Chapter 5 : Something Strange about Eight Family

1192 Words
“Hancurkan Sinapis itu, Fuller’s Teasel yang kita cari ada didalamnya!” Faikar menunjuk patung Sinapis yang tingginya hampir lima meter tersebut. Raph berjalan mendekati patung tinggi itu dan mengibaskan pedangnya dengan kuat. Patung itu terbelah menjadi dua, bagian atasnya yaitu perut hingga kepala terjatuh dengan keras keatas tanah. Sementara bagian bawahnya yang masih berdiri terdapat  Sebuah tanaman kecil berdiri kokoh ditengah inti patung itu tepatnya di bagian perut bawah sinapis tersebut. “Berapa banyak Spina yang harus kita ambil?” Sandara bertanya saat ia memperhatikan tanaman kecil yang berwarna ungu tersebut. “Satu.” Raph dan Sandara melirik Faikar, terkejut ketika mendengar jumlah yang akan mereka ambil. Lelaki yang duduk di bawah pohon itu hanya menatap keduanya tanpa rasa bersalah. “Apa? Kita bertarung melawan 5 Sinapis setinggi 3 meter itu hanya untuk satu buah Spina? Bahkan itu tidak terhitung sebagai sebuah tumbuhan!” protes Raph, ia tidak percaya dengan hal yang didengarnya. Sementara Faikar hanya diam tidak menanggapi celotehan tidak berguna itu. “Kalau begitu aku akan ambil tiga buah saja!” Sandara mengambil jalan tengah untuk perselisihan kecil ini sebelum berkembang menjadi perselisihan yang besar. Sandara memasukan Spina itu kedalam botol kecil dan setelah ia selesai memetik tiga buah Spina, bunga Fuller’s Teasel tersebut hancur menjadi abu. “Ok, kita sudah dapatkan Spina nya! Setelah ini kita akan kemana?” Sandara berjalan menghampiri Faikar. “Kita istirahat disini! Tubuhku sudah sangat lelah.” Raph yang menjawab pertanyaan itu seraya mendudukan tubuhnya dengan keras keatas sebuah kayu yang telah mati. Sandara menatap Faikar menanyakan persetujuannya akan keputusan Raph yang ia ambil seenaknya. Dan tentu saja Faikar mengangguk setuju dengannya, disatu sisi ia memang sudah tidak kuat berjalan ataupun berlari karena kakinya masih terasa sakit dan disisi lain, kedua orang dihadapannya ini pasti sangat kelelahan setelah melawan para Sinapis itu walaupun Sandara tidak memperlihatkannya.   Malam telah datang mengunjungi hutan dimana ketiganya tengah beristirahat, Sandara menghampiri Faikar dan duduk di sampingnya yang sedang memijat kaki. “Ayo kita benarkan kakimu!” Sandara berucap dengan serius namun Faikar terkekeh pelan, mendengar perkataan aneh dari mulut gadis itu. Tidak aneh, hanya saja pemilihan katanya kurang tepat. “Mengapa kau tertawa?” Sandara menatap Faikar dengan heran, ia tidak mengerti atau sebenarnya ia tahu tetapi berpura-pura untuk tidak mengerti apa alasan Faikar tertawa.  “Tidak!” Faikar sesingkat mungkin menjawab dan menghentikan tawanya, ia tidak ingin memperpanjang masalah dengan seorang wanita seperti Sandara di saat seperti ini. “Hh...” Raph yang tengah berbaring dibawah sebuah pohon, menertawai mereka. Dan itu membuatnya mendapatkan tatapan dari Faikar dan Sandara. “Apa yang kau tertawakan? Apakah ada suatu hal yang salah?” Faikar dengan sinis bertanya pada Raph, semakin lama ia menghabiskan waktu bersama Raph, maka semakin tipis kesabarannya menghadapi orang itu. Raph mendengus pelan, kesan meremehkan kembali terlihat. “Bukan kah kau adalah seorang Clairvoyant? Seharusnya kau tahu apa yang aku tertawakan.” Jawaban Raph adalah sebuah olokan keras yang sukses membuat Faikar menajamkan tatapannya pada Raph. Sandara melirik keduanya secara bergiliran, lagi-lagi ia harus berada dalam situasi seperti ini. “Sudahlah kalian berdua hentikan bersikap seperti ini! Raph kau kan mengatakan bahwa kau lelah, jadi istirahatlah!” perintah Sandara sedikit menekan pada Raph. Untuk sejenak Raph terdiam, maniknya menatap kosong kelangit ketika mendengar perintah tersebut. Namun sedetik kemudian, “Berisik! Dasar cerewet!” Raph merutuk kemudian ia memejamkan matanya dengan kesal. “Ish...” Sandara yang sudah cukup lama mengenal Raph, hanya menanggapi rutukan itu dengan santai dan kembali menghadap Faikar, melupakan apapun kata yang keluar dari mulut temannya itu. “Ok, kita mulai!” Sandara kembali kepada tujuan mereka sebenarnya. Faikar mengangguk, dan mempersiapkan diri. “Evane Firmos!” Sandara melayangkan tangannya diatas kaki Faikar, tidak sedikitpun kulit keduanya bersentuhan. Pendaran kuning lembut datang dari tangan Sandara, dan setelah pendaran tersebut hilang, Sandara menarik tangannya kembali. “Nah, silahkan berdiri.” Faikar mengikuti perintah itu dan berdiri dengan perlahan. Sandara memperhatikan raut wajah Faikar, mencoba menilik apakah masih ada raut kesakitan disana. Namun, ia tidak dapat menemukan jawabannya. “Bagaimana?” tanya Sandara dengan wajah serius. “Sempurna!” Faikar tersenyum lebar pada Sandara, tidak ada rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Gadis itu berhasil dengan mantranya, senyuman lega terlihat di wajahnya hingga menampakkan gigi rapinya pada Clairvoyant ini.   