Crazy 1 - Pengganggu Rumah Tangga

2168 Words
Seperti biasa, malam itu, salah satu tempat di kota Los Angeles yang paling banyak diminati orang berduit itu selalu ramai. Banyak orang berlenggak lenggok dan menabrakkan pantatnya dengan p****t lawan jenisnya hanya untuk mencari perhatian dan menggoda untuk mendapatkan sekadar ciuman atau bahkan seks malam itu. Namun, tanpa harus berlenggak lenggok seperti yang lainnya, Sharena Christin tidak perlu melakukan hal tersebut untuk membuat lawan jenisnya tertarik. Hanya dengan menggunakan gaun super pendek dengan potongan yang hampir memperlihatkan pantatnya dan potongan lengan yang hanya menutupi p****g payudaranya saja, sukses membuat para pria menoleh padanya dengan pandangan kagum. PSK kelas atas itu memang sudah sangat terkenal dengan metode bercintanya yang sangat membuat ketagihan. Namun sayang, harga permalamnya pun hanya dapat dibayar oleh para pengusaha kelas atas juga. Pengusaha dunia, yang mampu membayar 20 juta dollar seolah mengeluarkan uang 20 ribu saja. Ya, semahal itu. Namun karena harganya yang mahal dan caranya bercinta yang tidak pernah mengecewakan, Sharena semakin diminati oleh banyak pria dari kalangan muda sampai kalangan tidak muda lagi. Bahkan, tidak jarang pesona wanita itu membuat banyak pria bertekuk lutut hanya untuk berkencan semalam dengannya. Duduk dengan cara sensual di kursi yang terdapat di ujung ruangan yang gelap, Sharena tetap saja menjadi cahaya untuk para pria di sana yang tak henti menatap Sharena tanpa kedip dan ada beberapa pria yang seolah ingin menghampiri dengan ragu-ragu. Sharena hanya mengulas senyum sensualnya dan meminum wine yang ia pesan barusan dengan gerakan pelan, membuat para pria menegang seketika. Begitulah Sharena. w************n yang tidak dapat didekati karena terlihat sangat mewah. Berbeda dengan w************n yang terima-terima saja siapapun pria yang mendekatinya. Melihat pria-pria h***y itu seolah seperti sebuah hiburan, Sharena tersenyum senang melihatnya. Namun pemandangan itu harus terhenti kala matanya menatap sebuah perut yang terbalut kaos ketat dan menampakkan sedikit kotak-kotak di sana. Sharena mengerjapkan matanya, dan mendongak untuk menatap orang yang menghalangi pemandangannya. Senyum miring Sharena tercipta kala wajah yang sangat familier itu nampak di hadapannya. "Wow, siapa ini? Pengusaha ternama dalam kelompok The Devils?" Lirihnya menggoda. Pria yang merupakan pengusaha ternama seantero Eropa itu hanya menaikkan sebelah alisnya dan duduk di hadapan Sharena. "Halo, Tuan Makiel Zander McKennedy." Sapa Sharena kemudian, dengan senyum sensual dan menggigit bibir bawahnya secara seksi. "Kau benar-benar jalang, rupanya." Kata Makiel sambil menghela napas panjang. Kedua alis Sharena terangkat. Sharena menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi dan bersedekap, membuat payudaranya semakin terlihat padat dan seolah akan tumpah. Sedangkan kakinya ia silang dan membuat pahanya terekspos sempurna di hadapan Makiel. Melihat pria itu menelan ludah susah payah, Sharena tersenyum. "Tentu saja. Seperti yang Anda lihat." Seraknya. Makiel kembali menelan ludah dengan susah payah. Matanya tak lepas dari paha dan juga d**a Sharena. "Kau pasti mengenalku, bukan? Pria tampan, kaya raya yang bisa memiliki segalanya, memiliki perusahaan di mana-mana yang tersebar di seluruh negeri. Tentunya, aku ini baik dan tidak sombong seperti Alarick temanku." Sharena mengernyit tidak terima, namun tetap mengangguk saja di hadapan Makiel. "Tentu saja. Siapa pun di LA ini pasti mengenal Anda. Seorang anggota The Devils yang isinya hanya pengusaha ternama saja yang berada di sana." "Bagus. Kalau begitu, kau ikut aku," kata Makiel sambil berdiri dari duduknya. "Kita ke suatu tempat yang sepi." Sharena tersenyum melihat reaksi itu. "Tapi bayaranku mahal." "Aku tahu. Kau ikut saja dulu." Kata Makiel, dan berlalu dari sana. Sharena tentu saja mengikuti dengan senyum yang lebar di wajahnya. Tentu saja dia senang kedapatan seorang pengusaha kaya raya yang akan menyewanya. Siapa yang tidak kenal Makiel Zander McKennedy? Pria tampan yang sering disebut Crazy Devil karena tekadnya yang membuat perusahaan sendiri di usia 20-an dan langsung sukses dengan kegilaannya yang super nekad itu. Dan lagi, bisa dibilang, Makiel ini anggota terkaya dari The Devils. Sungguh malam yang beruntung, bukan? Akhirnya, mereka sampai di sebuah tempat yang sangat sepi dan hanya ada mereka berdua, yaitu sebuah tangga darurat yang mana hanya ada mereka berdua saja. Sharena mengerutkan alisnya ketika Makiel sedang mengecek ke tangga bagian atas dan bawah, lalu menatap Sharena. "Kita akan bercinta di sini? Wow, ternyata kau mempunyai ide bercinta yang gila juga." Kata Sharena tanpa malu. Makiel mendelik. "Aku hanya baru akan membicarakannya. Tapi maksudku bukan untuk bercinta di sini." Alis Sharena terangkat sebelah. "Lalu? Kau hanya ingin mengajakku mengobrol saja, sekarang? Apa kau suka cara bercinta yang kasar? Kau tidak perlu membawaku ke sini hanya untuk tanda tangan kontrak. Hanya bayar aku dengan harga lebih tinggi saja." Mulut Makiel menganga mendengarnya. "Hey, aku bahkan sudah sering melakukan itu dengan gratis. Dan lagi, bukannya kau orang kaya? Kenapa terlihat seperti kau adalah jalang yang tidak punya uang?" Sharena mengerutkan alisnya dengan bingung. "Apa maksud—" "Sudahlah, mari kita bahas ini sekarang saja agar waktuku tidak terbuang sia-sia," potong Makiel, kemudian menghela napasnya kuat-kuat. "Aku impoten." "Oh, kau—APA?! IMPOTEN?!" Pekik Sharena kuat-kuat, membuat Makiel memejamkan matanya rapat dan tidak melihat wajah Sharena yang sangat kaget. "Ya, aku tahu ini memalukan. Apalagi, aku harus menyewa jalang untuk pertama kalinya disaat semua wanita bahkan memintaku untuk memasuki kewanitaan mereka. Apakah ini masuk akal untukmu?! Haish, lupakan saja! Jika bukan karena aku tadi sempat mengeras saat melihatmu, aku mungkin takkan pernah menyewa jalang sepertimu!" Sharena terlihat pucat sekarang. Ya Tuhan! Padahal jika ia lebih lama di kelab malam tadi tanpa harus ke tangga darurat, mungkin Sharena akan mendapatkan pelanggan yang mau menyewanya! Bukan berhadapan dengan pria impoten yang mungkin saja hanya mau berbicara saja padanya. "Tapi, aku akan membayarmu tiga kali lipat jika kau mau membuat kejantananku terpuaskan lagi." Ucapan Makiel membuat Sharena segera tersadar dari lamunannya. Dia menatap Makiel sambil melotot. "Tiga? Bukannya itu kecil?! Kau harusnya memberiku sepuluh kali lipat!" "Baiklah, kau bisa meminta berapa pun yang kau mau." "Well, kata-kata yang memuaskan." Kata Sharena sambil tersenyum puas. "Tapi itu terjadi jika aku kembali lagi pada diriku yang dulu. Tapi jika kau gagal, aku akan memberimu biaya awal saja." Sharena mengangguk dan tersenyum. "Penawaran yang menguntungkan," ucapnya. "Tapi ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan. Dan omong-omong, sebelumnya aku pernah mengobati orang yang gay dan dia berhasil sembuh karena caraku ini." Alis Makiel terangkat sebelah. "Cara apa itu?" "Apakah kau pernah berpacaran?" "Dengan wanita atau pria?" "Yang benar saja! Tentu saja wanita!" "Oh... Ya, pernah. Namun itu hanya kulakukan jika wanita itu menguntungkanku." "Baik. Kalau begitu, apa hobimu?" "Seks, dulunya." "Selain itu?" "Menonton porno?" "Ck! Selain itu?" Sharena kesal sendiri. "Membaca komik dewasa?" Sharena mendelik mendengarnya. "Ya Tuhan, ini lebih sulit dari dugaanku!" Keluhnya sambil menepuk keningnya dengan frustrasi. Makiel mengangkat kedua bahunya. "Lalu aku harus menjawab apa? Itu adalah jawabanku. Aku ini bos besar, pemilik perusahaan yang terbesar di California dan memiliki saham di mana-mana. Kerjaanku tentunya hanya bergaul dengan wanita. Dan s*x adalah yang paling menyenangkan." "Apakah kau tidak punya hobi lain selain seks?" "Tentu saja ada." "Apa itu?" "Bekerja." "Ya Tuhan!" Sharena menghela napas panjang ketika mengucapkannya. "Hey, kenapa aku terdengar serba salah disaat aku berucap jujur?" Kesal Makiel, melipat tangannya di depan d**a—bersedekap. Sharena menghela napasnya dan menggeleng prihatin. "Maksudku, hobi lain. Berenang di kolam yang ramai dikunjungi orang, pantai contohnya. Atau menonton film normal di bioskop, makan di restoran, dan lain sebagainya." "Kenapa aku harus berenang di kolam ramai jika aku punya kolam sendiri dan memiliki pulau pribadi? Dan kenapa aku harus menonton di bioskop jika aku punya home teater sendiri?" Sharena memijit pelipisnya dengan stress. "Kau sungguh sangat luar biasa, Tuan Makiel." "Luar biasa kaya? Tentu saja." Jawab Makiel senang dengan cengiran bodohnya. Sharena menghela napas panjang. "Baiklah, kalau begitu, kita mulai dari yang dasar dulu." "Apa itu?" "Apakah kau pernah melakukan make out session di bioskop, Tuan?" *** Makiel duduk di sofa sambil meneliti wajahnya melalui cermin yang ada di tangannya. Dia menggerakkan kepalanya ke kanan, ke atas, ke kiri, dan begitu seterusnya. Dia bahkan menatap wajahnya beberapa lama, kemudian mengernyit. "Kadang, aku heran pada diriku sendiri..." Ucapnya pelan, kemudian menyingkirkan cermin di depan wajahnya, dan menatap pria yang sedang kerepotan menggendong anak kembar laki-lakinya. "... kenapa aku setiap hari terlihat sangat tampan, Darren?" Si dingin dari The Devils itu terlihat menahan marahnya. Dia mendelik menatap Makiel sedangkan tangannya sibuk meninabobokan kedua anak laki-lakinya. "Apakah kau tidak punya kerjaan lain selain mengganggu rumah tangga orang?" Tanya Darren dingin. Darren Valentino Reinhard, keturunan Reinhard yang merupakan pewaris Reinhard jika saja ayahnya yang sangat gila tidak menghapus haknya sebagai ahli waris. Pria yang dulunya menjadi bos besar pemilik perusahaan besar itu, kini menjadi seorang CEO di perusahaan milik Alarick Kaslov Damian. Karena walaupun Darren sudah kembali menjadi keluarga Reinhard, pria itu tidak mau menjadi ahli waris lagi dan memilih hidup berkecukupan dengan Annabelle, istrinya. Pria dingin di kelompok The Devils ini memang yang paling sederhana di antara mereka semua. "Kau berlebihan, Berengsek! Aku hanya datang ke rumahmu setiap hari!" "DAN SUNGGUH ITU SANGAT MENGGANGGU RUMAH TANGGAKU, SIALAN!" "KAU!! BERANI-BERANINYA MENINGGIKAN SUARA PADAKU!" "AKU BAHKAN BERANI MENGUSIRMU SEKARANG, b******n!!" EYAKK EYAKK "SIALAN!! KAU MEMBANGUNKAN ANAKKU!!" "KAU YANG BERTERIAK LEBIH DULU!!" "KAU!! PERGI DARI RUMAHKU!!" Makiel kicep seketika. Dia cemberut ketika Annabelle datang dengan terburu-buru menuju tempat anak dan suaminya. "Angel!! Selingkuhanmu mengusirku!" Rengek Makiel ketika Annabelle sudah menggendong salah satu anaknya. "Siapa yang kau sebut selingkuhan, Sialan!!" Geram Darren. Jika saja tidak ada anaknya yang sedang ia gendong, mungkin Darren benar-benar akan menendang Makiel dari sana. "Darren, sudahlah..." Kata Annabelle, lembut. Darren cemberut seketika. "Dia menyebalkan, Sayang." "Kau menjijikkan, Darren!" Geram Makiel. "Aku tidak membutuhkan komentarmu, Sialan!!" Balas Darren, kesal. Annabelle menghela napas panjang melihatnya. "Aku akan menyusui Darrell dan Farrell. Kau mengobrol saja dulu dengan Makiel." "Tapi, aku tidak mau dengan—" "Sayang..." Darren cemberut seketika. "Baiklah, aku akan mengantarkan anak kita ke kamar." Katanya, membuat Annabelle tersenyum dan mengangguk setuju. Darren membalas senyum Annabelle, kemudian menatap Makiel dengan tatapan puaskah-kau-mengganggu-rumah-tangga-orang?! Makiel hanya terkekeh dan mengedikkan bahunya dengan tidak peduli, sedangkan Annabelle dan Darren pergi ke lantai atas untuk menyusui anak kembar mereka. Beberapa menit kemudian, Darren datang kembali dan kali ini benar-benar menendang Makiel hingga pria itu jatuh ke lantai. "Aduh! Kau benar-benar kejam, Darren!" Keluh Makiel sambil mengusap sikunya yang menyentuh lantai duluan. "Kau yang kejam! Kenapa harus menggangguku?! Kenapa tidak Felix atau Alarick saja?!" Makiel bangkit dan tersenyum senang. "Salah siapa kau miskin? Di sini tidak ada puluhan pengawal yang akan mengusirku saat aku baru sampai gerbang." Darren membuang napasnya kasar dan duduk di sofa dengan kesal. "Kau bisa mengunjungiku di kantor!" "Aku ingin melihat pujaan hatiku." "SIAPA YANG KAU SEBUT PUJAAN HATI?!" "Tentu saja istrimu." "Sialan!!" "Ck! Berhentilah mengeluh! Aku ingin bercerita!" Kesal Makiel sambil ikut duduk di hadapan Darren dan melipat kakinya. "Aku akan mengambil jalan pintas." "Impotenmu?" Makiel tersentak dan menatap takjub atas tebakan Darren. "Kau sungguh cerdas, Darren!" Darren hanya menggaruk telinganya dengan acuh. "Jadi? Kau menyewa p*****r?" Kali ini, Makiel sukses dibuat melotot oleh tebakan Darren. "Ya!! Tapi kau pasti tidak akan menyangka siapa yang jadi pelacurku!" "Memangnya siapa?" "Si Cupu!" Kata Makiel, antusias. Namun Darren hanya mengedipkan matanya sekilas. "Memangnya siapa dia?" Suara gubrak seolah bergema di kepala Makiel. Makiel melotot menatap Darren yang diam saja dengan wajah dingin dan innocent. "Kau tidak tahu dia?!! Wanita yang mengejarku mati-matian?! Mantanku yang bahkan tidak aku ketahui namanya dulu?!" Darren mengangguk. "Ya, aku tidak tahu." Kali ini Makiel tertawa tidak terima dan menyentuh tengkuknya dengan emosi karena darah tinggi. "Woah! Orang ini benar-benar tidak pernah peduli!" "Tapi Kiel, kau tahu bagaimana pandanganmu terhadap wanita bayaran, kan?" "Tentu saja! p*****r sialan yang hanya menginginkan uang tanpa peduli jika yang menjadi pelanggannya itu sudah bersuami." Komentar Makiel dengan santainya. "Jika kau dan dia memiliki masa lalu seperti itu..." Darren menjeda kalimatnya dan melipat tangannya di depan d**a. "... Bukannya dia berbahaya? Bagaimana jika kau jatuh cinta padanya?" Makiel mengedip, kemudian tertawa terbahak-bahak. "Hentikan topik hiburan ini, Darren. Haha, sampai kapanpun, seorang Makiel Zander McKennedy tidak akan pernah jatuh cinta! Dan lagi, dengan Si Cupu yang dulu mengejar-ngejarku? Tentu saja mustahil!" Darren memiringkan wajahnya dan tersenyum tipis. "Tapi, tidak akan ada yang tahu bagaimana setelahnya, Kiel. Tidak akan ada yang tahu bagaimana kau akan berakhir." "Di sini, aku yang mengatur semuanya, Darren. Perasaan menjijikkan tentang cinta? Aku bisa mengusirnya pergi dengan mudah." Darren kali ini diam, menatap sahabatnya yang kembali meraih cermin dan meneliti wajahnya sendiri. *** Beberapa waktu setelah Makiel pergi, Darren segera menelepon ayahandanya yang berada jauh dari LA. "Dad." Kata Darren, serius. "Ada apa?" "Ada yang mengusik rumah tanggaku. Kirimkan aku beberapa pengawal yang berjaga di depan rumah agar pria setan itu tidak mengganggu rumah tanggaku." "Aku mengerti. Aku akan menyewa puluhan pengawal di rumahmu. Apakah kau butuh senjata? Lebih baik kau menembak mati pria yang mengganggu rumah tangga kalian." "Iblis ini terlalu susah dimusnahkan. Dia berkuasa. Aku sangat ingin membunuhnya juga tapi Annabelle akan mengamuk padaku." "Baiklah. Jaga istrimu baik-baik, Son. Aku lanjutkan dulu kegiatanku dengan ibumu." "Jangan buatkan aku adik, Dad." "Tenang saja, Dad tidak yakin spermaku sekuat dulu." "Secara langsung, aku mengatakan jangan keluar di dalam, Dad." "Kau tahu bagaimana sulitnya itu, Son. Aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu. Sampai jumpa lagi, Anakku." Darren mengusap wajahnya dengan lelah dan membuang napas pelan. "Kenapa tidak ada manusia yang normal di sekitarku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD