Sore hari itu, Sekar duduk sendirian di balkon kamar kos, memandangi jalanan kota yang tak pernah tidur. Angin membawa aroma debu dan polusi, jauh dari segarnya udara desa yang dulu menemaninya setiap pagi.
Pintu kamar diketuk, membuat lamunannya buyar. Mbak Rina muncul dengan senyuman khasnya, namun sorot matanya menyimpan keseriusan.
"Aku mau ngobrol serius, Sekar," ujar Mbak Rina sambil duduk di sebelahnya.
Sekar mengangguk, menunggu dengan jantung berdebar.
“Ada teman yang butuh teman ngobrol… hanya ngobrol dan nemenin makan malam. Bayarannya besar. Kamu tertarik?”
Sekar menatap Mbak Rina dengan ragu. “Cuma nemenin makan malam?”
Mbak Rina tersenyum samar. “Awalnya begitu. Tapi kadang... kamu tahu sendiri. Tapi semua tergantung kamu. Nggak ada yang maksa.”
Sekar terdiam. Uang kos, makan, kebutuhan bulanan—semuanya terus menghantuinya.
“Aku... butuh uang,” bisiknya pelan.
Mbak Rina menepuk bahunya. “Tenang, aku bantu kamu. Tapi kamu harus siap mental.”
Malam itu, Sekar berdiri di depan cermin, merias wajahnya seadanya. Pakaian pinjaman dari Mbak Rina membungkus tubuhnya. Ia menatap bayangannya sendiri, merasa asing pada perempuan yang kini siap melangkah ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tawaran ini memang tak bisa ditolak. Tapi harga yang harus dibayar, belum tentu mampu ia tanggung.