaran ia buka, saat itu ia melihat foto bayi yang ia kenal itu adalah foto dirinya. Bukan hanya itu, Nadine melihat sebuah surat lusuh yang ditulis menggunakan tangan, rasa penasarannya kian memuncak dengan perlahan Nadine membaca tulisannya. Nadine, saya minta tolong beri nama bayi ini dengan nama Nadine. Teruntuk Nadine, putriku. Nadine sayang, maafin mama dan papa. karena jika kamu membaca surat ini berarti mama sudah tidak ada disisi kamu. Nadine, jantung hati mama, menurut orang mungkin kamu anak yang tidak diharapkan, meski begitu mama sangat mencintaimu nak, mungkin saat kamu membaca surat ini kamu membenci mama bahkan dirimu sendiri, tapi percaya lah sayang, mama selalu mendoakan kebahagiaanmu. Nadine, kecintaan mama, maafin mama yah nak kita harus terpisahkan oleh kematian, sebenarnya mama tidak di perbolehkan dokter untuk mengandung sayang, tapi mama tidak mau jahat pada kamu sayang, mama mengambil keputusan untuk mempertahankan kamu. Kamu berhak untuk mencicipi dunia nak, cukup bagi mama, abang kamu saja yang tidak selamat. Mama tidak menginginkan hal yang sama terjadi pada kamu sayang. Nadine, pelipur lara hati mama, maafkan mama karena menyusul papa dan abang mu duluan sayang, mama tau mama kejam, tapi seperti kata mama tadi kamu berhak untuk hidup nak. Mama mewariskan agama islam pada mu nak, tempuh jalan itu nak, hanya islam yang mama wariskan pada mu nak, cari bekal untuk menemui mama yah sayang. Nadine, kesayangan mama, jika kamu selamat dan membaca surat ini sayangi orang yang telah membesarkan kamu nak, kasihi mereka layaknya seharusnya anak kandung, jadilah putri yang menyejukkan hati orang tua mu yah nak. Sayang, mama sayaang sekali sama kamu nak, dunia kita memang sudah berbeda tapi kecintaan mama akan tetap untuk putri mama. Hancur! Itu yang ia rasakan ketika mengetahui rahasia sebesar ini, sendirian. semua kejanggalan yang dulu ia rasakan dan coba ia abaikan terkuak kini, bagaimana sang mama gelagapan menjawab ketika ia bertanya mengenai foto dirinya dalam kandungan mamanya, Nadine menangisi nasibnya, ternyata ia bukan anak kandung. yang selama ini ia panggil mama dan papa ternyata bukan siapa-siapa bagi dirinya. Ingin rasanya ia berteriak dan memaki seseorang tapi ia tak tau harus memaki siapa. Lalu apa ia harus menerima kenyataan yang memilukan ini? dan bersikap seolah tidak tahu apa-apa? Hampir dua jam Nadine menangisi keadaan dirinya, berkali-kali ia ingin berlari ke rumah sakit dan menanyakan ini semua dan berkali-kali pula ia menggagalkan niatnya karena mengetahui kondisi papa dan juga mental mamanya, ia merasa jahat jika bertanya sekarang, ia meredam emosinya dan mencoba untuk senatural mungkin. Nadine meninggalkan kantor menuju rumah sakit, bagaimanapun kenyataannya, saat ini papa dan mamanya tetap orang tua yang begitu mencintainya. “Assalamualaikum, ma, pa” Nadine memasuki ruangan papanya dengan senyum cerah, seolah tidak ada yang terjadi. “waalaikumussalam. Nadine, kamu kenapa? Kenapa mata kamu sembab kamu habis Nangis?” Tanya Rania. “Enggak ma, akhir-akhir ini Nadine kurang tidur jadi matanya sering berair, tadi di parkiran anginnya kenceng banget, debunya masuk mata,” tentu saja Nadine berbohong pada orang tuanya. “Papa gimana udah enakan?” sela Nadine cepat. “Sudah lebih baik sayang, seperti ucapan kamu kemarin, papa harus bangkit, banyak karyawan papa yang menggantungkan nasibnya pada papa.” Nadine kembali tersenyum, dengan mata yang mulai kembali memanas Nadine memeluk papanya dan menangis sesenggukan dalam di d**a laki-laki itu. “Nadine sayang sama papa sama mama sampai kapan pun,” ucapnya di tengah isaknya . *** Di lain sisi seorang pemuda tengah menahan amarahnya yang sudah memuncak, skandal yang menimpa dirinya seolah tak pernah usai. kali ini pemberitaan dirinya yang sedang berkencan dengan seorang pria menjadi topik utama, entah kapan foto dirinya sedang berciuman mesra dengan seorang pria di sebuah kelab malam tersebar, bahakan namanya kini menjadi pencarian teratas. Hobi berganti pasangan, ternyata hanya untuk menutupi kedoknya sebagai gay Pengusaha muda yang dikabarkan dekat dengan seorang model, terciduk tengah bermesraan dengan seorang pria di salah satu tempat hiburan malam Tampil sempurna tak menutup kemungkinan memiliki kecendrungan untuk menjadi penyuka sesama jenis. Begini faktanya. Masih banyak lagi berita lain mengenai dirinya. Bahkan semua jejaring sosialnya penuh dengan pertanyaan kepastian orientasi seksualnya. "Sial." makinya berkali-kali “Cari orang yang sudah menyebarkan berita buruk tentang saya dan tuntut dengan pasal berlapis sekarang!” titah Daniel pada sambungan telponnya Plak!! Ia merasakan panas pada wajahnya akibat tamparan kuat yang dilayangkan oleh papinya. “Memalukan! Apa-apaan kamu bocah nakal? Tidak punya malu! Kau telah merusak reputasi ku.” “Pi itu tidak benar, Daniel masih menyukai perempuan,” ucapnya sambil memegang sebelah pipinya. “Papi tidak mau tau! Kamu harus mengklarifikasi berita ini, panggil media dan lakukan press conference. jika belum reda dalam dua hari maka jangan harap namamu masih ada dalam daftar warisan papi,” ancam Bagas berapi-api. Bagas membanting Koran yang ada di tangannya dan berjalan meninggalkan Daniel yang menahan amarahnya. “Aku sudah menghubungi orang ku pi, Daniel memang bersamanya tapi kami tidak melakukan apa pun, beliau hanya rekan bisnis ku pi,” teriaknya tidak terima, berharap sang papi mau mendengarkan. Sial!! Daniel melampiaskan kekesalannya dengan melepaskan bogem mentah pada dinding yang tak bersalah itu, ia tak perduli jika jari-jarinya patah sekalipun. “Kita harus menyelesaikan berita ini, panggil media saya akan melakukan klarifikasi," ujarnya pada seseorang di seberang telepon. *** Berbagai media sudah memadati sebuah hotel yang memfasilitasi konferensi pers mengenai berita gay yang menimpa keluarga Mahesa tentu saja itu menjadi berita yang trending topik. “Terimakasih pada rekan-rekan wartawan sekalian yang bersedia menghadiri konferensi saya, sebelumnya saya mengundang teman saya Nicholas berserta istrinya. Pria yang dikabarkan teman gay saya, beliau merupakan rekan bisnis saya dan yang di sebelah nya merupakan istrinya, foto tersebut merupakan pure hasil editan, awalnya saya tidak perduli tapi lambat laun beritanya melebar kemana-mana bagaimana pun berita yang beredar sangat merugikan buat saya, nama baik, bahakan langsung berpengaruh pada beberapa bisnis yang saya garap, begitu juga rekan saya, anak istrinya menjadi bahan bullyan. saya berharap masyarakat cerdas dalam menerima berita, saya dan Nicholas merupakan teman kuliah, dan kami memang bertemu di tempat hiburan, beliau menghadiri pesta bujang temannya sedangkan saya memang ingin ke sana, dan pertemuan itu bukan hal yang di sengaja, selain itu, foto itu merupakan foto lama.” Daniel menunjukkan foto dirinya dengan beberapa teman lainnya. Konferensi berjalan dengan sangat lancar, apa lagi ditambah beberapa statement dari Nicholas menguatkan dirinya. namun ternyata berita itu tak surut begitu saja saat berita Nicholas naik mengenai kekerasan dalam rumah tangga yang tercium oleh publik, dan menghubung-hubungkan dengan Daniel. dengan amat terpaksa Daniel menyumpal mulut wartawan agar mereka berhenti memberitakan hal buruk tentang nya. Sedangkan yang menyebarkan berita hoax tersebut tengah diproses, sesuai permintaan Daniel pasal berlapis. Ia telah salah mencari lawan. "Gimana bro udah ada titik terang mengenai skandal kali ini?" tanya Yoga menghampiri sahabatnya yang kini menjadi atasnya. Daniel tak menjawab ia hanya memijit pangkal hidungnya, pikirannya telah bercabang, masalah seakan tak pernah lepas dari lingkaran hidupnya. "Kemana?" tanya Yoga melihat Daniel pergi tanpa sepatah kata. "Bersenang-senang," ucap Daniel tanpa menoleh "Baiklah kalau begitu aku ikut," ucap Yoga sumringah
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD