Saat ini, restoran yang ditempati oleh Sharena dan Makiel tergolong agak ramai. Banyak yang menepati kursi-kursi mewah di dalam restoran itu, namun tidak seramai di tempat makan biasanya. Mungkin, karena menu yang disediakan sangat mahal walaupun setimpal dengan desain restoran dan juga kualitas makanan di sana.
Restoran di sini tergolong sangat estetik dengan meja medium yang menggunakan taplak meja putih yang menjuntai hingga ke lantai. Sharena dan Makiel makan dengan tenang, sesekali bertanya tentang kegiatan yang biasanya mereka lakukan.
"Lalu apa yang kau lakukan setelah lulus SHS? Kau tidak kuliah? Keluargamu bangkrut dan kau terpaksa menjadi jalang?" Tanya Makiel panjang lebar.
Sharena berhenti makan. Dia terdiam sejenak, melamun, kemudian tersenyum. Senyum terpaksa yang akan terlihat oleh orang ahli bahwa ada kesedihan di dalamnya. Namun Sharena mencoba santai dan tetap makan. "Ada sebuah kecelakaan yang terjadi. Hal itu membuat keluargaku seolah terasa asing. Aku merasa tidak berada di tempatku. Aku merasa tidak diinginkan. Lalu, setelahnya aku liburan ke luar negeri, bertemu seorang pria yang mengajariku banyak hal tentang s*x, dan aku menjadi jalang sekarang. Kau tahu? Menyenangkan ketika mereka berebut agar memilikiku. Aku merasa sangat diinginkan. Setelah itu, aku tidak berhubungan lagi dengan keluarga Leonard."
Makiel mengangguk mengerti. "Jadi, kau tidak terlalu memerlukan uang?"
"Kurasa begitu."
"Dan apa tadi margamu? Leonard?"
"Ya. Sharena Leonard Christin."
"Margamu di tengah?"
"Ya, kurasa mereka lebih memilih menggunakan nama ibu kandungku di belakang."
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu," kata Sharena sambil tertawa pelan. Dia memajukan duduknya, membuat posisi mereka tetap terhalang meja karena Sharena duduk di hadapan Makiel. Sharena memajukan wajahnya mendekati Makiel. "Majulah. Dekatkan kursimu hingga kau terhimpit meja."
Makiel mengernyit heran. Namun dia tetap menurut, takut Sharena kembali ngamuk padanya. Sedetik kemudian, Makiel menegang merasakan sesuatu yang lembut menyentuh tepat di tempat kejantanannya berada walaupun masih tertutup oleh celana. Sharena tersenyum puas. Jari kakinya yang berada di kejantanan Makiel bergerak, membelai, menggelitik, menekan, dan berputar di sana.
Makiel menelan ludahnya, mencoba untuk tidak menggeram keenakan merasakan jemari kaki Sharena yang menyentuh kejantanannya di balik celana. Mengusap dari kepala kejantanannya, memutar dengan gerakan pelan, membuat Makiel harus mengeratkan genggamannya pada garpu dan pisau yang berada di tangannya. "Kau pikir itu cukup?" Serak Makiel, membuat Sharena tergelak pelan.
Dengan gesit, Sharena menurunkan kakinya, mengambil piringnya, berdiri dan memindahkan kursinya mendekati Makiel. Sharena duduk tepat di samping Makiel. Steak yang sudah dia potong kecil-kecil itu memudahkan Sharena untuk makan sambil menurunkan tangan kirinya. Dia menyentuh kejantanan Makiel yang masih tersimpan rapi dibalik celana. Sharena membuat gerakan memutar, meremas, mengelus dengan lembut dan memainkan satu jarinya naik turun.
Napas Makiel sudah tersendat. Kejantanannya merasakan sentuhan itu dengan sensasi yang nikmat. Apalagi gairah Makiel belum mereda ketika mereka melakukannya di bioskop.
Sharena tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya pada telinga Makiel. "Apa masih belum cukup?" Tanyanya sensual.
Makiel membuang napasnya yang gemetar karena gairah. Matanya yang menggelap, menatap Sharena dengan lekat. "Kurasa belum. Kau harus menyentuhnya langsung." Jawabnya serak.
Sharena tersenyum senang. Dia kembali berbisik. "Bagaimana jika orang-orang di sini melihatnya?"
Makiel terdiam sejenak mendengar pertanyaan Sharena. Tatapan Makiel kini bergulir, menatap orang-orang kelas atas di sana dan mendapati sebuah sensasi berbeda di dalam dirinya. Adrenalinnya terpacu kuat. Makiel balas berbisik pada Sharena. "Usahakan agar kita tidak ketahuan."
Kembali, senyum Sharena melebar mendengarnya. Tangannya kemudian menurunkan resleting celana Makiel, menyentuh kejantanan pria itu yang berada di balik celana dalam, kemudian menurunkan kancing celana Makiel. Dia melakukannya sambil tidak melepaskan tatapan dari Makiel yang juga menatapnya dengan b*******h. Sharena mengelus kejantanan Makiel yang masih tertutupi celana dalam.
"Aku ingin menciummu," serak Makiel tanpa mengalihkan tatapannya dari Sharena.
Sharena mengangkat alisnya. "Kalau begitu, kita akan ketahuan."
"Jadi? Tidak boleh?"
Sharena menggeleng bersamaan dengan tangannya sudah menelusup ke dalam balik celana dalam dan memegang langsung kejantanan milik Makiel. "Tidak boleh!"
Makiel mendesah merasakan tekanan di kejantanannya. Makiel yakin, saat ini Sharena sudah berhasil membangunkan milik Makiel. Terbukti dengan rasa ngilu tidak tertahankan yang Sharena timbulkan di kejantanannya. Makiel menggeram pelan ketika Sharena memainkan kejantanannya dengan lihai, memaju mundurkan tangannya, menggerakkan jari telunjuknya untuk menyentuh ujung kejantanan Makiel. Memutar jarinya di sana, membuat Makiel memejamkan mata. "Ah..." Desahnya serak.
Makiel merasakan Sharena mengusap rambutnya dengan lembut, menjambak dengan lembut seolah memijat. Hingga kemudian Makiel merasakan napas hangat Sharena di lehernya. Makiel menggeliat ketika Sharena menjilat lehernya, dan mencium dengan lembut. Makiel menikmatinya, memejamkan matanya dengan menikmati. Hingga sedetik kemudian, matanya terbuka lebar ketika merasakan semua sentuhan Sharena menghilang.
Segera, Makiel menatap Sharena dengan geram. "Aku sudah menegang!! Apa yang kau lakukan?!"
Sharena terkekeh dan menyimpan telunjuknya di bibir. "Beberapa sudah menatap kita," bisiknya, membuat Makiel mengedarkan matanya dan mendapati beberapa penghuni meja lain menatap mereka. Sharena tersenyum saat Makiel kembali menatapnya. "Sebaiknya, kita pergi dari sini."
Dan Makiel menghela napas lelah. Dia hanya bisa menurut karena sekali lagi, Makiel takut Sharena marah.
***
"Aku yang membayarmu, tapi kenapa aku yang dipermainkan di sini?" Tanya Makiel dengan kesal.
Saat ini, mereka sudah ada di dalam mobil milik Makiel, dan Sharena sedang memakai sabuk pengamannya. Wanita itu terkekeh pelan. "Kenapa? Kau baru kali ini dipermainkan oleh wanita?" Tanyanya.
Pertanyaan Sharena sukses terdengar seperti hinaan di telinga Makiel. Tanpa menjawab, Makiel menyalahkan mesin mobilnya dan memakai sabuk pengamannya sendiri. "Sudahlah, sekarang kita akan ke mana?"
"Ke tempatmu."
"Tempatku?!!" Pekik Makiel dengan syok. "Tempatku itu suci! Tidak pernah diinjak satu jalang pun!"
"Mana ada sarang setan yang suci?"
"Hey!!"
"Mau melakukannya atau tidak?" Ultimatum Sharena, menatap menantang pada Makiel.
Makiel menghembuskan napas kasarnya. Sungguh, dia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Jika dia berdebat dengan para sahabatnya, dia pasti akan bisa terus membalas, tidak akan mengalah seperti pada Sharena kali ini. Dengan kesal, Makiel mulai melajukan mobilnya keluar dari basement. Sesekali, Makiel melirik Sharena yang sedang mengotak atik ponselnya.
Makiel kemudian berdeham. "Kau sedang apa?"
Sharena berdeham, kemudian melirik pada Makiel. "Ah, ini? Hanya menyentang beberapa tugasku yang tadi berhasil membuatmu bereaksi." Katanya.
"Hm... Detail sekali."
"Tentu saja. Karena itu aku dibayar mahal."
Mendengar jawaban itu, Makiel terdiam sejenak. Patut diketahui, Makiel itu tidak bisa diam. Apalagi bibirnya. Dia ingin terus mengoceh dan mengobrol, dengan siapapun itu. Tapi, dengan jalang seperti Sharena... Makiel jijik. Dia jijik untuk sekadar menjadi dirinya sendiri. Karena Sharena adalah seorang jalang. Wanita yang mungkin suka tidur dengan pria bersuami sekali pun.
"Aku sudah memiliki istri." Kata Makiel, tentu saja berbohong.
Sharena menoleh, menatap Makiel dengan sebelah alis terangkat. "Tidak ada di berita."
"Istri rahasia." Ngawur Makiel.
Sharena mengerjap sejenak sebelum tertawa pelan. "Jika kau sedang mencari alasan agar aku tidak ke tempatmu, lupakan saja. Aku tahu kau belum menikah."
Makiel mendelik kesal. "Kau tahu apa hah?! Memangnya kau bisa tahu aku menikah atau belum?! Aku ini sudah menikah! Dan aku punya istri dua! Ah sudahlah, kau ini pasti tidak akan membatalkan perjanjian kita, kan? Jalang sepertimu pasti tidak keberatan untuk tidur dengan pria yang bersuami!"
Sharena membuang napas kasar. Dia melipat tangannya di depan d**a. "Permisi, Tuan. Apa Anda ini memiliki penyakit bipolar? Kenapa kelakuanmu sering sekali berubah-ubah?"
"Apa?! Bipolar? Jalang sepertimu berani-beraninya menghinaku!"
"Memangnya kenapa kalau jalang sepertiku menghinamu?! Hah?! Tidak boleh?!"
"Kenapa jadi kau yang marah?! Harusnya aku yang marah!!"
"Memangnya siapa kau berhak memarahiku?! Hanya seorang pelanggan saja berani-beraninya menghinaku terus-menerus! Kau pikir aku tidak bisa mendapatkan pelanggan yang lebih kaya darimu hah?!"
"Aku berbicara fakta! Kau pasti akan tetap melayani pria beristri kan?!"
"Aku ini jalang terhormat!! Aku bisa menolak pelanggan yang sudah menikah!"
"Jangan melucu!! Di mana-mana jalang itu kotor, tidak terhormat!"
"Aku bersungguh-sungguh!!" Kesal Sharena. Wanita itu bahkan sampai melompat dari kursinya saking kesal dengan kelakuan Makiel. "Kau tidak menggunakan cincin, Bodoh! Maka dari itu aku tahu kau belum menikah!"
Makiel menatap Sharena dengan syok. "B-bodoh?! Berani-beraninya jalang sepertimu!!"
Sharena balas menatap Makiel dengan menantang.
Makiel membuang napas kasar. Dia kembali menatap jalanan. "Cincinnya kusembunyikan."
"Benarkah? Tapi tidak ada bekas cincin di jarimu." Kata Sharena, kali ini tersenyum miring.
Makiel berdecih. "A-aku tidak menggunakan cincin ketika menikah!"
"Kalau begitu, tidak seharusnya aku gagap seperti itu."
"Aku tidak gagap!"
"Kalau begitu, katakan sumpah pernikahan sekarang juga! Kau kan pastinya hafal, karena sudah menikah dua kali." Dan kali ini, Sharena mengatakannya disusul dengan seringaian kemenangan di wajahnya.
Makiel kali ini kalah telak. Dia mendelik kesal pada Sharena. "Baiklah, kau benar. Aku masih lajang. Tapi, bagaimana jika sebenarnya aku sudah memiliki pacar atau tunangan?"
"Aku tidak peduli dengan pacar dan tunangan. Mereka masih orang asing. Beda lagi jika pelangganku adalah pria yang sudah beristri. Aku akan langsung menolaknya."
Makiel mengerjap dan menoleh sebentar pada Sharena. "Jika caramu seperti itu, bisa saja kau salah."
Sharena tersenyum dan menggeleng. "Tidak juga. Orang yang sudah menikah pasti akan kelihatan jika di bar. Selain keriput di wajah, jari manis, potongan rambut, bentuk perut, dan lain sebagainya, orang yang sudah menikah pasti akan selalu terlihat olehku."
"Jadi, kau yang sebenarnya memilih pelanggan? Bukan mereka?"
"Ya, bisa dibilang begitu. Pria yang kutolak sudah banyak. Tapi sampai saat ini, pelangganku baru 4 orang. Jika kau berhasil, berarti kau adalah pelanggan kelimaku."
"Sebenarnya, sudah berapa lama kau bekerja di bidang hina ini?"
Sharena terlihat berpikir. Dia memiringkan kepalanya. "Kupikir sekitar... 5 tahun?"
"Lima tahun?!" Pekik Makiel dengan tidak percaya. "Sungguh?! Kau bisa hidup dengan bayaran 4 pelangganmu?!"
Sharena tersenyum. "Tentu saja. Kau tahu bayaranku ini mahal. Aku juga memiliki sangat banyak referensi dan otodidak tentang s*x. Dan aku juga tidak terlalu membutuhkan uang banyak. Hanya untuk kebutuhan sehari-hari saja. Saat ini, aku membutuhkan untuk uang sewa apartemen. Jika kali ini aku berhasil, uang yang kau bayarkan mungkin bisa menghidupiku selama 5 tahun lagi."
"Benarkah? Uang yang kubayarkan padamu bahkan tidak lebih seperti uang receh bagiku."
"Ya, tapi maaf-maaf saja. Aku bukan penggila s*x sepertimu." Hina Sharena dengan senyum lebar.
Makiel mendelik mendengarnya.
"Hey, Tuan Penggila s*x," panggil Sharena dengan senyum jahil, membuat Makiel memelototi wanita itu. "Jika kau kelebihan uang, ada beberapa rumah sakit khusus anak di sebelah Timur LA. Kau bisa membuang uangmu di rumah sakit itu jika kau mau."
Makiel mendelik mendengarnya. "Kau pikir aku ingin melakukan hal itu? Aku masih bisa membuang uangku dengan hal yang lebih bermanfaat."
"Apa itu?"
"Tentunya bersenang-senang dengan jalang-jalang yang melempar dirinya padaku."
***
Sharena benar-benar pengacau. Sungguh, Makiel tidak menyangka bahwa anak cupu yang dahulu sangat tergila-gila padanya itu, kini berubah menjadi pembuat onar. Dan lagi, di rumahnya sendiri!
Tadi, wanita itu mengacak-acak kulkasnya, mencari makanan dan memasak mi instan sendiri, walaupun tentu saja, Makiel memintanya beberapa suap. Tapi sungguh, Makiel tidak pernah melihat wanita sejorok Sharena! Mana ada wanita yang berani membersihkan tangan kotornya itu dengan pakaiannya sendiri?!
"Kamar mandimu rapi sekali. Apa kau psikopat? Atau, pengidap mysophobia?" Sharena keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang melekat di tubuhnya sedangkan handuk kecil yang dia pegang, digunakan untuk mengusap-usap rambutnya.
"Aku hanya pencinta kebersihan." Kesal Makiel melihat wanita itu keluar dengan seluruh tubuhnya yang masih basah.
Sharena mengangguk mengerti. "Ah ya, di mana kamarmu? Apa kita harus mulai sekarang?"
"Kau mau ke kamarku?! Dengan tubuh basahmu itu?!"
"Ya, memangnya kenapa? Tuan satu ini sedari tadi sangat banyak komentar."
Makiel yang tadinya duduk di sofa yang tersedia di ruang TV-nya, kini berdiri dan menghampiri Sharena yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi di lantai bawah. "Tidak! Kau, masuk lagi, keringkan rambutmu dengan hair dryer yang ada di dalam, dan keluar dengan tubuh kering! Aku tidak mau kamarku ternodai. Dan berhentilah mengusap rambutmu dengan handuk! Bahkan anjing pun mengeringkan dirinya dengan hair dryer sekarang!"
Sharena mencebik mendengar ucapan Makiel. "Hanya anjing rumahan yang melakukannya. Anjing liar ya seperti ini." Ucapnya, lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat seolah memperagakan anjing liar yang kebasahan. Hal itu membuat wajah Makiel terciprat air dan memekik kesal melihat kelakuan barbar Sharena.
"Berhenti, Bodoh! Kau seperti anak kecil, tahu tidak?!" Kesal Makiel. Pria itu menarik Sharena ke dalam kamar mandi kembali, dan mereka berdiri di hadapan kaca besar yang ada di kamar mandi luas Makiel.
Makiel meraih hair dryer yang berada di samping wastafel. Dia menyalakan, dan memposisikan tubuh Sharena di depan. "Dasar pengacau. Bagaimana bisa wanita cupu sepertimu berubah jadi sangat menyebalkan seperti ini?" Kesalnya sambil mengeringkan rambut Sharena dengan hair dryer.
Sharena terkekeh. Dia berbalik dan memeluk tubuh Makiel, membuat pria itu menegang karena dapat merasakan p******a tanpa bra di balik handuk kimono itu. "Apa dulu aku sangat-sangat cupu?" Tanya Sharena.
Makiel menelan ludahnya dengan susah payah. Dia mencoba memfokuskan diri dengan mengeringkan rambut Sharena. "Ya. Kacamata besar, gendut, dan bintik hitam di wajahmu. Kau sangat cupu walaupun senyumanmu sangat imut."
"Benarkah? Kau tidak salah orang? Mungkin itu bukan aku."
"Itu kau. Aku sangat mengenal dirimu walaupun aku tidak tahu namamu. Bahkan, walaupun kau merubah penampilanmu seperti ini, kau tetap wanita yang dulu sangat-sangat tergila-gila padaku. Bahkan hingga menyerahkan keperawanannya hanya untukku."
Sharena terdiam sejenak. Dia menyamankan tubuhnya dalam pelukan Makiel. Kembali berpikir, kenapa dia tidak mengingat Makiel sedikit pun?
Dari deskripsi yang dikatakan Makiel, memang benar jika penampilan Sharena dahulu seperti yang Makiel katakan. Tapi, kenapa dia sama sekali tidak mengingat Makiel di masa lalu?