Pernikahan antara Nadine dan Daniel akan di gelar esok hari, dengan resepsi mewah yang melibatkan banyak pihak, Nadine tidak bisa membayangkan nasib cintanya dengan Dimas kandas bahkan sebelum memulai, Nadine harus menelan mentah-mentah pil kekecewaan, ia belum sanggup dan tak akan pernah sanggup mengatakan dirinya sudah menjadi milik orang lain pada kekasihnya.
Entah sudah berapa kali sedari tadi Nadine menarik dan mengeluarkan napas kasar, rasanya dadanya begitu sesak, prosesi pemakaian inai yang ia jalani terasa hampa, disaat perempuan lain sangat berbahagia dengan prosesi seperti ini, tapi tidak bagi dirinya, ia dan pikirannya seakan tak singkron, senyumnya hanya beberapa kali ia layangkan saat mama dan calon mertuanya memakaikan inai pada kuku tangan dan kakinya, di saat wanita lain ingin acara berinai ini di lakukan dengan meriah, Nadine justru sebaliknya.
Nadine meminta untuk prosesi yang satu itu hanya dilakukan di kamarnya dengan mak Andam selaku orang yang bertugas memimpin acara pemakaian inai dan beberapa teman dekat juga tetangga yang diundang. sambil menunggu hena yang ia pakai mengering ia bisa mengistirahatkan tubuh dan pikirannya, bagaimanapun besok adalah hari yang istimewa meskipun tak pernah ia harapkan.
Tok…tok… tok...
“Nadine, papa boleh masuk sayang?” Nadine yang tadinya bersiap tidur mengurungkan niatnya dan membuka pintu kamarnya, Nadine tersenyum melihat siapa yang datang.
“Tentu, ada apa pah?”
“Temanin papa main catur,” ucap Masyu berbisik menunjukkan papan catur yang dibawanya.
“Tapi Nadine disuruh tidur awal pah,” jawabnya tak berbohong, Nadine memang di suruh tidur lebih awal oleh semua orang.
“Ini masih jam sepuluh, tidak lebih dari satu jam papa janji.” Masyu tak memperdulikan ucapan putrinya. Masyu mendorong pintu dan menaiki kasur yang sudah dihias, yang akan menjadi kamar pengantin Nadine dan Daniel.
“Baik lah jangan salahkan Nadine, kalau kita hanya bermain 15 menit saja,” jawab Nadine dengan pedenya.
“Kali ini papa yang menang, kalau papa menang kamu harus mendengarkan apapun kata papah, jangan mengelak yah,” pinta Masyu menyusun bidak catur.
“Nadine tidak akan menghindar karena kita sudah tau siapa pemenangnya,” tawa mereka berdua muncul kepermukaan meskipun mereka harus menahan agar sang mama tak datang ke kamarnya.
"Skak mat!" kata sang ayah menunjukkan waktu yang mereka gunakan hanya 10 menit.
“Aduh Nadine ngantuk pah” Nadine menjatuhkan tubuhnya dengan menarik selimut menutupi wajahnya.
“Jangan menghindar anak muda.” Masyu menarik selimut yang tadi menutupi wajah Nadine.
“Baik lah, tapi engga pakai melow mata Nadine bisa bengkak, nanti mama ngomel-ngomel.” Masyu mengangguk pelan, menarik Nadine untuk berada dalam pelukannya ia merindukan putrinya.
“Dua bulan ini kamu selalu menghindar dari papa, papa merasa kehilangan putri kesayangan papa, kamu terlihat membenci papa, dan papa sedih sebentar lagi kamu akan menjadi istri orang lain yang bahkan bukan pilihan kamu.”
“Nadine tidak ... ” Nadine tak meneruskan ucapannya ketika Masyu menggelengkan kepalanya..
“papa belum selesai, papa minta maaf” Masyu menjeda ucapannya menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "Papa minta maaf membuat kamu berada di posisi sulit, papa tidak bermaksud untuk membohongi kamu kalau, kamu bukan anak kandung papa, dan memanfaat itu semua demi kepentingan papa pribadi, percaya lah papa tidak pernah membeda-bedakan kamu dengan Raisya. kalau papa bisa memilih papa lebih memilih kita kehilangan segalanya dari pada harus melihat kamu menikah dengan cara seperti ini.”
"Ini bukan salah papa, meski sulit, Nadine coba untuk jalani, bantu doa supaya Nadine bisa bertahan." Yah, meski awalnya ini keinginan papanya, tapi kini adalah pilihannya, Nadine tetaplah Nadine. ia lebih mementingkan orang lain di atas keinginannya sendiri. ketika tanpa sengaja ia mendengar seliweran para karyawan yang masih menggantungkan harapan mereka pada perusahaan. saat itu juga Nadine memutuskan untuk menerima pernikahan bisnis itu.
”Kalau boleh Nadine tau, kenapa papa mengadopsi Nadine?” Pertanyaan ini sudah lama bersemayam di benaknya baru kini ia tanyakan.
Masyu tersenyum hangat, ingatannya kembali melayang pada puluhan tahun yang lalu. saat pertama kali ia dan sang istri jatuh hati pada bayi mungil nan masih merah yang begitu menyita perhatian mereka. “ Tentu boleh dong sayang. Bentar papa perbaiki duduk dulu. Jadi dulu, saat pernikahan papa sama Mama sudah hampir tiga tahun, Allah belum mempercayai kami untuk menjadi orang tua, sampai suatu hari papa menemani mama check up rutin, saat itu juga kami mendengar ada bayi yang baru dilahirkan dan sang ibu meninggal dunia, mama bersikukuh untuk melihat bayi mungil cantik itu dengan pandangan berbinar, meski mama tidak mengatakan apa pun tapi papa tau kalau mama sudah jatuh cinta dengan bayi itu. Nggak butuh waktu lama untuk kami memutuskan untuk mengadopsi bayi itu menjadi anak kami, sejak saat itu papa dan mama serta keluarga besar menutup rapat-rapat tentang status kamu, dan tidak membeda-bedakan kamu dengan Raisya,"
Nadine yang semula diam mendengar penuturan papanya beringsut memeluk Masyu erat, "makasih udah mau jadi orang tua Nadine, Nadine sayang sekali sama papa dan mama, maaf kalau selama ini Nadine banyak salah."
“Janji sama papa kamu nggak akan nangis, dan kamu boleh pulang kalau kamu sudah tidak sanggup.”
“Iya pa, semoga Nadine bisa bertahan, doakan agar rumah tangga Nadine berkah dan bertahan hingga maut memisahkan.” Kedua anak dan ayah itu berpelukan kembali, Nadine tidak bisa menahan air matanya yang kembali tumpah, kali ini bukan lah air mata kesedihan, tapi lega, ia lega setelah berbicara dengan papanya.
"Pasti, papa selalu mendoakan kamu. Sudah, jangan nangis nanti cantiknya hilang, papa keluar dulu selamat malam sayang."
“Papa jangan begadang, besok harinya Nadine.”
***
Di lain sisi, seorang pemuda baru memasuki kamarnya setelah hampir dua bulan hilir mudik di tanah papua memantau rumah sakit yang pernah terbengkalai.
“Ciee calon pengantin, lecek amat mukanya pak?” goda Nasya. Adik satu-satunya yang seminggu lalu bertunangan.
“Udah ledeknya, Mami mana?”
“Malam ini kan malamnya mbak Nadine bainai jadi mami di sana, mungkin sebentar lagi juga pulang, atau mungkin udah jalan,” ucap Nasya sambil mengikuti kemana pun langkah Daniel.
“Kamu gak ikut? biasanya kamu paling suka acara begituan.”
“Ikutan dong, ini juga baru balik. Sumpah mbak Nadine cantik banget beruntung banget sih kamu mas? Oh iya, mas udah pernah jumpa sama mba Nadine sebelumnya?” tanya Nasya berapi-api.
“Belum dek, kan mas langsung di deportasi sama papi kamu, karena skandal gak jelas itu.”
“Lagian mas ngapain coba masuk kelab? kaya gak ada tempat lebih baik aja.”
“Kamu masih kecil enggak perlu tau, jadi mendingan kamu pergi ke kamar kamu, mas mau istirahat."
Tak!
Daniel menoleh ke belakang mendengar suara dentuman pintu dan kuncian pintu.
“Mas tidur aja kata papi pintu kamar mas harus di kunci sampai besok pagi, selamat tidur calon pengantin,” teriak Nasya dan berlari menuju kamarnya sendiri yang berada tepat di sebelah kamar masnya.
“Nasya buka pintunya! Atau mas gak bakal transfer kamu lagi,” Ancam Daniel pada adiknya satu itu bisa-bisanya adiknya ikut-ikutan.
“Gak apa mas, sekarang aku udah ada donatur tetap, plus ganteng lagi,” kekeh Nasya membalas teriakan Daniel dari pintu kamarnya.
***
Daniel POV
Sah.
Satu kalimat laknat yang keluar dari mulut saksi, tanda resminya diriku menjadi seorang suami, sampai saat ini pun aku tak pernah berjumpa dengan wanita yang namanya tadi ku sebut dengan lantang. Meski Nasya mengatakan kalau perempuan itu cantik, aku masih belum percaya sebelum melihat sendiri.
tak butuh waktu lama, aku mendengar langkah kaki dari arah lantai dua, dan bisa ku tebak satu diantar dua gadis itu adalah perempuan bernama Nadine yang resmi menjadi istriku beberapa waktu lalu.
Nama itu tidak asing untuk ku, hanya saja aku tidak tau pernah mendengar nama itu di mana?
“Assalamualaikum mas." suara lembut nan merdu itu, memecahkan lamunan ku yang sedari tadi memandangi wajahnya. cantik, aku akui itu perempuan itu memang sangat cantik, wajar saja. Nasya memujinya.
“Wa...alaikumussalam,” ucapku kagok
Saat itu rasanya lidahku kelu, ia mengambil alih tangan ku dan menciumnya.
Suara itu. Suara dokter yang sama dengan dokter ku temui di Papua beberapa bulan yang lalu, aku mengetahui profesinya adalah seorang dokter, tapi aku tidak pernah memperkirakan kalau wanita yang aku nikahi adalah orang yang pernah ku maki, aku yakin dia pasti sudah berpikiran buruk padaku, tapi yah sudahlah itu sudah berlalu. Perempuan itu masih setia dengan senyumnya meskipun terselip kesedihan di matanya, aku ingat ia sudah mempunyai kekasih.
***
Nadine POV
Sesi akad dan resepsi selesai terlewati dengan senyum paksa, kini aku berada di salah satu vila keluarga mas Daniel, suami ku. rasanya seperti hampa, jiwa ku berkelana pada kekasihku yang sedang melakukan tugasnya, “Maafkan aku mas,” ucapku bermolong di dalam hati, plin plan memang, tadi malam saja aku mengatakan mencoba ikhlas, tapi kini? terbesit rasa ragu mengetahui siapa pria yang menjadi suami ku.
Siapa yang mengira laki-laki yang ku temui di Papua beberapa bulan lalu yang kini menjadi suami ku.
Ting.
Suara pesan menghentikan lamunanku dan ternyata itu dari dokter Dimas, kekasih ku, atau mungkin mantan?
“bagaimana kabar kamu Nadine? Semoga masih setia menjaga hatiku yah, sebulan lagi aku akan melamar kamu untuk menjadi istri ku”
Satu pesan yang membuat hati ku makin galau, sampai aku tak sadar kalau suami ku telah keluar dari kamar mandi.
“Kamu tidak mandi?” katanya sedang mengelap rambutnya yang basah dan hanya mengenakan boxer tanpa atasan.
“I...iya ini mau mandi,” aku berlalu meninggalkan dirinya rasnya malu melihat laki-laki bertelanjang d**a apalagi sebelumnya ia bukan siapa-siapa bagiku.
Sudah satu jam yang lalu aku menyelesaikan ritual mandi ku, tapi sepertinya suamiku belum kembali, oh tuhan lidah ku kelu mengatakan kata 'Suami'. Aku bagun dari dudukku yang entah apa ku tunggu, berjalan menuju jendela yang sudah tertutup rapat, aku membukanya sedikit untuk menghirup udara segar.
“Kamu belum tidur?” Suara baritonnya mengagetkan ku.
“Belum mas, belum mengantuk,” jawabku seadanya, kemudian menutup kembali jendela yang tadi kubuka.
“Kamu tidak menunggu ku kan?” tanyanya lagi.
Sial, apa ketahuan? Hello! ini malam pertama, bahkan perbincangan pertama, meskipun ini pernikahan bukan aku harapkan, tapi jika boleh jujur aku sedikit jatuh hati pada suami ku ketika ia dengan lantang menyebut nama ku saat ijab kobul tadi. meskipun aku sempat dilanda perasaan galau tapi sekuat tenaga aku mencoba menerima keadaan.
“Ti..dak mas, hanya belum ngantuk.” Dadaku berdebar, aku tak tau mengapa.
“Baiklah, ada yang mau aku katakan.” mas Daniel, maksudnya suami ku mendudukkan dirinya di atas ranjang kami, aku kebingungan apa yang ingin dikatakannya, apa ia akan meminta haknya, aku belum sanggup.
“Jangan pernah terlalu berharap dengan pernikahan ini, karena aku takkan pernah menawarkan cinta, aku akan membebaskan dirimu dengan apa yang kau sukai, tapi ingat! statusmu istriku, jangan mencoreng nama baikku ku.”
Sesak, itu yang aku rasakan, di malam pernikahan ku bukannya saling berkenalan, ia malah menolak diriku, apa akad yang ia lakukan tadi tidak ada pengaruhnya buat dia?
“Kalau begitu, apa aku bisa menjadi dokter kembali?”
“Aku tidak akan membatasi dirimu, hanya posisikan dirimu seperti istri dan pandai-pandailah berdrama di depan keluarga, teman-teman apalagi media.” ucapnya santai dan menarik selimut yang terlipat rapi di ujung ranjang.
“Mas tidak akan menyentuhku? Maksudku, kamu tidak menawarkan cinta, tentu aku pun akan berpikir dua kali untuk itu, meski aku tau itu kewajiban ku sebagai istrimu.” Sial kenapa aku bertanya seperti itu. Tenggelamkan!!
“Kita jalani saja, aku tak tau ujung dari pernikahan ini apa, kita akan tidur di kamar yang sama dan untuk yang itu aku tidak bisa menjaminnya karena kau tau laki-laki bisa melakukannya tanpa cinta sekali pun.” ucapnya kemudian menutup matanya
“Ini tidak adil untuk diriku!” ucapku sedikit meninggi aku tak terima, apa tak ada ucapan lebih manis dari itu.
“Sedari awal pernikahan ini, kau memang dijadikan korban, jadi lanjutkan saja tugasmu,” ucap suamiku kembali membuka matanya sebentar,
berkali-kali aku menetralkan deru nafas yang sedikit berkejaran.
Entah berapa lama aku hanya dia mematung, menelaah apa yang terjadi hingga kantuk menyerang membuat aku ikut merebahkan diri di samping suami ku, entah apa jadinya pernikahan ku kedepannya.