Bagian 6

1591 Words
Perjuangan Nadine dalam membantu menangani perusahaan tidak membuahkan hasil yang maksimal karena kecurangan yang dilakukan anak buah Dimitri Group sudah hampir 5 tahun belakang, mereka cukup pintar dalam menggelapkan uang perusahaan. Money laundry menjadi salah satu strategi yang mereka gunakan, namun mereka lupa bahwa semua nya tercatat rapi di data perusahaan, namun data tinggal cerita bahkan perusahaan sudah di ambang gulung tikar. Belum lagi tuntutan para karyawan atas PHK tanpa pesangon pun tak terelakkan. Sementara dari perusahan Mahesa mereka mundur dari persidangan, salah satu perusahaan yang paling awal menuntut, entah mengapa mereka mencabut tuntutan namun yang pasti itu sedikit mengurangi beban. Papa sudah bisa kembali seperti sedia kala dan mencoba untuk bangkit meski harus memulai lagi dari bawah. Sedangkan Nadine sendiri ia mencoba berdamai dengan kenyataan. Masalah bagai tak henti-hentinya menimpa keluarganya baru beberapa hari yang lalu papa meninggalkan rumah sakit kini adiknya yang masuk rumah sakit karena percobaan bunuh diri dengan meminum racun obat nyamuk. “Ara, mba mohon sama kamu jangan seperti ini, kamu harus bangkit sayang. Badai pasti berlalu, jangan buat papa sama mama khawatir dek,” ucap Nadine merapikan anak rambut Ara. “Ara takut miskin mba, Ara masih kepengin melakukan banyak hal, tapi sekarang udah enggak bisa, bahkan Ara ditinggalin teman-teman, Ara malu di bilang ini itu. Media sosial ara penuh ledekan tentang Ara, papa sama mama mba,” adu Ara pada Nadine. "Mba paham apa yang kamu rasakan, mba juga mengalaminya, mungkin lebih, tapi percobaan bunuh diri seperti ini bukan jalan keluar yang tepat. Ara, papa tidak seperti yang dituduhkan, kita harus buktikan ini bukan kesalahan kita. Tapi harus kita akui kita lalai akan tindakan kriminal,” ucap Nadine berterus terang. Gadis itu diam seribu bahasa dalam hati ia membenarkan kata-kata sang kakak. “Satu hal yang harus kamu tau, jatuh miskin itu sudah di depan mata tapi kita harus melewatinya, kita harus bangkit jangan lupakan cita-cita kita sayang, anak-anak yatim itu perlu kita, yayasan kita baru setengah jadi dek.” Ara masih diam namun matanya tak berhenti mengeluarkan air mata bahkan lebih deras dari tadi. ”Maafin Ara mba, Ara salah, Ara benar-benar bodoh.” Nadine mengangguk, “Udah mba maafin, tapi ingat, kamu harus bangkit dan kita harus menyelesaikan apa pun yang sudah kita mulai, jangan berhenti di tengah jalan.” “Mba masih banyak urusan, cepat sembuh, kami semua butuh kamu untuk menyelesaikan masalah ini” ucap Nadine kemudian berlalu meninggalkan sang adik. *** “Pah, kalau menurut Nadine kita harus menemui masing-masing perusahaan yang mengalami kerugian dan meminta mereka bersabar kita akan melunasi kerugian mereka, dan kita mencoba jalin kerjasama lagi sama perusahaan yang meninggalkan kita, Nadine yakin mereka masih mau, apa lagi media sudah memublikasikan kalau di perusahaan ini ada kecurangan dan kita akan melakukan ganti rugi yang sepadan." “Pah, papa melamun?” Tanya Nadine karena tak satupun papanya menanggapi ucapannya. “Enggak, papa tidak melamun, kamu bilang apa tadi?” “Papa melamun, minum dulu biar kembali fokus, atau kita ambil jeda untuk istirahat?” Masyu yang sedari tadi melamun memikirkan tawaran dari perusahaan Mahesa untuk membantu perusahaannya yang tengah kolaps, tentu saja tidak ada makan siang yang gratis, perusahaan Mahesa mengharapkan perjodohan antara Nadine dengan anak yang terkenal nakal, disatu sisi jiwanya sebagai ayah terasa direndahkan ketika anak harus menjadi korban, namun ia juga memikirkan nasib perusahaan dan ribuan karyawan. “Nadine, kalau ada perusahaan yang ingin menyuntikkan dana pada perusahaan kita, tanggapan kamu bagaimana?” Mendengar itu senyum Nadine mengembang, ada secercah harapan dari mata lentik itu. “Alhamdulillah kalau begitu pah, setidaknya kita bisa menutupi pengeluaran kita, tapi kenapa papa terlihat ragu?” “Papa senang, tapi mereka menginginkan imbalan yang besar.” “Apa mereka menginginkan dua kali lipat? Nadine rasa tak maslah pa karena­­..." "Mereka menginginkan kamu menjadi menantu mereka.” ucap Masyu satu nafas. Mendengar itu Nadine syok, ia bingung harus mengatakan apa, ia merasa kalau semuanya seperti mimpi. “Tapi, kenapa pa?” Suara Nadine melemah. “Kamu tidak mau yah? ” Masyu bingung harus berkata apa lagi. “Sebenarnya Nadine sudah punya calon pa,” cicit Nadine karena takut melihat kekecewaan sang ayah. setelah menarik napas dalam, Masyu membetulkan duduknya, menggenggam jemari putrinya, menepuk pelan tangan halus itu, menimbang sejenak. “Nadine, papa sudah membesarkan kamu sampai mejadi seorang dokter itu tidak mudah nak, papa minta tolong sekali ini sama kamu, bantu papa sekali ini yah nak?" pinta Masyu tak kalah goyahnya melihat kilat kesedihan dimata sang putri. “Kenapa harus Nadine pa? Kenapa tidak Ara, Nadine sudah punya calon.” Tidak, Nadine tidak sejahat itu sama adiknya, saat ini ia hanya mencari kemungkinan kalau dirinya tidak sedang dicampakkan oleh papanya sendiri. “Papa tidak mungkin menjodohkannya dengan Raisya, dia masih terlalu muda untuk menikah.” Nadine tersenyum getir. “Bukan karena Nadine anak angkat papa?” tanya Nadine bergetar. Masyu tidak menutupi kekagetannya mendengar pernyataan sang anak, dari mana putrinya mengetahui hal tersebut? Informasi yang ia tutup rapat-rapat selama 27 tahun ini. sejauh apa putrinya mengetahui kebenaran itu? Namun ia harus tetap teguh pada pilihannya, tekadnya sudah bulat ia tidak ingin mundur. “Yah. kamu benar, papa terlalu menyayangi Raisya, papa tidak mungkin membuatnya kesulitan” Air mata Nadine jatuh, namun dengan cepat ia menghapusnya, dadanya terasa sesak, bagai ditusuk sembilu, susah payah ia mengatur ritme nafasnya, dengan memukul-mukul kecil dadanya. “Owh gitu baik lah Nadine paham." dengan mata berair perempuan itu berusaha tersenyum. "Kalau memang itu yang terbaik Nadine bakalan terima perjodohan itu, terima kasih selama ini papa sudah membiayai kehidupan Nadine, apa lagi biaya dokter tidak murah, Nadine harus sadar diri. kalau gitu Nadine permisi dulu pah.” Nadine pergi dari ruangan sang ayah dengan mata yang sudah basah, sekali kedip maka air itu akan menetes. Taman. Hanya itu tujuannya kini, Nadine menumpahkan seluruh kepedihannya sejenak sebelum ia menuju musallah untuk bermunajat pada sang khalik, sang pemilik hati. Ia yakin atas pernyataannya tadi akan ada hati yang terluka, yang ia renggut secara paksa. Di ruangannya, Masyu menepuk dadanya berkali-kali berharap sesak itu bisa hilang, ia pun merasakan patah disudut hatinya. Ada rasa luka ketika melihat punggung putri kesayangannya bergetar hebat, “maafkan papa sayang, papa janji akan menuntut permintaan maaf mu atas semua yang kau rasa kini, maafkan papa sayang” Masyu menyentuh pigura foto keluarga kecilnya, tidak ada perbedaan rasa sayang yang ia berikan pada kedua putrinya. *** Sial!!! Lelaki paruh baya itu membanting handphone yang bernilai fantastis itu ke sudut lemari membaca berita yang tersebar mengenai anaknya. Kemarin berita gay dan sekarang berita ia tengah dicumbu oleh w*************a di salah satu club ternama, bukan hanya satu tapi tiga sekali gus, benar-benar merusak reputasi positif yang ia buat selama ini.”Anak sialan!” satu kalimat yang selalu ia lantunkan sedari tadi. “Ke ruangan saya sekarang juga!” ucapnya pada sambungan telepon yang langsung terhubung pada anaknya. “Kenapa pi?” tanyanya tanpa ragu. Bukhh... Bogem mentah melayang tepat mengenai sudut bibir putranya membuat Daniel yang tidak siap menerima pukulan dari sang ayah tersungkur ke belakang. “Sudah berkali-kali papi bilang jangan buat skandal, tapi kau bocah nakal semakin berulah.” Bagas berjalan menuju meja kebesarannya sambil memperlihatkan berita terbaru melalui laptopnya. “Pi, aku... aku... ” Daniel gelagapan, ia benar-benar bingung memilih kata-kata yang pas, ia tak bisa menyangkal apa pun, itu benar-benar dirinya. “Kau mau bilang apa lagi hah? ingin menyangkal, sangkal sekarang juga sialan!" “Daniel bisa jelasin pi, ia itu Daniel tapi Daniel tidak sekali pun menikmatinya Daniel cuma ingin menghilangkan rasa trauma itu saja.” jawab Daniel terbata-bata “Kau miskin haa? sampai menyewa p*****r untuk menghilangkan trauma sialan mu itu?” “Pi aku gak mau kalau publik tau aku bermasalah itu saja.” “ Papi gak mau tau kau harus meluruskan masalah ini, atau papi yang akan ambil tindakan.” “Tapi pi, papi… papi…” Daniel memanggil papinya yang keluar dari ruangannya, Daniel menyusul papinya hingga lobi perusahaan namun terlambat ia keburu di cerca oleh beberapa wartawan menunggu konfirmasi atas vidio panasnya yang beredar di dunia maya. Ia terpaksa kembali masuk ke dalam kantor dan kembali ke ruangannya, sambil sesekali melihat pandangan warga kantor banyak yang memandang rendah dirinya. Sial! Setelah beberapa hari tidak pulang ke rumah, Daniel kembali menginjakkan kakinya setelah mendapati Puluhan pesan dari maminya. Daniel terpaksa mengelontorkan dana pribadinya dengan mengalihkan isu sialan itu. "Makan yang banyak sayang, lihatlah pipi kamu semakin kurus." "Iya mi." Daniel tersenyum pelan, ia memang merindukan masakan maminya saat ini. Meski hubungannya dengan sang papi masih diselimuti api, namun mereka tetap menjaga hati wanita yang mereka cintai itu. “Papi akan menjodohkan kamu dengan anak teman papi, menutup skandal yang kau buat,” ujar Bagas tanpa melihat sang anak seolah itu adalah keputusan final dari dirinya tentu membuat seisi rumah kaget. Namun sang empu tak menanggapi, diam menjadi satu-satunya jalan yang terpikir olehnya, sambil memikirkan langkah apa yang akan di ambil selanjutnya. “Jangan berpikir untuk bisa menggalakan rencana papi, menikah dengan pilihan papi atau keluar dari rumah tanpa sepeserpun dan kamu akan dihapus kamu dari daftar warisan” “Tapi pi,” mulutnya gatal ingin menolak ia kenal betul sifat keras papinya. “Silahkan tinggalkan rumah ini atau diam dan turuti ucapan papi. Pernikahan kamu akan berlangsung setelah pertunangan adikmu.” “Tapi pi, itu berarti enggak sampai dua bulan lagi." karena merasa tersudut dengan ucapan papinya, Daniel menatap maminya seolah meminta bantuan. “Kali ini kamu selesaikan urusanmu sendiri, mami angkat tangan." Sial! sial! hanya itu yang bisa ia ungkapkan melampiaskan kekesalannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD