UNDUR DIRI

1787 Words
'SURAT PENGUNDURAN DIRI' Kayla menatap sebuah kertas yang berkop surat pengunduran diri. Matanya fokus menatap surat itu tapi pikirannya masih terbang entah kemana. Masih terngiang dengan jelas di telinganya ucapan David yang memutuskannya sepihak dan menyuruhnya untuk memundurkan diri dari perusahaannya. Sebagai gantinya David memberi tunjangan kuliah S2 kepada Kayla. Kayla melipat kertas itu dan memasukkannya kedalam amplop coklat persegi panjang. Ia menarik nafas dalam dan mengehembuskannya. Ribuan rasa berkecamuk jadi satu tertumpu di benakknya. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi selain menerima semuanya. Hati nuraninya masih berharap semoga semua kembali ke tempat asalnya dan yang harus ia lakukan saat ini adalah segera move on dari David. Proses pengunduran diri Kayla dari perusahaan berjalan lancar meski Arabella dan keluarganya menyayangkan hal itu. "Kay, kamu serius memundurkan diri dari kerjaanmu? Kenapa? Apa David jahat sama kamu?" Arabella mencecar Kayla dengan pertanyaan. "Enggak kok, Bel. Aku emang pengen berhenti kerja aja. Bosen!" Sangkal Kayla. "Eh tumbenan seorang Kayla yang notabennya pekerja keras sekarang kok malah bosen kerja" Tandas Arabella tak percaya dengan alasan Kayla. Kayla tak menggubris semua pertanyaan Arabella dan hanya fokus menata-nata barangnya. "Bell, suamimu dateng tuh, sana sambut dan layani dengan baik!" tiba-tiba suara ibu hadir di tengah-tengah mereka. "Ini loh, Bu. Aku masih kepoin Kayla" ucap Arabella singkat kemudian beranjak pergi dari kamar Kayla. Ibu Arabella masuk ke kamar Kayla dan perlahan duduk di samping Kayla yang sedang sibuk sendiri. "Ada masalah apa, Nak? kok tiba-tiba berhenti kerja" Ibu Arabella menatap cemas. Kayla menghentikan pekerjaannya dan menghembuskan nafas panjang lalu tersenyum. "Tabunganku sudah cukup, Bu. Aku mau melanjutkan kuliahku di S2 semester ini" Ucap Kayla sambil menebarkan senyum di bibirnya dan menggenggam tangan ibu angkatnya. "Ibu bangga, Nak. Memiliki putri sepertimu. Tuntutlah ilmu setinggi mungkin, Nak. Ibu dan Ayah akan mendukungmu. Soal biaya biar Ayah dan Ibu yang tanggung. Tabunganmu untuk simpananmu saja" Tutur Ibu dengan lembutnya kepada putri angkatnya itu. "Siap, Bu!" Kayla mengangguk dan memeluk Ibu angkatnya itu. Ada rasa bersalah yang mendalam menyelimuti gadis ayu itu. Namun apalah daya jika nasi sudah menjadi bubur. Kini yang bisa ia lakukan ialah membuang bubur itu dan memasak nasi kembali. Tiba-tiba Kayla merasa sekelilingnya bergerak memutar, ia merasa pusing. Ia memegangi kepalanya erat dengan kedua tangannya. "Kay, kamu kenapa?" Suara ibu terdengar sangat panik melihat putrinya kesakitan sambil memegangi kepalanya. "Aku pusing, Bu! Aku ingin istirahat" Ucap Kayla lemah. "Baik, Ibu akan ambilkan obat dan air minum untukmu" "Tak usah, Bu!" Larang Kayla. "Aku hanya butuh istirahat" imbuhnya agar wanita paruh baya itu tak khawatir. Semakin hari, Kayla semakin merasakan gejala yang tak biasa. Mulai dari pusing, sensitif terhadap bau, mual dan muntah. Ia takut ini adalah penyakit yang serius karena dia memiliki penyakit magh sedari kecil. Maka dari itu ia memutuskan untuk pergi memeriksakan diri ke dokter sendirian. Kayla dengan sabar menanti antrian demi antrian hingga namanya di panggil. Akhirnya kini giliran Kayla, Dokter memberi tindakan berupa tes darah dan tes tes lainnya yang di perlukan sesuai gejala yang Kayla rasakan. Namun, tak ada yang aneh dari tubuh Kayla. "Ibu Kayla, lewat semua tes yang telah kita lakukan, hasilnya sama sekali tidak ada hal serius yang terjadi pada anda. Tapi…" Suara dokter itu terdengar sedikit ragu. "Lewat hasil tes urin anda di nyatakan POSITIF HAMIL. Saya akan memberi rujukan ke Dokter Spesialis Kandungan..." Sampai di kalimat itu jantung Kayla berdetak melambat. Keringat dingin mengucur deras. Tangannya bergetar hebat hingga ia harus menggenggam meja dokter erat-erat. Setelah itu, semua suara yang ia dengar hanya seperti dengingan lebah. Sambil menggengam semua kertas hasil pemeriksaannya, Ia kembali pulang dengan semua beban berat yang tak tahu harus ia bawa kemana. Tak mungkin ia harus mengorbankan janin yang tak berdosa di dalam kandungannya. Tak mungkin juga ia meminta pertanggung jawaban kepada David, suami kakaknya sendiri. Tak mungkin juga, ia membesarkan anaknya seorang diri. Bagaimana kalau nanti anaknya akan bertanya siapa Ayahnya. Setelah mengetahui dirinya hamil, Kayla banyak menghabiskan waktunya untuk mengunci diri. Hatinya semakin meradang ketika melihat bagaimana cara David memperlakukan Arabella. Sedangkan dirinya hanya merana seorang diri. Kali ini dia sudah tak memikirkan soal cinta dan hatinya lagi. Yang ia inginkan hanya anak yang ada di dalam rahimnya lahir dengan selamat dan David mengakuinya saat anak itu bertanya siapa ayahnya. Namun, permintaan itu seperti langit, sangat sulit di gapai. Tok! Tok! Tok. Arabella mengetuk pintu kamar Kayla. Sepasang mata Kayla yang hampir saja terpejam itu kembali terbuka lebar kala mendengar suara ketukan yang berasal dari pintu kamarnya. "Ini aku, Bella" Suara khas lembut Arabella terdengar dari balik pintu kamar Kayla. Mendengar suara itu seketika membuat Kayla berusaha bangkit dan duduk bersandar di atas ranjangnya "Masuk aja, Bel! gak di kunci kok" Teriak Kayla dari dalam. Arabella segera menekan ke bawah gagang pintu yang sedari ia genggam kemudian membukanya perlahan hingga mengeluarkan bunyi decitan yang khas. "Bagaimana keadaanmu? apa masih sakit? diagnosa dokter apa kemarin?" sembari mendekati Kayla, Arabella menghujani Kayla dengan pertanyaan pertanyaan. Tersirat banyak kekhawatiran di garis wajah gadis ayu itu. Kayla tersenyum manis mendengar semua pertanyaan yang dilontarkan saudari angkatnya tersebut. "Magh ku kambuh, Bel. Tapi sekarang udah mendingan kok. Cuma butuh istirahat total aja" Ujar Kayla beralasan. "Pasti karena kamu terlalu kecapek-an kerja kemarin. Kamu jadi telat makan dan sakit maagmu kambuh" Arabella mengelus pundak Kayla. "Yah, ada bagusnya kamu memundurkan diri. Kamu jadi bisa istirahat" Imbuh Arabella sambil manggut-manggut kemudian menghentikan kalimatnya sesaat dan melanjutkannya. "Aku akan meminta David bertanggung jawab karena telah membuatmu bekerja terlalu keras kemarin" cerocos Arabella asal bicara. Deg! "Emm.. enggak usah, Bel!. Apa-apaan kamu ini ih!" Elak Kayla sembari menekuk wajahnya. "Emang dasar akunya males makan. Tapi sekarang aku udah gak kerja loh, udah fokus mau istirahat. Jadi gak usah cemas lagi ya, kakak tercintaku" Bujuk Kayla tersenyum dan memeluk Arabella. Arabella membalas pelukan Kayla dan mengusap-usap punggung Kayla dengan tangannya yang selembut kapas. "Tapi, beneran kamu saat ini kamu gak punya kesulitan atau masalah kan?!" Tanya Arabella untuk lebih yakin lagi. "Seingatku sakit maggmu akan kambuh jika kamu banyak pikiran dan telat makan kayak pas waktu kelas 6 sekolah dasar. Kamu stres mikirin ujian sampai kamu telat makan dan penyakitmu kambuh" Lanjutnya sambil mengingat ingat kejadian di masa lampau. Lagi-lagi Kayla menggariskan senyuman di bibirnya dengan tatapan mata yang lemah. "Aku benar-benar telat makan, Bel. Aku cuma telat makan" Jelas Kayla berulang-ulang meyakinkan gadis polos yang saat ini menatapnya dengan banyak kekhawatiran. "Aku mau sembuh dari mana, ini aku mau istirahat aja masih di interogasi sama kamu!" Kayla berkata dengan nada lemah dan memanyunkan bibirnya. " Hehehe, iya, maaf!" Arabella tersenyum sungkan sambil menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Arabella langsung menyadari kalau kehadiran dan semua pertanyaan mengganggu Kayla yang hendak memejamkan mata. Kemudian Arabella memutuskan pamit undur diri dari kamar Kayla. "Pokoknya kamu harus banyak istirahat, harus makan tepat waktu dan jangan sampai lupa minum obat!" Pesan Arabella sebelum pergi keluar dari kamar Kayla. Kayla kembali termenung sibuk berpikir dan mempertimbangkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Cukup lama Kayla mempertimbangkan, akhirnya ia memutuskan untuk memberi tahu David. Dia yakin kalau David akan memberikan keputusan yang bijaksana mengingat bahwa janin yang ada di dalam perutnya itu adalah darah daging David juga. ***** Rintikan hujan malam ini, mengalir sangat deras menyelinap di antara ruang-ruang yang lapang membuat barisan-barisan sungai kecil yang sangat indah di atas kaca jendela mobil yang saat ini sedang di tatap oleh David. David menyandarkan lengannya di samping jendela sembari menggigiti ujung jari jempolnya. "Untuk apa kau masih menghubungiku?" kata-katanya keluar untuk memulai pembicaraan dengan gadis yang saat ini tertunduk penuh isak tangis di samping kirinya. "Bukankah, kita sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan kita?!" David melanjutkan ucapannya dengan menghembuskan nafas dalam. "Bella saat ini sedang mengandung anakku, aku tak ingin menyakitinya lagi. Aku harus menjaganya dengan sungguh-sungguh. Aku mau hubungan kita berakhir cukup sampai disini sebelum hubungan terlarang ini terbongkar oleh Bella yang saat ini mengandung darah dagingku, Kayla!" David mencoba memberi pengertian kepada Kayla, gadis yang menjadi Camelianya selama ini. Isak tangis Kayla semakin kencang seperti sedang berlomba bersama deru rintikan hujan di luar mobil. "Aku, a, aku, aku hamil, David!" Ucap Kayla dengan penuh tangisan sembari mengeluarkan benda tipis, kecil dan panjang seperti lidi yang berukuran 10 centi meter dari tasnya. Benda itu berwarna biru dan putih dengan dua garis merah di tengahnya. Dengan gemetaran Kayla menunjukkan kepada lelaki yang hendak memutuskan cintanya itu. "Tidak!Tidak mungkin!" David tidak percaya dengan apa yang saat ini ada di hadapannya. Sebuah testpack yang menunjukkan hasil positif kehamilan. "Kau harus menggugurkan kandunganmu, Kayla!" Perintahnya pada Kayla yang saat ini masih tertunduk. "Tapi anak yang ada dalam kandunganku ini juga darah dagingmu, David. Sama seperti anak yang ada di dalam kandungan Bella" "Meskipun begitu harus ada yang aku korbankan, dan yang jelas bukan Bella dan kandungannya. Bella adalah istri sahku, Kayla. Sedangkan kau hanya kekasih gelapku tak mungkin aku memilihmu!" "Tega sekali kau berkata begitu, David. Setelah semua yang telah kau ambil dariku bahkan kesucianku hingga aku mengandung benih yang kau tanam. Aku dan janinku juga manusia yang masih berhak untuk bernafas di dunia. Tak mungkin aku membiarkan janinku terbunuh begitu saja" "Lalu apa yang akan kau lakukan?" David menatap Kayla dalam. "Apakah kau akan bilang sama seluruh dunia bahwa kita selingkuh dan saat ini kamu sedang mengandung anakku?!" Ucap David semakin tegas. "Apakah kau mau di anggap anak angkat yang tidak tahu diri yang sudah menghancurkan rumah tangga kakak angkatnya?!" Lanjutnya. Kayla hanya terus menangis dan menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya tidak ingin membunuh janin yang ada dalam rahimku" "Jalan satu-satunya agar kita semua selamat ialah dengan mengorbankan janin itu, Kayla!" "Jangan, David!" "Lalu apa maumu dan apa rencanamu selanjutnya?" "Aku akan mempertahan-kan janin ini, aku akan keluar negeri untuk mengandungnya dan melahirkannya dengan aman. Aku juga tak-kan bilang bahwa bayi ini adalah anakmu kepada siapapun" "Baguslah kalau itu rencanamu asal tak kau bawa-bawa namaku soal hal itu" Kayla tak menyangka bahwa lelaki yang selama ini ia cintai dan menjadi pujaan hatinya akan setega ini terhadapnya. Kayla pikir lelaki yang selama ini lembut dan bertanggung jawab akan memilih kan jalan terbijaksana dan adil untuknya menghadapi krisis masalah ini tanpa membuatnya terluka. Kayla sudah menyerah akan cintanya terhadap David, Kayla juga sudah merelakan hubungannya berakhir begitu saja dengan David. Tapi tidak dengan anak yang dia kandung, dia ingin setidaknya saja David ikut bahagia dan bertanggung jawab dengan cara terbijaksana atas kehamilannya ini karena bagaimanapun bayi yang sedang bersemayam di rahim Kayla adalah benih dari buah cinta mereka. Namun, semua itu sirna. Hanya kepedihan dan kutukan yang keluar dari bibir manis kekasih yang selama ini dicintainya atas kehamilannya. Kayla hanya bisa menangis meratapi takdirnya dan juga bayinya. ***** BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD