Unknown Number
Bip bip. Apa ada orang di sana? Sharena di sini, Sharena di sini
Makiel mengangkat alisnya melihat pesan bernada lucu dari wanita yang kemarin berbincang dengannya itu. Masih segar di pikirannya ketika mereka berpisah dengan Sharena yang mengatakan akan mencari cara dulu, baru akan menghubungi Makiel setelah mendapatkan cara agar kejantanan Makiel kembali berfungsi.
Makiel Zander McKennedy
Sudah menemukan caranya?
Unknown Number
Save dulu nomorku, dan aku akan mengatakan caranya
Makiel menghela napas panjang dan terpaksa menuruti kemauan Sharena lalu mengirim screen shoot yang memperlihatkan nama kontak Sharena.
Si Cupu
Kukira kau akan menyimpan nomorku dengan nama Sayangku
Makiel Zander McKennedy
Jadi? Apa caranya?
Si Cupu
Besok kau harus mengosongkan jadwalmu seharian
Makiel Zander McKennedy
Baik
Si Cupu
Apakah kau pernah melakukan sc?
Makiel Zander McKennedy
Apa itu?
Si Cupu
Sekkk chat
Makiel Zander McKennedy
Aku lebih suka pinggulku yang pegal daripada jariku yang pegal
Si Cupu
Sudah kuduga
Ingin mencobanya denganku?
Makiel Zander McKennedy
Ini adalah salah satu percobaanmu?
Si Cupu
Tidak
Tapi aku tahu kau pasti jarang melakukan chat dengan wanita lain
Makiel Zander McKennedy
Aku ini bos besar yang memiliki banyak perusahaan. Apakah menurutmu, aku punya waktu untuk meladeni hal yang tidak penting?
Si Cupu
Tapi, jika dipikir, ini salah satu caraku
Saat ini aku habis mandi
Makiel Zander McKennedy
Lalu?
Apa maksudmu mengatakan itu?
Si Cupu
Kewanitaanku masih basah
Aku masih pakai handuk
Dan handuk ini menekan duaduakuh
Makiel kali ini terdiam membaca balasan dari Sharena. Dia menelan ludahnya dengan susah payah ketika otaknya mulai membayangkan apa yang Sharena katakan di dalam percakapan mereka. Dengan tangan yang agak gemetar, Makiel membalasnya.
Makiel Zander McKennedy
Lalu?
Si Cupu
Menurutmu bagaimana?
Apakah aku harus melepaskan handukku sekarang?
Berjalan telanjuang ke arah lemari
Mencari baju sambil telanjuang
"Sial!" Makiel merutuk ketika melihat kelanjutan balasan dari Sharena. Dia kembali mengetikkan sesuatu di sana. "Wanita ini benar-benar jahat."
Makiel Zander McKennedy
Kau yang harusnya memutuskan untuk itu
Kau benar-benar tidak tahu malu
Si Cupu
Aku sayangmu, bukan?
Kau memiliki tubuhku
Aku sudah membuka handuk
Tubuh tak pakai baju kedinginan
Tapi aku suka dingin
Apakah aku harus memakai baju?
Tapi kalau tidak, bagaimana dengan duaduaku yang menegang?
Atau anuku yang tersapu angin?
Makiel menelan ludahnya dengan susah payah. Tubuhnya kali ini gemetar, sesuatu di dalam dirinya sedang berontak sekarang. Baru pertama kali Makiel menemukan wanita se-berani ini padanya. Dengan cepat, Makiel mengetikkan sesuatu.
Makiel Zander McKennedy
Kau di ma|
Makiel berhenti mengetik ketika mendapatkan balasan baru.
Si Cupu
Kurasa aku benar-benar harus menggunakan baju
Aku sungguh kedinginan
Kita tidak bisa melanjutkan sekkk chat ini
Bye Tuanku
Mulut Makiel menganga lebar membacanya. "Sial!! Wanita ini mempermainkanku!" Geramnya kesal, kemudian mengetikkan sesuatu kembali.
Makiel Zander McKennedy
Tunggu
Bagaimana dengan percobaan mu
Dan Makiel tidak mendapatkan balasan selama beberapa lama. Di dalam kamar yang sepi nan luas itu, Makiel memelototi ponselnya sendiri. Beberapa menit kemudian, sebuah balasan muncul.
Si Cupu
Cinemaxx pukul 11
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 12, namun Makiel belum tiba di tempat yang seharusnya dijanjikan pukul 11.
Sharena tersenyum, dan memejamkan matanya, menikmati suasana ramai yang terdengar di telinganya. Bagaikan alunan musik merdu, Sharena menyukai ini. Saat dia merasakan keramaian, seolah dunia mengenalnya, sedang berbicara dengannya.
Bukan hal yang aneh ketika p*****r kelas atas seperti dirinya tidak memiliki teman. Sharena akui, dia memiliki arogansi dalam dirinya. Lahir di keluarga kaya, tapi begitu terasa terasingkan. Sharena bahkan ingat ketika pertama kali menjadi p*****r seseorang. Menyenangkan, ketika merasa sangat diinginkan oleh pria. Membuat mereka bertekuk lutut atas pesona Sharena. Walaupun, Sharena hanya seorang p*****r.
"Sudah menunggu lama?"
Pertanyaan itu sangat dekat jaraknya dengan Sharena. Membuka matanya perlahan, Sharena melihat Makiel berdiri menjulang dengan pakaian formalnya. Sharena tersenyum dan mengangkat tangannya yang memegang tiket. "Kita sudah terlambat menonton film." Dan aku sudah datang dari jam setengah 11. Lanjutnya dalam hati.
Makiel mengangguk tidak peduli. "Baiklah, ayo menonton sekarang," katanya. "Studio berapa?"
Sharena berdiri dan segera mengamit lengan Makiel. "Ikuti aku!" Serunya, tersenyum ceria pada Makiel. Menggunakan topeng menawannya, ingin menaklukkan pria itu.
Makiel hanya mengangguk tidak peduli dan pergi dengan Sharena yang menyeretnya.
***
Layar bioskop sudah menyala dan lampu di bioskop sudah mati. Makiel pikir, mereka sudah ketinggalan film selama setengah jam. Namun sepertinya wanita yang menggandengnya masuk ke dalam bioskop ini tidak masalah. Mereka duduk di kursi paling atas dan duduk di paling ujung. Makiel mendesah kesal melihat film di depannya. "Kau tahu? Aku bisa menyewa seluruh bioskop ini jika kau ingin menonton film. Dan lagi, kenapa harus membeli tiket paling murah?!" Bisiknya pada Sharena.
Sharena mengangguk menyetujui. "Aku tahu." Balasnya berbisik.
"Lalu kenapa kau melakukan ini?!" Tanya Makiel kesal. Makiel sangat tidak suka berada di tempat yang sama dengan kaum miss queen lainnya. "Lebih baik, kita pulang sekarang."
"Oke. Pulang saja jika kau tidak ingin adikmu berdiri lagi." Jawab Sharena dengan santai. Dia menyenderkan tubuhnya ke kursi dan menyilangkan kedua kakinya.
Makiel berdecak. "Kenapa harus di sini praktiknya?! Kenapa tidak di ranjang saja?!"
Sharena yang ditanyakan seperti itu lantas tersenyum senang. "Pertama, kemarin kau bilang sudah melakukan berbagai macam cara. Menjadi submissive, digoda sambil diikat di ranjang, dan lain sebagainya."
Makiel mengernyit heran mendengarnya. "Ya. Lalu? Hubungannya dengan tempat kumuh ini apa?"
Mendengar hinaan itu, Sharena menghela napas lelah. "Kedua, kau bilang tidak pernah berpacaran kecuali tentang s*x. Kau meniduri hampir seluruh wanita di LA dan kau bisa melihat mana yang menderita HIV dan juga wanita yang bisa memberikanmu penyakit."
"Ya. Sudah kubilang itu adalah indra keenamku."
"Jika seperti itu, metode yang bisa kuberikan padamu adalah melakukan hal-hal baru yang belum pernah kau lakukan. Ke bioskop yang ramai pengunjung adalah salah satunya."
Makiel mendelik mendengarnya. "Memangnya, apa yang bisa dilakukan di tempat ini?"
Sharena tersenyum penuh rencana mendengarnya. "Pertanyaan yang bagus, Tuan," katanya.
Sedetik kemudian, Makiel merasakan tengkuknya didorong oleh Sharena. Bibir hangat nan lembut dengan lip tint rasa ceri itu menyatu dengan bibirnya. Satu tangan Sharena berada di pipinya dengan lembut. Bibir mereka hanya menempel dan tidak bergerak. Sharena lalu menjauhkan wajahnya dan tersenyum melihat wajah Makiel yang masih berekspresi terkejut. Napas Makiel yang memburu terasa di wajah Sharena.
"Kau amatir? Apakah kau tidak tahu bagaimana caranya berciuman?" Tanya Makiel dengan napasnya yang memburu. Sungguh, Makiel pernah merasakan bibir itu dulu. Dan rasanya tetap sama. Sama-sama unik dan bagaikan candu.
Sharena hanya tersenyum. "Aku hanya mencoba untuk tidak membuat suara."
"Kau tahu bagaimana caranya."
Senyum Sharena melebar. "Oh ya? Memangnya bagaimana?"
Sedetik kemudian, Makiel sudah kembali menyatukan kedua bibir mereka.
"Rasakan aku," bisikan Sharena di telinga Makiel membuat Makiel terpaku. Makiel merasakan rasa hangat dan lembap itu tersentuh olehnya. "Ayo, gerakan tanganmu."
Makiel mendengus mendengar panggilan itu.
"Humph! Aku tidak menyuruhmu memuaskanku."
Makiel kembali menatap Sharena. Pipi memerah dalam kegelapan itu dan juga mata b*******h itu sukses membuat Makiel menelan ludahnya dengan susah payah. "Kau menyuruhku merasakanmu. Dan itulah yang kulakukan." Ujarnya serak.
"T-tuan..."
Makiel tidak menjawab. Dia lantas memajukan wajahnya dan mencium bibir Sharena dengan kuat dan dalam.
"Um! Aku merasakanmu. Dan aku menegang."
"Ya. Tapi belum cukup tegang untuk memasukiku."
Makiel menjauhkan wajahnya dan kembali menatap wajah Sharena yang memerah. "Tadi itu sangat panas."
Sharena kembali tersenyum. "Ya. Dan kurasa, kita harus keluar sekarang." Katanya sambil menatap sekitar bioskop.
Makiel ikut memperhatikan studio bioskop dan mendapati beberapa orang di barisan depannya menatapnya dan Sharena bergantian. Makiel segera mengeluarkan jarinya dari dalam diri Sharena. "Sial."
Sharena hanya terkekeh pelan melihatnya.
***
"Kegiatan panas apa lagi yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Makiel dengan antusias ketika mereka sudah keluar dari bioskop dengan berjalan berdampingan. Sedangkan Sharena sedang berjalan sambil memainkan ponselnya. Sungguh, Makiel tidak pernah sesenang ini setelah hampir setahun kejantanannya tidak bisa berdiri. Dan mengetahui jika kejantanannya bereaksi saat Sharena melakukan aksi di bioskop, Makiel tidak sabar untuk meniduri Sharena dengan segera.
Namun Sharena memutuskan jika lebih baik Makiel menyelesaikan cara yang akan diberikan Sharena. Karena bukannya tidak mungkin jika nanti Makiel akan kembali impoten jika sesi latihan mereka berakhir. Makiel hanya menuruti saja walaupun tidak rela.
"Kita ke restoran yang ada di dalam mall ini." Kata Sharena, menjawab pertanyaan Makiel sebelumnya.
Makiel menegang seketika. "Jangan bilang kita akan ke McD."
Sharena menoleh dan tertawa pelan. Dia menggeleng menjawabnya. "Tidak, kita ke restoran yang ada di hotel dalam mall ini." Jawabnya.
Makiel menghela napas panjang dan mengangguk. Dia tersenyum lebar dan menepuk kepala Sharena dengan lembut. "Bagus! Kau tahu seleraku, ternyata! Walaupun aku ini murah hati dan tidak sombong, dan walaupun aku pernah merakyat dengan jajan di McD, tapi aku sungguh tidak ingin mengulanginya untuk yang kedua kalinya. Kau mengerti?"
Sharena memaksakan senyum. Apa Si Gila ini tidak sadar dia baru saja menyombongkan diri dan angkuh? Batinnya. "Aku mengerti." Jawab Sharena kemudian.
Makiel tersenyum dan menatap sekitar sekilas. Dia menunduk untuk melihat jam yang ada di tangannya. "Pukul 3 aku ada meeting dadakan. Kau harus selesaikan ini dengan cepat."
Sharena mengernyit tidak suka. "Kau sudah berjanji untuk mengosongkan waktumu."
"Diamlah, jangan membuatku menghinamu dengan sebutan Jalang Yang Suka Mengatur Orang. Aku sudah memutuskan, dan kau sebagai orang bayaranku harus mengikutiku."
Rahang Sharena mengeras. Apakah Si Bodoh ini tidak sadar jika dia sudah menghinaku?!! Geram batinnya. Sharena mendelik. "Bukan begini cara mainku! Jika kau tidak setuju, maka lebih baik tidak jadi saja! Kita batalkan saja transaksi antara kau dan aku!"
Makiel mengernyit tidak suka dengan respons Sharena. "Kau hanya wanita bayaranku—"
"Ya sudah jika kau memutuskan begitu. Lebih baik—"
"Sial! Hentikan!" Sentak Makiel. "Aku ini orang sibuk yang—"
"Ya sudah cari saja wanita lain karena aku punya prisnipku sendiri dalam melakukan pekerjaanku!"
Rahang Makiel terlihat mengeras. Matanya menajam menatap Sharena yang dibalas Sharena dengan tatapan yang tak kalah tajamnya. Makiel membuang napasnya yang gemetar emosi. "Baik! Kau akan kehilangan uang—"
"Terima kasih atas kerja samanya, saya permisi!" Potong Sharena tegas, berjalan menjauhi Makiel tanpa menatap ke belakang lagi.
Makiel mengepalkan tangannya dengan kuat. "Sial!" Geramnya ketika tubuhnya mengalah dengan berlari kencang mengejar Sharena dan mencekal pergelangan tangan wanita itu. "Baiklah, Sialan!! Aku ikuti perkataanmu!"
Sharena mendelik dan menghempaskan tangannya dengan kesal. "Sudah seharusnya kau melakukan itu dari awal!! Aku sudah mengatakannya kemarin padamu tapi kau malah mengingkari janjimu!!"
Makiel tersentak. Jantungnya berdegup cepat ketika ucapan wanita yang berada di hadapannya itu terulang kembali, sama seperti apa yang Sharena katakan di masa lalu.
Tapi aku sudah mengatakannya padamu, Kiel. Kau sudah berjanji padaku...
Makiel menelan ludahnya dengan susah payah. Mengatur napasnya, mencoba untuk terlihat tidak terpengaruh dengan ucapan wanita itu yang seolah mengejek tindakan buruk Makiel di masa lalu pada wanita itu.
Akhirnya Makiel mengangguk patuh setelah lamunannya itu. "Baiklah, aku takkan mengulanginya lagi."
Sharena menghela napas panjang dan berbalik membelakangi Makiel. "Ikuti aku." Perintahnya.
Makiel mengikuti dari belakang sejenak, lalu kemudian mempercepat jalannya dan meraih tangan Sharena kembali, membuat wanita itu terdiam dengan tatapan bingungnya yang terarah pada Makiel.
Makiel menurunkan tangannya ke telapak tangan milik Sharena, menyelipkan jarinya di antara jemari Sharena, menggenggam tangan wanita itu dengan erat lagi. "Jangan marah lagi. Aku tidak suka kita bertengkar." Ucap Makiel.
Sharena hanya diam dan kembali berjalan namun tidak melepaskan genggaman tangan mereka.