Sekar terduduk di atas ranjang kontrakan sempitnya. Hening malam tak mampu menenangkan gelisah di dadanya. Bayangan tentang ibunya, Atun, dan adik perempuannya, Nana, terus menghantui pikirannya. Sudah tiga hari Sekar belum sempat mengirim kabar ke desa. Bukan karena lupa, tapi karena malu.
Pekerjaan yang ia lakoni di kota bukan seperti yang dibanggakan pada keluarganya. Bukan juga seperti yang ia janjikan sebelum pergi dari desa: bekerja di butik, jadi asisten fashion designer, atau semacamnya. Nyatanya, ia terjebak jadi pemandu karaoke di tempat hiburan malam.
“Sekar…” suara berat itu terdengar dari balik pintu.
Sekar menghapus air matanya cepat-cepat. Ia tahu suara itu, suara Fadil—pria yang selama ini membantunya bertahan di kota. Pria yang telah membawanya masuk ke dunia malam, tapi juga satu-satunya yang membuatnya merasa tidak sendirian.
“Iya, Mas Fadil. Ada apa?”
Pintu terbuka. Fadil melangkah masuk, menatap Sekar dengan sorot mata yang sulit diterjemahkan. “Besok ada tamu spesial, bayarannya gede. Kamu harus siap.”
Sekar hanya mengangguk. Di dalam hatinya, ia menjerit. Ia tahu, tamu “spesial” berarti hal-hal yang tak ingin ia lakukan.
Tapi hidup di kota tak semudah angan-angan. Apalagi untuk gadis desa yang hanya ingin keluarga bangga, tapi malah tersesat dalam gemerlap semu kota yang mematikan nurani.
---