Chapter 4 : Fuller's Teasel

1337 Words
Saat Raph hendak melangkah lebih jauh lagi, Faikar berucap panik. “Tunggu! sebaiknya kita pergi dari sini.” Raph menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Faikar yang berucap persis seperti sebelumnya. “Raph?” tanya Sandara meminta kepastian, ia juga merasa takut kejadian sebelumnya terulang. Raph terdiam sejenak sebelum kemudian mengangguk pada Sandara, maka dengan cepat Sandara mengemasi barangnya, sementara Faikar berusaha berdiri dari posisinya dengan perlahan. “Apa kau sudah bisa berdiri?” Sandara menatap Faikar dengan khawatir tetapi terlalu takut untuk memegangnya, pemuda itu hanya mengangguk seraya berjalan pelan. “Baiklah, ayo!” Raph mengambil tas miliknya dan milik Faikar, meskipun ia terlihat sangat membenci Clairvoyant tetapi ia masih memiliki otak untuk tidak membiarkan seseorang yang sakit menggendong tasnya sendiri. Ketika mendengar kembali suara ranting yang terinjak, Faikar berbisik memerintahkan agar mereka berlari, maka ketiganya berlari dengan cepat meskipun keadaan Faikar belum memungkinkan. ‘Rasa sakitnya sangat terasa ketika berlari, ini gawat!’ Faikar terus menahan rasa sakitnya dalam diam ditengah pelariannya dengan kedua orang itu. Brugh! Tetapi tidak lama, Faikar terjatuh karena sudah tidak kuat menahan rasa sakit pada kakinya. “Faikar!” Sandara berteriak ketika ia melihat Faikar yang terjatuh di belakangnya, kemudian ia berlari kembali menghampiri Faikar yang memegangi kakinya. “Cih...” Raph mendesis, ia berlari kembali menghampiri keduanya. Ia meletakkan kedua tas yang dibawanya dan berjongkok didekat Sandara dan Faikar. “Cepatlah pergi, Ini berbahaya! Lupakan aku, kaki ini terlalu sakit untuk berlari.” pinta Faikar dengan nafas yang memburu, ia takut jika yang ia menghampiri mereka adalah hal yang berbahaya. Sandara dengan cepat menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Faikar. “Apa yang kau katakan? Jika kita meninggalkanmu, kita tidak tahu bagaimana dan harus kemana kita selanjutnya!” ucapan Sandara benar mengenai hal tersebut, Raph menyipitkan matanya dan berkata dengan sedikit rasa kesal disana. “Jika begitu, biar aku hilangkan rasa sakitnya!” saran Raph pada akhirnya, memberikan jalan keluar yang terbaik untuk Faikar. Faikar mengangguk setuju dengan saran tersebut. Namun, baru saja Raph akan mengucapkan mantra penghilang rasa sakit pada Faikar, sebuah suara gadis lembut terdengar ditelinga ketiganya. “Apa yang kalian bertiga lakukan ditempat ini?” ketiganya secara bersamaan melirik kearah seorang gadis cantik yang berdiri dengan menggunakan gaun putih. Ia berdiri dibalik rindangnya pepohonan tersebut sambil memegang sebuah ranting kecil yang dililiti oleh beberapa jenis akar. “Si...” Faikar memegang lengan Sandara, menghentikan perkataan gadis tersebut. Raph yang melihat pergerakan Faikar dengan ujung matanya hanya terdiam, ia mengerti maksud dari Faikar dan mengetahui hal apa yang harus ia lakukan. “Ada apa? Mengapa kalian terdiam? Jawablah aku.” gadis tersebut terheran-heran, namun Raph dan Sandara tetap diam mengikuti perintah Faikar sebelumnya. “Oh, kalian pastilah Clairvoyant!” gadis tersebut bergumam seraya berbalik berjalan menjauhi tempatnya, mereka tetap menatap gerak-gerik dari gadis cantik itu. “Tapi apa yang kalian lakukan disini?” gadis itu yang kembali berjalan mendekati mereka, wajahnya terlihat lugu namun  menakutkan. Dengan kelopak mata bawah berwarna pink, kulit putih pucat serta rambut putih yang amat panjang menjuntai keatas tanah. “Mencari Spina milik Fuller’s Teasel!” kali ini Faikar menjawab pertanyaan tersebut, gadis itu terdiam dengan wajah masamnya. “Langkahi dulu mayat ku!” gadis tersebut mengangkat kedua tangannya dengan anggun, membuat batu-batu yang ada disekelilingnya ikut terangkat keatas seiringan dengan tangannya. Raph yakin gadis itu mempunyai kekuatan yang besar, buktinya saja ia dapat mengendalikan batu. “Sial!” Raph mengumpat ketika batu-batu itu melayang kearah mereka, dengan segera ia mengeluarkan pedangnya. Trak! Trak! Trak! Raph berhasil menangkis seluruh batu itu dengan pedang besar miliknya, ia menatap gadis yang berdiri di hadapannya dengan tajam. “Hm... Kau boleh juga.” gadis tersebut tersenyum saat Raph berlari mendekatinya, dan hendak menebasnya. Ia dengan cepat menghindari kibasan pedang yang hampir memenggalnya itu, “Kau ingin langsung membunuhku? Kalau begitu cobalah lawan aku!” ucapnya. Seketika, ada sebuah angin kencang yang berhembus membuat rambut panjang gadis ini terapung keatas. Batu-batu kecil yang melayang tadi mendekati gadis ini dan menempel pada kulitnya. Gadis cantik yang bertubuh ideal ini pun berubah menjadi sebuah batu berbentuk manusia yang sangat besar. “Apa itu?” Sandara yang shock menatap horor pada makhluk yang kini ada dihadapan ketiganya, ia menunggu penjelasan dari Faikar mengenai makhluk tersebut. “Rock Sinapis.” Faikar menjawabnya dengan menatap kosong kearah monster tersebut. Raph menghela nafas berat ketika melihat perubahan gadis tadi menjadi sesosok Sinapis raksasa setinggi 3 meter, dan itu adalah hal yang harus ia lawan saat ini. “Aku benci monster!” lagi-lagi Raph mengumpat. Setiap kali monster batu itu hendak memukulnya maka dengan segera ia menjauh dengan berlari atau mundur kebelakang, dan hal tersebut berlangsung cukup lama.  “Aku sudah muak! Fraticesa!” ucap Raph mengibaskan tangannya, batu besar itu hancur seketika menyisakan gadis cantik didalamnya yang berdiri seraya tersenyum manis pada mereka. “Hebat! Ternyata kau bisa melawanku.” gadis itu terkagum dengan apa yang dilakukan Raph padanya, ia bertepuk tangan dengan pelan memperlihatkan antusiasnya. “Jangan remehkan aku!” ucap Raph dengan senyum khas miliknya, ia kembali menyombongkan dirinya sekalipun pada musuh. Gadis tadi mengangguk faham dengan maksud sombong Raph, “Kalau begitu, coba untuk melawan kami!” seketika tubuhnya berganda menjadi lima orang dan berubah menjadi beberapa Sinapis dalam bentuk Tanah, Air, Lumpur, Kayu dan Api. Kedua mata Raph melebar melihat hal tersebut, “Sial!” ia mengumpat untuk kesekian kalinya. “Hei, Siapa sebenarnya orang ini?” Raph berteriak pada Faikar dengan kesal, mengapa gadis ini sangat kuat? Bahkan dapat menggandakan diri menjadi lima? “Angela Sinapis, ia adalah penjaga wilayah ini! Persis seperti yang aku katakan sebelumnya.” Faikar berteriak menjawab pertanyaan Raph karena saat ini lelaki itu sedang sibuk melawan lima sinapis tersebut.  “Sandara bantu aku!” pada akhirnya Raph meminta Sandara untuk membantunya saat keenam Sinapis itu membuatnya kewalahan. Tanpa banyak berbicara, Sandara segera mengambil pedangnya dan berlari menghampiri untuk membantu Raph. “Faikar! Katakan apa yang harus kami lakukan?!” Sandara berteriak saat ia melawan Sinapis Api dan Kayu, baginya melawan monster seperti ini tidak cukup hanya dengan pedang ataupun mantra. Harus ada sebuah kelemahan dari dalam diri monster itu yang mereka serang, dan Sandara yakin Faikar mengetahui kelemahan tersebut. Faikar terdiam berpikir ditempatnya untuk waktu yang cukup lama, “Cepatlah bodoh!” umpatan Raph terdengar jelas di telinga Faikar, namun ia hiraukan dan tetap berkonsentrasi memikirkan kelemahan Sinapis. “Satukan!” Akhirnya Faikat memberi sebuah jawaban singkat setelah lama berpikir, ia menatap Sandara dan Raph di depan sana. “Apa?” Sandara terlihat tidak mengerti dengan jawaban singkat yang Faikar berikan. “Apa maksudmu?” begitu pula dengan Raph yang sibuk, ia bertanya ketika mendengar jawaban singkat tersebut. Ternyata Enchanter dan Enchantress itu kurang mengerti dengan jawaban yang Faikar berikan, mungkin karena jawaban tersebut terlalu singkat hingga membuat keduanya bingung. Faikar mendesah dan berteriak dibalik kedua tangan yang ia tempelkan disisi mulutnya, “Satukan para Sinapis itu Raph, satukan ketiganya dengan saling beradu! Begitu juga denganmu Sandara, satukan Sinapis Fire dan Wood itu!” Faikar menjelaskan dengan panjang lebar kali ini, suaranya yang cukup keras dapat didengar jelas oleh keduanya, hingga akhirnya Raph dan Sandara mengangguk setuju. Raph berlari kearah Land Sinapis sementara Water Sinapis dan Mud Sinapis mengejarnya dari belakang, setelah jarak ketiganya terbilang dekat Raph bertolak cepat kesamping kanan sehingga para Sinapis tersebut saling bertubrukan dan bersatu menjadi sebuah Clay Sinapis yang cukup besar. “Ahaha.. aku mengerti sekarang!” Sandara tertawa, ia mengikuti taktik milik Raph dan berhasil menyatukan Wood Sinapis dengan Fire Sinapis menjadi sebuah Fire Sinapis yang lebih besar dari sebelumnya. “Raph!” Sandara memanggil temannya itu, memintanya untuk menyatukan kedua sinapis yang mengejar mereka. Raph melirik dan mengangguk paham, mereka saling berlari menghampiri dari arah yang berlawanan, dan saat mereka sudah berdekatan keduanya bertolak kearah kiri dan kanan dengan sangat cepat hingga mengakibatkan Fire Sinapis yang mengejar Sandara bertubrukan dengan Clay Sinapis yang mengejar Raph. Trak! Kemudian dua Sinapis itu berubah menjadi sebuah patung Sinapis yang terbuat dari tanah liat. “Berhasil!” Sandara berdiri dari jatuhnya, lalu melompat kegirangan meskipun terlihat keringat mengalir dengan banyak dipelipisnya. Sementara Raph masih duduk terdiam mencoba mengambil nafas dengan teratur, tenaganya benar-benar habis. “Ini gila! Mana ada gadis cantik dapat berubah menjadi Sinapis?” Raph bergumam, ia tidak habis pikir dengan apa yang baru saja ia lihat. “Maka dari itu ia dinamakan Angela Sinapis!” Sandara mengejek dengan menjulurkan lidahnya pada Raph. Raph hanya memutar kedua bola matanya, tidak menanggapi ejekan Sandara padanya dan lebih penasaran pada tugas mereka.  “Hei! Dimana letak Spina itu?” Raph berdiri dari tempatnya dan menghampiri Faikar yang masih setia duduk dibawah pohon.     *Angela Sinapis adalah penjaga wilayah pertama, seorang wanita berparas cantik seperti malaikat namun sebenarya adalah seorang monster yang dapat membagi diri dengan beberapa kekuatan elemen alam.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD