Perasaan bersalah

1777 Words
Nadine terbangun pukul empat kurang lima belas menit, ia ingin menyapa pemilik napas dan mencurahkan segalanya pada-Nya, baginya ini benar-benar ujian yang berat selama 27 tahun usianya, menikah dengan laki-laki karena sebuah tuntutan. “Kamu audah bangun? Ini belum subuh, matikan lampunya mata ku perih!” ucap Daniel dengan suara seraknya khas orang baru bangun tidur. “Aku mau tahajud mas, selagi belum masuk subuh,” cicit Nadine masih takut-takut sang suami murka. “Dasar menyusahkan.” Daniel bangkit dari tidurnya, pergi keluar kamar meninggalkan Nadine yang melongo mendengar penuturan suaminya. Seusai shalat tahajud yang di lanjutkan shalat subuh, Nadine memilih keluar dari kamarnya mengamati seluk beluk Vila yang ia tempati. Meski masih gelap tak menyurutkan keinginannya menikmati suasana yang masih asri dan segar. Nadine memutuskan untuk kembali memasuki Vila setelah merasa puas dan langit mulai berwarna jingga, saat itu netranya tertuju pada suaminya yang tengah meringkuk di atas sofa ruang tengah, menghadap tv yang menyala. Nadine mengabaikan hal itu, memilih melihat-lihat dapur. senyumnya mengembang melihat bahan-bahan makanan, Nadine mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng seafood andalannya, ini pertama kalinya ia memasak untuk dirinya dan juga untuk sang suami. “Kamu sudah bangun mas? Mau langsung sarapan? Aku masak nasi goreng tapi aku gak tau mas suka atau tidak.” Nadine mengulas senyum manisnya, namun Daniel tak menanggapi hal itu ia hanya terus berjalan menuju dapur dengan matanya fokus pada nasi goreng buatan Nadine yang menggugah selera. “Kamu bisa masak?” “Sedikit banyak aku bisa,” jawab Nadine masih dengan senyumnya. “Aku kira kau hanya hebat menjahit luka saja." Nadine mencoba bersabar menanggapi ucapan suaminya yang selalu bicara ketus padanya. “Ambilkan aku satu sendok saja, aku tak biasa sarapan dengan makanan berat.” Nadine mengangguk dengan cekatan ia mengambil sesuai permintaan suaminya. “Biasanya mas sarapan apa? biar nanti aku sesuaikan dengan selera kamu mas.” “Lebih sering tak menyentuh apa-apa,” jawab Daniel disela kunyahannya. “Sarapan itu penting mas, bagaimanapun tubuh kita butuh asupan, apa lagi pagi hari untuk memulai aktifitas.” “Iya ibu dokter. Aku mau bertanya apa semua dokter memang di takdir kan cerewet?” “Bukan cerewet, tapi memang tugas dokter mengarahkan.” Nadine tersenyum lalu berjalan meninggalkan Daniel seorang diri dengan sarapannya. “Kamu tidak makan?” “Iya mas, aku beresin ini dulu,” tunjuk Nadine pada tumpukan piring kotor bekas masakannya. “Nanti saja temani aku dulu,” titah Daniel pada istrinya. “Baik mas.” “Setelah sarapan kita langsung pulang ke rumah orang tua ku dulu, sambil menunggu renovasi rumah ku selesai. ” Nadine tak menjawab ucapan suaminya, karena ia pun bingung harus menanggapi dengan jawaban apa. *** Setelah hampir dua minggu mereka tinggal di kediaman orang tua Daniel, kini mereka telah menepati rumah yang telah dipersiapkan oleh Daniel, hubungan keduanya cukup terbilang normal, dan selama itu pula tak ada kontak fisik yang berarti meskipun tidur dalam satu ruangan yang sama. Nadine tengah membantu Daniel memasang dasi, bukan keinginan Daniel tapi inisiatif Nadine sendiri, seperti ucapan Daniel ia pun tak tau arah pernikahan yang mereka jalani, namun ia tetap menjalankan peran istri yang baik. Mulai dari memasak sarapan, menyiapkan baju dan keperluan Daniel di pagi hari. “Mas, hari ini aku mulai tugas di rumah sakit tapi sangat jauh dari sini, apa Nadine kost saja yah mas?” tanya Nadine selagi tangannya masih sibuk pada kerah baju Daniel. “Kenapa tidak mencari daerah sekitar sini saja? Kalau kau ngekost, apa kata keluarga, media? Suami kaya tapi istrinya cari duit susah-susah.” jawab Daniel dengan nada tak sukanya. Meskipun ia tau ia telah membebaskan Nadine tapi bukan seperti itu, ia punya selera yang tinggi, ia tak ingin citranya rusak karena menelantarkan istrinya. “Nadine mengabdi pada negeri ini mas, bukan semata-mata mencari penghasilan, papa ku bahkan masih bisa mencukupi kebutuhan ku,” sambung Nadine mencoba sabar dengan nada bicara daniel yang berubah-ubah. “Kau bilang apa? Kau lupa bahkan perusahaan yang ditanganinya hampir bubar, kau pikir aku tak tau, kau itu menikah dengan aku sebagai jaminan keutuhan perusahaan mu, Di mata ku kau tak lebih dari barang. Cari rumah sakit yang ada di dekat sini atau lupakan mimpi mu itu,” lanjut daniel lebih sengit, entah kenapa ia merasa egonya sebagai suami seakan disentil. mendengar Nadine membanggakan papanya, apa perempuan itu merasa ia tidak mampu sekedar menghidupinya? Wanita itu mencelos mendengar perkataan sadis dari suami ia tak bermaksud untuk merendahkan suaminya. “Hina aku sepuasnya mas, tapi jangan papa ku. seakan kau tau semuanya." “kamu yang bilang membebaskan apa pun keinginan ku mas, sekarang kenapa kamu yang tak setuju?” lanjut Nadine dengan susah payah, suaranya tak keluar menahan gejolak panas dalam dadanya. Daniel menghembuskan napas kasar, ia tak berniat menyinggung perasaan sang istri, ingin ia meminta maaf, tapi gengsi lebih merajai dirinya. Daniel memilih keluar kamar meninggalkan Nadine yang terisak dengan langkah yang berat, ini pertengkaran pertama mereka selama menikah. Saat Daniel melintasi ruang tengah ia melihat dua piring nasi goreng yang telah terhidang di atas meja karena antara ruang tengah dengan dapur tidak ada sekat pembatas, daniel pun memakan masakan sang istri meskipun ia tak terbiasa sarapan pagi, tapi menghargai usaha Nadine untuk membuatkannya sarapan. *** Daniel mencoret-coret semua laporan yang ia terima dari sekretarisnya, meski raganya berada di kantor tapi pikirannya berkelana memikirkan istri yang ia bentak, hanya karena sang istri terlalu membangga-banggakan papanya. “Pak, apa bapak perlu sesuatu sepertinya anda tidak fokus?” tanya Yoga. “Ah? Tidak, aku cuma banyak pikiran saja,” jawab Daniel tak lagi profesional. “Istri di rumah hmm? ayolah aku sahabatmu dari orok, yang sialnya menjadi sekretaris mu, aku tau semuanya dari raut wajahmu Daniel." Daniel menaikkan alisnya sebelah sebelum akhirnya berdehem pelan. “Salah satunya, dia minta izin untuk menjadi dokter kembali, tapi aku membentaknya. Aku tidak melarang, hanya saja dia meminta tempat yang jauh, dan aku tidak suka dia membandingkan ayahnya dengan diriku,” kata daniel sambil memegang batang hidungnya. “Rubah lah sedikit arogansi mu bro, dia wanita yang baik, jangan sampai menyesal, karena aku yakin kalau dia lepas dari dirimu, banyak yang akan mengantri.” Entah kenapa kata-kata yoga cukup membuatnya berpengaruh, bukan karena ia mencintai istrinya tetapi karena ia takkan melepaskan apapun yang sudah ia miliki, juga reputasinya sebagi seorang pemimpin dan pria. “Ceritakan pada ku apa rasanya menikah?” tanya yoga dengan antusias. “Kau coba lah sendiri,” jawab Daniel sedikit menutupi pernikahannya yang sebenarnya kacau. “Malas, aku masih belum mau menyia-nyiakan masa muda ku yang berharga seperti dirimu.” Daniel tak menggubris ocehan Yoga, laki-laki itu sedang menimbang apa yang akan ia lakukan. “Baiklah, kau nikmati masa muda mu dengan membaca semua laporan ini dan kirim ke email ku, aku pulang. Dan jika ada yang ingin bertemu dengan ku bilang aku sedang cuti menikah,” lanjut daniel mengenakan jas kebesarannya dan meninggalkan yoga dengan segala sumpah serapahnya karena di limpahkan tugas yang seabrek karena ia tinggalkan dua bulan menuju papua dan saat penikahannya. “Maksudnya? Daniel? what the? laporan ini banyak sialan,” racau Yoga pada pintu yang sudah di tutup rapat oleh Daniel. *** Daniel memasuki pekarangan rumah namun sepertinya tidak ada perubahan dari sebelum ia tinggali, ia memang tidak menggunakan jasa pembantu karena menurut Nadine, mereka tidak membutuhkan itu. Bahkan Nadine belum menyentuh nasi gorengnya, Daniel pun menuju kamar mereka, dan ternyata Nadine tengah meringkuk seakan menahan sakit? “Nadine, kamu kenapa tidur di lantai? Tubuh mu hangat, kau sakit?” Bukannya menjawab, Nadine menggeleng pelan. “Kau belum makan kan?” Nadine menggeleng lagi, Daniel pun mengangkat tubuh Nadine menuju ranjang mereka dan keluar mengambilkan nasi goreng yang tadi di masak istrinya itu. “Kenapa tidak menghubungiku kalau kau sakit? aa’ satu suap lagi setelah itu minum, selesai. Kapan terakhir kali kau makan Nadine?” tanya Daniel khawatir “Kemarin pagi saat di rumah papi,” jawab Nadine jujur. “Kau tidak makan dua hari? Kau dokter tentu kau tau menjaga tubuh sendiri Nadine.” “Kemarin siang sampai tadi malam aku terlalu sibuk dengan rumah kammu ini mas, rencana mau sarapan bersama tapi...” Nadine tak melanjutkan kata-katanya ia hanya memiringkan kepalanya dan menghapus cepat air matanya.” cup “Maafin aku, sungguh.” Daniel mengecup kedua mata Nadine yang agak bengkak mungkin akibat menangis terlalu lama.” Sementara Nadine membeku atas perlakuan suaminya, ia tak terbiasa bersentuhan dengan laki-laki kecuali papanya dan pasiennya tentu. “Nanti setelah sembuh kita ke rumah sakit tujuan mu itu, aku akan mengantar.” Nadine yang semula hanya diam kini tersenyum merekah dan mengangguk cepat “Apa kau perlu meminum obat? atau kau ada meminum obat tertentu?” “Tidak, aku hanya perlu istirahat saja,” tolak Nadine halus, memamerkan senyum khas dirinya yang selalu menyejukkan di mata Daniel. “Mau aku temani?” tanya Daniel. Meskipun ia bercanda tapi jika Nadine mau dengan senang hati ia akan menemani istrinya, lagi pula ia sudah melimpahkan tugasnya pada Yoga. Nadine tak menjawab apapun ia hanya mengangguk dan merentangkan tangannya berharap Daniel memeluknya. Melihat itu Daniel tersenyum dan menarik Nadine dalam pelukannya. Mereka terlelap hingga malam menjelang. *** "Kamu yakin mau bekerja di rumah sakit seperti ini? Kenapa tidak di perkotaan saja? Aku yakin secara peralatan mereka juga lengkap," bisik Daniel saat mengantar Nadine menuju rumah sakit pilihan sang istri. "Di sekitaran sini rawan terjadi kecelakaan mas, makanya Nadine mengincar rumah sakit ini, kalau di perkotaan dari dokter, peralatan sudah mumpuni sedangkan di rumah sakit ini mas lihat sendiri kan, dokternya bisa di hitung jari, niat Nadine ingin mengabdi boleh yah mas," pinta Nadine dengan raut memelas. "Tapi apa kata media nantinya kalau mereka sampai tau kamu bekerja di rumah sakit yang__" Daniel tak melanjutkan ucapannya ia takut salah berucap. "Kenapa mas mesti memusingkan hal yang belum tentu kejadian? Kalaupun media tau, Nadine rasa media tidak akan menjatuhkan kamu, justru media mengangkat nama kamu, meskipun pengusaha tapi istrinya masih mau bekerja di tempat yang jauh dari kata mewah, Nadine bukannya mau pencitraan tapi Nadine udah terbiasa bekerja seperti ini." Nadine sudah kehabisan kata-kata untuk meminta izin pada suaminya. "Nadine yakin gak akan sulit kalau Nadine mau bekerja di rumah sakit terbesar sekalipun, tapi yang seperti itu sudah banyak, Nadine cuma mau mas dukung Nadine itu aja boleh yah mas," ucap Nadine masih berusaha meyakinkan Daniel. Daniel diam tak menanggapi, sejujurnya ia masih kurang nyaman bila istrinya bekerja di tempat yang jauh dan ia tau istrinya pasti lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit mengingat rumah sakit tersebut masih kekurangan dokter. "Yah sudah oke. Kamu boleh bekerja di sini tapi ada syaratnya," ucap Daniel tak terbantahkan. Nadine hanya mengangguk, dalam pikirannya yang penting ia bisa bekerja di rumah sakit tersebut. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD