Terminal itu bising, penuh teriakan calo dan deru kendaraan yang tak pernah berhenti. Sekar berdiri canggung di tengah kerumunan, memeluk erat tas kecil yang berisi seluruh hidupnya. Matanya sibuk mencari sosok Tante Mira, tapi yang ia temukan hanyalah wajah-wajah asing yang lalu lalang tanpa peduli.
“Sekar?” suara seorang pria terdengar dari belakangnya.
Ia menoleh cepat. Seorang lelaki tinggi dengan kemeja hitam dan raut wajah tajam berdiri tak jauh darinya. Ia tampak tidak asing, tapi Sekar yakin tak mengenalnya.
“Iya... saya Sekar,” jawabnya ragu.
“Aku Fajar. Temennya Tante Mira. Dia lagi di luar kota, jadi dia nitip aku buat jemput kamu.”
Sekar mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan rasa curiga yang mulai merayap. Tapi tatapan Fajar terlalu tenang, terlalu meyakinkan. Ia mengulurkan tangan, membantu Sekar membawa tas, lalu mengajaknya ke mobil hitam yang terparkir di ujung terminal.
Sepanjang perjalanan, Fajar banyak bicara—tentang kota, pekerjaan, dan bagaimana hidup di Jakarta menuntut kekuatan mental. Sekar hanya mengangguk sesekali, menyimpan kegugupan dalam diamnya.
Namun yang tak ia tahu, tatapan Fajar di balik kaca spion menyimpan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya sekadar keramahan. Tapi rasa ingin memiliki.
Dan malam pertama di kota itu… bukan dimulai dari pelukan hangat keluarga, melainkan dari sebuah pintu apartemen asing yang terkunci rapat dari dalam.