Setelah hari itu, Pak Tria semakin jarang datang ke panti. Entah dia udah menyerah atau emang kasih gue waktu buat mikir. Tapi gue tahu, dia masih tinggal di sebelah, karena gue masih lihat mobilnya terparkir manis di halaman rumahnya. Sesekali Mbak Diah akan ke sana, katanya ngirim makanan. Padahal gue juga tahu, kalau sebenarnya Mbak Diah ini double agent, yang sering ngasih kabar tentang gue ke Pak Tria. Kalau balik dari rumahnya Pak Tria, Mbak Diah bakalan ngabarin gue kabar soal kondisi Pak Tria, yang bahkan gue enggak butuh dengerin. “Dia lagi sakit, Mbak. Makanya seminggu ini enggak ke sini.” “Hah? Sakit? Sakit apa?” Sialan nih otak gue! Enggak bisa sinkron sama hati! Ngapain juga gue masih khawatir sama dia? Bagusan gue mikir nyari kerjaan, kan? Bodo amat kalau dia mau sakit p

