Mereka melirik ke arah Faikar yang terbangun dari tidurnya dan menyadari hari telah hampir siang siang, Sandara hanya tersenyum ringan menanggapinya. “Raph bilang jangan bangunkan, karena tadi malam kau pulang terlalu larut.” Faikar mengangguk dan berdiri merapikan baju yang ia kenakan, ia berdiri menghampiri tas yang telah tersimpan didekat kursi.
Sandara hanya memperhatikan semua kegiatan Faikar, “Hari ini kita akan mencari apa?” ia melontarkan pertanyaan yang ada dalam benaknya. Namun, Faikar terlihat bungkam saat sedang mengemasi beberapa barangnya. Gadis tersebut menatap Raph yang masih terduduk didepan jendela sama seperti sebelumnya dengan kecewa.
Tok-tok-tok pintu terketuk tiga kali, mereka terdiam sesaat menunggu ketukan pintu yang kedua kalinya dan saat pintu kembali terketuk, Sandara segera menghampiri untuk membukakan pintu itu. “Faikar, aku sangat bangga padamu. Dengannya mudah kau berhasil menuntaskan tugas ini.” Kisa yang berdiri dibalik pintu berkata dengan bahagia padanya, lelaki tersebut berdiri dengat tegap dan dua orang bertubuh besar berdiri di sampingnya.
“Sudah ku katakan ini adalah hal yang mudah bagiku.” Faikar memberikan senyuman terbaiknya pada pemuda yang menjabat sebagai pemimpin di desa ini, Kisa mengangguk dan bertepuk tangan.
“Apa kau akan pulang hari ini?” Faikar mengangguk pelan tanpa berucap, Kisa hanya terlihat memejamkan matanya kecewa melihat jawaban tersebut. “Baiklah kutunggu kau diluar!” Kisa tersenyum lebar dan menutup pintu tersebut.
Sandara menatap kedua pemuda yang hanya terdiam itu, ia merasa aneh dengan sikap Kisa pada Faikar. “Kita akan pergi sekarang juga?” tanyanya mengabaikan kecurigaannya. Faikar meng iyakan pertanyaan Sandara, setelah itu ketiganya mengemasi seluruh barang mereka dan menemui Kisa yang berdiri ditengah pemukiman.
“Terima kasih atas keberaniamu, Faikar. Kau telah mengalahkan lawan kami, dan sekarang kami bisa hidup dengan tenang.” Kisa tersenyum dengan lebar, terlihat dibelakangnya berpuluh-puluh pengikut Kisa membungkukan badan serempak tanda mereka berterimakasih. “Datanglah lagi kemari lain kali.” Ucapnya dengan gembira, tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.
“Baiklah, aku akan sering datang kemari.” Faikar pun ikut menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum pada Kisa yang berdiri tidak cukup jauh dan tidak cukup dekat dari hadapannya. Jarak keduanya sekitar dua meter saat saling berhadapan itu, karena mereka saling membungkuk sebelumnya.
Raph yang berdiri dibelakang Faikar, merasa ada yang ganjil dengan senyuman Kisa maupun Faikar. Dengan selidik ia melihat tangan kanan yang Kisa sembunyikan, ternyata ia menggenggam sebuah mesin panah. Meski terkejut, Raph tetap tenang dan dengan perlahan Raph bersiap menggenggam pedang yang terikat dipinggangnya. Syuut! satu buah anak panah melesat kearah Faikar, ketika Kisa dengan cepat mengeluarkan dan menembakkannya.
Dengan kemampuan pedang yang Raph miliki, ia bergerak cepat melempar pedangnya. Menjatuhkan anak panah yang tadi melaju kencang menuju Faikar. Tentu saja Kisa dan para rakyatnya terkejut kemudian menatap Raph. Namun, lelaki yang ditatap hanya menyunggingkan sebuah senyum meremehkan khas miliknya. “Apa yang sebenarnya kalian inginkan?” Raph berjalan dengan santai menghampiri Faikar dan berdiri tepat disampingnya dengan tangan yang ia masukan kedalam saku jubahnya.
Kisa mendengus kesal, ia menahan amarah yang tiba-tiba terlihat dari wajahnya. “Kami? Kami ingin bunga itu dikembalikan.” Mata Raph menyipit tidak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini.
“Bukankah Faikar telah menyelesaikan tugasnya?” ternyata Sandara juga merasakan apa yang Raph rasakan, gadis itu menatap tajam pada Kisa. Kisa dengan makhota di atas kepalanya, mengangguk-angguk kesal.
“Benar apa yang kau ucapkan! Tapi itu adalah bunga terakhir milik kami!” Kisa menunjuk kearah mereka, wajahnya semakin terlihat mengeras dan itu cukup membuat Raph merasa terganggu.
“Begitu ya? Jadi kau ingin mempermainkan kami?” Raph melirik ke arah pedangnya yang tergeletak di atas tanah, ia mengangkat tangannya kedepan seraya berucap “Arma!” dan seketika pedang yang tergeletak itu melayang dengan cepat kedalam genggaman Raph. Hal itu tentu saja membuat seluruh pengikut Kisa terkejut, karena ini pertama kali bagi mereka melihat yang seperti itu.
“Enchanter? Kau seorang Enchanter?!” Kisa yang terkejut berteriak panik, Raph hanya tersenyum dengan senyuman sombong miliknya. Hiruk piruk para pengikut Kisa terdengar ketika pemimpinnya berkata demikian.
“Bersiaplah kalian berdua!” Raph berbisik kepada dua orang didekatnya, Faikar dan Sandara yang mengerti maksud dari perkataan Raph segera merapatkan diri mereka kebelakang punggung pemuda tinggi tersebut.
Kisa mengangkat tangannya memberikan perintah pada pengikutnya, “Tembak mereka!” teriaknya dan tentu saja seluruh pengikut kisa mengangkat senjata yang sama lalu melesatkan ribuan anak panah kearah ketiga orang yang berdiri saling berendengan tersebut.
“Nebula!” Raph membacakan sebuah mantra saat anak panah tersebut hampir mendekati tempatnya berdiri, dan… Bumm! sebuah ledakan tiba-tiba muncul dari tempat ketiganya berdiri, yang menyebabkan kabut tebal disekitar mereka.
“Apa ini?!” Kisa berteriak kebingungan ditengah kepungan kabut yang membuatnya tidak dapat melihat apapun dan siapapun. Syuut! sebuah anak panah yang melesat hampir saja mengenai bahu kanannya, mengetahui posisinya dalam bahaya, lantas ia berteriak marah pada para pengikutnya. “Hentikan tembakan kalian! Pastikan kalian menembak mereka bukan menembakku!” dan hening setelah ia mengatakan hal tersebut.
Mereka terdiam ditempat untuk waktu yang cukup lama, menunggu sampai dimana sebuah angin menghilangkan kabut tebal yang mengganggu mereka. “Mereka disana!” seorang pengikut Kisa yang melihat ketigannya berlari kearah timur berteriak kencang, memberitahu teman-temannya.
“Kejar!” Kisa berteriak dengan kencang seolah menggerakan tubuh para pengikutnya untuk mengejar Faikar, Raph dan Sandara.
“Raph bagaimana ini? Entah mengapa aku merasa mereka berlari lebih kencang dari kita!” Sandara yang sebelumnya menengok kebelakang kini menatap Raph dengan panik, Raph segera melihat seberapa jauh jarak antara mereka dan para pengikut Kisa.
Raph berusaha mengingat beberapa mantra yang mungkin dapat membantu mereka saat ini, “Sandara! Apa kau masih ingat dengan mantra tembok berduri?” Raph mengingat sebuah mantra yang bagus untuk mengatasi situasi ini, ia melirik pada Sandara yang mengangguk berulang kali. “Kita harus gunakan mantra itu saat ini, dan Kau tetaplah berlari!” Raph melirik pada Faikar, menyuruhnya agar tetap berlari meskipun Sandara dan Raph akan berhenti nanti.
“Aku mengerti.” Tanpa banyak bertanya, Faikar yang sudah mengerti berlari semakin cepat meninggalkan Raph dan Sandara dibelakangnya.
“Sandara, kau siap? Pada hitungan kelima!” Raph memberikan aba-aba pada Sandara. Gadis itu mengepalkan tangannya, bersiap dengan rencana Raph. Dalam hitungan detik, mereka berdua berhenti secara bersamaan, dan berbalik menatap para pengikut Kisa yang terus berlari ke arah mereka. “Satu... Dua... Tiga... Empat...” Raph memperkirakan jarak antara keduanya dengan para pengikut Kisa seraya terus menghitung, “Lima!” dan saat itulah Raph mengibaskan tangannya, seraya membaca sebuah mantra. “Gigas murum!”
Saat Raph membacakan mantra, Sandara menyusul mantra tersebut dengan mantra lainnya. “Inter vepres haerentem!” setelahnya sebuah tembok raksasa yang sangat panjang hingga tidak terlihat ujungnya muncul dari dalam tanah, diiringi dengan tumbuhnya sejenis semak belukar yang menyelimuti tembok tersebut. “Berhasil!” Sandara bernafas lega dan berteriak kegirangan. Raph hanya terdiam menyipitkan matanya memperhatikan tembok itu, Sandara yang melihat sikap Raph segera menarik tangan pemuda tersebut. “Ayo! sebaiknya kita susul Faikar.” Mereka kembali berlari menyusul Faikar.
Disisi lain, para pengikut Kisa terdiam menatap tembok tersebut dengan takjub. Beberapa dari mereka menggali untuk mencari celah dan sebagian lainnya mencoba memanjat tembok besar itu. Namun, tumbuhan belukar yang tumbuh menempel pada tembok tersebut menghalangi langkah mereka dan menusuk telapak kaki mereka. “Sial! Ternyata dia membawa seorang Enchanter!” Kisa mengumpat, ia hanya diam di tempatnya memandangi para pengikutnya yang berjuang menembus tembok.
“Kisa! Gadis yang bersama mereka, ternyata seorang Enchantress juga.” salah satu pengikutnya menghampiri dan melapor, Kisa merasa dirinya telah kalah saat ini. Ia menatap tembok tersebut dengan tajam dan mengepalkan tangannya. “Lihatlah Faikar, kita akan bertemu kembali nanti!”
Setelah jauh berjalan, Raph dan Sandara akhirnya melihat Faikar yang duduk terdiam bersandar dibawah pohon. Sandara tersenyum tipis melihatnya, “Kau pasti mengetahui kita akan lolos kan?” Faikar meng-iya-kan pertanyaan sang gadis dan menatapnya.
“Mengapa kau tidak memberitahu pada kami lebih awal? Untung saja aku menyadari ada hal yang tidak beres tadi!” Raph berucap seakan membanggakan dirinya sendiri atas kepekaan yang ia miliki.
Faikar berdiri dari tempatnya, memasang wajah dinginnya pada Raph. “Jika ku beritahu, kau tidak akan membantu ataupun menolongku!” Mata Raph membulat hampir sempurna, ia tidak percaya terhadap apa yang baru saja Faikar katakan. Meski ia membenci Faikar namun ia akan tetap membantunya, apalagi jika situasinya seperti tadi.
“Apa? Seenaknya saja! Jadi kau fikir aku akan membiarkanmu dibunuh?!” Faikar yang mendengar ucapan tersebut, hanya tersenyum melanjutkan perjalanan mereka. “Kau lihatkan, Sandara? Bahkan dia beranggapan kita tidak akan menolongnya!” Raph berbisik pada Sandara yang hanya mengangguk-angguk paham maksud dari protesan Raph.
“Itu karena sikapmu padanya.” Sandara menunjuk Raph dengan jari telunjuk, menyalahkan dirinya. kemudian ia mempercepat langkahnya meninggalkan Raph.
“Kau menyalahkanku?” Raph mengerenyitkan dahi dan mengejar langkah Sandara, hingga ia berhasil berjalan disampingnya.
“Jangan membicarakanku dibelakang.” Sebelum Raph ataupun Sandara membuka kembali mulut mereka, Faikar yang berjalan didepan keduanya bergumam dan sontak membuat mereka terdiam. Tanpa diketahui oleh Raph dan Sandara, sebenarnya saat ini Faikar tengah tersenyum tipis.
Sandara menatap Faikar seraya memajukan badannya kedepan dan menyimpan kedua tangannya di belakang, mencondongkan kepala agar lelaki itu menengok ke arahnya. “Hm… Selanjutnya kita akan mencari apa?” suaranya ia buat se manja mungkin, sebenarnya Sandara bukan tipe wanita yang seperti itu, hanya saja kadang ia melakukan hal tersebut karena ia memiliki alasan.
“Radix dari tumbuhan Daffodil.” Faikar sempat melirik gadis cantik keturunan Enchantress tersebut, namun dengan sekejap ia melirik kearah lain. Enchanter memang memiliki beberapa mantra pengikat, dan ini yang Faikar hindari dari gadis itu.
“Apakah kita akan kembali melawan sesuatu yang besar?” Sandara kembali bertanya, ia masih berusaha agar Faikar mau menengok kearahnya. Namun, Raph yang berjalan disampingnya menarik lengannya agar berjalan seperti biasa.
Faikar sedikit bernafas lega karena Raph ada disana, setidaknya lelaki itulah yang bisa menahan Sandara. “Pasti!” hanya satu kata itu yang Faikar keluarkan untuk menjawab pertanyaan Sandara, ia tetap berjalan kedepan tanpa menengok meski sudah mengetahui Sandara tidak berjalan seperti tadi.
“Jika begitu, tolong kau jelaskan agar kami mengerti.” Faikar menghentikan langkahnya begitu pula dengan Sandara ketika keduanya terkejut mendengar Raph yang meminta penjelasan tentang semuanya dari Faikar.
“Bukankah kau tidak mempercayaiku?” Faikar berbalik menghadap Raph dan Sandara, ia mengerenyitkan dahinya ketika menatap lelaki itu. Karena saat ia mencoba membaca hal yang ada dalam fikiran Raph, ia hanya melihat satu hal disana.
“Cepat, kau jelaskan saja!” Raph memilih untuk bersandar dan duduk di bawah sebuah pohon besar, menunggu penjelasan dari Faikar mengenai hal apa yang akan mereka hadapi di tempat selanjutnya. Faikar menunduk berfikir, mencari kata yang tepat yang dapat menjelaskan semuanya.
“Begini, perjalanan kita kali ini akan memakan waktu yang cukup lama untuk sampai ketempat itu. Jadi, saat di perjalanan nanti lebih baik kita menyiapkan mental.” Sandara melirik Faikar ketika ia mendengar kata mental disana, memang hal apa yang akan melawan mental mereka nanti?
“Mental? Mengapa kita harus menyiapkan mental?” Sang Clairvoyant hanya menatap keduanya dengan sangat serius, ia menghembuskan nafas dengan berat, merasa sulit untuk memberitahu tantangan itu pada kedua penyihir dihadapannya.
*Nebula adalah mantra pemanggil kabut tebal yang dilakukan oleh Enchanter, biasanya mantra ini digunakan untuk penyamaran ketika musuh datang.
*Arma adalah mantra perintah untuk pemanggil senjata milik Enchanter dan Enchantress, namun senjata tersebut akan datang jika mantra Arma dibacakan oleh si pemilik senjata.
*Gigas murum adalah mantra pembentuk tembok raksasa yang terlihat tidak memiliki ujung. Tetapi sebenarnya, tembok ini hanya sepanjang 3-5km dan memiliki tinggi keatas setinggi 100-150m.
*Inter vepres haerentem adalah mantra penumbuh semak belukar yang biasa digunakan untuk menghalangi atau menghias pagar rumah. Semak ini memiliki duri-duri tajam sehingga dapat berfungsi seperti pagar berduri.
*Radix dari Daffodil adalah bagian Akar dari tumbuhan Daffodil
*Daffodil adalah tanaman yang berbunga pada musim semi, tumbuhan ini mempunyai keindahan tersendiri yang dapat menarik perhatian orang-orang. Daffodil memiliki banyak sekali jenis, dan mereka semua berwarna kuning atau putih.