Sinar matahari mengetuk kelopak mata milik Raph, memaksanya untuk membukakan celah yang tertutup. Raph hanya memutar tubuhnya bersembunyi dari sinar itu, ketika ia merasa terganggu. “Raph, bangunlah! Mau sampai kapan kau tidur?” selain sinar matahari, suara teriakan Sandaralah yang kini mengganggu tidurnya. “Nggghh! Jam berapa ini?” Raph bangkit dari posisi tidurnya, namun masih duduk di tempat itu. “Mana ku tahu, aku tidak membawa jam pasir milikku!” Raph hanya mendengar suara Sandara yang kesal padanya, tanpa mengetahui bagaimana gadis itu menatapnya dengan tajam saat ini. “Dimana Clairvoyant itu?” Ia bertanya seraya menggaruk-garuk kepalanya dengan pelan, ia juga tidak menyadari bahwa sebenarnya Faikar sudah berada disana sedari tadi, terdiam memperhatikan mereka berudua. Raph tidak mengetahui semua itu karena ia masih terlalu malas untuk membuka matanya, ia hanya bertanya tanpa melihat seperti orang bodoh.  “Aku disini. Ada apa? Bermimpi tentangku?” Faikar menjawab dan melayangkan sedikit gurauan pada Raph. Sreet! Mendengar pertanyaan itu, dengan cepat Raph membuka matanya dan menatap kearah sang Clairvoyant. “Apa? Bermimpi tentangmu? Jika aku bermimpi tentangmu aku harap kau mati dimimpiku!” Raph sudah mengumpat di pagi hari, ia berdiri dan pergi mencari sumber air terdekat. Faikar dan Sandara hanya terkekeh bersama melihat respon Raph yang seperti itu. Setelah cukup lama dari kepergian Raph, Faikar dan Sandara membereskan barang milik mereka. “Faikar, bolehkah aku bertanya sesuatu hal?” Sandara kini menatap pemuda yang duduk tidak jauh darinya itu, ia sedikit ragu menanyakan hal ini tetapi ia harus memastikan sesuatu. Faikar hanya mengangguk tanda ia setuju, tanpa menatap Sandara. Ia masih mengemasi barang miliknya kedalam tas. “Apa seluruh keluargamu terbunuh?” pertanyaan Sandara terdengar sangat hati-hati di telinga Faikar, ia menghentikan kegiatan mengemasnya dan berbalik menatap Sandara yang menunggu jawaban darinya. “Apa kau membaca sebuah buku tentang Clairvoyant?” tanya Faikar, ia sudah dapat menebak apa yang terjadi. Namun, ia ingin melihat apakah Sandara akan jujur padanya atau tidak. Sandara mengangguk pelan, mengiyakannya dengan gugup. Lama terdiam, Sandara memberanikan diri untuk kembali bertanya. “Mengapa kau melakukan itu?” tatapan Faikar berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya, dan itu membuat Sandara sedikit merasa ketakutan. Namun sedetik kemudian, Faikar membuang tatapan serta wajahnya dari Sandara seraya menjawab “Karena mereka membenci para Enchanter dan Enchantress.”  “Apa? Karena apa?” Sandara terkejut dengan jawaban tersebut, ia bertanya untuk memastikan bahwa apa yang ia dengar sama dengan apa yang Faikar katakan. Karena ia meyakini dirinya bahwa Faikar menyebut Enchanter dan Enchantress disana. Selain itu, ia ingin mengetahui lebih detail lagi mengenai masalah yang sebenarnya terjadi pada keluarga Eight. “Kalian tidak perlu mengetahuinya!” mendengar kata ‘Kalian’ dalam ucapan Faikar menyadarkan Sandara bahwa Raph berada disana saat ini, bersama mereka. Ia pun menengok dengan cepat kearah belakang, dan benar saja ia medapati Raph tengah berdiri santai bersandar pada sebuah pohon besar. Raph berjalan dari tempatnya, menghampiri mereka berdua. “Yah... Aku tidak begitu penasaran tentang dirimu. Namun, yang ingin ku ketahui adalah... Alasan mengapa keluargamu membenci kami?” Sandara mengalihkan tatapannya dari Raph dan menatap Faikar yang masih menunjukkan wajah seriusnya. “Alasan mereka membenci kalian, sama seperti alasan kau membenci kami. Ayo kita lanjutkan perjalanan ini!” Faikar mengambil tasnya dan berjalan pergi kearah Barat, menyudahi pembahasan mereka mengenai keluarganya yang telah tiada. Raph terkejut, pupil matanya membulat dengan sempurna mendengar jawaban Faikat. “Dewi… Apa benar dewi itu nyata?”           *Evane Firmos adalah sebuah mantra penyembuh yang dapat dibacakan oleh para penyihir. Mantra ini berfungsi menghilangkan rasa sakit yang di derita oleh pasien.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD