Satu minggu yang lalu, Sebelum Kayla memberitahu soal kandungannya kepada David.
Di ruang santai, Arabella duduk di bawah, beralaskan karpet bulu berwarna hijau, sambil bersandar di bawah sofa. Ia sibuk memilah dan melipat pakaian yang baru saja ia ambil dari tempat jemuran. Sedangkan David berbaring di atas sofa, tempat Arabella bersandar.
"Sayang!" Seru David memanggil istrinya yang masih sibuk dengan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.
"Hmmm" Arabella yang masih sibuk melipat pakaian hanya melirik David dan lanjut menatap fokus kepada pakaian yang saat ini ia lipat.
Ini adalah hari minggu, dimana David dibebaskan dari tumpukan tugas di kantornya. Setiap hari minggu, ia banyak menghabiskan waktu bersama istri kesayangannya. Kadang ia mengajaknya jalan-jalan keluar atau hanya sekedar untuk mencari kudapan di beberapa tempat yang saat ini sedang ngetrend. David kembali ke dirinya semula setelah satu bulan yang lalu akhirnya berhasil putus dari ikatan setan bersama Kayla.
David lanjut memperlihatkan layar ponselnya kepada Arabella. "Taraaaa!!! Kejutan!!!" Sorak David, tersenyum lebar.
Arabella menatap ke arah layar ponsel itu, di sana terpangpang gambar satu unit rumah minimalis yang di d******i warna toska. "Ini…" ucapnya terhenti.
"Iya, Sayang! ini rumah kita sudah jadi" Potong David meyakinkan dugaan Arabella.
Arabella hanya terdiam, menoleh dan menatap David, terpancar kilauan cahaya dari matanya.
"Kok cuma diem, sih? Kamu gak suka, ya? Jelek, ya?" David kebingungan menunggu respon dari istrinya. David takut kalau Arabella tak menyukai rumah barunya.
"Rumahnya cantik, Sayang!" Pandangan Arabella kembali menatap layar ponsel yang di pegang David kemudian meraihnya, dengan mata berbinar ia makin menatapnya dan berkata, "Bagaimana aku tak menyukai rumah yang di d******i oleh warna favoritku? terlebih ini rumah kita, tempat dimana kita menghabiskan sisa umur kita disana. Rumah yang akan mengukir kenangan demi kenangan yang kita lalui disana. Aku terharu, Sayang!"
David tersenyum, "Iya, Sayang! ini rumah kita. Akan ku jaga rumah ini selayaknya aku menjaga keutuhan keluarga kita. Mari mengukir semua hal yang indah di rumah ini" David menarik Arabella dan menenggelamkan wajah Arabella ke dalam pelukannya.
Kayla sendiri menahan pilu kala meski tanpa sengaja melihat kemesraan David dan Arabella, dari pintu kamarnya yang menghadap ruang santai, tempat David dan Arabella berbincang.
"Emm, Ngomong-ngomong, kenapa kamu suka banget sih sama warna tosca?" Tanya David ingin tahu.
"Emmmm… Kenapa, ya?!" Arabella menaruh jari telunjuk dan jempolnya di dagunya serta memainkan bibirnya seperti orang yang sedang berpikir kemudian melanjutkan kalimatnya. "Bagiku, tosca itu warna yang unik. Perpaduan antara hijau dan biru yang menghasilkan warna hijau kebiru-biruan yang indah seperti warna batu pirus dan warna samudera" Arebella menjeda kalimatnya dan bernafas. "Dalam psikologi warna, Tosca yang merupakan kombinasi warna biru dan warna hijau punya arti menenangkan, feminim, menyegarkan, kebijaksanaan, suka cita, intuisi, kesabaran, menyegarkan, kreativitas, keseimbangan emosional, keberuntungan, persahabatan dan loyalitas. Itulah kenapa aku suka warna tosca" imbuh Arabella, memaparkan semua yang ia tahu tentang warna favoritnya.
David hanya manggut-manggut memahami semua yang di jelaskan istrinya.
"Waah, aku gak nyangka banget, pengetahuanmu sama warna tosca dalem banget, Sayang!"
"Iya begitulah" Arabella mengangangkat kedua alisnya. "Aku pasti mencari tahu lebih dalam apapun yang menjadi favoritku" imbuhnya.
"Ngomong-ngomong, aku udah mempersiapkan kepindahannya kita minggu depan. Kamu keberatan gak, Sayang?" tutur David.
Arabella menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Aku siap kapan pun, Sayang!"
David mencium kening kekasih halalnya itu.
*****
David masih sibuk menyelesaikan dokumen-dokumen yang harus di tinjau. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ia melihat gambar tanda pesan masuk. 'Kayla' nama yang tertera di sana. David membuka pesan itu hanya dengan sekali sentuhan.
[Vid, ada yang harus aku katakan padamu]
Setelah membaca pesan itu, David mengusap tanda kembali di layar gawainya lalu ia kembali fokus dengan semua pekerjaannya.
*****
Di tengah-tengah rapat tentang proyek hotel baru yang telah selesai di bangun yang bertempat di Jakarta Pusat, ponsel yang David letakkan di saku celananya bergetar. Ia mencuri-curi kesempatan untuk mengintip siapa yang menelponnya sedari tadi.
'Kayla' Nama yang tertera di sana.
David menyentuh ikon berwarna merah dan menonaktifkan ponselnya.
Kayla terus berusaha menghubungi ayah biologis dari calon anak yang saat ini sedang di kandungnya. Namun, semuanya nihil. Semua telepon dan pesannya di abaikan oleh orang yang telah di cintainya 11 tahun ini. Kayla tak bisa berpikir panjang, David harus segera mengetahui soal kehamilannya.
*****
Hari ini adalah hari kepindahan Arabella dan David ke rumah barunya, di iringi kedua orang tuanya. Sedangkan Kayla berpura-pura sibuk mencari Universitas untuk melanjutkan S2-nya.
David sengaja membangun rumah dan membeli semua isinya secara lengkap, sehingga ketika pindah mereka tak perlu membawa barang lainnya selain pakaian dan foto-foto.
Kedua orang tua Arabella sangat bahagia sehingga membuat mata mereka berkaca-kaca. Hal itu didasari oleh Arabella yang tak sengaja melihat ayahnya mengusap kedua netranya.
"Ayah, kenapa nangis?" Suara Arabella terdengar cemas.
"Gak pa-pa, Nak. Rasanya gak rela aja, kamu udah gak satu rumah lagi sama ayah. Padahal ayah biasanya gak akan ngebiarin kamu tidur di luar rumah meskipun cuma untuk menginap di rumah temanmu walau hanya satu malam. Ayah gak bisa bayangin sepinya keadaan rumah setelah di tinggal kamu" tutur Ayah Arabella terbawa perasaan.
Arabella tersenyum. "Ayah, kami akan sering mengunjungimu dan Bella pastikan Bella akan menelpon Ayah tiga kali dalam sehari" Bujuk Bella. "Jadi, Ayah jangan sedih lagi, ya!" Pinta Bella. Wanita manis itu mengusap-usap punggung ayahnya.
Kini Ayah Arabella membalikkan tubuhnya dan menatap dalam ke arah David.
"David,"Serunya. Kini tatapan matanya menusuk tajam. "Orang pertama yang memeluk Bella adalah aku bukan kamu, orang pertama yang menghapus air matanya adalah aku bukan kamu, orang pertama yang mencintainya adalah aku bukan kamu, orang yang setiap hari berjuang mati-matian demi kehidupan, kebahagiaan, dan masa depannya adalah aku bukan kamu" Ayah Arabella menarik nafas dalam dan menghembuskannya, matanya terlihat berkaca-kaca. "Tapi, aku berharap, orang yang menemani dia seumur hidup adalah kamu bukanlah aku" Suaranya terdengar bergetar. "Kalau suatu hari nanti, kau tak mencintainya lagi. Jangan pukul dia, jangan marahi dia, jangan sakiti dia, jangan khianati dia..." Bulir bening akhirnya menetes di pipinya. "...Beri tahu aku, aku akan membawa dia pulang"
"AYAAHHHH!!!!" Teriak Arabella penuh isak, berhambur memeluk ayahnya yang kini sudah tak lagi gagah.
David mengangguk, "Aku mencintai Bella, Ayah! aku takkan menyakitinya, aku akan membahagiakannya seumur hidupku"
Kalimat Sang Ayah membuat semua orang yang berada di sana terhipnotis dan meneteskan air mata. Benar kata pepatah kalau cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya. Semua orang tahu kalau Ayah Arabella sangat mencintai putri semata wayangnya, sampai sedari kecil-pun Arabella tak pernah sedikitpun menangis sedih karena ayahnya selalu membahagiakannya dan selalu berjuang melakukan yang terbaik untuk putrinya. Meskipun begitu, tak mengurangi rasa adil dalam merawat Kayla juga. Orang tua Arabella juga memperlakukan Kayla sama persis seperti mereka memperlakukan Arabella.
*****
Drrtt.. Drrtt..
Gawai Arabella bergetar.
Arabella segera mengangkat panggilan masuk dari gawainya.
"Ada apa, Kayla?"
"Aku baru pulang nih, Bel. Ternyata kalian udah pindah" Suara Kayla dari seberang terdengar kecewa.
Kayla mulai melancarkan niat terselubungnya.
"Gak usah kecewa gitu napa, Kay! Kamu kan bisa nyusul kesini"
"Em, iya juga. Tapi…"
"Kenapa Kay?"
"Dari tadi aku nunggu taxi gak ada lewat, Bel. Baiklah aku akan menunggunya lagi, kalau masih gak ada lewat aku kesana kapan-kapan aja" Dusta Kayla.
"Eh, tunggu, Kay!"
"Hemm, kenapa?"
"Habis gini, mama sama ayah pulang. Aku akan nyuruh David nganter mereka pulang sekalian jemput kamu, gitu aja, ya? Dilarang komplain!"
Kayla tersenyum karena semua berjalan sesuai rencananya. Hampir seperempat abad kenal dan hidup dengan Arabella membuat Kayla mudah sekali menebak arah pikiran Arabella kemana.
Hanya itu satu-satunya cara agar bisa bertemu dengan David berdua, meski harus membohongi Arabella.
*****
[Maafkan aku, David! aku terpaksa harus meminta bantuan Bella agar aku bisa bertemu denganmu]
Mata David terbelalak lebar membaca pesan yang 10 menit lalu terkirim ke ponselnya. David yang berada di ruang tamu bersama orang tua Arabella, langsung berlari mencari Arabella dan ia menemukan Arabella yang baru saja menutup panggilan teleponnya di kamar.
Nafas David tersengal-sengal karena panik. Keringat dingin mengucur deras di keningnya.
"Sayang?!" Suara Arabella terdengar sedikit terkejut melihat David sudah berdiri di ambang pintu kamar.
David mencoba mengatur nafasnya dan mentralkannya kembali. Berusaha sebaik mungkin menyembunyikan kepanikannya.
"Telepon dari siapa, Sayang?" Suara David terdengar santai.
"Ini dari Kayla…"
Deg!
'Apa sih yang di mau wanita itu?!' Batin David.
"... Oh, ya. Habis gini mama sama ayah pulang, kamu anter gih sekalian jemput Kayla!"
David menggariskan garis keberatan di wajahnya. Hal itu di sadari oleh Arabella.
"Kamu gak mau nganter mama sama ayah?"
"Em, gak gitu, Sayang. Aku mau kok"
David ingin sekali menolak menjemput Kayla karena ia tahu kalau ini hanya alur yang telah Kayla rencanakan, tapi itu sama juga menolak mengantar orang tua Arabella. Jadi, dengan terpaksa mengikuti alur yang Kayla buat.
Setelah menemani Arabella dan David pindah ke rumah barunya, orang tua Arabella pamit undur diri sebelum hari semakin petang. Mereka pulang di antar oleh menantunya.
Membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari rumah baru Arabella untuk sampai ke rumah orang tuanya. Di sana, dari jauh David sudah melihat Kayla berdiri di teras rumah, menantinya.
"Ayah! Ibu! gimana perjalanannya?" Sambut Kayla setelah membantu ibunya membuka pintu.
"Lumayan jauh, Kay. Untung di anter sama suami kakakmu!" tutur Ibu, perlahan menuruni mobil.
"Oh, ya! katanya kamu mau ke rumah Bella. Gih sana berangkat! ini kayaknya mau hujan kasian kakakmu sendirian di rumah!" seru Ayah meminta Kayla dan David lekas berangkat karena tak tega membiarkan putri tercintanya sendirian ketika hujan.
Kayla menggenggam ganggang pintu mobil dengan erat. Ada ribuan rasa bercampur aduk menjadi satu di benaknya. Ia berusaha menepis semua keraguan dan mulai memasuki mobil dan duduk di sebelah kiri David.
Dan, benar! tak lama hujan turun begitu derasnya bersama suara alunan guntur yang saling beradu, suasana perjalan menjadi lebih mencekam dan sangat dingin. Tak ada suara yang keluar dari kedua insan itu. Rasa ragu dan takut, tersirat di paras gadis ayu Kayla. Melihat pria yang 1 bulan lalu masih menatapnya dengan penuh kehangatan kini berubah menjadi sebuah tatapan yang lebih dingin daripada sebuah balok es, sehingga membuat Kayla beberapa kali ia mengurungkan niatnya untuk berbicara karena takut.
Tanpa mereka sadari, mereka telah sampai di halaman rumah minimalis yang baru saja dihuni tadi pagi. Suasana di luar mobil masih dipenuhi hujan yang sangat lebat. Hal itu David isi dengan mengajukan pertanyaan terlebih dahulu dan akhirnya itulah saat Kayla mengungkap tentang kehamilannya.
*****
Arabella berjalan perlahan menuruni teras rumah yang sedikit licin terkena percikan hujan malam ini. Ia membuka payung dan menggenggamnya kemudian berjalan menembus rintikan hujan menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari teras rumahnya.
Tok! Tok! Tok! Suara ketukan yang berasa dari jendela mobil yang di ketuk oleh jemari manis Arabella. Penghuni mobil langsung membuka jendelanya.
"Sayang, ayo masuk ke dalam di luar hujan lebat!" Ucap Arabella kepada suaminya yang menatapnya dengan tatapan penuh cinta. "Ini payung untukmu, Kayla!" Arabella menyodorkan sebuah payung yang masih tertutup kepada gadis yang duduk di samping suaminya.
"Untuk apa kamu keluar menjemput kami, Sayangku? Kalau ada apa-apa sama dedek utun bagaimana? Ingetloh, kamu harus menjaga kehamilanmu yang terbilang masih muda. Aku gak mau David junior kenapa-kenapa di dalam sana" David mengomel manja pada istrinya, Arabella, sambil terus berjalan merangkul Arabella dalam satu naungan payung dan mengusap-usap perut Arabella yang masih kecil karena usia kandungannya masih terbilang muda.
"Maafkan aku ya, Sayang dah ngerepotin kamu buat jemput adikku, Kayla" Tutur Arabella sesampainya mereka di rumah sambil meletakkan payungnya yang basah di teras.
Hati Kayla bagai tersayat ribuan sembilu menyaksikan betapa manisnya David memperlakukan Arabella sedangkan dirinya juga sedang mengandung anak dari David namun dia dan anaknya malah mendapatkan perlakuan sebaliknya.
"Matamu kenapa merah, Kayla?" Tanya Arabella yang menyadari bahwa mata Kayla memerah karena menangis dalam sepanjang perjalanan pulang bersama David.
"Aku flu kak!" Jawab Kayla karena tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya.
Arabella segera merangkul tubuh dingin adik angkatnya itu dan menggiringnya untuk duduk di atas sofa yang nyaman. Tak lama ia masuk kedalam kamar untuk mengambil selimut tebal yang hangat.
"Pakai ini, Kayla!" Ucap Arabella sambil menyelimuti punggung Kayla dengan selimut tebal yang barusan ia ambil dari lemarinya. "Tunggu disini sebentar, ya?! aku mau membuatkanmu teh madu yang hangat, katanya itu bagus untuk meringankan gejala flu"
Kayla mengangguk lemah. Dia memperhatikan sekitar dengan semua kecamuk di dadanya. Dia sebenarnya sangat menyayangi kakak angkatnya itu tapi sayangnya ia terkalahkan oleh hawa nafsu setan yang mengatas namakan cinta. Terbesit rasa bersalah dan penyesalan di hatinya setiap melihat betapa hangat dan tulusnya Arabella menyayanginya.
Tak lama Arabella membawa satu teko berisi teh madu hangat dan tiga cangkir yang ia siapkan untuk Kayla, David dan dirinya.
"Sayang! cepatlah keluar aku sudah menyiapkan teh madu yang hangat juga untukmu" Seru Arabella memanggil suaminya agar ikut bergabung menyeduh bersama-sama teh madu yang telah ia buat.
David keluar setelah mengganti pakaiannya yang sedikit basah terkena cipratan air hujan tadi lalu ia menghampiri istrinya dan mencium keningnya "Terimakasih Sayang!" Ucapnya kepada Arabella.
Mereka duduk bertiga di ruang tamu sambil menyeduh teh yang telah di buatkan Arabella sambil menikmati betapa hangatnya uap yang di keluarkan dari teh yang panas itu.
"Akhir-akhir ini aku lihat kamu kurusan loh, Kayla. Aku gak tau kalau kamu lagi gak enak badan. Makanya kerja jangan di forsir, kasih kesempatan agar tubuhmu bisa beristirahat!" Ucap Arabella memperhatikan wajah dan tubuh Kayla.
Uhuk! uhuk! David tersedak saat mendengar kalimat yang terlontar dari bibir istrinya.
"Hati-hati dong, Sayang!" Arabella menepuk-nepuk punggung suaminya yang kekar itu.
Tak ada suara lain, selain suara Arabella yang banyak berkata dan bercerira tentang ini dan itu tanpa menyadari bahwa dua orang yang sedang ia ajak bicara itu sama sekali tak tertarik dengan pembicaraan Arabella karena mereka berdua fokus dengan gemuruh di d**a dan kecamuk di otak mereka masing-masing.
"Kamu mau makan apa, Sayang?" Tanya Arabella kepada suaminya. "Aku akan memasak makanan untukmu!"
"Ndak usah, Sayang! Kita pesen dari aplikasi hijau aja. Berkali-kali aku udah bilang kamu jangan sampai kecapek-an" Tolak David agar istrinya tidak melanjutkan rencananya di dapur.
"Baiklah kalau gitu" Ucap Arabella sambil tersenyum dan duduk kembali di samping David. "Kalau Kayla, kamu mau makan apa?"
"Aku teserah kakak saja!" Jawab Kayla dengan senyum yang di paksakan.
Arabella berada dalam dekapan hangat suaminya, mereka asyik memilih menu makanan yang tersedia di aplikasi hijau, yang akan mereka santap malam ini. Melihat pemandangan itu hati Kayla semakin teriris perih.
Tak lama ojek online yang membawa makanan mereka datang. Arabella dan David memesan beberapa makanan dan cemilan. Mereka menyantapnya dengan lahap tapi tidak dengan Kayla, menhirup bau menyengat yang berasal dari menu makanan itu membuatnya Mual dan ingin muntah. Namun ia mencoba menahannya agar kakaknya tidak curiga ataupun khawatir.
Dengan perlahan, Kayla menyantap sendok demi sesendok hidangan yang tersedia di hadapannya. Tak lama rasa enek dan mualnya tak bisa di bendung lagi dan membuatnya langsung pergi ke kamar mandi untuk memuntahkan semua isi yang ada di dalam perutnya. Arabella yang menyaksikan tingkah laku Kayla merasa sangat khawatir dan takut akan segala hal. Dia takut mungkin saja sakit yang di derita adiknya itu adalah sakit parah atau mungkin keracunan makanan yang baru saja di makan Kayla.
Kayla terus menerus memuntahkan isi didalam perutnya sampai ia merasa pusing, lemas, dan akhirnya jatuh pingsan. Arabella yang menyadari akan hal itu tak bisa tinggal diam dan bersama David, ia langsung membawa Kayla ke Rumah Sakit terdekat agar segera mendapatkan pertolongan.
Sesampai di sana Kayla langsung masuk ruang Unit Gawat Darurat dan diberi pertolongan pertama berupa cairan infus agar tubuhnya tidak semakin lemas karena kekurangan cairan akibat muntah terus menerus.
BERSAMBUNG...