Sandiwara

1959 Words
Nadine mengamati jalan lintas yang di penuhi dengan mobil-mobil besar. Hampir setengah jam ia berdiri di gerbang rumah sakit namun Daniel belum kunjung datang menjemputnya. Setelah melewati perdebatan yang alot antara dirinya dengan Daniel akhirnya ia bisa mengabdi di rumah sakit ini. Menjadi seorang dokter di rumah sakit yang terhitung cukup jauh dari pusat kota, dan berdekatan dengan jalan lintas, dimana korban kecelakaan sangat banyak, setelah Daniel memberi izin dirinya menjadi dokter kembali, ia memiliki seorang supir pribadi guna mengantar jemput dirinya, jika ia mendapati jadwal tugas pagi maka yang menjemput dirinya di sore hari adalah Daniel, tapi kalau Nadine mandapati tugas malam maka pagi hari yang menjemput dirinya adalah supirnya, ribet memang tetapi ia mencintai pekerjaannya ini. “Nungguin siapa bu?” tanya seorang satpam rumah sakit. “Nunggu suami saya jemput pak, sebentar lagi sampai mungkin terkena macet.” “Oalah sudah menikah toh, saya pikir masih sendiri, kalau masih sendiri mau saya jodohkan dengan anak saya, beliau dokter juga tapi dinas luar kota,” ucap satpam itu, tampak membanggakan sang anak. “Oalah bapak, ada-ada saja, itu suami saya sudah sampai, mari pak,” jawab Nadine sopan saat melihat mobil Daniel tengah menyebrang jalan menuju dirinya. “Sudah lama?” Tanya Daniel saat Nadine menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. “Tidak, paling nunggu lima menit, kita langsung pulang atau singgah kemana dulu mas?” “Tadi papi nelpon ngundang kita makan malam sekalian BBQ dan persiapan pernikahan Nasya.” “Ialah, hari apa nasya nikahan mas? Aku lupa.” “Hari jumat ini nikahnya. Cuma resepsinya tiga minggu lagi, karena untuk minggu ini hotel yang dia mau penuh.” “Kita belum nyari baju mas, mana tinggal lima hari lagi,” ucap Nadine mengarahkan pandangannya pada Daniel. “Sekalian ngambil baju kamu, mami udah buatin baju buat kita,” ucap Daniel tetap fokus pada kemudinya. Nadine hanya menjawabnya dengan mengangguk, ia lupa sudah mempunyai keluarga baru dengan kebiasaan baru pula, lagi pula ia dikatakan baru dalam mengikuti pesta pernikahan keluarga inti, selain keluarganya sendiri. “Kalau kamu capek baring saja, nanti aku bangunin,” ucap Daniel membiasakan diiri memanggil dirinya dengan sebutan mas. “Iya mas aku capek tapi gak apa aku baring?” Nadine merasa sungkan pada suaminya. “Iya Nadine, gak apa.” *** Suasana di rumah Daniel sangat ramai, tidak hanya keluarga inti saja tapi sanak saudara jauh pun pada datang. sepupu, keponakan bahkan sesepuh pun turut hadir pada acara bakar-bakar tersebut. “Kenapa kamu gak bilang kalau ini arisan keluarga kamu? Kan aku jadi gak enak datang tanpa bawa apa-apa, untung aku sama Nasya badan nya gak jauh beda, jadi bisa minjem baju,” bisik Nadine pada suaminya, dan tentu mereka jadi sorotan para keluarga lainnya. “Kamu gak nanya,” jawab Daniel tak kalah berbisik hingga seperti meniup kuping Nadine. “Ekhem pengantin baru maunya nempel mulu, udah ada kabar baik belum ni Daniel?” tanya salah satu keluarga Daniel. “Belum eyang, kami masih tahap pengenalan dulu, iya kan sayang?” ucap Daniel masih menggenggam jemari Nadine. “Kalian nunda?” tanya sepupu Daniel dengan nada sinis, yang di perkirakan usianya tak jauh dari Nadine. “Tidak mba, kami bukan nunda hanya kami masih seru dengan segala remeh-temeh rumah tangga,” jawab Nadine dan mendapati pelukan hangat dari Daniel. “Kamu tuh yah Siska, masih aja usaha. Cari yang lain jangan ngarapin Daniel lagi, Daniel sudah ada yang jagain,” timbrung mami Daniel, saat itu Nadine tau kenapa saat awal berkenalan dengan Siska, sepupu Daniel satu itu seakan kurang menerima dirinya. “Bukan gitu, aunty, Siska cuma ingin yang terbaik buat mas Daniel.” “Terimakasih yah Sis, tapi mas mu ini sudah ada yang merawat luar dalam,” ucap Daniel dan tentu mendapat siulan dari seluruh keluarga, apa lagi mendapati muka Nadine langsung memerah karena malu. “Akhh sakit sayang, jangan nyubit-nyubit,” sela Daniel saat di hadiahi cubitan di pinggangnya. Benar-benar suaminya ini pembual yang hebat. *** Tiba saatnya acara bakar-bakar di mana para wanita mendapat tugas bagian membakar hanya Nadine dan Nasya mendapati tugas menyiapkan minuman. sedang para lelaki tengah membuka buah durian sambil sesekali membicarakan bisnis mereka. “Mbak, bagaimana rasanya hidup dengan mas Daniel?” Tanya Nasya antusias. “Apa yah Sya? kayanya harus banyak-banyak menyesuaikan diri, tingkah mas mu sering berubah-ubah,” ucap Nadine yang angguki oleh Nasya. “Mba sebelumnya sudah pernah berjumpa dengan mas Danie?" Tanya nasya penasaran. “Pernah, sebelumnya kami pernah bertemu di Papua. Mba dinas di sana, waktu itu mba menyelamatkan kucing yang hampir ditabrak mobil, ternyata itu mas mu dan yahh mas mu itu nyerocos nyalahin mbak. Terus tiga hari setelah insiden hampir tabrakan, rumah sakit yang di rancang oleh mas mu roboh, kebetulan dari rumah sakit mba yang bertugas ke lokasi untuk melakukan penyelamatan darurat, kami ketemu lagi. Setelah itu mbak gak jumpa lagi, sampai mbak di jodohkan dan ternyata dengan mas mu,” jawab nadine tanpa mengatakan semua kepahitan yang sebenarnya. Mendengar itu Nasya hanya mengangguk saja. “ Oh, iya mbak kemarin aku lihat story nya mas Daniel, dia share foto mba sambil tersenyum di rumah sakit, mba udah tugas lagi?” “Iya, habisnya mba terbiasa bekerja jadi kalau diam di rumah aja rasanya suntuk, bingung mau ngapain,” Jawab Nadine apa adanya. “Mba kan bisa kerja di kantor, setau Nasya mbak sarjana manajemen juga kan?” “Iya maba juga tamatan manajemen, tapi mbak lebih tertarik menolong orang dari pada ngasilin duit,” jawabnya sambil nyengir kuda “Kalau aku mah hobinya ngabisin duit mba,” lanjut nasya dan mereka tertawa tertahan. Mengingat banyak keluarga yang datang. “Ekhem… tumben kamu rajin Sya? Biasanya kamu cuma duduk-duduk kalo enggak makan,” ucap Daniel sambil meraih pinggang Nadine posesif. “Sok tau, aku tuh aslinya rajin, mas Daniel aja yang gak tau,” ujar Nasya tak acuh. “Kamu mau minum mas?” tanya Nadine menawarkan minum yang sedang mereka buat. “Boleh.” Nadine kembali tersenyum memberikan secangkir untuk suaminya. "Terima kasih." "Kamu ngapin sih ke sini mas? kami lagi gibahin kamu. pergi sana!" suruh Nasya dengan nada kesal yang dibuat-buat. “Dosa! lagian mas mau jemput istri mas biar nggak kamu cuci otaknya." "Memang, sekalian aku mau ngenalin mba Nadine sama cowo-cowo ganteng." "Ada apa mas?" tanya Nadine menyela cepat ketika Daniel hendak kembali membalas ucapan adiknya. "Kamu dipanggil mami." Nadine mengangguk pelan. "Sya, mba tinggal bentar yah." "kamu lihatin yang benar!" ujar Daniel sebelum mengikuti langkah istrinya. “Kamu masuk gih, di sana rame cewe semua, aku tunggu disini," tunjuk Daniel pada kamarnya di rumah itu. “Assalamualaikum mi, tadi kata mas Daniel mami nyari Nadine, ada apa mi? "Mami mau ngasih kamu baju sarimbit, udah sekalian mami jahit kemarin, kebetulan ukurannya mami masih simpen.” “Ini modelnya gak pakai kerudung yah mi?” “Oalah, mami lupa kamu makai kerudung yah?” “Yah udah ini buat Siska saja, nanti kamu mami buatin lagi.” “Terserah mami, Nadine ngikut mana baik saja,” lanjut Nadine dengan perasaan kecewa, tapi kecewa karena apa? “Nadine pamit ke kamar mas Daniel dulu yah mi, tadi mas Daniel bilang kalau dia nunggu di sana saja,” ucap Nadine, dengan senyum tulus. “Iya, jangan lupa ajak suamimu ke bawah acaranya belum selesai.” *** “Kenapa mukanya di tekuk gitu?” tanya Daniel melihat wajah kusut istrinya. Tanpa menjawab pertanyaan suaminya Nadine berhamburan memeluk suaminya. Daniel yang tidak siap dengan dorongan Nadine pun berakhir dia atas ranjang. “Nggak papa,” jawab Nadine sambil menyembunyikan wajahnya pada d**a bidang milik suaminya. “Bohong, kalau kamu nggak papa terus kenapa mata kamu merah? kamu habis nangis? atau mami ada nyakitin kamu?” tanya Daniel menarik Nadine menghadap dirinya. “Enggak mas, tadi mata aku kelilipan." Daniel diam, meski ia tidak percaya dengan ucapan istrinya. “Terus kenapa peluk-peluk?” Bisik Daniel dit telinga Nadine, membuat sang empu tersentak dan melepaskan pelukan suaminya. “Mas! Eh kamu kok bau rokok? Kamu merokok mas? Kok aku gak tau? rokok itu gak baik, kurang-kurangin mas!" “Iya ibu dokter, aku hanya merokok di kamar ini. sekedar mengenang masa lalu.” Nadine mengangguk pelan, toh suaminya sudah dewasa, yang penting laki-laki itu tidak merokok di dekatnya. “Mas, kata mami kita disuruh kebawah, kebawah yok.” Nadine berdiri menarik tangan suaminya. “Tidak sebelum kamu jujur, kenapa kamu nangis?” Daniel menarik kembali Nadine dalam pelukannya. Kali ini ia lebih siap. “Mas cepetan nanti kita di kira ngapa-ngapain coba, lama-lama di kamar kamu." “Biarin sama istri sendiri juga,” Daniel mengeratkan pelukannya memejamkan matanya dalam-dalam seolah ada hal yang ia tahan. “Mas serius, aku udah laper,” rengek Nadine. “Yah udah ayo kita turun, kasian cacing kamu sudah pada demo?” Daniel mengacak hijab yang di gunakan istrinya. “mas! jangan rusakin susah tau rapiinnya,” Nadine berlari menuju cermin kamar Daniel, sebenarnya ia merasa gugup dengan sentuhan suaminya itu. “Enggak sampai kusut juga kok udah yok turun,” ajak Daniel menggenggam tangan istrinya. *** Acara yang tadinya kaku kini semakin seru karena para muda-mudi memegang kendali acara. Sedangkan para tetua membicarakan pernikahan Nasya yang seminggu lagi akan digelar. berbagai permainan di mainkan mulai dari permainan kartu, bahkan Truth or Dare. Nadine hanya sebagai penonton karena yang bermain hanya para pria termasuk Juan, calon suami Nasya pun ikut serta. “Truth or dare? " tanya sepupu Daniel ketika moncong botol mengarah pada Daniel. “Truth,” jawab daniel tanpa ragu. “Payah! lemah! huuu!” sorak sorai semuanya termasuk Nasya meneriaki abangnya. “Ayolah, aku udah punya istri tidak mungkin meladeni otak koto kalian semua, jadi tanya apapun.” “Ciuman pertama kalian berdua di mana?” tanya salah seorang yang sepupu daniel. yang tentu saja membuat seluruh mata mengarah ke Nadine. “Skip, itu urusan dapur harus ada sekolahnya pertanyan yang lain,” tolak Daniel “Malam pertama kalian selesai berapa ronde?sm Siapa yang tepar duluan?" “oh s**t! pas, dare.” “Pengantin baru malu-malu,” ucap Nasya menambah-nambah. ingin rasnya Nadine menyumpal mulut iparnya itu. “Cium mbak Nadine di depan kami atau minum ini,” tunjuk mereka pada salah satu minuman beralkohol yang memang mereka sembunyikan dari orang tua mereka. Tanpa di sangka Daniel menarik jaketnya dan menutupi setengah wajah nya dengan Nadine dan menciumnya cukup intens membuat Nadine terpaku seakan waktu dan dunia terpusat pada dirinya. siulan serta tepukan riuh membuat mereka sadar dari kegiatan mereka. Tanpa rasa berdosa setelah mengusap sudut bibir istrinya yang basah Daniel merangkul pundak nadine posesif, sedang Nadine masih terpuruk dengan rasa terkejutnya. **** Jam kini menunjukkan pukul setengah dua belas malam mereka semua pamit meninggalkan kediaman keluarga Mahesa tak terkecuali Daniel dan Nadine. Meski kecanggungan merajai mereka berdua, Daniel berusaha untuk terlihat biasa saja seolah itu bukan lah sesuatu yang besar. Benar-benar gila ciuman pertama mereka sebagai suami istri harus menjadi konsumsi banyak orang, meskipun mereka menganggap biasa namun tidak bagi Nadine, ia benar-benar malu. “Aku senang malam ini terimakasih,” ucap Daniel “Untuk?” tanya Nadine tanpa menoleh rasanya ia masih malu melihat wajah suaminya “Untuk akting kamu, kamu benar-benar melakukannya dengan baik, kita layaknya pasangan suami istri beneran,” ucap Daniel meninggalkan Nadine sendiri di atas mobil. Menyedihkan, ingin rasanya Nadine menangis sekencang-kencangnya, namun ia tahan. Ia hanya sesenggukan kecil. Jadi, selama ini kedekatan mereka agar Nadine bisa bagus dalam berakting untuk hari ini? Bagus sekali kau berharap pada Daniel Nadine. Bukan nadine rasanya jika harus kalah dalam permainan seperti ini, ia bukan wanita lemah, ia akan ikut permainan ini. “Maaf kan Nadine bu,” ucap Nadine dalam diamnya yang ia utarakan pada ibu yang belum ia lihat parasnya entah seperti apa. Nadine menghapus air matanya dan keluar mobil menyusul suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD