“Ah! Tidak mungkin Raph! Irene terlalu tua untuknya.” Sandara berteriak, ia merasa geli dengan pertanyaan Raph itu. Namun, sepertinya Raph memang berniat untuk menjahili teman gadisnya ini dengan bertanya seperti tadi.
“Jangan berteriak, Sandara! Lagi pula cinta itu tidak mengenal usia.” Raph tersenyum samar, ia menabah ucapan itu, hingga membuat Sandara semakin gelisah karenanya.
“Hentikan Raph! Kau membuatku merinding!” Sandara menutup kedua telinganya seraya berguling-guling diatas kasur, memilih untuk tidak melanjutkan percakapan mereka malam itu, karena memang ia tidak kuat jika harus membahas masalah perasaan seperti ini. Sementara Raph hanya terkekeh kecil melihat tingkah Sandara yang menurutnya menggemaskan.
Malam semakin larut, Sandara telah tertidur dengan lelapnya diatas kasur. Tapi lelaki Enchanter bernama Raph itu hanya terbaring diatas tikar, ia masih berusaha menutup kedua matanya yang tetap ingin berjaga. ‘Clek’ Raph dengan cepat melirik ke arah pintu yang ternyata dibuka oleh Faikar, ia baru saja pulang dari tugas yang diberikan oleh Kisa. “Tugasmu selesai?” Raph melirik Faikar yang memberinya sebuah anggukan kepala dan menutup kembali pintu tersebut.
Faikar bersandar dengan lelah pada tembok di samping pintu masuk, ia menatap lelaki yang sempat meliriknya dari atas tikar disana. “Mengapa kau belum tidur?” Faikar mengalihkan tatapannya menatap langit-langit gubuk tersebut, ia memilih untuk berpura-pura tidak menyadari lirikan Raph padanya.
“Kukira kau mengetahui alasannya.” Hanya jawaban itu yang Faikar dengar, ia membuang nafasnya pelan sebelum menjawab dengan nada lelah.
“Tidak seluruhnya harus ku ketahui, Raph.” Faikar berucap jujur, seraya memrosotkan badannya kebawah, duduk dengan lelah diatas lantai dingin itu.
Raph kembali mengalihkan tatapannya kepada Faikar yang kini menarik nafas dengan sangat cepat itu, ia terlihat sangat kelelahan. “Jika tugas ini terasa berat, seharusnya kau meminta bantuan pada kami.” Raph memberikan sebuah saran meskipun tugas itu sudah berlalu.
“Tidak, aku sudah berhasil. Jadi aku tidak memerlukan bantuan dari kalian.” Raph mendecak jengkel mendengar perkataan sombong dari Faikar itu, detik berikutnya ia teringat dengan sesuatu yang selalu mengganggu fikirannya.
Lelaki Enchanter itu bangkit dari posisi tidurnya, ia menghadapkan tubuhnya kearah Faikar. “Aku mempunyai pertanyaan untukmu!”
Faikar meliriknya dengan ujung mata kanannya, “Mengenai The Goddes?” Faikar menebak apa yang akan Raph tanyakan. Ia membuang fokusnya pada sarung tangan yang ia gunakan, Raph mengangguk pelan tanpa mengeluarkan suara. Meskipun Faikar tidak melihat anggukan itu, namun ia sudah mengetahui pertanyaannya pasti benar. “Aku tidak bisa menjelaskannya.” Faikar menjawab dengan singkat, masih menatap sarung tangan yang terdapat noda darah yang telah mengering.
“Mengapa? Bukankah alasan keluargamu membenci kami karena mereka?” Faikar menyipit mendengar kembali pertanyaan yang keluar dari mulut Raph.
“Alasan keluargaku membenci kalian memang karena hal yang sama. Namun berbeda, kau membenci kami karena kami mengatakan bahwa Dewi tidak turun dari langit.” Raph tersenyum samar saat mendegar pertanyaan yang ia lontarkan berhasil mendapatkan jawaban dan kebenaran mungkin akan terbongkar sebentar lagi. “Sementara keluargaku membenci kalian karena kalian terobsesi dengan Dewi, kalian membunuh para wanita dengan membabi buta. kalian tidak memikirkan perasaan mereka, kalian hanya berlomba-lomba agar terlihat kuat! Dan tidak menghormati hak mereka sebagai makhluk hidup bahkan manusia, kalian hanya memikirkan para Dewi. Tanpa mengetahui apakah mereka benar-benar Dewi atau hanya manusia biasa!” Namun setelah mendengar ucapan tersebut, Raph terdiam. Faikar menjelaskannya dengan emosi yang terlihat dari mata maupun ucapan. Pemuda Clairvoyant itu menarik nafasnya cepat, mencoba meredakan emosinya sendiri yang jarang sekali ia tunjukkan pada siapapun.
“Lalu mengapa?” Raph bertanya dengan nada rendah, membuatnya terkesan sangat dingin. Faikar mengangkat wajahnya menatap pemuda yang kini menundukkan wajah, Raph terlihat marah. Matanya menatap Faikar dengan tatapan sangat tajam, bahkan Faikar merasa ini adalah tatapan tertajam yang Raph perlihatkan untuknya. “Mengapa kau tidak membenci kami juga? Mengapa keturunan yang kau benci justru keluargamu sendiri?” Tubuh Faikar membatu ketika mendapatkan pertanyaan tersebut, ia merasa seperti ada sebuah petir menyambar pada dirinya detik itu juga.
“Pertanyaanmu menjebakku.” Faikar bergumam kecil, ia tidak menjawab pertanyaan jebakan tersebut. Setelah itu wajah Raph melembut ia terlihat kembali santai dengan senyuman tipis terlukis diwajahnya.
“Kau hanya perlu menjelaskan semuanya, dan tidak perlu menyembunyikan apapun.” Mendengar ucapan Raph yang terkesan baik itu membuat Faikar kembali menatap lantai yang ada dihadapannya, ada rasa senang dan sedih dalam dirinya yang ia rasakan saat ini.
“Karena... Aku tidak bisa.” Faikar mengatakan hal itu dengan bisikan yang sangat pelan. Namun jangan sangka Raph tidak dapat mendengarnya, pemuda berwajah tampan ini dapat mendengar dengan jelas apa yang Faikar katakan barusan.
“Tidak bisa?” Raph mengangkat sebelah alisnya, ketika tidak mengerti dengan apa yang Faikar ucapkan. Ia mendengarnya, namun ia tidak mengerti maksud dari perkataan itu.
“Aku tidak bisa membenci keturunan Enchanter.” Suasana tiba-tiba menjadi hening, Raph lebih memilih diam setelah mendengar penjelasan Faikar. Meskipun banyak pertanyaan muncul di benaknya atas penjelasan tersebut, tetapi suasananya tidak begitu baik, hingga ia memutuskan menyimpan pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk nanti. Faikar juga memilih untuk diam setelah ia mengatakan hal tersebut, hatinya seakan tidak kuat untuk menjawab apapun yang akan Raph tanyakan selanjutnya. Namun, Faikar tahu Raph tidak akan melayangkan pertanyaan lagi malam itu.
Sinar matahari telah kembali menyapa mereka yang tertidur lelap, menghangatkan seluruh makhluk yang kedinginan akibat suhu malam yang terus menurun, menerangi hampir seluruh sudut hutan yang sebelumnya gelap.
“Enggh... Selamat pagi Raph. Mengapa kau bangun sepagi ini?” Sandara mengerang, ia baru saja membuka matanya dan menemukan Raph yang sudah duduk di depan meja. Meja itu menghadap keluar jendela yang terbuka dengan segelas hangat air di atasnya.
“Tidak ada alasan apapun.” Sandara bangkit dari kasurnya, menatap punggung pemuda yang menjawab pertanyaannya dengan singkat tanpa melirik atau menatapnya. Sandara mengangguk dan melirik Faikar yang masih tertidur diatas tikar. Perlahan ia menghampiri Faikar, berniat untuk membangunkan lelaki itu. Namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Raph, “Biarkan dia, dia baru saja tertidur karena pulang sangat larut.” Gadis ini kembali menatap punggung sang pemuda yang masih menatap kearah luar jendela, sedetik kemudian ia mengangguk-anggukan kepalanya dan menyelimuti Faikar dengan kain tebal miliknya.
Sandara berjalan menghampiri Raph, tangannya menggenggam sandaran kursi Raph dan ia pun duduk di pangkuan pemuda itu tanpa malu. Raph juga tidak terlihat terganggu dengan sikap Sandara yang demikian, karena baginya hal seperti itu sudah biasa terjadi diantara mereka berdua. Sandara selalu menganggap Raph sebagai kakaknya, meskipun tidak dengan Raph. “Apa menurut mu kita bisa menjadi tim yang baik?” Raph mendengar pertanyaan aneh dari mulut Sandara.
“Kita berdua memang satu tim, Sandara. Kita sudah menjadi…”
“Maksudku kita bertiga!” Sandara memotong ucapan Raph, dan lelaki itu menengok kearah samping. Menatap manik mata Sandara yang ikut terdiam ketika melihat sikap diam dirinya.
“Kita hanya meminta bantuan darinya untuk kali ini saja, dan bukan untuk menjadi sebuah tim.” Jelas Raph kembali menatap kearah luar jendela, Sandara menghela nafasnya dan berdiri dari pangkuan Raph.
“Mengapa kau tidak pernah memanggilnya dengan nama yang ia miliki?” Sandara sadar akan hal tersebut, ia menatap jengah pada Raph. “Apa ada suatu alasan yang tidak boleh ku ketahui?” tanyanya kembali, Raph menggelengkan kepalanya dengan pelan.
“Mungkin karena aku terlalu membenci mereka.” Jawaban Raph membuat Sandara terdiam, ia merasa jawaban tersebut tidak masuk dalam akalnya, dan sudah pasti jawaban tersebut tidak akan masuk kedalam akal siapapun.
“Jangan membenci orang tanpa alasan yang tepat, Raph. Karena Jika kau salah, kau bisa menyesal telah membenci mereka!” Raph mengangguk mengetahui hal tersebut, meskipun Sandara tidak mengatakannya, ia sudah tahu dan mengerti dengan bunyi hukum karma itu.
“Entahlah, mungkin aku terlalu terobsesi dengan keberadaan para Dewi, sehingga seluruhnya terasa benar dimataku. Hh... Sekarang yang harus kulakukan hanyalah meyakinkan diriku tentang keberadaan para Dewi, meyakinkan bahwa mereka tidak nyata.” Raph kembali menatap Sandara yang mengangguk setuju, meskipun sulit untuk mengatakan hal itu pada Sandara tetapi ia juga tidak ingin terlalu terobsesi dengan Dewi dan ingin berubah. “Ngomong-omong Sandara, sejak kapan kau mulai menerimanya?” bibir tipis wanita itu mengerucut kedepan dengan diiringi mata yang ia bulatkan, berfikir sejenak untuk mengingat kapan ia mulai dekat dengan Faikar.
“Sejak ia menyelamatkanmu, dari situ aku yakin dia adalah teman yang baik untuk kita!” jawab Sandara dengan wajah yang ia buat seimut mungkin, berusaha membuat Raph gemas padanya.
“Tapi aku belum yakin.” Namun Raph hanya menanggapinya dengan dingin, dan meminum air hangat dalam gelasnya. Sandara kesal dengan reaksi dingin tersebut, ia menghentakan kakinya dan memukul-mukul pelan bahu Raph.
“Megapa kalian tidak membangunkan ku?” Sebuah suara terdengar di telinga keduanya,