[26]

1582 Words

“UDAH dong, La. Nangis terus dari tadi,” kesal Dion sambil menyodorkan sekaleng cola ke Laras yang sesenggukan di sebelah gue. Saat ini kita berempat sudah sampai di bandara sejak setengah jam yang lalu. Ceritanya kita mau nganterin Laras ngucapin perpisahan ke Tama. Padahal semalem dia masih uring-uringan enggak mau nganter, tapi setelah gue nasihati, akhirnya mau juga. Gue cuma enggak mau nanti Laras ada penyesalan, gara-gara enggak ngucapin perpisahan ke Tama. “Lo sih, enggak tahu rasanya bakal ditinggal pacar. Sedih tahu!” “Mulai deh dramanya.” “Dion, udahan dong. Biarin aja, namanya juga sedih. Udah, La, jangan didengerin,” lerai gue. “Tapi Tama mau pergi, Ken.” “Iya, tadi Pak Tria telepon, katanya mereka masih dalam perjalanan kok. Kita tunggu aja.” Dan benar, enggak bera

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD