chapter 6 : Kisa

1353 Words
Raph bertanya dengan antusias namun Faikar hanya terus berjalan kedepan, dia tidak menghiraukan pertanyaan tersebut. “Hei, Bodoh!” akhirnya Raph mengumpat pada Faikar yang berjalan semakin menjauh, Sandara hanya melirik Raph dengan tatapan yang tidak begitu baik kemudian berjalan menyusul Faikar. “Jadi tanaman apa yang harus kita ambil selanjutnya?” Sandara bertanya ditengah perjalanan mereka, mencoba mengalihkan suasana diam diantara mereka. Meskipun di belakang sana Raph masih terdiam kesal karena Faikar tetap tidak menjawab pertanyaannya mengenai kebenaran para dewi. “Flos Alyssum yang dijaga oleh penduduk asli.” Faikar menjawab dan meperkenalkan mereka pada sebuah nama bunga yang baru mereka dengar. Mendengar kata ‘penduduk asli’ dalam penjelasan Faikar, membuat Raph dan Sandara sedikit merasa was-was. “Penduduk asli? Apakah semacam Sinapis lagi?” Sandara meminta penjelasan, tapi Faikar hanya memberikan senyumannya pada gadis itu. “Bukan, mereka hanya manusia biasa. Mendapatkan Flos Alyssum adalah hal termudah dalam tugas ini.” Faikar menjawab, hal ini memperlihatkan seperti tidak akan ada tantangan berarti dalam pengambilan tanaman yang kedua. “Semoga saja perkataanmu benar!” Sandara terlihat meragukan ucapan Faikar, namun sebenarnya ia percaya pada ucapan semua Clairvoyant. “Kita lihat saja!” Faikar menyingkirkan semak besar yang ada dihadapan mereka, dan terlihatlah sebuah pemukiman kecil dibalik semak tersebut. Mereka memasuki wilayah itu, dan orang-orang terlihat biasa saja dengan kehadiran mereka, bahkan Raph dan Sandara merasa aneh ketika ditatap ramah oleh penduduk disana. “Selamat datang kembali saudaraku, Faikar!” seorang pemuda menghadang jalan ketiganya dan berucap dengan nada yang cukup kencang namun terkesan sangat ramah. Lelaki tinggi berwajah tampan itu mengenakan mahkota dari ranting di atas kepalanya, sudah dapat disimpulkan bahwa dia adalah raja di sini. “Terimakasih Kisa! Aku membawa teman kemari, kau tidak keberatan kan?” Faikar tersenyum mendapatkan sambutan tersebut, dan memperkenalkan Sandara juga Raph pada pemuda itu. Kisa menaikan sebelah alis miliknya, namun kemudian ia mengangguk dengan senyuman penuh pada keduanya. Ia merangkul bahu Faikar dan mengajaknya berjalan lebih dalam ke tengah pemukiman, Sandara dan Raph hanya mengikuti keduanya dari belakang. “Apa yang membawamu datang kemari?” tanyanya pada Faikar, langkah mereka berhenti ketika Faikar yang lebih dulu menghentikan langkahnya. Saling bertatapan, Kisa menunggu jawaban dari Faikar. “Flos Alyssum.” Faikar cukup mengucapkan keperluannya, dan Kisa mengangguk paham. Sedetik kemudian ia memberikan sebuah botol kaca berisikan sebatang bunga alyssum didalamnya. Raph menyipitkan mata curiga, ‘Mudah sekali ia mendapatkan tumbuhan itu?’ Pikirnya. “Apa yang harus aku lakukan?” Faikar mengambil bunga itu dan bertanya pada Kisa. Sandara terkejut ketika mendengar Faikar menanyakan hal tersebut, ‘Apakah ini semacam bertukar jasa?’ ia berucap dalam hati. “Habisi lawan kami! Kau tahu siapa mereka kan, Faikar?” Kisa memperlihatkan senyum mengerikan miliknya dengan mata yang menyipit, nada bicaranya pun berbeda kali ini. Faikar tersenyum di paksakan dan mengangguk mengetahui siapa serta apa yang harus ia lakukan. “Jika kau berkhianat! Maka bunga itu akan menjadi sebuah kutukan kekal didalamnya.” Kisa menatap bunga Alyssum yang mengeluarkan sinar ketika ia berkata demikian, hal itu terlihat seperti sebuah ritual yang ia lakukan pada bunga tersebut. “Aku mengerti Kisa, serahkan saja semuanya padaku!” Faikar masih memperlihatkan senyumannya, “Tapi sebelumnya, bisakah kedua temanku ini bermalam disini?” Faikar menunjuk Sandara dan Raph yang masih bungkam ditempat mereka, Kisa mengangguk menyetujui hal tersebut. Ia berjalan mendahului ketiganya, menunjukkan sebuah rumah kecil tempat peristirahatan tamu. “Ini dia rumah yang bisa kalian tempati malam ini, kuharap kalian nyaman!” Kisa menunju sebuah gubuk kecil itu, gubuk tersebut berukuran 2 x 3 meter. Memang terlihat sedari tadi, rumah yang berada disini hanyalah sebuah gubuk kecil yang berguna untuk berteduh dan beristirahat saja, sementara kegiatan lainnya mereka kerjakan diluar. Faikar membungkuk sedikit, ia menyampaikan terimakasihnya pada Kisa. “Terimakasih, ini sudah lebih dari kata nyaman!” ucapnya, Kisa tersenyum menepuk bahu Faikar dengan pelan. “Kalau begitu, aku pergi. Banyak hal yang harus aku urusi, permisi.” Setelah berucap demikian, Kisa berjalan meninggalkan ketiganya yang masih berdiri diluar gubuk tersebut. Faikar menatap kedua penyihir di hadapannya ini, “Kita bicarakan semuanya didalam!” tiba-tiba Faikar masuk kedalam gubuk saat Sandara baru saja akan membuka mulutnya untuk mengajukan pertanyaan. Raph menjadi orang terakhir yang masuk kedalam gubuk kecil itu dan menutup pintu di belakangnya. “Jelaskan semuanya secara rinci!” Sandara langsung berucap saat pintu itu sudah tertutup dengan rapat, ia terduduk diatas kasur menghadap pada pemuda yang saat ini mempunyai hutang penjelasan padanya dan Raph. “Penggunaan Jasa, sebut saja seperti itu!” persis seperti apa yang Sandara pikirkan, ini memanglah terlihat seperti bisnis jasa. Dimana mereka akan dibayar ketika mereka sudah melakukan pelayanan jasa terhadap pelanggan. “Jadi maksudmu, kau bisa mendapatkan bunga itu dengan mudah asalkan kau mau menjalankan satu perintah mereka? begitu?” Raph memastikan bahwa ia menangkap maksud Faikar dengan tepat. Ia berjalan menghampiri kasur dimana Sandara tengah duduk dengan manis, dan berbalik menatap Faikar yang mengangguk pada keduanya. “Lalu siapakah lawan mereka?” menurut Sandara setidaknya mereka harus membantu apapun tugas Faikar saat ini. Namun, ia melihat Faikar menggelengkan kepala padanya. “Kalian tidak perlu tahu, yang penting kita sudah mendapatkan Flos Alyssum ini!” Sandara menghela nafas ketika mendapatkan jawaban tersebut, ia sedikit kecewa karena tidak mengetahui siapa lawan mereka selanjutnya. “Baiklah, sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Sandara pada akhirnya walau dengan adanya sedikit nada kekecewaan disana, tapi ia tetap harus mempersiapkan diri. “Beristirahatlah! Malam ini kalian berdua tinggalah disini.” Jawab Faikar, Sandara meng-iya-kan saja apa yang Faikar katakan karena sudah terlanjur kecewa. Ia tahu dengan berucap seperti itu, berarti Faikar menyuruh agar mereka diam di gubuk dan tidak ikut pergi membantunya. Raph hanya menatap pemuda itu dengan matanya yang menyipit tajam, “Apa kau akan mengurusi tugas itu sendiri?” Raph menebak, Faikar mengangguk mantap sebagai jawabannya. “Mengapa kau tidak membiarkan kami membantu?” sebenarnya Sandara yang masih ingin membantu Faikar, ia kembali bertanya untuk memastikan. “Tidak! Tugas ini hanya aku yang dapat melakukannya!” Faikar menolak kembali pertanyaan Sandara. Gadis itu mengangguk pasrah pada akhirnya. Sementara Raph hanya berkata “Terserah kau saja!” seraya berbaring dikasur. Hari menjelang malam, Raph dan Sandara hanya berdiam diri didalam ruangan itu, mereka tidak tahu harus melakukan apa lagi selain makan dan berbincang dengan penduduk setempat. “Jadi, siapakah dia ini Sandara?” Raph mulaimembuka perbincangan baru diantara keduanya, ia masih penasaran dengan lelaki ini. “Faikar? Atau keluarga Eight?” Sandara menatap pada pemuda yang memiliki ketampanan wajah diatas rata-rata itu, ia tersenyum saat bertanya demikian. “Clairvoyant ini.” Raph bersandar pada dinding disamping pintu yang tertutup, ia lipat kedua tangannya ke depan ketika menatap manik indah yang tengah menatapnya saat ini. “Aku tidak tahu pasti Raph, dalam buku yang k*****a. Anggota keluarga Eight adalah anggota terkuat yang menjaga delapan tanaman suci, mereka tidak akan pernah memberi tahukan dimana letak delapan tanaman itu pada siapapun kecuali pada keturunan Clairvoyant.” Sandara terdiam sejenak, menyadari akan sesuatu hal janggal yang terjadi. “Tapi, mengapa ia membantu Irene?” Sandara bertanya pada dirinya sendiri melirik kearah kanan bawah dengan rasa penasaran, Raph hanya menggelengkan kepalanya tidak mengetahui apapun. “Pasti ada suatu hal dibalik semua ini.” Sandara mengangguk setuju pada lelaki itu, “Dan hal apa lagi yang kau baca di buku itu?” Raph ingin membongkar semua asal usul maupun rahasia dari anggota yang baru saja bergabung dengan timnya untuk sementara itu. “Keluarga Eight terbunuh, dan satu-satunya orang yang tersisa adalah orang yang membunuhnya! Logika ku berjalan saat itu, ku pikir berarti pembunuhnya adalah Faikar.” Sandara kembali menatap Raph dengan serius. “Dengan cara apa mereka terbunuh?” Raph mulai merasa ada sesuatu hal yang harus ia waspadai dari Faikar, ia tahu ada hal yang selalu Faikar sembunyikan selama perjalanan ini. “Entahlah dalam buku itu penjelasan, alasan mengapa dan bagaimananya tidak tertulis dengan rinci.” Sandara mengangkat bahunya dengan santai, terlihat Sandara tidak terlalu mengambil pusing atas apa yang terjadi pada masa lalu Faikar. Tapi tidak dengan Raph yang hanya mengangguk singkat dan semakin merasa penasaran. “Mendengar alasannya membunuh, membuatku sedikit bingung.” gumam Raph seraya berfikir apa yang sebenarnya Faikar alami. “Ada apa Raph?” Sandara yang tidak mendengar gumaman itu dengan jelas, ia menatap Raph yang masih menatap kelangit-langit. Raph melepaskan posisinya dan berdiri dengan tegap dihadapan Sandara, “Dia mengatakan alasan ia membunuh adalah karena keluarganya membenci kita bukan?” Sandara mengangguk pelan dan ragu. Keduanya terdiam sesaat, “Apa mungkin ia menyukai seorang Enchantress?” Sandara menanyakan hal yang terlintas di dalam kepalanya. Raph melirik Sandara dengan diam, ‘Apa benar seperti itu?’ fikirnya. “Apa maksudmu, Dia menyukai… Irene?” *Flos Alyssum adalah kelopak Bunga dari bunga Alyssum. *Alyssum adalah tanaman berbunga pendek yang mempunyai aroma lembut dan manis yang dapat membuat orang rileks. Bunga alysum dipercaya dapat melindungi sesuatu dari mantra-mantra. Bunga ini memiliki beberapa warna yang cantik seperti putih, krem, kuning dan ungu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD