“KEN …” Suara ini, gue rindu suara ini! Ibu. Gue pengen ketemu ibu! Gue berusaha membuka mata, tapi susah banget! “Ken, bangun.” Ibu. Lagi-lagi semuanya gelap! Gue enggak bisa lihat apa-apa, gue cuma bisa denger suara ibu yang terus manggil nama gue. “Ken …” Suara ini, bukan lagi suara ibu. Tapi gue juga kangen suara ini. Gue kangen dia yang dulu. Gue pengen ketemu dia yang dulu. Perlahan gue buka mata, gue lihat ekspresi khawatir yang kentara banget di wajahnya, sembari tangan kanannya mengusap lembut pipi gue dan tangannya yang lain terus menggenggam jemari gue. “Hai …” Ken dan Hai? Entah kenapa gue nangis hanya dengan dua patah kata itu. Tangis gue yang kemudian membuat Pak Tria melepas genggaman tangannya dan menjauh dari ranjang gue. Dia berdiri, memilih menjauh dan berad

