Dilema

1938 Words
Sudah dua hari semenjak acara bakar-bakar mereka kembali seperti hubungan sebelumnya, meski tak selalu dingin karena Nadine cukup pandai dalam mengembalikan situasi meski terkadang ia merasa lelah, begitu pun Daniel, seakan ia tak merasa telah menyinggung perasaan Nadine. sudah dua hari ini Nadine di antar jemput oleh Daniel karena supir Nadine sedang cuti nikahan anaknya. “Mas, kemarin sebelum kita ke rumah mami aku nunggu kamu dekat pos satpam, teruskan yah satpamnya ngira aku masih single, bapak itu lamar aku buat anaknya,” ujar Nadine teringat momen tersebut pada suaminya. Setttt… sontak saja Daniel melakukan rem mendadak yang membuat Nadine terpelanting ke depan untung seatbelt terpasang jika tidak maka bisa di pastikan ia mendapat cidera atau benjol di kepala. “Kamu bilang apa tadi? dia melamar kamu? Terus kamu jawab apa?" tanya Daniel menggebu tanda tak suka, tanpa menanyakan kondisi istrinya terlebih dahulu. “Mas, kamu tuh jangan keseringan rem mendadak kaya tadi, nanti kita bisa tabrakan beruntun mas,” ucap Nadine kesal pada suaminya. “Jawab pertanyaan aku Nadine, kamu bilang apa sama satpam itu?” “Yah tentu saja aku bilang kalau aku sudah menikah mas, memang kamu kira aku akan jawab apa?” jawab Nadine tersulut emosi, ia kesal pada suaminya. Mendengar jawaban istrinya Daniel diam dan melanjutkan perjalanan mereka dan lebih memilih diam dalam hati ia lega. “Astagfirullah mas, maaf Nadine enggak bermaksud membentak kamu.” sesal Nadine, ia benar-benar bingung dengan dirinya sendiri. “Kalau nunggu jemputan di parkiran aja gak usah dekat satpam itu." “Iya mas.” Keheningan terjadi sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, entah kemana perginya keceriaan yang mereka ciptakan saat sarapan tadi. “Nadine turun, makasih mas," karena tak kunjung mendapat jawaban dari suaminya, Nadine memutuskan keluar hingga, "Nadine," panggil Daniel meraih tangan istrinya, sebelah tangannya menarik kembali pintu yang sudah dibuka oleh istrinya. "Mas?" tanya Nadine bingung tiba-tiba suaminya mengecup puncak kepalanya cukup lama. "Maafin aku, tadi kamu pasti kaget sekali, aku tidak bermaksud, sungguh." Nadine mengangguk pelan. "Udah nggak usah nangis, turun gih, atau mau aku antar sampai dalam?" *** “Maaf mas malam ini Nadine lembur lagi, besok pun Nadine jadwalnya tugas pagi, jadi nanti mas gak usah jemput,” pesan Nadine pada Daniel. Sebenarnya ia tak ada tugas lembur, Nadine merasa malas berjumpa Daniel. Saat istirahat makan siang, Nadine iseng mencoba mengetik Nama suaminya di jejaring media sosial hingga media massa. Dan hampir semua portal berita menayangkan berita minus mengenai suaminya, bahkan ia mendapati vidio Daniel tengah di keroyok oleh wanita-w*************a. saat itu luruh sudah air matanya, ia sudah jatuh hati pada suaminya, bahkan saat akad di bacakan ia sudah jatuh hati pada suaminya. apa ia bisa menerima masa lalu suaminya? Tak sampai disitu ia mendapati pesan dari Dimas, kekasihnya mendapat Beasiswa spesialis di Eropa, dan memintanya bersabar mengenai hubungan mereka. Nadine semakin galau. dua bulan pernikahannya membuat ia lupa jika memiliki kekasih, ia sadar statusnya sebagai istri lebih tinggi dari pada kekasihnya yang jelas-jelas hubungan seperti itu di tentang oleh agama, Nadine semakin yakin untuk tak menemui suaminya terlebih dahulu ia ingin menenangkan hatinya. Lamunan Nadine buyar saat ponselnya berdering dan nama 'My hubby' menghiasi layar ponsel pintarnya, bukan hanya sekali bahkan berkali-kali, ia yakin suaranya yang serak akibat menangis membuat suaminya ke sini, entah lah apa iya terlalu berharap? “Maaf mas Nadine baru dapat istirahat, dari tadi pasien sedang banyak, rasanya badan Nadine pegal semua. ” Nadine mengirim pesan pada Daniel, ia tak ingin suaminya khawatir bagaimana pun ia tanggung jawab suaminya. "Aku mau nelpon kamu, sekarang.” isi pesan suaminya delapan belas jam yang lalu. “Maaf mas, tadi Nadine ketiduran dan baru membuka hp.” Nadine kembali membalas pesan Daniel pukul 4 dini hari. “Aku tak tau aku salah apa Nadine, tapi ingat besok Nasya nikah, jadi aku akan menjemput kamu sore ini, ada atau tidaknya jadwal kamu Nadine,” pesan Daniel, ia baru ingat kalau adik iparnya akan menikah besok. “Iya mas nanti aku cari pengganti.” jawabnya membalas pesan suaminya. Tugasnya memang sudah bebas tapi rasanya ia malas untuk pulang jadi ia memilih tidur di ruangan khusus dokter. *** “Mbak, jangan lupa datang malam ini yah” Nadine membaca pesan dari Nasya. “Iya Sya nanti mbak datang bersama mas Daniel.” Nadine hendak membalas pesan Nasya, ia melihat notifikasi dari suaminya. “Jangan nunggu di dekat satpam itu lagi, nanti aku jemput ke dalam saja.” *** Hampir setengah jam Nadine menunggu suaminya di area parkir mobil yang cukup jauh dari pos satpam sesuai permintaan suaminya. “Maaf aku terlambat, kamu sudah nunggu dari tadi?” Nadine tersenyum simpul. “Lumayan, mau langsung ke rumah mami atau pulang dulu?” “Langsung ke rumah mami, kita makan malam di sana saja.” Tak ada balasan dari Nadine, ternya perempuan itu telah tertidur. Tangan Daniel terulur merapikan khimar yang digunakan sang istri, tak hanya itu tangannya turun mengelus pipi halus Nadine. tak sampai lima belas menit ia tertidur, Nadine terbangun ketika mendengar suara adzan dari ponselnya. “Mas, masih kejebak macet yah? Kamu ada air buat aku minum gak mas?” “Ada ni tapi bekas aku mau?” Daniel menyodorkan botol air mineral yang hanya tinggal setengah. “Iya ga papa mas, yang penting ada buat batalin puasa.” “Kamu puasa?” Tanya Daniel sambil mengerutkan wajahnya, ia mengetahui salah satu kebiasaan sang istrinya, walaupun di kelilingi kesibukan tapi tak lupa mengerjakan ibadah, sedangkan dirinya melakukan yang wajib saja selalu kena omel dulu oleh Nadine baru ia mengerjakannya. “Iya mas, selagi tamu bulanan ku belum datang.” Nadine sedikit canggung meskipun ia dokter tapi canggung rasanya mengatakan hal itu pada suaminya. “Kenapa wajah kamu merah begitu? Jangan bilang kamu malu sama aku? Ya ampun Nadine umur kamu berapa sih? Aku punya mami sama adik perempuan, jadi itu sudah tidak tabu buat aku santai aja.” “Bukan malu, tapi canggung,” bela Nadine tak terima, bagaimanapun ia lebih berpengalaman mengenai hal itu. "Terserah kamu saja Nadine, mau berhenti di mana?" “Tidak kemalaman apa mas? Rumah mami kan masih jauh.” “Nggak papa, sekalian kita cari masjid terdekat, buat Maghrib dulu.” cup… Entah dorongan dari mana Nadine mencium pipi suaminya, ia merasa senang atas perubahan Daniel dan sedikit lupa mengenai pemikirannya terhadap suaminya ia yakin semua orang punya masa lalu dan berhak untuk kesempatan kedua. “Jangan ganggu konsentrasi ku bu dokter, kamu tau kecelakaan akibat kelalaian mengemudi hmm?” “Maaf mas aku kelepasan,” ujar Nadine tersenyum malu atas tingkahnya barusan. “Mas, kita makan sate padang aja yah kamu mau gak?” tawar Nadine. “Yakin cuma sate?” “Iya, nanti kita pasti disuruh mami makan, kan gak enak kalau nolak.” “Ya sudah, kita solat magrib dulu, abis itu kita cari sate padang.” *** Sesampainya Daniel dan Nadine di kediaman Mahesa. Mereka disambut oleh beberapa keluarga Daniel. Rumah yang semegah ini dipenuhi oleh beberapa keluarga besar juga beberapa ibu-ibu komplek yang mengenakan pakaian seragam dan menenteng alat musik rabana guna mengiringi acara bainai Nasya malam ini. Setelah menyapa semua tamu dan orang tua mereka, Daniel menuntun Nadine ke kamar mereka untuk beristirahat dan bersih-bersih sebelum keluar bergabung bersama yang lain. “Kamu dulu juga begini?” Tanya Daniel keluar dari kamar mandi dan mendapati sang istri sudah selesai berbenah. Nadine tampak lebih anggun dari biasanya dengan riasan natural membuat ia tampil lebih muda dari usianya. Semua yang dikenakan Nadine tampak sempurna di mata Daniel, ia mengagumi sosok istrinya itu, ia tak hanya mahir dalam jahit-menjahit pasien tapi juga dalam urusan perutnya, istrinya itu sangat jago dalam hal keduanya. “Iya, tapi aku gak terlalu ramai seperti ini, aku cuma di kamar aja bareng mama, mami, Nasya, Ara terus beberapa temen aku, abisnya aku malu dilihat-lihat orang,” jawab Nadine sambil merapikan rambut Daniel yang sedikit berantakan. “Udah ganteng suami aku, kita turun yok acaranya sebentar lagi mulai.”.Daniel tersenyum dan menggenggam tangan istrinya berjalan menuju ruang tengah yang sudah disulap sedemikian rupa sesuai keinginan sang adik. Semua orang telah berkumpul di ruang keluarga Mahesa, dengan Nasya berada di tengah-tengah di kelilingi oleh ibu-ibu dan kerabat keluarga wanita, karena acara ini dikhususkan untuk kaum wanita saja. dengan posisi tertidur karena akan dipasangkan inai oleh mak Andam yang di tunjuk, saat itu Nasya meminta Nadine mendampingi dirinya. Alunan salawat dan doa-doa mengawali prosesi ini diiringi oleh ibu-ibu pemain rabana. Semua prosesi terlewati dengan penuh suka cita, Nadine juga turut andil mengenakan inai pada jari-jemari Nasya, sedangkan para pria berkumpul di tempat lain menikmati suguhan yang di sediakan pihak yang punya hajatan. “Nasya kamu udah makan malam?” Tanya Nadine melihat waktu hampir menunjuk puku setengah sebelas malam. sedangkan acara telah selesai setengah jam yang lalu, belum ada yang pulang memang, semua kerabat dan warga sibuk berbincang juga menikmati makanan yang ada. “Belum mba, abisnya dari tadi ribet banget jadi kelupaan akunya.” “Kalau mba suapin mau? dari pada ntar kamu sakit, ingat besok harinya kam loh.” “Sebenarnya Nasya juga laper tapi takut gendut, ntar malah nggak muat dress nya.” “Engga bakal kecuali kamu makan malem tiap hari, kalau gitu aku ambilin bentar.” Nadine menyuapi Nasya dalam keadaan setengah tidur, karena tangan dan kakinya sedang diinai. Apalagi tangannya menggunakan inai daun yang digiling halus dengan beberapa bahan lainnya seperti gambir, kunyit juga asam. Hingga mudah jatuh jika terlampau banyak bergerak, bahkan menggaruk pun perlu bantuan orang sekitar, Nasya benar-benar menikmati malamnya sebagi ratu. “Manja banget sih kamu dek, mas aja belum pernah disuapin mba mu Sya,” ucap Daniel yang baru saja tiba. “Iri aja ni mas satu, nggak lihat ni tangan aku dibuntelin inai gede-gede gini?” Nasya menunjukkan sepuluh jarinya pada Daniel.” Daniel tak menghiraukan ocehan adiknya ia hanya mengacak rambut adiknya dan mengecup puncak kepala Nasya sebelum pandangannya teralih pada istrinya. “Nadine, kita disuruh mami tidur di sini, menurut kamu gimana?” “Aku terserah kamu aja mas, lagi pula ini juga udah kemalaman untuk kita pulang,”jawab Nadine sambil kembali menyuapi nasya. “Ntar mbak tidur bareng aku yah, kita tidur di kamar pengantin aku.” “Terus aku tidur bareng siapa kalau Nadine bareng kamu Sya?” sela Daniel tak terima dengan usulan adiknya. “Mas sendirian aja, udah gede kan?” ucap Nasya tak acuh. Sedang Nadine hanya geleng-geleng sendiri melihat tingkah kaka beradik satu itu. *** “Nasya udah tidur?” Tanya daniel sedikit berbisik saat ia memasuki kamar pengantin adiknya. “Ya ampun, kaget aku mas,” ucap Nadine memegang dadanya. sepertinya istrinya baru menyelesaikan ibadah malamnya. “Maaf-maaf, Nasya udah tidur kan yah? kamu tidur bareng aku yuk, dari tadi mata aku gak mau tidur.“ “Yah udah iya ayok,” dengan langkah pelan Nadine keluar dari kamar Nasya menuju kamar suaminya. “Pantes aja kamu gak bisa tidur orang kamu kerja,” sindir Nadine melihat kamar mereka yang berantakan oleh kertas-kertas yang berserakan hampir seluruh penjuru kamar. “Iya kerjaan aku lagi banyak, belum lagi email dari Yoga yang baru sempat aku pelajari, abisnya aku kepikiran kamu terus yang sibuk ngindarin aku.” “Aku gak ngindarin kamu kok mas, rumah sakit lagi banyak pasien, jadinya para dokter kerja ekstra deh,” jawab Nadine sambil mengapit kedua jemarinya kebiasaanya ketika menutupi sebuah kebohongan. “Aku ke rumah sakit kamu kemarin, kamu bahkan sibuk tertawa dengan beberapa lansia, bahkan kamu juga tidak ada jadwal, jadi aku pikir kalau kamu menghindari aku.” Nadine menghela nafas seperti orang pasrah. “Aku ngetik nama kamu di internet, sosmed. Isinya berita miring semua bahkan kamu… kamu… dipegang-pegang banyak perempuan.” Shit!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD